mam bibir

"Abang!!! Ara bosan, " Ara mengeluh setelah selasai bermain dengan kucingnya ehh bukan bermain lebih tepatnya Ara memaksa kucing itu melakukan apa saja yang yang diperintahkan oleh majikannya.

Sedangkan Abang-abang kembar nya sertateman-teman abangnya hanya bisa bertawa gemes dengan tingkah Ara yang memperlakukan peliharaan nya dengan semena-mena.

"Udah bosan bermain nya hm, " Bryan mengelus lembut rambut sang adek.

"Hu'um,, Ara mau main diluar bareng ayam yahh. " izin Ara.

"No princess, " sahut Bryan dan Brian bersamaan, mana mungkin mereka membiarkan adek kecil mereka bermain diluar sendirian, Ara itu kan polos nanti takutnya adek nya jadi bahan penculikan, kan sekarang marak ya berita tengang penculikan.

Ara memanyunkan bibirnya ketika dengan serempak Abang-abang nya itu tidak mengizinkan keluar.

"Ihh Ara gak like abang Iyan dan Ian. " rajuk Ara pada kedua abangnya itu.

Sedangkan Juna, Lian, Hendra hanya bisa menahan gemes kepada Ara. Lima? Ooo Lima rasanya ingin merasakan bibir Ara yang tipis sedang manyun itu.

"Gemes bangat lo Cil, " celetuk Hendra.

"Iya astagaaa, pengin gue mam itu bibir. " ucap Lian spontan karena gemes melihat bibir Ara manyun dan detik berikutnya...

Setttt

Tiga pasang mata menoleh tajam kearah Lian, Lian yang baru menyadari akan ucapannya meneguk ludah kasar dan hanya bisa nyengir lalu meminta maaf dengan tangan yang membentuk "V'. Juna dan Hendra menahan tawa karena kebodohan Lian yang selalu saja ngomong tanpa mikir dulu.

"Bang Lian miskin? " tanya Ara.

Semua etensi yang tadi menatap Lian sekarang beralih ke Ara karena bingung kenapa Ara bertanya demikian? Sebab yang mereka tahu Lian itu juga kaya sama seperti keluarga Arshana ya walaupun bukan konglomerat sejati sih.

"Kenapa tanya gitu? " tanya Brian.

"Katanya tadi bang Lian mau mam bibir Ara, bang Lian gak punya uang buat beli makanan? Bang Lian miskin kah? " Ara bertanya-tanya dan bingung kenapa Lian mau memakan bibir nya, kalau dibilang miskin tapi penampilan Lian cukup berkelas, pikir Ara.

Lian ternganga dengan ucapan polos yang keluar dari mulut Ara itu.

"Pffftt,,,,"sedangkan Brian, Juna, dan Hendra wajah mereka memerah dengan hidung kembang kempis karena menahan tawa akibat ucapan Ara. Bryan dan Lima? Mereka hanya tersenyum kecil.

"Ihhh jawab, bukan malah gini... " Ara mempraktikkan hidung kembang kempis dari Brian dan dua abang nya itu dengan lucu, seketika Brian dan dua cucurut itu berhenti menahan tawa dan sekarang malah menahan gemes.

"Hufftt, iya bang Lian miskin makanya hati-hati dekat bang Lian ya nanti Adek dimakan lohhh, " Brian menakut-nakuti adek nya itu.

Bukannya takut Ara malah kasian, "abang Lian tunggu sini ya, Ara mau ke ayah dulu minta uang buat abang Lian beli makan, " Ara berlari menuju kamar ayah dan bunda nya dengan kaki kecilnya itu.

Setelah Ara menghilang tiba-tiba saja terdengar tawa nyaring dari Brian, Juna, dan Hendra.

"Hahaha makanya kalau ngomong itu hati-hati sekarang disangka gembel kan lo. " ledek Brian disela tawanya, Brian mulutnya lemes banget deh xixi.

"Anak dari seorang polisi dianggap gak punya duit dong, hahaha. " ucap juna.

"Sudah dibilangin juga hati-hati kalau bicara di depan bocil polos, yaa kan gini jadi nya sekarang, lo disangka gembel haha. " timpal Hendra.

Lian mendengus kesal melihat tiga temannya itu menertawakan nya, yaa memang ini slaah nya karena kalau bicara suka spontan.

"Ck, gue beli makan direstoran mahal pun sanggup. " decak Lian.

"Iya sanggup cuma sebutir nasi haha, " julid Juna.

"Sekarang biasa kan jaga bicara lo di depan adek gue. " Bryan pun akhirnya angkat bicara dan menatap Lian seperti ingin menguliti si Lian Lian itu.

"I-iya gue be-rusaha jaga bicara gue d-depan Ara. " Lian meneguk ludah kasar dan berucap dengan terbata lalu dia menatap kearah Lima yang juga sedang menatapnya tajam, sangat tajam, bahkan silet pun kalah tajam.

Tiga manusia yang tertawa tadi? Mereka sekarang malah ngakak sambil guling-guling karena melihat ekspresi takut dari Lian.

"Anak dari polisi kok takut, " cibir Brian disela tawanya.

"Anak polisi nya lemah, " ledek Juna.

"Hahaha." Hendra hanya tertawa terbahak-bahak.

Lian mendelik, "gue cuma anak yahh bukan bapak polisi nya langsung. " sinis Lian.

Tiga pria tadi tidak menyahut kalimat dari Lian itu, mereka hanya tertawa ngakak, semenjak berubah nya Ara pertemanan mereka lebih banyak tawa nya dari pada kalemnya. Pikir mereka semua tapi tak dapat dipungkiri bahwa mereka senang karena sering tertawa gini.

***

Ara berlari menuju kamar orang tuanya dengan kaki kecilnya itu, setelah sampai didepan pintu Ara tidak mengetuk lebih dulu malainkan langsung nyelonong masuk.

"Ayah, Bundaa... " panggil Ara saat sudah berada didalam kamar, tiba-tiba mata Ara berkaca-kaca melihat orang tuanya itu.

Radella dan Bima terkejut melihat putri mereka masuk dengan tiba-tiba itu, hahh itu salahnya sendiri kenapa pintu kamar tidak dikunci.

Saat ini Bima sedang mengukung Radella diatas tempat tidur dan mencium bibir Radella. Ciuman panas mereka otomatis terlepas saat mendengar suara putri mereka itu beruntung mereka hanya berciuman dan masih mengenakan pakaian lengkap. Bergegas Bima beranjak dari atas tubuh Radella dan berjalan menghampiri Ara yang terdiam itu.

"Ada apa princess? " tanya Bima lembut lalu tangannya terulur untuk mengelus rambut sang putri namun sebelum menyentuh rambut putrinya terlebih dulu menepis tandan Bima.

"Ayah jahat hikss, " isak Ara lalu berjalan kearah ranjang dan menaiki nya. Ara memeluk Radella dari samping lalu menangis dilengan Bundanya itu.

Radella terkejut melihat putrinya menangis dan menepis tangan ayahnya, "heyy sayang, kenapa hm? " tanya Radella pada putrinya lalu dia memeluk sang putri.

"Ayah jahat hikss, " isak Ara.

Alis Radella dan Bima naik sebelah pertanda bingung dengan ucapan sang putri.

"Jahat kenapa hm? " tanya Radella lagi.

"Ayah jahat mau makan Bunda hiksss.. Bunda jangan tidur bareng ayah lagi yaaa, Bunda tidur di kamar Ara aja.. " ucapan polos itu keluar dari mulut Ara, Radella yang mendengar itu menahan tawa, sedangkan Bima ternganga mendengar kalimat sang putri, mana mungkin dia membiarkan istrinya itu tidur bersama putrinya, dia kan udah beberapa hari ini menahan hasrat karena pekerjaan masa setelah pulang dia harus menahan hasrat lagi sih? Uhh Bima tidak mau itu terjadi.

"Gak bisa gitu dong princess, " protes Bima lalu dia berjalan mendekati dua wanita kesayangannya itu.

"Jangan dekat-dekat ayahh, Ara gak mau bicara dan dekat-dekat ayahh.."sentak Ara saat Bima sudah mulai mendekat kearah mereka.

"Princess kan sudah besar, tidurnya sendiri aja yaa... " Bima memelas.

Ara menggeleng kuat, "bunda sama Ara tidur, titik. " ucapnya lalu mengeratkan pelukan ke bundanya. Radella tertawa kecil melihat wajah suaminya itu.

"Emang kenapa kalau bunda tidur bareng ayah? " tanya Radella.

Ara cemberut, "bunda, Ara tadi udah bilang kalau Ara gak mau ayah makan bunda kek tadiii... " kesal Ara lucu dan membuat orang tuanya gemes.

Bima menghela nafas, "ayah minta maaf ya, ayah janji gak makan bunda lagi.. " ucapnya. 'Gak makan bunda didepan kamu maksudnya. 'Lanjut Bima dalam hatinya.

Ara melihat kearah ayahnya yang sedang meminta maaf itu kepadanya. "Ara akan maafin ayah tapi tidak sekarang, Ara tetap mau tidur dengan bunda dan ayah sendiri tidurnya. " ucapnya. Lagi dan lagi Radella tertawa karena kepolosan anaknya itu.

"Ayah kalau lapar minta masakin bunda, jangan bunda yang dimakan. " nasehat Ara.

"Iya gak lagi-lagi deh. " ucap Bima melas.

"Udah bicaranya, Ara kan mau ngambek ke ayah.. " ucapnya lucu, ngambek kok bilang-bilang pikir Bima dan Radella.

"Ohh ya sayang ngapain tadi panggil bunda dan ayah? " tanya Radella, tidak mungkin kan Ara kekamar mereka dengan sengaja? Pikir Radella.

Ara nampak berpikir untuk mengingat apa tujuan nya kekamar orang tuanya itu, "Ara mau minta uang. "

"Buat? "

"Tadi kata bang Lian mau mam bibir Ara, karena Ara gak mau dimam kek bunda tadi jadi Ara kesini mau minta uang untuk kasih ke bang Lian biar bang Lian bisa beli makan. " jawab Ara polos.

Radella dan Bima melotot mendengar ucapan putrinya itu, mereka jadi geram dengan Lian yang bicara sembarangan kepada Ara.

"Ara!!! Kalau ada yang mau mam bibir Ara Jangan mau yahh. " ucap Bima pada putrinya itu tapi Ara mengabaikan nya karena katanya tadi mau ngambek, Radella terkekeh saat suaminya itu membuang nafas kesal.

Ara memeluk Radella dan membenamkan wajahnya dj ceruk leher Radella yang menurutnya agak basah, Ara mengangkat kepala kembali dan memeriksa leher Radella seketika matanya kembali berkaca-kaca.

"Bunda ini ayah yang lakukan? " tunjuk Ara pada leher yang ada tanda biru-biru ke unguan.

Bima yang melihat itu terbelalak, apalagi mata putrinya berkaca-kaca. "I-tu... ".

"Stop, Ara gak nanya ke ayah, Ara nanya ke bunda. " kesalnya.

Radella bingung mau menjelaskan seperti apa, bagaimana dia memberi tahu tentang tanda kissmark itu.

"Bunda jawab, ini ayah yang lakukan? " tanya Ara sekali lagi.

"Ini digigit nyamuk sayang. " jelas Radella.

"Bohong hiksss, ini pasti ayah yang lakuin. " ucap Ara kembali menangis.

"Ssttt, sayang diam ya cup cup. " Radella berusaha menenangkan Ara.

"Ayah jahat hiksss, ayah vampire... Ara takut hikss. " isak Ara. Radella dan Bima seketika hendak tertawa karena Ara menganggap Bima adalah vampire tapi mereka harus tahan kalau tidak mau Ara semakin marah.

Ara melepaskan pelukannya pada Radella dan beranjak keluar kamar orang tuanya itu dengan keadaan masih menangis.

"Malam ini bunda harus tidur bareng Ara hiks. " setelah berucap seperti itu Ara bergegas berlari.

Radella dan Bima menghelas nafas dan ikut menyusul putrinya itu.

****

Diruang tamu masih ada teman-teman abangnya dan Ara berlari kearah Bryan lalu segera dia memeluk Bryan dengan keadaan menangis.

Bryan terkejut karena adeknya datang dengan keadaan menangis, "heyy, kenapa hm? " tanya Bryan.

"Abang hiksss, tadi Ara lihat ayah mau makan bunda hiksss, ayah udah makan bibir bunda dan ayah juga udah gigit leher bunda hiksss, " adunya polos pada Bryan.

Brian, Juna, Lian, dan Hendra yang mendengar itu kembali menahan tawa.

'Anjirr, mau banget gue ketawa ngakak, 'batin Lian.

'Adek gue astagaa, 'batin Brian.

'Ni bocil polos banget sih astagaa hahaha. 'Batin Juna tertawa ngakak.

Bryan menghela nafas, "tapi bunda gak apa-apakan? " tanya Bryan.

"Leher bunda merahh hikss, "Bryan mengeratkan pelukan nya pada adek polosnya itu.

"Udah yaa jangan nangis lagi, abang bakal jagain Bunda agar ayah tidak memakan bunda lagi. " sebenarnya Bryan agak mau karena ucapan Ara yang didengar teman-teman nya itu.

"Iya dek nanti abang yang akan jauhin bunda dari ayahh. " sahut Brian mengejek yang melihat ada ayah dan bunda nya.

Bima dan Radella awalnya hendak menyusul sangat putri tapi keburu Ara bercerita dan mereka tidak jadi menyusul karena malu, jadi mereka cuma mengintip saja.

"Sudah ya berhenti nangis, kalau masih nangis abang gak jadi nih bawa Ara beli jajanan. " Ujar Bryan dengan ancaman.

Ara seketika berhenti menangis dan menghapus kasar air mata dengan tangan mungilnya itu, "udah abang.. " sahutnya lucu dan membuat yang lain terkekeh gemes.

'So cute little girl, tapi kamu juga terlalu polos. 'Batin Lima yang sedari tadi melihat Ara menangis.

Terpopuler

Comments

Shai'er

Shai'er

buahahaha🤣🤣🤣🤣

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

anaknya bapak polisi gak tuh🤭🤭🤭

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2023-06-10

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!