Chapter 4: Kesialan dan Keberuntungan

Setelah dibuat kesakitan di bagian leher dan membuatnya kembali tak sadarkan diri lagi dan ia dibawa ke suatu tempat entah di mana.

Entah sudah berapa lama Kivasta tidak sadarkan diri. Tetapi, saat ia membuka matanya, Kivasta merasa silau dan saat mengusap mata dan mengedipkan matanya menyadari bahwa dirinya berada di dalam kandang, seperti hewan peliharaan.

Kivasta tidak tahu ini tempat apa, tapi ini terlihat seperti kota. Kivasta melihat tubuhnya yang kotor, ia juga menoleh ke kiri dan ke kanan melihat banyak orang yang bernasib seperti dirinya. Kivasta berniat menggunakan sihir es untuk membekukan kandang ini. Namun, ia tidak bisa menggunakannya, ini seperti sihirnya telah dikunci oleh seseorang sehingga ia tidak bisa menggunakan sihir apapun.

Tangan, kaki, hingga leher Kivasta dirantai dan tidak memberinya ruang bebas. Bagaimana ingin bergerak bebas jika ia saja dikurung di dalam kandang seperti hewan peliharaan. Kivasta melihat ke sekitar, banyak orang yang bernasib sama dirantai sepertinya dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Kivasta bisa melihat pria yang mengurungnya di sini. Ia berada di luar dengan suaranya ia menjual budak termasuk dirinya..., awas saja....

Kivasta sangat benci saat ia mengatakan kata-katanya yang menjual budak, ia tidak bisa lama-lama mendengar orang ini berbicara, ditambah wajahnya yang lebih terlihat seperti orang mesum....

Sekitar 2 bulan lebih kemudian....

Sepertinya sudah lebih dari 2 bulan Kivasta terjebak di sini, tidak ada yang berniat untuk menyelamatkannya.... Bahkan, tidak ada yang berniat untuk membelinya sebagai budak, ia juga tidak ingin dibeli oleh siapa pun. Kivasta juga tidak bisa menggunakan sihir apapun untuk melawan. Kivasta hanya diberi makan dua roti saja dalam satu kali sehari dan segelas air....

Tetapi, Kivasta belajar banyak hal dari pengalamannya menjadi budak di sini.... Menurutnya orang-orang yang menjadi budak di sini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu budak perlawanan dan budak sukarela. Budak perlawanan adalah mereka yang menolak untuk menjadi budak memilih melawan walau mereka telah disihir dengan suatu sihir yang akan membuat mereka patuh. Tetapi, hal itu tidak membuat tekad mereka untuk merdeka pudar. Sedangkan budak sukarela adalah mereka yang memiliki pemikiran bahwa mereka adalah orang-orang rendahan dan hanya pasrah pada apa yang terjadi pada mereka saat ini, orang-orang seperti banyak ditemukan pada ras Reva, dan di samping itu adalah orang-orang biadab yang merasa derajat mereka lebih tinggi sebagai manusia dan menganggap yang tidak berasal dari Yhokava bukanlah manusia dan menjadikan mereka budak. Lalu Kivasta berada di kelompok yang mana? Jelas ia lebih memilih untuk melakukan perlawanan, jika saja pria itu lupa untuk menyihirnya ia sudah pasti tewas dalam keadaan membeku.

“Aku akan memikirkan itu lain kali saja..., kondisiku saat ini juga sudah kurus karena sedikit makan. Ternyata ini yang dirasakan oleh mereka yang menjadi budak....”

Keesokan harinya, lebih tepatnya pada saat siang hari ada beberapa orang dengan baju zirah dan di depan mereka ada wanita tinggi cantik dengan dua aset besar, rok dan baju berwarna ungu, beserta topi penyihirnya yang berwarna ungu. Pokoknya hampir serba ungu.

Wanita ungu itu berjalan menghampiri pria atau bisa dibilang "penjual budak".

Wanita itu menarik napas pelan kemudian berbicara pada penjual budak, “Aku dengar di sini menjual budak yang bisa menggunakan sihir elemen es? Apakah itu benar?” Ucap si wanita serba ungu sambil menahan pipinya dengan telapak tangan. Harus diakui ia benar-benar seperti wanita elegan atau seperti bangsawan.

“Sepertinya wanita itu sedang mencariku, tapi memangnya ia siapa? Aku tidak peduli dengannya, aku akan menolak jika ia ingin membeliku sebagai budaknya.” Ucap Kivasta dalam hatinya.

Si penjual budak itu menjawab sambil menunjuk ke arah Kivasta dengan jari telunjuknya, “Ya, ini dia. Tapi, dia sering menolak perintah jadi tidak ada yang ingin membelinya.”

“Tidak apa-apa..., aku akan melatihnya menjadi murid yang baik...,” wanita itu kemudian mengeluarkan segepok emas dari sakunya dan hendak memberikan uang itu pada si penjual budak.

Setelah melihat emas yang begitu banyak, mata pria itu berbinar-binar menginginkan emas yang begitu banyak.

Wanita itu menarik kembali emasnya, “Serahkan dulu anak ini padaku, baru akan kuberikan emas ini padamu....”

“Ouh, baiklah nyonya,” Si penjual budak membuka kandang Kivasta dan menariknya keluar dengan rantai yang mengikat di lehernya.

Setelah pria itu menarik Kivasta secara kasar dan paksaan dengan rantai, ia menerima banyak emas dari wanita itu.

“Anda terlalu baik, aku yakin dia akan menjadi budak yang patuh untuk Anda.” Puji si Penjual budak tersebut terhadap sang wanita.

Si penjual budak itu menyerahkan rantai yang mengikat Kivasta kepada sang wanita serba ungu. Wanita itu mengambil rantai tersebut, tapi Kivasta mencoba untuk menjaga jarak darinya.

“Tenang saja aku tidak akan menyakitimu..., sebaliknya aku membutuhkanmu....” Ucap sang wanita dengan nada lembut.

Wanita itu menarik Kivasta dan membuatnya pingsan dengan memberi pukulan di lehernya lalu ia membawanya keluar dari kota yang tidak dikenal bersama dengan prajurit yang menjaganya.

Tiba-tiba Kivasta terbangun membuka matanya dan menoleh ke kiri dan ke kanan lalu ke depan tepat di sana ada wanita yang tadi membelinya sedang duduk di kursi yang empuk dan di depan terdapat meja dengan beberapa buku di atasnya, sepertinya ini bukanlah tempat yang biasa....

“Kamu sudah bangun? Bagus..., ada hal yang ingin kubicarakan padamu....”

“Sebelum itu jawab pertanyaanku dulu..., Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dariku?! Jika kau hanya ingin memperbudakku aku akan membunuhmu!” Tanya Kivasta dengan nada yang keras dan mengancam wanita itu.

Wanita itu menarik napas dan menghembuskan napas lalu mulai berbicara, “Namaku adalah Alissa Ravana, pakai dua huruf s ya Alissa-nya,” jawab Alissa dengan nada yang seolah sedang menggoda.

“Apa yang kau mau dariku?!” Tanya Kivasta dengan kesal.

“Hei jangan kasar begitu, jika saja para penjaga gerbang tidak memberitahu bahwa kamu menghilang mungkin kamu tidak akan berada di sini lagi.”

“Penjaga gerbang?” Tanya Kivasta penasaran.

“Ya, mereka memberitahu bahwa setelah kamu pergi dari kota kamu tidak kembali pada saat malam hari.”

Kivasta kembali ingat bahwa pada saat itu ia sempat menyapa dua penjaga gerbang saat keluar dari kota Letonia.

“Jadi, ini Letonia?” Tanya Kivasta lagi masih penasaran.

“Ya. Kamu harus berterima kasih pada mereka. Aku dengar kamu bisa menggunakan sihir es, jadi aku membelimu untuk menjadi salah satu murid di sini di 'Akademi Sihir Setavia' atau 'Setavia Magic Academy'. Tapi aku tidak akan melepaskan status budakmu sebelum kamu lulus dari sini.”

Pupil mata Kivasta melebar karena terkejut apa yang Alissa katakan, “A-Akademi Sihir Setavia?! Jadi aku ada di Akademi yang terkenal itu! Tapi apa tujuanmu ingin aku menjadi murid sini?” Tanya Kivasta dengan heran pada Alissa.

Alissa menjawab dengan santai sambil memiringkan kepalanya dan menahan pipinya dengan telapak tangan, “Aku membutuhkanmu untuk melawan kekaisaran Veratha. Saat ini kerajaan Setavia masih dalam situasi gencatan senjata dengan kekaisaran Veratha. Tetapi, kami khawatir mereka akan melanggar gencatan senjata dan melakukan serangan kejutan, maka dari itu kami membutuhkanmu untuk melawan mereka.”

“Jadi aku harus melawan kekaisaran Veratha? Lalu apa yang akan kudapatkan?”

“Kemerdekaan. Karena aku tidak ingin melepaskanmu sebelum kamu menyelesaikan misi,” ucapnya sambil meletakkan telapak tangannya di dadanya.

“Aku akan menganggap ini sebagai kontrak, dan jika sudah selesai aku tidak akan berurusan dengan kalian lagi.” Ujar Kivasta menerima tawaran Alissa dengan terpaksa.

“Anak yang baik, kamu menerimanya dengan baik. Kamu akan tinggal di asrama laki-laki dan kamu akan diantar oleh seorang guru wanita.”

Alissa berdiri dan berjalan ke arah Kivasta. “Jangan bilang guru itu adalah kamu?!” Celetuk Kivasta.

“Ya aku kan memang guru di sini dan kamu akan berada di kelasku, kelas sihir elemen air karena kami tidak memiliki kelas sihir elemen es jadi kami memutuskan untuk memasukkanmu ke kelas sihir air saja,” Alissa mengajaknya keluar dan mereka berjalan menuju asrama laki-laki di sekolah ini....

Terpopuler

Comments

Ayano

Ayano

🤣🤣🤣 Bagus Bagus
Kadang emang suka salah kan nama orang itu
Emang harus diperjelas di awal

2023-07-14

2

Ayano

Ayano

Baru bangun. Napas aja belom 😅
Kasih minum dulu dong

2023-07-14

0

Ayano

Ayano

Spek onee-chan lagi 😳😳

2023-07-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!