Chapter 8: Pengetahuan

Beberapa orang datang dari belakang dengan langkah separuh yang terdengar jelas. Kivasta dan Chiva berbalik menghadap ke belakang siapa yang ada di belakang mereka....

Mereka lagi.... Lima murid bangsawan.... Entah apa yang mereka inginkan kali ini....

“Hei! Siapa yang suruh kalian duduk di sini?!” Gertak dari suara Rovka yang menepuk keras kursi kami.

Salah satu dari mereka dengan nama yang tertulis di seragam mereka, yaitu Gevario Ounata merebut roti yang sedang dipegang Chiva dan melemparnya ke tanah.

“Rotiku!” Teriak Chiva setelah rotinya dilempar ke tanah.

Kivasta berdiri dan berjalan tepat ke hadapan mereka, “Woi! Apa masalah kalian?!”

“Kalianlah masalah di sini.... Tidak ada orang rendahan yang boleh duduk di sini!” Gertak Rovka sambil menunjuk-nunjuk ke dada Kivasta.

“Aku baru tahu jika kecerdasan dan hak seseorang diukur melalui sebuah kursi...,” balas Kivasta mencemooh pernyataan Rovka.

Chiva tiba-tiba menarik Kivasta pergi menjauh dari kelima pengganggu itu. Chiva membawa Kivasta ke bawah sebuah pohon besar di balik bangunan sekolah.

Chiva meminta Kivasta untuk tidak terbawa emosi dan membiarkan mereka mengambil tempat duduk kami. Ini jelas penghinaan. Walau begitu, ia juga sebenarnya setuju dengannya. Lagi pula Kivasta hanya orang baru di sini jadi jelas tidak pantas orang baru datang sudah membuat masalah di tempat yang bukan tempat kelahirannya....

Kivasta dan Chiva kembali ke asrama dan kami berpisah saat setelah sampai di kamar masing-masing. Kivasta masuk ke dalam kamarnya, berbaring telentang di atas kasur dengan keadaan lelah.

Baru masuk sudah mengalami pengalaman diejek. Sebenarnya ini bukan pertama kali Kivasta dirundung seperti itu. Sebelumnya Kivasta juga pernah diejek karena dulu ia memiliki tinggi badan yang tergolong pendek untuk anak-anak pada masa itu. Namun, jelas bertahun-tahun telah berlalu dan Kivasta tumbuh dengan tinggi yang normal untuk usia 15 tahun.

Tidak ada yang bisa Kivasta lakukan.... jadi ia mengambil buku yang kemarin ia baca untuk melanjutkan bacaannya kemarin.

Setelah membaca buku itu cukup lama sampai menghabis semua bab pada buku tersebut. Namun, Kivasta tidak menemukan pengetahuan apapun tentang sihir elemen es. “Apa sihir es benar-benar selangka itu Bahkan, sihir gelap, cahaya, dan yang bukan tergolong elemen yang jelas saja masuk di dalam buku ini. Namun, kenapa sihir es tidak? Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.” Pikirnya kemudian Kivasta menutup buku itu lalu mengembalikannya ke lemari dan dikarenakan hari sudah mulai gelap, ia memutuskan untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya.

Pada malam hari Kivasta menutup tirai jendela dan setelah itu ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

Kivasta membuka pintu dan di depan ada sosok wanita yang cukup tinggi membawa buku catatan kecil dan sejenis bulu bertinta. “Hai, ada apa ya?” Tanya Kivasta pada wanita itu.

“Hai, aku ingin mencatat apa yang ingin kamu makan malam ini.” Tanya si wanita dengan pakaian pelayan. Sekolah ini benar-benar mewah sampai ada pelayan.

“Oh, yah aku ingin makanan yang biasa saja dan air putih. Itu saja.” Jawab Kivasta dengan santai.

Si wanita mulai menulis di buku kecil, “Begitu.... aku tahu menu yang biasa tapi enak. Sebentar lagi akan ada yang membawakan makananmu, mohon sabar ya,” Si wanita pergi dan Kivasta menutup pintunya kembali.

Kivasta coba-coba untuk menciptakan senjata dari es selain pedang, dengan kekuatan es yang ia milik. Kivasta mencoba untuk menciptakan senjata lain. Namun, tetap saja yang ia ciptakan adalah pedang.

Sudah beberapa kali ia mencoba melakukannya sampai seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Kivasta berjalan ke pintu dan membuka, “Halo, ini makananmu.” Ucap seorang pelayan pria memberikannya nampan yang di atasnya berisi makanan dan segelas air putih.

Kivasta mengambil nampan dan mengucapkan terima kasih padanya. Sebelum pelayan pria itu pergi ia mengingatkanKivasta jika ia sudah makan, nampan beserta piring dan gelas diletakkan di luar depan pintu saja.

Kivasta menutup pintu lalu berjalan ke meja lemarinya meletakkan nampan di atasnya. Kivasta duduk di depan makanannya dan mulai memakannya.

Saat aku sedang makan Kivasta malah kepikiran sesuatu, kenapa ia bisa dekat dengan Chiva. Padahal Kivasta sendiri baru sehari mengenalnya, cara ia senang atau ceria pun malah lebih seperti anak perempuan dibandingkan laki-laki. Namanya juga nama perempuan, Chiva. Tapi, karena ada nama belakang Anjulio di belakangnya saja yah membuatnya menjadi laki-laki. Jika saja nama belakangnya dihapus, pasti sudah banyak orang yang mengira ia adalah perempuan.

Di sekolah sihir ini memang dipenuhi oleh para bangsawan dari berbagai negeri, wajar saja kenapa di sini penuh dengan bangsawan. Sekolah sihir ini saja sangat mewah dan elegan, jadi rakyat biasa tidak mungkin bisa membiayai anak mereka untuk sekolah di sini.

Terlalu banyak hal yang dipikirkan Kivasta sehingga ia tidak sadar kalau ia telah menghabiskan makanannya dan sampai lupa minum. Kivasta pun meminum air yang ada di cangkir.

Setelah Kivasta menghabiskan makanannya, ia membuka pintu dan meletakkan piring dan gelas bekas aku makan di atas nampan ke luar depan pintu.

Kivasta kembali menutup pintu dan segera berbaring di kasur dengan keadaan mengantuk, perlahan menutup mata dan tertidur....

Kivasta terbangun di pagi hari, ia beranjak dari kasur membuka tirai dan jendela untuk menerangi kamar dengan cahaya matahari. Tanpa berpikir panjang Kivasta langsung masuk ke kamar mandi

Seusai mandi selama beberapa saat Kivasta memakai pakaian seragam akademi. Setelah menyiapkan segala hal, Kivasta membuka pintu dan segera keluar.

Sesaat setelah Kivasta membuka pintu seorang wanita tinggi berdiri di depannya yang membuat Kivasta terkejut dan hampir menabraknya.... Wanita itu adalah Alissa.

“Selamat pagi Kivasta.” sapa Alissa yang berdiri tepat di depan Kivasta.

Kivasta menghadap ke atas dan menatapnya, “S-selamat pagi.... Apa keperluanmu hari ini?” Tanya Kivasta dengan raut muka datar.

“Pihak kerajaan memanggilmu ke istana untuk berbicara langsung denganmu....” Ujar Alissa.

“Untuk apa?” Tanya Kivasta lagi.

“Masa sudah lupa? Kontrak mu dengan kerajaan Setavia.”

“O-ouh..., Baiklah. Apakah aku perlu ganti pakaian?”

“Tidak perlu. Langsung saja ikuti aku.”

Kivasta keluar dari kamar dan tidak lupa untuk menutup pintu kamar. Ia mengikuti Alissa berjalan keluar dari bangunan akademi menuju istana kerajaan yang terlihat jelas berada dekat dengan Akademi sihir.

Setelah sampai di gerbang depan istana. Beberapa penjaga berkumpul di depan mereka lalu membawa mereka berdua menaiki tangga ke istana yang begitu besar dan megah. Penjaga pintu istana membuka pintu dan di depan ada seorang pria dengan mahkota dengan duduk di atas kursi yang berlapis permata indah....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!