Sebuah ledakan muncul di dekat penyihir jubah hitam itu dan menghancurkan area sekitar. Kivasta dan Chiva yang melihat melalui kaca jendela terkejut. Bukannya bersembunyi ke tempat yang aman, Kivasta dan Chiva pergi keluar melihat penyihir itu secara dekat.
Saat mereka sudah di luar. Penyihir itu masih merapalkan mantra gelap. Para guru mulai berdatangan termasuk ada Alissa juga, mereka menyuruh mereka untuk mundur dan masuk ke bangunan. Kivasta tidak ingin masuk ke bangunan dan tepat pada saat itu Si penyihir berbicara.
“Siapa di antara kalian yang bernama Kivasta....?” Tanya Si penyihir dengan suara yang mengerikan di balik jubah yang menutupinya.
Kivasta maju beberapa langkah dan mengatakan. Bahwa, ia adalah Kivasta. Ia heran siapa dia sebenarnya? Apa dia penyihir dari Kekaisaran Veratha yang dikirim untuk menyerang akademi ini?
Para murid melihat mereka dari dalam bangunan. Situasi menjadi sangat tegang, Alissa juga menyuruh Kivasta untuk mundur dan jangan berbuat hal nekat. Kivasta maju di saat pedang es muncul di tangannya. Siapa takut berduel dengannya....
Penyihir itu masih merapalkan suatu mantra. Kivasta berlari ke arahnya bersiap untuk menebas leher penyihir tersebut. Namun, tepat pada saat itu Alissa muncul di depan Kivasta mengganggu aksinya. Bahkan, dia menggunakan sihirnya untuk membuat Kivasta terjatuh dan tidak dapat bergerak.
“Apa yang kau lakukan Alissa!” Jerit Kivasta setelah terjatuh di belakangnya.
Alissa menggunakan sihirnya untuk melawan penyihir itu. Si penyihir membuat sebuah kubah yang melindungi dirinya dari serangan sihir air Alissa. Pak Hendry menggunakan sihir petir untuk bergerak cepat ke bagian belakang Si penyihir. Kini Si penyihir harus membagi fokus kedua arah. Si penyihir menyerang Pak Hendry. Namun, itu menjadi kesempatan bagi Alissa untuk menyerang balik Si penyihir. Dengan sihir air milik Alissa. Alissa menjebak Si penyihir di dalam gelembung air dan sekaligus melindungi Pak Hendry dari serangan sihir gelap yang dilontarkan padanya.
Seusai berhasil menjebak Si penyihir. Alissa berjalan ke arah Kivasta setelah itu mengangkatnya dengan kedua tangannya dan membawanya ke dalam bangunan akademi.
“Lepaskan aku! Aku bisa berjalan sendiri jika kau melepas sihirmu itu!” Kivasta memberontak saat Alissa mengangkat tangan Kivasta seperti ini di depan semua orang. Harga dirinya sangat dipertaruhkan.
Dia terus mengangkat Kivasta tanpa mengatakan sepatah kata pun. Alissa membawa Kivasta ke ruang kerjanya lalu menurunkannya.
Kivasta dengan lancang langsung menanyai tanpa basa-basi. “Apa yang kau lakukan! Seharusnya aku tadi-”
Alissa tiba-tiba berbalik dan langsung memotong kalimat Kivasta dengan penuh amarah, “Apa?! Seharusnya apa?! Baru saja kontrak di mulai kamu sudah menjadi sok hebat begitu! Kamu mau tewas begitu saja?! Kita tidak tahu seperti apa kekuatan penyihir itu! Dan kamu malah maju menyerangnya tanpa berpikir panjang!” kali ini Alissa benar-benar membuat Kivasta bungkam tidak bisa berkata-kata saat dia mengatakan semua itu dengan cepat dan penuh emosi....
“Aku akan membuatmu mematuhiku...,” Alissa berjalan ke belakangku dan menyentuh leherku, sepertinya dia akan melakukan itu....
“Tidak!!!” Kivasta berteriak karena tahu apa yang akan dia lakukan.
Alissa akan memasang sebuah sihir yang akan membuatnya patuh pada orang yang memasang sihir tersebut.
“Sial! Aku tidak akan mematuhi siapapun!”
Kivasta merasakan sebuah tanda muncul di belakang lehernya. Tanda itu menutupi tanda budak milikku. Saat tanda itu muncul leherku terasa sangat sakit hingga Kivasta menjerit. Namun, Alissa menutup mulutnys dengan tangannya membuatku tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah rasa sakit yang luar biasa itu, Alissa melepaskan tangannya dari mulut dan lehernya.
Alissa berjalan ke hadapan Kivasta dan menyuruhnya berdiri. Akibat dari sihir yang telah pasang Alissa padanya, ia langsung berdiri sesuai perintahnya.
Kivasta berusaha untuk tidak melakukan apa yang dia perintahkan. Namun, sangat sulit untuk menolaknya karena perintah dari sihir ini adalah mutlak.
“Kau melanggar perjanjian pada kontrak!” Sergahku maju ke hadapannya dengan amarah.
Alissa menjawabku dengan santai sambil menyeringai, “Aku tidak melanggar. Sihir itu hanya akan berfungsi jika kamu berada dalam pandanganku,” situasi seperti ini dia masih bisa menyeringai seolah merencanakan sesuatu.
“Jika kamu berbuat hal nekat lagi, aku akan membuatmu menjadi budak selamanya. Mengerti?!”
Kivasta benar-benar ingin marah. Tetapi, tidak ada yang bisa kulakukan saat ini. Jika Kivasta mencoba untuk melukainya itu hanya akan membuat kondisinya semakin parah....
“Baiklah...,” balas Kivasta dengan kesal.
“Nyonya?”
“Baiklah nyonya!” Balas Kivasta sekali lagi sambil memalingkan wajahnya saat dia menyuruh Kivasta untuk memanggilnya "nyonya".
Setelah Kivasta ribut-ribut di dalam ruang kerja Alissa, ia keluar dari ruangannya dan berjalan kembali ke kamarnya. Situasinya semakin terpuruk saja. Kivasta menyerang penyihir itu karena mengira dia adalah penyusup dari Kekaisaran Veratha.
Sepertinya Kivasta harus meminimalisir pertemuannya dengan Alissa, atau dia bisa memerintahkan dirinya sesuai keinginannya.
Sementara nasih si penyihir yang menyerang tadi dibawa ke markas militer Setavia, dan akan diinterogasi oleh militer mereka.
Kivasta masuk ke dalam kamar, menutup pintu lalu menguncinya. Kemudian ia langsung berbaring di kasur dan menutup mata untuk tidur....
Tok, tok, tok
Suara ketukan dari kaca jendela membuat Kivasta terbangun dari tidur siangnya yang begitu nyenyak. Kivasta penasaran siapa yang mengetuk jendela itu.
Kivasta beranjak dari kasur dan melihat ke jendela. Namun, ia tidak melihat siapapun di luar jendela. Aneh, padahal jelas sekali ada suara ketukan dari luar.... Kivasta curiga jika yang mengetuk itu Chiva. Tapi, ia tidak melihat seorang pun.
Kemudian sebuah kertas jatuh dari atas. Kivasta menangkap kertas itu dan melihat ke atas siapa yang menjatuhkan kertas tersebut. Tapi, Kivasta tetap tidak melihat siapa pun di atas, mungkin mereka bersembunyi di atas atap?
Kivasga membuka kertas yang telah dilipat dan membaca isinya....
“HAHAHAHA DASAR BUDAK SURUHAN BU ALISSA! SOK BERANI MELAWAN PENYIHIR TAPI MALAH DIJATUHKAN OLEH BU ALISSA! KALAU KAU MEMANG BERANI TEMUI KAMI DI BELAKANG BANGUNAN AKADEMI PADA SIANG HARI!”
Penghinaan. Walau tidak ada nama penulisnya. Namun, Kivasta tahu siapa yang menulis kertas ini.
Kivasta tidak peduli dengan perkataannya, suasana juga sudah menjelang malam dan ia harus segera mandi dan mengganti bajunya
Keesokan harinya Kivasta bersiap untuk menjalani aktivitas kelas seperti murid pada umumnya. Namun, saat Kivasta baru saja akan keluar tiba-tiba sebuah kertas melayang dan menempel di wajahbya. Kivasta mengambil kertas yang tertulis "BACA!" dan membuka isi kertas tersebut. Dalam kertas itu tertulis....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments