kucing

"Sayang bangunn, " Radella membangunkan Ara yang masih nyenyak dengan tidurnya. Radella menarik gorden kamar Ara agar matahari masuk kekamar putrinya itu.

"Sayang wake up, udah siang lohh. " Radella menepuk-nepuk pelan pipi chubby Ara.

"Lima m

enit lagi bun, " tawar Ara kemudian dia meringkuk lucu membuat Radella terkekeh melihat Ara meringkuk itu.

"Udah jam enam lewat sayang, nanti kamu terlambat sekolahnya. " beritahu Radella.

"Enghh, " lenguh Ara lalu dia perlahan membuka matanya dan dia mengucek matanya dengan jari-jari mungilnya.

Radella menahan pergerakan tangan Ara yang sedang mengucek mata itu, "jangan dikucek-kucek syang, nanti matanya merah dan sakit. " ucapnya pada putri kecilnya itu.

"Hu'um, " Ara mengangguk lucu lalu dia bangun dari rebahan nya.

"Mandi gih, " titah Radella.

"Mandiin bun, " ucap Ara lucu lalu merentangkan tangannya untuk digendong.

Radella terkekeh, "gak malu dimandiin hm? " tanya Radella.

Ara memiringkan kepalanya, "malu? Why? " tanya nya, kan sama bunda sendiri ngapain harus malu kan? Pikir Ara.

Radella mencubit gemes pipi Chubby putrinya itu, "Ara gak malu buka baju didepan bunda? " tanya lagi.

Ara menggeleng, "gak, kan bunda ibu aku. " sahut Ara dan Radella terkekeh.

"Baiklah, ayo bangun! Bunda akan mandikan Ara sampai bersih.. "

"Gendong.. " manja Ara.

"Gak kuat bunda sayangg, jalan sendiri yahh.. " pinta Radella gemes.

Ara mengangguk lalu beranjak dari kasur nya menuju kamar mandi dan diikuti oleh Radella. Sesampainya dikamar mandi Ara melepaskan semua pakaiannya tanpa malu sedikit pun sedangkan Radella hanya geleng-geleng kepala dan terkekeh melihat Ara yang persis seperti anak-anak yang tidak malu-malu padahal putrinya itu sudah remaja.

Radella memandikan Ara dengan telaten sambil berbincang-bincang dengan Ara, bukan berbincang tapi lebih tepatnya Radella mendengarkan ocehan polos putrinya itu. Radella benar-benar senang dengan perubahan putrinya yang tidak pendiam lagi, selalu aja Ara membuat orang-orang terdekatnya gemes.

Setelah selesai memandikan Ara, Radella membantu Ara bersiap untuk sekolah.

"Ara cantik kan bunda? " tanya Ara saat dia menatap dirinya sendiri didepan cermin besar.

"Anak bunda yang satu ini selalu cantikk, " gemes Radella lalu dia mencium pipi anaknya itu.

"Ara malu hihi, " Ara tersipu karena bunda nya menyebutkan bahwa Ara selalu cantik.

Radella terkekeh mendengar ucapan polos putrinya itu, "liat pipi bulat Ara merahh, " goda Radella dan Ara memegang pipi nya dengan tangan mungilnya itu.

"Pipi Ara panas bun, Ara sick. " ujarnya memegangi pipi nya yang terasa panas akibat tersipu karena dipuji.

"Bukan sakit sayang, itu namanya tersipu. " jelas Radella dengan gemes.

"Tersipu? " bingung Ara.

"Tersipu itu malu sayang, kita merasa malu saat orang memuji kita. " beritahu Radella dan Ara membulatkan mulutnya seraya mengangguk.

"Ayam Ara udah bangun bun? " tanya Ara yang tidak tiba-tiba teringat dengan kucingnya itu.

"Udah, tadi saat bunda masuk kekamar kamu, kucing nya keluar. " sahut Radella yang melihat peliharaan anaknya itu keluar kamar dengan hati-hati agar sangat majikan minim akhlak nya itu tidak tahu.

"No kucing bun, itu ayamm. " ralat Ara, padahal dia yang salah xixi.

Radella tertawa kecil, "iya sayang ayamm. " pasrah Radella. "Yaudah ayo kita kebawah untuk sarapan. " ajak Radella.

"Ayo bun, Ara mau sarapan banyak-banyak. " senangnya.

"Iya sayang banyak-banyak. " Radella terkekeh smbil geleng-geleng kepala karena melihat tingkah putrinya itu.

Ara berlari dengan semangat agar cepat sampai diruang makan, dia sudah tidak sabar ingin sarapan banyak-banyak.

"Jangan lari sayang, " peringat Radella saat melihat putrinya itu berlari menuruni tangga.

"Ara tidak lari bun, cuma kaki ara aja yang geraknya cepat, " alibi Ara padahal sudah terlihat jelas dia sedang berlari dengan kaki mungilnya itu.

Ara dan bundanya sudah sampai di ruang makan yang ternyata sudah ada ayah dan kedua abang kembar nya disana.

"Morninggg, " seru Ara lalu dia mengecup pipi mereka satu-satu.

"Morning princess. " sahut mereka.

Senyum Ara mengembang saat melihat makanan didepannya.

"Yeay makan banyak-banyak. " girang nya lalu duduk disamping Bryan.

Semua terkekeh dan tangan Bryan terulur untuk mengelus surai lembut sang adek. "Cepat makan habis itu kita berangkat. " titah Bryan lembut pada adeknya itu.

"Hu'um, " Ara dengan segera melahap makanan yang sudah disediakan bunda nya itu.

Mereka sarapan/ makan dengan tenang tapi sesekali terkekeh karena melihat cara makan Ara seperti anak-anak yang suka belepotan dan dengan sigap Bryan membersihkan sisa makanan yang ada.

"Perut Ara besar hihi. " Ara cekikikan sambil mengelus perut nya yang besar setelah selesai makan.

"Mau lebih besar gak dek? " tanya Brian.

Ara menggeleng, "no, nanti perut Ara meletus huhu. " ujarnya dan membuat yang lain terkekeh

"Udah bicara nya, berangkat gih nanti telat. " ujar Radella kepada anak-anak nya.

"Hu'um, ayo abangg kembar.. " ajak Ara tidak sabaran. Bryan dan Brian segera beranjak dari duduknya.

Mereka mengalami Bima dan Radella secara bergantian.

"Bunda dan ayah jaga ayam Ara yahh, Ara mau sekolah dulu. Papayyyy... " pamit Ara setelah selesai mencium kedua orang tuanya itu. Bima dan Radella hanya tertawa kecil mendengar perintah putri kecil mereka untuk menjaga ayam ehhh kucing maksudnya.

Skip

***

Mobil milik sikembar Bryan dan Brian memasuki parkir sekolah. Mereka keluar dan membuat para kaum hawa terpekik.

"Huaaa Bryan makin datar makin ganteng."

"Brian walau sengklek tapi ganteng. "

"Ehh itu bukannya murid baru dikelas X IPA2 ya.. "

"Degem astagaa, "

"Pipi nya dekk tumpahh, "

"Duh jadi pengin culik si degem. "

Pekikan para kaum adam lebih dominan karena melihat Ara yang sedang menatap merek lucu.

"Kenapa mereka selalu teriak gitu bang? " tanya Ara polos pada kedua abangnya itu.

"Ara cantik maka dari itu mereka teriak, " sahut Brian malas mendengar ocehan para murid BIHS itu.

"Ara cantik hihi, " Ara melambaikan tangan mungilnya pada orang-orang. Mereka yang melihat Ara terkikik sambil lambai tangan kembali terpekik.

"Huaaa disenyumin dong, "

"Manis bangett astagaa. "

"Makk pengin adek macam diaa. "

"Gemes euyyy, gue yang cewe aja gemes lihat tu murid baru. "

Ara hanya menampilkan gigi rapi dan putihnya saat orang-orang membalas lambaian tangannya.

"Ayo ke kelas, " ajak Bryan.

"Ayooo." semangat Ara, Bryan dan Brian sama-sama menggandeng tangan mungil Ara kanan dan kiri lalu berjalan melewati para murid-murid yang masih terpekik itu.

"Ara ke kelas abang aja ya, " ajak Brian.

"Why? "

"Hari ini gak belajar karena akan menyambut kepala sekolah yang baru. " jelas Brian yang mendapatkan info itu dari grup whatsapp sekolah.

"Kenapa tidak belajar, kan belajar itu penting, " sahut Ara dengan polosnya.

"Ingin menyambut kepala sekolah yang baru dekkkk. " gemes Brian.

"Kenapa disambut? " tanya nya lagi.

"Karena disuruh. " sahut Brian malas.

"Siapa yang suruh? "

"Para guru-guru adekk. "

"Guru siapa? "

"Au ahh capek gue bicara sama makhluk astral, " gerutu Brian kesal.

Ara yang melihat Brian tampak kesal bertanya pada Bryan dengan ucapan polosnya.

"Why dengan abang Ian? " tanya Ara pada Bryan.

Bryan terkekeh, "dia tidak sakit. " sahut Brian sambil mengelus rambut sang adek.

"Abang sick? " tanya Ara panik pada Brian.

"Ck, sakit gara-gara lo. " Brian berdecak.

Ara seketika cemberut mendengar perkataan Brian. "Hikss Ara minta maaf udah buat abang Ian sakit. " Ara menangis kecil.

Bryan dan Brian terkejut melihat adek kecil mereka itu menangis, "ahh gak dek abang bohong, abang gak sakit gara-gara Ara kok. " panik Brian karena dia mendapat tatapan tajam dari Bryan.

Ara berhenti menangis lalu tangan mungilnya bergerak menyentuh dahi Brian, "abang tipu-tipu Ara?" tanya Ara saat dia tidak merasakan panas pada dahi Brian.

"Gak tipu-tipu kok," elak Brian.

"Ihh abang tipu-tipu Ara, Ara gak like. " cemberut Ara. Bryan terkekeh gemes melihat Ara yang sedang marah itu, dia membawa adeknya itu masuk kedalam kelas nya karena mereka sudah sampai didepan kelas XII IPA1.

Bryan mendudukan Ara di atas pangkuan nya dan Ara memeluk Bryan sambil ngedusel didada bidang Bryan. Ara persis seperti bayi yang sedang mencari payudara ibunya untuk menyusu.

Teman-teman kelas Bryan tentu heboh melihat bocil ada dikelas mereka.

"Bryan itu adeknya gemesin banget sih. "

"Boleh bawa pulang gak tuh adeknya, "

"Kenalin kekita dong siapa bocil itu. "

Brian memberi tatapan tajam pada mereka yang heboh agar diam. Semua yang melihat tatapan dari Brian otomatis terdiam seketika, siapa yang berani menentang sikembar nya BIHS itu.

Tak lama geng nya Bryan dan Brian datang dan duduk di kursi masing-masing.

"Wehhh bocil ada disini, " seru Juna saat melihat Ara sedang ngedusel di dada Bryan itu.

"Cil gimana kabar ayamnya? " tanya Lian dengan menahan tawa ketika tiba-tiba mengingat kejadian kemarin.

"Baik, " sahut Ara lucu.

"Gak mau di ganti aja namanya Cil? " tanya Hendra.

Ara menggeleng, "Ara suka namanya. " sahut Ara.

"Mau beli hewan yang lain gak dek? " tawar Lian.

"Apa? " tanya Ara.

"Adek mau nya hewan apa? " tanya Juna.

"Hmmm Ara mau hewannn kucing, " seru Ara.

Mereka semua terdiam memikirkan kucing yang dimaksud Ara itu kucing seperti apa.

"Kucing yang seperti ayam kemarin? " tanya Hendra.

Ara menggeleng kuat, "no abang, "sahut Ara.

"Terus seperti apa? " tanya Brian yang ikut memikirkan hewan apa yang dimaksud adeknya itu, sedangkan Bryan dan Lima hanya diam menyaksikan interaksi mereka itu.

"Itu yang kaki nya empat, matanya dua, hidung nya satu, dan telinganya dua. " beritahu Ara dengan polosnya.

Mereka menatap Ara dengan ekspresi datar, iya mereka tahu deskripsi hewan emang seperti itu yakan? Tapi kenapa malah diperjelas lagi sih. Kesal mereka.

"Nih HP dan cari di google hewan apa yang adek maksud.. " Hendra yang sedikit waras menyodorkan ponselnya yang sudah berada di laman google itu.

Ara menyambut ponsel itu dengan senang lalu mengetikkan nama hewan yang sebenarnya dia cari.

"Ara mau kucing yang seperti ini.. " senang Ara lalu menyerahkan ponsel itu pada Hendra, Bryan yang sudah melihat apa yang Ara cari hanya bisa tersenyum kecil.

Hendra menerima ponselnya kembali dan dia segera memeriksa hewan apa itu yang disebut Ara kucing. Yang lain ikut memepet Hendra karena penasaran.

Seketika mulut mereka ternganga dan detik berikut nya mereka berusaha menahan tawa.

"Ini kucing dek? " tanya Lian dengan wajah merah dan hidung kembang kempis karena menahan tawa.

Ara mengangguk lucu dan dia melihat hidung kembang kempis dari Lian, "abang Iyan lihat hidung bang Lian lucu hihi, " Ara terkikik.

Bryan hanya tertawa gemes dengan tingkah adeknya itu,"kenapa hidungnya hm? "Tanya Bryan lembut.

"Hidung bang Lian merah seperti hidung babi hihi, " Ara menyahut dngan polosnya dan membuat Lian berhenti menahan tawa dan sekarang berubah menjadi kesal.

"Ha ha ha,, " tawa seisi kelas XII IPA1 menggema karena mendengar perkataan polos dari Ara.

"Babi ha ha, " ledek Juna.

"Babi astagaa perut gue, " timpal Brian yang sudah sakit perut karena tertawa.

Bryan dan Lima hanya tersenyum kecil, sedangkan Lian sudah mendengkus kesal ditempat nya.

"Dasar bocil. " gerutu Lian kesal.

Sedangkan Ara hanya acuh dengan tawa mereka itu, "abang Ara ngantuk huhu, " rengek Ara lalu kembali ngedusel didada Bryan mencari kenyamanan.

Bryan mengeratkan pelukannya dengan sebelah tangan, sebelah tangannya lagi mengusap-usap lembut rambut Ara.

'So cute little girl.' batin seseorang yang sedari tadi memperhatikan Ara lalu dia tersenyum tipis.

Terpopuler

Comments

Shai'er

Shai'er

🤔🤔🤔💕

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

nah loh.... apalagi nih...

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

😱😱😱😱😱

2023-06-10

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!