Di Kekaisaran Veratha....
Sang kaisar sedang berdiri di teras kamar istana, melihat ibu kotanya dari atas....
Seorang wanita dengan baju zirah dan pedang mendatangi sang kaisar. Wanita itu berhenti di belakang sang kaisar....
“Ada apa Lumia? Apakah jenderal masih sibuk mengurus garis depan?” Tanya Sang kaisar sambil sedikit menoleh ke belakang.
“Jenderal masih sibuk, jadi ia mengirimku untuk melaporkan suatu hal.”
“Apa itu?” Tanya sang kaisar lagi.
“Kerajaan Setavia melakukan sebuah kontrak dengan seorang pemuda laki-laki untuk melawan kita yang mulia.”
“Seorang bocah? Kenapa Setavia melakukan hal seperti itu?”
“Ia bukan pemuda biasa, ia adalah seorang pengguna sihir elemen es dan ia bernama Kivasta Ekova Lanhamr. Saat ini ia sedang mengikuti ujian yang digelar oleh Akademi Sihir Setavia.”
Sang raja menoleh ke belakang, “Ekova Lanhamr kau bilang? Jadi dia keturunan penyihir Ekova dan juga membawa darah keturunan Lanhamr.... Menarik.... Jadi Setavia membuat kontrak dengannya hanya karena sihir uniknya saja.... Lumia, berikan perintahku untuk melakukan serangan senyap....”
“Baik, saya mengerti.”
**********
Bel berdenting dan pertarungan telah dimulai...!
Aku melempar sebuah bola kecil ke depan. Bola itu terus mengeluarkan asap putih yang hampir memenuhi arena. memanfaatkan situasi yang membuat lawan bingung, aku membuat dan Chiva menargetkan satu lawan yang berpotensi lebih kuat atau akan menyusahkan kami.
Aku dan Chiva menyerang murid bernama Petra yang telah menjadi target utama kami. Di dalam asap yang tebal, kami bergerak senyap dan cepat.
Rekan Petra bernama Avoza kebingungan tidak dapat melihat Chiva dan aku. Sementara kami telah berhasil mendekati Petra dan memulai serangan kami.
Aku menggunakan sihir semburan air bertekanan tinggi. Aku mengayunkan tanganku ke arah Petra hingga membelah asap dan hampir mengenai penonton.
Petra mengelak dari seranganku. Hampir saja dia terkena.... Jika saja aku menaikkan tekanan dan kecepatan semburan airnya, kurasa tubuhnya akan terbelah dua.
Petra masih mengamati dan mencari tahu di mana posisi kami. Chiva dengan sihir pisau airnya maju dan menyerang Petra dari jarak dekat, sementara Avoza masih bingung ke mana ia harus pergi.
Aku membuat pedang es yang berbentuk khas pedang bangsa padang pasir dan membantu Chiva melawan Petra. Petra menangkis serangan Chiva dengan sihir air, pertarungan mereka cukup sengit sebelum aku datang dan membekukan sihir air Petra menjadi balok es.
Avoza tiba-tiba muncul dari belakang menyerang kami. Aku segera berbalik dan menangkis tebasan pedang petir Avoza.
Asap sudah mulai menghilang.... Sepertinya ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu....
Tanpa bicara aku langsung balik menebas Avoza dengan cepat. Avoza bergerak seperti petir berpindah-pindah posisi saat aku berusaha untuk menebasnya.
Tepat ketika Avoza berhenti dan hendak menyerangku dengan pedangnya, aku menaikkan tangan kiriku ke atas dan semburan air muncul dari bawah membuat Avoza terangkat ke udara. Aku membekukan air itu menggunakan sihir es, lalu aku mengunci tangan Avoza dengan es. Aku menghancurkan air yang membeku, Avoza jatuh dan sesaat dia akan jatuh ke tanah, dengan pedang es milikku aku berhasil mengalahkannya hanya dengan satu kali serangan cepat. Tenang, dia hanya akan mengalami luka ringan dan tidak benar-benar kutebas.
Chiva masih berurusan dengan Petra. Chiva agak kesulitan menghadapi Petra karena Petra adalah tipe penyihir yang menggunakan sihir dari jarak jauh dan setiap serangan Petra benar-benar membuat Chiva sulit untuk maju dan menyerang.
Chiva tiba-tiba memutar tangannya dan sebuah gelembung air muncul mengejar Petra. Itu teknik yang sama seperti yang pernah digunakan oleh Alissa untuk mengurung Si "Penyihir"
Petra berlari dari gelembung air itu dengan panik dan mencoba untuk memecahkan gelembung. Namun, gelembung tidak pecah sama sekali.
Sedangkan Chiva hanya melihat dan tidak melakukan apapun.... Sepertinya dia ingin menikmati pemandangan orang yang ketakutan....
Aku menghampiri Chiva dan berbicara, “Kenapa kau tidak menyerangnya?” Tanyaku.
“Aku masih ingin melihat Petra lari ketakutan,” jawab Chiva dengan suara yang sok polosnya.
Murid dan guru yang menonton juga terheran-heran bahkan ada beberapa yang tertawa melihat aksi Petra yang lari dari gelembung itu. Sebenarnya ini cukup lucu melihat orang yang berhasil membuat Chiva tidak dapat melakukan serangan apapun, tapi saat diserang balik malah kabur....
Aku berjalan lalu berlari ke arah Petra sambil memegang pedang es di tangan kananku. Entah kenapa aku merasa seperti ada sebuah kekuatan tak biasa yang bisa kulakukan....
Aku berpindah posisi dan muncul di depan Petra lalu langsung menebasnya. Petra yang terkejut tidak sempat untuk menghindar, dan alhasil dia tumbang dan tim mereka dinyatakan kalah....
Aku membawa Petra yang tak sadarkan diri keluar dari arena. Sementara ada beberapa prajurit yang membawa Avoza keluar dari arena. Aku menyerahkan Petra kepada prajurit yang bertugas untuk membawa peserta yang telah kalah keluar dari arena.
Chiva menghampiriku lalu kami bersama-sama pergi keluar dari arena juga....
Setelah pertarungan itu, Alissa memintaku untuk bertemu dengannya di ruang kerjanya.... Entah apa urusannya kali ini....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments