"Asalamualaikum.. " ucap dou B dan Ara bersamaan saat memasuki rumah.
Bima dan Radella yang berada diruang keluarga untuk menonton televisi lantas menoleh kearah pintu karena mendengar suara anak-anak mereka yang baru pulang sekolah itu.
"Walaikumsalam, " sahut Radella dan Bima.
Ara berlari saat melihat orang tuanya berada diruang keluarga, "AYAHHH... BUNDAAAA.. " serunya sambil berlari.
Mereka dibuat gemes dengan tingkah Ara, "jangan lari-lari princess, " peringkat Bima dan Radella.. Sudah berapa kali Ara diperingati jangan berlarian tapi gadis imut itu tetap berlarian.
Ara hanya nyengir lucu saat dia lagi-lagi ditegur, "bunda, ayahh look, nilai Ara besar hihi.. " Ara memperlihatkan kertas yang sedadi dia pegang kapada kedua orang tuanya lalu dia duduk sipangkuan sang ayah.
Radella menerima kertas itu dan dia juga memperlihatkan pada Bima. Radella dan Bima tersenyum melihat nilai anaknya yang memuaskan.
"Pinter banget sihh putri ayahh, " Bima mencium Ara yang sedang duduk dipangkuan nya itu.
"Bunda senang kamu bisa dapat nilai bagus, " bangga Radella sambil mengusap lembut pipi chubby Ara.
"Ara pinter hihii, gak kaya bang Ian. " ucap Ara sambil terkikik lucu. Bryan tersenyum gemes dengan adeknya itu sedangkan Brian berdecak saat mendengar perkataan adeknya itu.
Radella dan Bima terkekeh, "Ara memang pinter, " ujar Radella dan Bima bersamaan.
"Ayah ingat janji kan? " tanya Ara dengan wajah lucu nya.
"Apa emang? " tanya Bima pura-pura tidak tau.
Ara memanyunkan bibirnya lucu dan membuat mereka semua gemes dengan gadis kecil mereka itu.
"Bunda ingat? " tanya Ara pada Radella.
Radella terkekeh, "ingat sayang, " jawab Radella dan membuat Ara senang.
"Yeayyy Ara mau punya HP, " girangnya.
"Adek gak boleh punya HP, " Brian bersuara dengan lantangnya dan membuat mata Ara berkaca-kaca.
"Kenapa? " tanya Radella.
Brian membuang nafas kasar lalu menceritakan kejadian dikantin sekolah tadi. Radella dan Bima melihat kearah Ara yang hanya mendengar kan cerita abangnya dengan wajah polosnya seakan tidak mengerti apa yang dia tonton itu tidak boleh.
"Ara liat video apa tadi disekolah? Kenapa Ara liat video itu? " tanya Radella.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "Ara gak tau, Ara cuma pencet pesan yang masuk, dan Ara liat laki-laki sedang memakan perempuan, perempuan itu kesakitan dan bersuara.. Ahhhh. " Ara menceritakan sambil mempraktikkan suara ******* itu.
Uhuk uhuk uhuk
Mereka yang mendengar suara ******* Ara tersedak ludah masing-masing.
"Why? " tanya Ara polos saat mendengar orang tua dan abang-abang kembar nya batuk.
'Ppfftt bocil satu ini benar-benar meresahkan karena sangat polos, 'batin Brian sambil menahan tawa melihat ekspresi polos adeknya itu setelah mengeluarkan suara *******.
"Coba sekali lagi praktekkan suaranya! " pinta Brian jahil.
"Ahhhh... " desah Ara.
"Heh, " tegur Radella, Bima dan Bryan bersamaan.
"Hahahah." sedangkan Brian terbahak karena dengan polosnya adeknya itu mempraktikkan yang dia suruh.
"Ara masih kecil gak boleh liat video gituan, " ucap Radella.
"Berarti kalau Ara besar, Ara boleh liat video itu bun? " tanya Ara dengan polosnya.
"Hufftt adek gue emang bedaa ni bosss hahaha. " ucap Brian disela tawanya.
"Dengar ya princess, melihat video gitu gak baik buat otak, Ara mau kalau Ara gak pintar lagi gara-gara nonton itu? " tanya Bima dan Ara menggeleng kuat.
"Huhu Ara gak mau seperti abang Ian.. " sedih Ara dengan lucunya.
"Heh kok abang? " tanya Brian agak kesal sekarang.
"Iya, abangkan gak pinter, " sahut Ara polos dan sekarang giliran Radella, Bima dan Bryan yang tertawa tapi hanya tertawa kecil bukan terbahak seperti Brian tadi.
Dasar ya Brian, dia yang kasih tau tentang kejadian di kantin itu tapi dia yang menertawakan kepolosan adeknya itu.
Ahh perlu kalian tau, jika kalian berada di posisi Brian, kalian pasti juga tertawa karena kepolosan Ara itu. Beruntung Ara mendesah hanya diantara keluarga nya saja, bagaimana kalau didepan teman-temannya bisa terbahak berjamaah mereka kecuali Lima, bukannya terbahak Lima malah bernafsu, maybe xixi.
"Abang pinter kok, " ujar Brian angkuh.
"Kalau pinter kenapa nilai abang kecil?" tanya Ara polos.
"Itu abang yang minta nilai kecil agar abang bisa pamer ke teman-teman yang nilainya tinggi, dan abang bangga karena cuma abang yang nilai kecil, terus juga abang disayang sama guru karena nilai abang kecil.." dusta Brian. Kesalahan terbesar Brian adalah berdusta kepada gadis kecil polos.
Ara mengangguk, "kalau begitu Ara juga mau nilai kecil agar disayang guru, yeayyy.." ujar Ara dengan polosnya.
"Heh," lagi dan lagi Ara mendapatkan teguran dari 3 manusia didepan nya ini.
"Hahaha." Brian lagi-lagi terbahak mendengar perkataan adeknya, sungguh Brian benar-benar dibuat sakit perut. Mungkin kepolosan adeknya itu akan dia memanfaatkan untuk hiburan tersendiri bagi Brian.
Radella menatap Brian yang sedang terbahak itu dengan tajam, Brian seketika menghentikan tawanya karena ditatap seperti itu oleh bundanya.
"Ara mau HP kan? Kalau mau berjanjilah untuk terus mendapatkan nilai besar. " ucap Radella.
Ara mengangguk patuh, "tapi Ara mau sekarang HP nya bun, " pinta Ara.
"Boleh, tapi janji gak liat video aneh-aneh yang seperti tadi yaaa. " sela Bima sebelum keduluan Radella, jika keduluan Radella mungkin Ara tidak mendapatkan ponsel baru.
Mata Ara berbinar mendengar perkataan ayahnya, "iyaaa, yeayyy sayang ayah banyak-banyak.. " Ara memeluk erat tubuh Bima, Bima hanya terkekeh sambil membalas pelukan dari putri kecilnya itu.
Radella menghela nafas, "kalian pergilah kekamar dan bersih-bersih lalu turun untuk makan siang. " titah Radella pada ketiga anaknya itu.
"Abang gendong, kaki Ara capek.. " Ara merentang tangannya ke kedua abangnya itu dan dengan sigap Bryan membawa Ara kedalam gendongan koalanya sebelum keduluan Brian.
Brian berdecak melihat kesigapan kembarannya itu lalu dia berjalan menaiki tangga lebih dulu.
"Ayahh, Bundaaa... Ara kekamar dulu, papayyy.. " teriak Ara kepada kedua orang tua nya itu sambil melambaikan tangan seakan Ara berpamitan untuk pergi jauh.
Radella dan Bima tersenyum lalu membalas lambaian dari putri kecil mereka itu.
***
Setelah sampai di kamar Ara mulai melepaskan seragam sekolah nya dan bersiap hendak mandi, Ara mengedarkan pandangan nya dan Ara melihat ayam ehh kucing peliharaan nya itu sedang berbaring manis di keranjang khusus untuk peliharaan nya itu tidur.
Ara mendekati kucing tersebut, "ayam mau mandi bareng Ara? " tanya Ara pada peliharaan nya itu, si kucing yang disebut ayam itu hanya menatap majikannya yang not akhlak itu dan dia kembali berbaring manis.
Ara yang melihat tidak ada respon dari kucing tersebut secara membawa kucing itu kekamar mandi dan lagi-lagi dengan tidak berperasaan nya Ara menjatuhkan kucing tersebut ke bath up yang sudah berisi air penuh.
Byurrrr
Meongggg
Kucing tersebut bersuara keras karena lagi-lagi dia dilempar ke air dengan tidak lembutnya tapi dia hanya bisa pasrah saat Ara mulai memandikan nya, jika kucing itu bisa bicara mungkin dia akan mengatakan bahwa telah menyesal dirinya ditemukan oleh Ara di gerobak sampah.
"Yeayy ayam udah wangi, " ucap Ara setelah selesai memandikan kucing tersebut, "sekarang giliran Ara yang mandi, ayam keluar dulu yaaa. " Ara mengeluarkan kucing itu dari kamar mandi tanpa mengering kucing tersebut dan membuat si kucing menggigil.
****
"Mau pergi sekarang? " tanya Bima pada Radella.
"Kemana? " tanya Radella.
"Ke mall sayang, kan udah janji ke Ara. " ucap Bima.
Radella melirik kearah anak-anaknya yang sedang makan siang itu ehh ralat lebih tepatnya makan sore karena jam sudah nunjukkan pukul 4. Mereka terlambat makan siang karena pulang sekolah berbincang dulu sebelum membersihkan diri.
"Gak apa-apa Ara dikasih HP? Aku takut kepolosan nya ternodai mas, " keluh Radella.
"Kasian dia syang, lagian kita juga susah kan menghubungi Ara karena Ara gak punya HP.... Nanti kita batasi dia bermain HP dan selalu dipantau agar tidak menganggu belajar nya. " jelas Bima, dia tidak akan membiarkan Ara terlalu bermain ponsel maka dari itu dia akan memantau Ara saat bermain HP nanti.
"Yaudah deh, lagian aku gak mau putriku kecewa karena keinginan gak diturutin. " ucap Radella dan Bima tersenyum lalu mengecup singkat pipi istrinya itu.
"Ayah Ara juga mau kisss.. " ucap Ara yang sudah berada didepan orang tuanya itu. Selesai makan Ara segera menghampiri kedua orang tuanya, beruntung Bima hanya mengecup pipi Radella bukan bibir, jika bibir dapat dipastikan putri kecilnya itu kembali menangis karena mengira dia memakan bibir bundanya.
Bima tersenyum lalu mencium pipi chubby putrinya itu, "sudah selesai makan hm? Mau berangkat ke mall sekarang? " ajak Bima dan diangguki Ara dengan semangat.
"Let's Go.. " teriak Ara dan membuat Radella terkekeh.
"Abang ikuttt. " Brian mendekat kearah orang tuanya dan adeknya itu.
"Kamu dan Bryan dirumah aja atau pergi bersama teman-teman kalian. " ucap Bima yang tidak ingin membawa putra-putra nya itu.
"Yahhhh, " Brian pura-pura sedih didepan Ara.
Ara mengerjap polos lalu memandang Brian, "abang jangan sedih yaa, " Ara mengusap punggung Brian untuk menguatkan abang kedua nya itu.
"Iya gak sedih, abang nanti nongkrong aja sama teman-teman. " ucap Brian lagi-lagi dia pura-pura sabar. Ishhh cocok banget Brian itu jadi aktor karena pandai berekting.
Ara tersenyum lalu.
Cup
Cup
Ara mengecup pipi Brian lalu beralih ke Bryan, "Ara pergi dulu, papayyy... " pamit Ara kepada dia abangnya itu.
"Manis banget adek guee, " gumam Brian sambil membalas lambaian dari Ara yang sudah berjalan keluar bersama kedua orang tuanya. Sedang kan Bryan hanya tersenyum manis kearah adek kecilnya itu. Sungguh hidup Bryan lebih berwarna semenjak perubahan sikap dari adek kecilnya itu.
****
"Bagas, kamu kenapa senyum-senyum? " tanya Bram kepada putranya itu, semenjak pulang dari sekolah Bagas terus-terusan tersenyum dan membuat Bram sedikit heran, karena semenjak putrinya meninggal dia tidak pernah lagi melihat putra sulung nya itu tersenyum lebar. Apakah Bagas menemukan pujaan hati nya disekolah itu? Pikir Bram.
"Ehh, tidak apa-apa Dad. " ucap Bagas tersenyum.
"Jangan berbohong, kamu sedang jatuh cinta yaaa.. "Jahil Bram. Hubungan Bram dan Bagas baru seminggu ini akur, setelah kematian Ara, Bagas mendiami Bram beberapa minggu dan baru seminggu ini Bagas kembali seperti dulu walaupun masih enggan untuk tersenyum tapi hari ini putra sulung nya itu tersenyum? Ahh Bram jadi pengin menjahili dan menggoda putranya itu.
"Dad kalau ngomong ngaco, " Bagas terkekeh karena pemikiran dari daddy nya itu.
Bram tersenyum, "yasudah kalau kamu gak mau cerita, Daddy mau ke mall untuk bertemu klien dan membahas perpindahan kantor pusat kesini, kamu mau ikut? " ajak Bram.
"Daddy aja, Bagas masih capek habis dari sekolah. " tolak Bagas.
"Yasudah, daddy pergi dulu. " pamit Bram.
"Hati-hati Dad. " ucap Bagas dan diangguki oleh Bram
****
Radella dan Bima membawa Ara memasuki mall besar dikota bandung itu, Radella menggenggam tangan kiri putrinya itu sedangkan Bima tangan kanannya.
Mereka akan ke lantai tiga untuk ke toko apple Store, saat mereka berada di lantai dua tiba-tiba ada yang menyapa Bima.
"Bima.. " sapa orang itu dan serentak Bima dan istrinya menoleh kearah belakang dan melihat siapa yang memanggil itu sedangkan Ara tidak menoleh karena dia melihat-lihat mall luas itu.
Bima tersenyum saat melihat siapa yang tadi menyapanya, orang itu Bram dan dia mendekat kearah Bima yang sedang bersama istri dan anaknya.
"Kalian kesini ngapain? " tanya Bram.
"Menepati janji kepada putri kecil kami, " sahut Bima dan Bram menoleh kesamping Bima untuk melihat Bella_anak dari sahabat nya yang seumuran dengan mendiang putrinya itu.
"Bella? " panggil Bram dan Ara yang mendengar teman ayahnya itu salah menyebutkan namanya lantas menoleh untuk protes.
Degg
"Daddy." lirih Ara pelan saat melihat siapa yang ada didepan nya ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Bzaa
akhirnya bertemu juga
2023-06-13
0
Shai'er
bakalan ketemu ama Ara nih🤔🤔🤔
2023-06-10
0
Shai'er
😘😘😘😘😘
2023-06-10
0