Setelah kepulangan Teman-teman anaknya, Radella dan Bima menghampiri anak-anak mereka yang sekarang ada diruang tamu.
"Araa." panggil Radella.
Ara yang masih dipangkuan Bryan menoleh kearah bundanya, "bundaaaaaa." teriak Ara lalu beranjak dari pangkuan Bryan dan berlari menuju bundanya itu.
"Bunda maafin Ara udah ninggalin bunda di kamar sendiri, bunda gak di makan lagi kan sama ayah? Bunda aman kan? " cecar Ara dengan pertanyaan nya itu setelah sampai di hadapan bundanya.
Radella tersenyum lalu tangannya mengusap pipi chubby Ara, "bunda gak apa-apa sayang, ayah gak makan bunda kok. " ucapnya lembut.
Brian yang mendengar itu tersenyum jahil, "makanya mau apa-apa itu pintu dikunci, lagian udah berumur juga masih aja suka gitu-gitu. " cibir Brian dan mendapat tatapan tajam dari Bima.
"Abang Ian biarin bunda dimakan ayah? " tanya Ara karena dia mendengar perkataan Brian yang diawal, 'makanya bila apa-apa itu pintu dikunci' nah itu artinya Brian biarin bunda nya dimakan ayah kan? Pikir Ara.
Radella, Bima, dan Bryan tersenyum tipis melihat gelagat Brian yang seperti nya takut adeknya marah.
"E-enggak kok, " kilah Brian.
"Abang bohong, Ara gak like abang Ian. " rajut Ara.
Bima mendekat kearah putrinya itu, "sayang maafin ayah yah, ayah gak lagi-lagi deh bikin leher bunda merah dan makan bibir bunda, " ucapnya bohong, mana mungkin dia tidak melakukan itu? Dia tidak bisa.
Ara memperhatikan wajah ayahnya yang berada didepannya itu, Ara sebenarnya gak mau marah sama ayahnya kan dia bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari ayahnya yang sekarang ini, tapi Ara juga gak mau ayahnya vampire.
"Ara takut ayah berubah jadi vampire lagi, " lirih nya polos.
Radella dan sikembar menahan tawa mendengar perkataan Ara. Bima menghela nafas, "ayah bukan vampire princess. " jelas Bima. Lagian mana ada jaman sekarang vampire kan?.
Ara mengerjap polos lalu tangannya terulur menyentuh sudut bibir Bima, Bima hanya diam sampai tiba-tiba jari-jari mungil itu mengangkat sudut bibir nya hingga bibir Bima terbuka. Ara melihat -lihat gigi ayahnya yang ternyata tidak ada taringnya.
"Mana taringnya? Udah ayah hilangin? " tanya Ara polos.
"Hahaha." tawa Brian pecah saat dengan berani Ara mengangkat sudut bibir sang ayah sampai terbuka.
Radella dan Bryan hanya terkekeh kecil melihat tingkah random Ara.
"Abang Ian kenapa ketawa? " bingung Ara.
"Kamu ngapain cari taring ayah?haha." Brian masih tertawa.
"Vampire kan ada taringnya, " sahutnya polos.
"Haha, serahmu lah dek, capek abang ketawaa. "
Ara kesal karena selalu ditertawakan oleh Brian, Ara kembali menatap Bima dan wajah polosnya itu meminta penjelasan dari Bima atas pertanyaan nya tadi.
"Ayah bukan vampire princess, " Bima yang paham dengan raut wajah Ara segera menjawab.
"Terus kenapa bisa bikin leher bunda merah? " tanya nya lagi.
"Kan tadi udah bunda bilang kalau itu nyamuk yang gigit, " kilah Bima. Brian dia tidak lagi menyela perbincangan antara ayah dan adeknya itu, dia hanya tertawa dalam diam sambil memegang perutnya yang agak kram karena tertawa.
"Benar bunda? " tanya Ara pada Radella.
"Iya sayang, " ucap Radella lembut.
Ara menganggukkan kepala nya lucu, "tapi Ara tetap marah sama ayah karena udah makan bibir bunda walaupun gak sempat habis karena Ara udah datang dan selamatin bibir bunda. " cerocosnya lucu.
Lagi dan lagi mereka dibuat gemes dengan tingkah lucu Ara.
"Ara mau apa? Ayah beliin semua yang Ara mau yang penting Ara maafin ayah yaa! " bujuk Bima.
Ara nampak tergiur dengan tawaran ayahnya itu terbukti dari matanya yang berbinar. Ara mengetuk-ngetukan jari mungilnya di dagunya seraya berpikir apa yang ingin diminta nya.
"Apapun? " tanya Ara memastikan dan Bima mengangguk senang.
Brian sendiri udah was-was takut adeknya meminta hewan yang dinamai Ara sendiri.
"Mmm Ara mau HP, " ucap Ara senang.
Radella yang mendengar itu menggeleng kuat, "tidak, Ara gak boleh punya HP, Ara masih kecil. "
Ara cemberut, "tapi abang punya HP. "
"Abang udah besar sayang, Ara masih kecil. "
"Ara besar bundaa. "
"Kecil sayang. "
"Liat bunda, Ara besar dan tinggi. " Ara berjinjit dan mengembung kan pipi chubby nya agar terlihat besar dan tinggi.
Radella dan yang lain melihat itu tertawa gemes, sungguh menggemaskan bungsu Arshana ini, pikir mereka semua.
Ohh yaa walaupun keluarga Arshana kaya tapi mereka tidak memperkerjakan ART karena Radella sendiri yang meminta, dia yang ingin melakukan pekerjaan rumah sendiri. Meraka hanya memperkerjakan satu orang pria untuk jadi satpam di depan.
"Tetap kecil sayang. " gemes Radella.
Ara cemberut, "Ara mau punya HP. "
"Gini deh, kalau nanti Ara ada ulangn harian terus nilai Ara tinggi, bunda sendiri yang akan belikan Ara HP, gimana? " tawar Radella, kasian juga dia melihat putrinya yang ingin memiliki ponsel itu.
Wajah Ara seketika ceria, "oke, Ara akan buktiin ke bunda kalau Ara bisa dapatin nilai tinggi, gak seperti abang Ian. " ucapnya senang.
Brian yang mendengar itu melotot, bunda nya kan belum tau kalau nilainya kemarin kecil. 'Hedeh bocil, 'batin Brian mengeluh dengan kepolosan adek kecilnya itu.
Alis Radella terangkat mendengar perkataan Ara, "nilai abang Ian kecil? " tanya Radella dan diangguki polos oleh Ara.
"Brian.. " panggil Radella dengan menatap sengit kearah putra keduanya itu.
Brian meneguk ludah dengan susah payah saat melihat tatapan sengit dari sang ibu. Percayalah amarah seorang ibu lebih berbahaya dibanding amarah seorang psikopat. Itulah yang Brian tanamkan dalam diri, mungkin kalau dia disuruh bertengkar dengan ibu nya atau dengan psikopat mungkin dia kan memilih bertengkar dengan ibu nya ehhh? Xixixi.
"I-iya bun, " sahut Brian dengan terbata.
"Abang kenapa? " tanya Ara bingung, tidak pernah dia melihat abangnya seperti orang gugup.
'Ni bocil pake nanya kenapa? Ini semua gara-gara lo bocil aarrhh, 'ingin rasanya dia meneriaki adek polosnya itu tapi dia cukup takut dengan orang tua dan Bryan jadi dia hanya bisa berteriak dalam hati.
"Mau buang air besar Cil, " alibi Brian.
Ara mengangguk, "bunda mau bicara sama abang Ian yaa? " tanya Ara dan diangguki oleh Radella. "Nanti aja bunda, kasian abang mau buang air besar, kalau bunda ajak abang Ian bicara nanti eek nya keluar sini gimana? Bau nanti rumah kita. " Ara melanjutkan ucapannya dengan tampang polos.
Bima, Radella, dan Bryan terkekeh. Sedangkan Brian mengumpati adeknya itu didalam hati.
"Iya sayang nanti aja bunda bicara sama abangnya, " ucap Radella.
Ara tersenyum, "bang, cepat ke toilet.. " titah Ara dan Brian segera beranjak pergi. 'Gak apa-apa deh gini yang penting gue selamat dari amukan Macan. 'Batin Brian yang merasa lega karena untuk sekarang terselamatkan.
Bima geleng-geleng kepala melihat kepolosan anaknya yang udah kelewat batas tapi menggemaskan dan lucu.
"Nilai abang emang berapa? " tanya Radella pada Ara.
"Kecil hihi, " Ara kembali terkikit bila mengingat nilai abangnya itu. Bukan maksud sombong Ara terkikik, dulu waktu dia berada di tubuh aslinya jika guru homeschooling nya memberi tugas dia selalu mendapat nilai tinggi, walaupun seperti anak-anak tapi otak Ara sangat jenius.
Bryan mengacak rambut adeknya karena sangat gemes, "berapa emang? " tanya Bryan agar Ara menyebutkan nominalnya.
"30 hihi. "
Radella terkekeh melihat putrinya terkikik, jika Bryan yang mengatakan nilai Brian mungkin dia akan marah pada putra keduanya itu tapi karena Ara yang mengatakan dia tidak marah tapi malah gemes. Brian kamu selamat karena adekmu xixi.
"Ara harus rajin belajar ya agar nilainya gak kecil. " nasehat Radella.
"Ara rajin kok, Ara akan bawa nilai besar besokk. " ucap Ara senang. "Bunda dan ayah harus janji yahh beliin Ara HP kalau nilai Ara besar, "
Bima mendekat kearah putrinya, "jika nilai Ara benar-benar besar ayah janji akan bawa Ara langsung ke toko ponsel. " ucap Bima.
"Yeayyy, sayang ayah banyak-banyak. " girang Ara lalu memeluk ayahnya itu. Radella dan Bryan tersenyum melihat Ara yang bahagia.
***
Pagi senin atau hari senin adalah hari yang dibenci orang-orang karena biasanya senin adalah hari berat. Apalagi bagi para pelajar, selain upacara bendera yang membosankan karena mendengar pidato, hari senin ini juga terdapat pelajaran yang sebagian pelajar tidak suka, yaitu MATEMATIKA.
"Huh lelahnya, habis ini pelajaran matematika lagi, bisa pecah kepala gue. Habis panas-panasan diluar sekarang panas-panasan didalam otak lagi. " gerutu Susi. Saat ini mereka sudah berada dikelas masing-masing setelah upacara bendera tadi, Ara sih enak gak kepanasan karena dia pendek otomatis terlindungi orang-orang yang tinggi ditambah lagi para murid kelas X sengaja tidak membiarkan matahari mengenai kulit bocil mereka.
"Susi kenapa? " tanya Ara.
"Kepanasan gue Cil. " sahut Susi dan Ara hanya ber'oh' ria.
"Selamat pagi anak-anak. " sapa seorang guru matematika saat memasuki kelas X IPA2.
"Pagi pakkk. " sahut mereka kurang semangat, hanya Ara yang tampak semangat melihat guru sudah masuk kelas mereka.
"Susi, pak guru sudah datang yeayyyy." Ara bertepuk tangan kecil saking semangatnya.
Semua murid kelas x menatap bingung Ara yang tidak biasanya sangat bersemangat, biasanya Ara bersemangat tapi tidak se semangat sekarang.
"Baik,sekang kita lanjutkan pelajaran yang kemarin tentang ALJABAR." ucap guru tersebut sambil membuka buku paket dan murid-murid pun ikut membuka.
"Pakk," Ara mengangkat tangan sebelum pak guru menjelaskan materi.
"Ada apa? " tanya guru matematika tersebut.
"Kita jangan belajar, " ucap Ara dan membuat para murid-murid senang.
Pak guru tersebut bingung, "kenapa? " tanya nya.
"Kita ulangan harian aja pak, " ucap Ara dan seketika murid-murid kelas X itu geram sekaligus gemes dengan bocil mereka itu.
Pak guru tersenyum sumringah mendengar ucapan Ara, "baiklah kalau itu yang kalian mau. "
"Astaga Cil, kenapa ulangan sih. "
"Aduhhh si bocil, "
"Bocil aaa, "
Heboh lah kelas x itu karena pak guru menyetujui usul Ara yang ingin ulangan harian, sedangkan penyebab ulangan hanya tersenyum bahagia dengan wajah polosnya itu.
Susi menyumpah serapahi Ara dalam hatinya, "kalau bukan adek dari si kembar BIHS sekaligus teman gue, udah gue sleding lo Cil. " gerutu Susi.
"Sleding apa? " tanya Ara polos.
"Gak apa-apa, " kesal Susi.
Pak guru memberikan soal-soal untuk ulangan harian, lebih tepat nya ulangan mendadak. Ara dengan mudah menjawab soal-soal matematika yang kebetulan itu adalah pelajaran favoritnya, dia harus mendapatkan nilai tinggi biar ayah nya membelikan ponsel. Sedangkan murid yang lain ada yang ingin jungkir balik karena pusing tidak bisa menjawab soal matematika.
"Hahhh BOCILLL, " keluh mereka semua, sedangkan Ara hanya tersenyum tanpa ada rasa bersalah.
Guru matematika tersebut tertawa kecil melihat murid-murid yang mengeluh pada Ara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Kosong
Ahahaha ngaco
Mungkin yg di uji Soal anak Tk 😅
2024-02-08
0
Shai'er
demi HP baru 🤣🤣🤣
2023-06-10
0
Shai'er
🤣🤣🤣 kena mental🤭🤭🤭
2023-06-10
0