Setelah Kivasta keluar dari gerbang ia memandangi hamparan padang rumput yang hijau dan indah. Kivasta berjalan menuju padang rumput, di sana terdapat pohon yang cukup besar yang dapat ia gunakan sebagai tempat untuk berteduh.
Setelah sampai di bawah pohon Kivasta langsung mencoba untuk menggunakan sihir es miliknya. Awalnya ia membentuk sebuah pedang yang seluruh bagiannya terbuat dari es, pedang itu sangat tajam dan berbentuk melengkung khas seperti kebanyakan pedang yang ada di kerajaan Alvia dan di sekitar bangsa gurun pasir. Kivasta menghilangkan pedang es itu dengan sihir dan membuat pedang es lagi, tapi kali ini pedang es yang ia buat adalah bentuk bilah pedang yang banyak terdapat di benua Yhokava.
Setelah membuat pedang dari sihir es, Kivasta mencoba untuk menciptakan teknik lain dan berniat untuk memperkuat elemen es yang ia miliki. Kivasta berlatih hingga matahari telah berada di atas kepalanya, menandakan bahwa ini sudah tengah hari ia juga sudah merasa lapar, jadi memutuskan untuk kembali ke kota Letonia untuk makan siang.
Berjalan melalui jalan tanah menuju gerbang masuk Letonia, ia kembali ke kota dan pergi ke bar yang kemarin Kivasta kunjungi untuk makan di sana. Kivasta masuk ke kota melalui gerbang depan dan kembali menyapa prajurit yang berjaga lagi. Ia berjalan ke arah tempat yang di mana bar kemarin berada.
Sesampainya di bar yang kemarin ia kunjungi, Kivasta segera masuk ke dalam bar dan ingin duduk di tempat kemarin ia duduk. Tetapi, sayangnya tempat itu sudah diduduki terlebih dahulu oleh seorang pria, yaitu pria besar yang kemarin secara tidak sengaja ia menabraknya.
“Harus ke meja lain...,” Kivasta berjalan ke meja yang kosong, tidak ada senderan dinding apapun karena meja dan kursi berada di tengah-tengah bar.
Sebelum ke meja itu Kivasta pergi ke kasir untuk memesan makanan dan barulah ia berjalan kembali ke meja dan duduk di sana menunggu makanannya siap.
Pelayan datang dengan makanan dan minuman yang tersedia di atas nampan, ia meletakkan makanan dan minuman di atas meja lalu setelah itu ia pergi kembali mengantar makanan milik pelanggan lain.
Makanan yang ia makan hari ini hanya sepotong paha ayam, roti gandum, dan tentu saja segelas air untuk diminum. Kivasta memakan seluruh makanan dengan lahap, setelah menyelesaikan makanannya ia berdiri dan menuju kasir untuk membayar. Keluar dari bar setelah makan Kivasta memutuskan untuk berjalan-jalan di kota lagi dan bertanya apakah ada toko yang membutuhkan karyawan atau yang sedang membuka lowongan kerja.
Setelah berjalan ke sana-sini cukup lama tidak ada satupun toko yang membutuhkan karyawan baru.... “Kota ini cukup luas jadi aku bisa pergi ke sudut lain dan jikapun aku masih tidak mendapatkan pekerjaan berarti keberadaan diriku memang ditolak di sini.” Ucapnya dalam hati.
Karena tidak ada yang bisa Kivasta lakukan lagi, jadi Kivasta memutuskan saja untuk kembali ke pohon di antara padang rumput luas di luar kota Letonia. Setelah sampai di bawah pohon besar itu lagi, ia hanya duduk sambil memeluk kedua kakinya. ia menikmati pemandangan yang tidak pernah ia lihat dan ia rasakan di Alvia, di sini jelas tidak sepanas di Alvia yang merupakan daerah gurun pasir.
Terdapat beberapa anak-anak yang bermain di rerumputan, yah tempat ini memang tidak begitu jauh dari kota Letonia jadi jelas masih aman untuk bermain keluar dari kota.
Kivasta berbaring di bawah rindangnya pohon besar ini, di sini benar-benar sejuk sehingga ia sangat mengantuk dan mulai menutup mata....
Kivasta membuka mata dan saat melihat ke arah langit ternyata hari sudah mulai gelap, ia segera berdiri dan berjalan kembali ke Letonia.... Namun, ia mendengar suara batu yang dilemparkan ke pohon dari belakang pohon lalu mengecek bagian belakang pohon tapi tidak menemukan apapun.
“Suara apa tadi?” Kivasta mengecek sekitar tapi tetap tidak menemukan siapapun atau apapun.
Tiba-tiba dari belakang, Kivasta dibekap oleh seseorang menggunakan kain dan Kivasta langsung kehilangan kesadaran....
Entah sudah berapa jam Kivasta kehilangan kesadaran, saat ini ia terbangun di dalam kandang dan menyadari bahwa kaki dan tangannya diikat menggunakan rantai juga lehernya terdapat semacam seperti kalung besi mulutnya juga ditutup menggunakan kain tebal membuat ia tidak bisa mengatakan apapun.
Kivasta melihat sekitar dan menyadari bahwa tempat ini bukanlah Letonia, sepertinya saat ia kehilangan kesadaran orang yang membekapnya membawanya ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.
Kivasta mendengar suara orang yang berbicara, suara itu terdengar tidak asing. Saat Kivasta mengangkat kepalanya untuk melihat ternyata suara itu adalah suara dari pria yang kemarin ia tabrak! Ternyata Kivasta telah bertemu dengan seorang penculik, betapa sialnya ia....
Pria itu berbicara dengan seseorang secara samar-samar. Namun, masih dapat ia dengar....
“Dia bisa menggunakan sihir es, jadi aku tawarkan padamu 1000 Selova.”
“Dia mungkin bisa menggunakan sihir es, tapi dia sendiri masih remaja jadi belum banyak pengalaman dan butuh waktu lebih banyak untuk melatihnya, bagaimana jika 600 Selova?”
“Hmmm..., baiklah lagi pula tidak sulit untuk menangkap bocah ini.”
Mendengar dari percakapan mereka Kivasta tahu bahwa ia masih berada di Setavia. Namun, ia tidak sedang berada di Letonia. Sepertinya pria yang menangkapnya ingin menjualnya sebagai budak kepada seseorang di sini. “Sial! Jika aku bertemu dia lagi akan kubuat dia dirajam dan membeku seumur hidupnya! Tapi bagaimana cara aku keluar dari sini jika aku sendiri diikat dan tidak diberi ruang gerak.” Ucapnya dalam hati
Kivasta melihat ke sekitar dan menemukan bahwa ada banyak orang-orang seumurannya yang menjadi korban, banyak juga dari mereka yang berasal dari ras Reva. “Awas saja pria ini, akan kubuat dia mati dalam keadaan hina.” Ucapnya dalam hati lagi.
Setelah pria itu berbicara ia pergi dan muncul satu pria lagi lalu tangannya meraih kain di mulutnya dan memberikan semacam kain lain dan memaksanya untuk menghirup kain tersebut. Setelah menghirup aroma dari kain itu Kivasta langsung kembali kehilangan kesadaran lagi....
Entah sudah berapa lama Kivasta pingsan, tapi saat ia terbangun ia sudah berada di sebuah penjara dengan kondisi kaki dan tangannya yang dirantai oleh besi termasuk lehernya, ini membuatnya tidak bisa banyak bergerak.
Tempat tersebut sangat gelap dan kotor. Pria yang tadi membuatnya pingsan membukakan penjara dan dan melepaskan ikatan rantai besi ditubuhnya.
Langsung saja Kivasta menggunakan sihir es untuk membuat pedang es dan berencana untuk langsung menghabisinya. Tapi entah bagaimana saat Kivasta akan menusuk tiba-tiba tubuhnya berhenti bergerak dan ia merasakan rasa sakit luar biasa di bagian lehernya yang membuat dirinya tergeletak jatuh meronta-ronta kesakitan dan pria itu kembali membuatnya tidak sadarkan diri dan membawanya ke suatu tempat yang kosong....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Ayano
Kok jadi ngilu bayanginnya.
Keknya itu akibat sihir dan kekuatan tubuh yang gak sebanding juga. Ada case di beberapa aksi magic yang terlalu besar bisa membuat tubuh mati rasa karna efek samping
2023-06-27
1
Ayano
1000 Selova.... aku bisa anggep itu banyak loh wak 😳😳😳
Duit semua itu
2023-06-27
0
Ayano
Aku keknya bayangin ini kek pedang mithril
2023-06-27
0