Chapter 16: Kelas Sihir Air #3

Winfrey menembakkan panah airnya ke arahku dari atas gundukan tinggi yang dibuat oleh Nicolas.

Aku berlari menghindari setiap anak panah air yang dia tembakkan. Anak panah airnya benar-benar berbahaya....

“Kau pikir aku akan terus bermain-main?” Winfrey menggabungkan sihir petir ke dalam panah airnya. Saat panah itu dia tembakkan ke arahku, panah itu meledak tepat di depanku yang sedang berlari menghindari ledakan panah lain....

Ledakan panah air yang telah dicampur dengan sihir petir membuat ledakan yang dihasilkan semakin besar dan berbahaya terutama pada listrik yang menyebar....

Para penonton terkejut. Namun, tidak dengan Alissa yang masih santai seolah ia tahu jawabannya....

Debu ledakan memudar, dinding es muncul tepat di depan melindungi ku dari ledakan panah sepersekian detik sebelum mengenai ku. Dinding es itu hancur lalu aku menatap kearah Winfrey sambil sedikit menyeringai.

Sementara Chiva masih bertarung melawan Nicolas yang mencoba untuk melindungi Winfrey. Aku menciptakan tiga buah jarum es besar yang terlontar ke arah Winfrey, Nicolas yang menyadari hal itu langsung membangun dinding tanah di depan Winfrey. Tetapi, Chiva menggagalkan tindakan Nicolas membuat dinding yang baru saja akan berdiri langsung hancur.

Winfrey melompat turun menghindari jarum yang akan mengenainya. Sayangnya, aku sudah menunggu dari bawah dengan pedang es di tangan kanan dan sebuah jarum air di tangan kiri.

Winfrey melakukan teleportasi menggunakan sihir petir dan sekarang dia berada tepat di belakangku. Sesaat Winfrey yang akan menyetrum ku dengan sihir petir, aku segera berpindah tempat sebelum dia berhasil menyetrum ku. Winfrey hanya melihat kabut es di depannya, kemudian dia menoleh ke belakang melihatku berdiri santai.

“Kau pikir hanya sihir petir yang bisa melakukan teleportasi?”

“Kau hanya beruntung karena memiliki sihir es...," cemooh Winfrey.

“Ini bukan keberuntungan, tapi sudah menjadi takdir.”

Aku berteleportasi tepat ke depan wajahnya dan akan segera menusuknya.... Aku tahu ini mungkin sadis, tapi percayalah aku tidak akan benar-benar membunuhnya....

Chiva masih kesulitan menghadapi Nicolas yang terus membuat dinding untuk melindungi dirinya sendiri. Chiva memotong setiap dinding yang dibangun oleh Nicolas dengan dua senjata sejenis pisau air bertekanan tinggi di kedua tangannya. Kemudian Chiva terbang dengan sihir angin, sembari terbang Chiva terus mengejar Nicolas. Nicolas berbalik dan menghantamkan tangannya ke tanah. Sebuah gundukan tiba-tiba naik dengan cepat, Chiva yang berada di bawah gundukan itu langsung terlempar jauh dan terkapar....

Chiva mencoba untuk bangun. Namun, Nicolas sudah berada di belakangnya lalu menjebak Chiva di dalam tanah yang keras....

Winfrey berhasil menangkis tusukan jarum airku. Pandanganku teralihkan ke Chiva yang sedang terkurung dan akan dipukul oleh Nicolas.

Warna pupil mataku berubah menjadi biru es sesaat setelah melihat kondisi Chiva yang lemah tak berdaya. Aku berteleportasi menggunakan sihir es dan berada tepat di belakang Nicolas.

Dengan raut wajah marah, aku memukul keras kepala Nicolas sampai dia tersungkur. Winfrey yang berteleportasi mendekatiku, langsung ku cekik lehernya dan menghempaskannya menggunakan gelombang angin es. Seluruh tubuhku kini dialiri oleh energi es yang besar.

Penonton terkejut melihat pertarungan yang awalnya mereka kira akan dimenangkan oleh Winfrey dan Nicolas. Namun, kini mereka telah terkapar tidak bisa bangun setelah menerima satu serangan dari ku. Aku kembali menciptakan pedang es lalu menghancurkan tanah yang mengurung Chiva. Aku merangkul Chiva di bahuku, setelah itu mataku kembali ke warna semula, yaitu warna cokelat. Kalian pasti bertanya kenapa aku tahu kalau mataku berubah kan? Sebenarnya ini bukanlah pertama kalinya, jadi aku bisa menyadari bahwa warna pupil mataku akan berubah.

Beberapa detik kemudian bel berdenting dan pemenang babak kali ini adalah aku dan Chiva....

Aku membawa Chiva keluar dari arena lalu berbelok ke arah ruang medis....

Chiva terbaring dalam kondisi lemah dan napasnya juga lambat. Alissa datang dengan perasaan cemas lalu bertanya kepada dokter tentang kondisi Chiva.

“Dokter! Bagaimana kondisi Chiva?!” Tanya Alissa yang cemas.

“Saat ini dia baik-baik saja, untung saja dia tidak terlempar cukup jauh atau dengan kecepatan tinggi. Kalau iya, sudah dipastikan dia akan mengalami kelumpuhan permanen dan tidak bisa lagi bergerak.... Namun, butuh waktu baginya untuk sembuh dan dapat kembali ikut ujian bersama Kivasta...,” ujar dokter.

“Kapak Chiva bisa sembuh?!” Tanya Alissa lagi.

“Sekitar 2 minggu.... Sementara final akan digelar satu 5 hari lagi...,” tutur dokter.

“Begitu ya....”

Dokter pergi dari ruangan. Alissa mendekatiku yang sedang duduk termangu di samping Chiva....

“Maafkan aku...,” jujur aku kasihan dengan Chiva.... Aku juga merasa bersalah....

Alissa menunduk sedikit tersenyum walau dia sendiri masih khawatir, “Jangan salahkan dirimu sendiri.... Aku tahu kamu mencoba untuk melindungi Chiva...,” ucap Alissa yang mencoba untuk menenangkan ku dengan nada lembutnya.

“Tapi bagaimana dengan final nanti?” Tanyaku.

“Aku akan mencari solusinya nanti, kamu jangan khawatir ya? Oh ya saat kamu menghempaskan Winfrey tadi, dari mana kamu mendapat kekuatan yang besar itu?” Tanya Alissa.

“Itu.... Aku juga tidak tahu, tapi luapan energi es itu bukanlah yang pertama kali....”

Alissa menghela napas perlahan lalu kembali melihat Chiva. Beberapa saat kemudian Chiva membuka mata perlahan, Alissa yang melihatnya bangun langsung bahagia dan memeluknya.

Chiva yang baru saja bangun masih berusaha berpikir apa yang barusan terjadi. Chiva terkejut saat Alissa langsung memeluknya erat-erat....

“Bu Alissa, lepaskan....”

Alissa melepaskan pelukannya dan meminta maaf. Apa mereka memang sedekat ini? Mereka bahkan lebih mirip ibu dan anak dibandingkan guru dan murid.... Atau Chiva itu murid favorit Alissa?

Chiva menoleh ke arahku lalu..., “Terima kasih sudah menyelamatkan ku Kiva, jika kamu tidak ada di sana entah hal buruk apa lagi yang akan terjadi...,” ucap Chiva sambil tersenyum polos.

“Tidak apa-apa, sudah menjadi kewajiban sesama rekan untuk saling membantu....”

Aku menemani Chiva sampai sore. Sementara Alissa sudah pergi terlebih dahulu karena ada urusan. Wajar, dia kan guru....

Saat sore tiba aku mengucapkan selamat tinggal pada Chiva dan berjalan menuju kamarku....

Saat berjalan aku melihat Winfrey dan Nicolas yang terbaring di kasur di ruangan medis sebelah Chiva. Aku harap mereka belajar untuk tidak sombong....

Sesampainya di kamarku, aku masih memikirkan bagaimana kondisi final nanti. Apakah boleh meminta penggantian peserta?

Saat aku masuk ke kamar, Aku terbaring sambil terus memikirkan bagaimana nasib final nanti.... Tunggu, untuk apa aku memikirkan nasib final? Bukankah aku hanya perlu menyelesaikan kontrak?

******

Aku terbangun dari tidurku malam tadi.... Aku tidak sempat mandi karena lelah. Suara ketukan pintu terdengar dari luar, pikirku siapa pagi-pagi begini sudah ketuk pintu kamar orang lain....

Saat membuka pintu aku melihat sosok tidak asing.... Itu....

Terpopuler

Comments

Neonnorey

Neonnorey

ouh aku pernah mampir di sini ekek

2023-06-03

1

Neonnorey

Neonnorey

hallo thor... aku dah mampir yaa...dah aku bacaa keren ceritanya lanjut ya thorr... oiya jangan lupa mampir juga di novelku ya ketika kakaku menyentuhku trimakasih 😆👍

2023-05-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!