Ara menatap puas kertas ulangan yang ada ditangan mungilnya. Nilai yang Ara dapat adalah 99 itu sudah termasuk Nilai yang paling tinggi bagi orang-orang yang kurang pintar.
"Susi look, nilai Ara besarr. " Ara memperlihatkan nilai nya pada Susi.
Susi hanya dapat melihat nilai itu dengan malas, "kenapa sih lo minta ulangan dadakan. " sungut Susi yang masih kesal karena Ara, bukan hanya Susi yang kesal tapi rata-rata murid kelas X IPA2 itu yang kesal. Gimana gak kesal coba, materi belum selesai dijelaskan,Ara sudah meminta ulangan harian dan lebih parahnya mereka tidak ada yang belajar.
"Baiklah pelajaran harini sudah selesai, sering-seringlah meminta ulangan, bapak dengan senang hati memberikan nya. " ucap guru matematika tersebut.
"Baik Pak guru, Ara akan minta ulangan lagi nanti. " ucap Ara dengan tampang polosnya.
"BOCILLLL.. " teriak teman-teman sekelas Ara.
"Apa? " tanya Ara dengan polosnya seakan tidak tau apa yang sudah dia lakukan.
Guru matematika tersebut tertawa melihat itu, baru kali ini dia mendapati murid seperti Ara yang suka ulangan.
"Kalian harus seperti Ara, sudahlah sekarang kalian boleh istirahat, bapa keluar dulu.. Permisi. " guru tersebut keluar dengan tertawa kecil.
Dou B serta teman-teman nya yang sudah berada didepan pintu kelas Ara menatap bingung saat melihat guru matematika tersebut tertawa.
"Ehh Bryan dan Brian, mau jemput Ara yahh, saya bangga dengan adek kalian itu. " sapa guru tersebut dengan senyum sumringah saat melihat dou B.
Dou B dan teman-temannya hanya diam dan tersenyum pada guru tersebut. Guru tersebut berlalu dari hadapan Dou B.
"Tu guru kenapa? Adek lo lakuin apa sampai guru tersebut senyum-senyum gitu. " tanya Juna pada Brian.
"Mana gue tau, gue kan dari tadi sama kalian. " sewot Brian dan Juna hanya cengengesan.
"Dekk, " panggil Bryan pada Ara.
Ara yang menatap teman-teman nya sedang bersungut-sungut itu lantas menoleh saat mendengar suara dari abangnya.
"Abanggggg, " Ara berlari menghampiri Bryan saat tau yang memanggilnya itu Bryan.
Saat Bryan akan menangkap sang adek Brian segera menghalanginya dan menangkap Ara masuk kedalam gendongannya.
"Nakal, udah dibilang jangan lari-lari. " tegur Brian mencubit hidung mancung adeknya itu.
Ara terkikik lucu lalu memeluk leher Brian dengan manja. Bryan yang melihat itu berdecak, Lagi-lagi Brian mengambil start duluan.
"Kantin." ucap Lima lalu dia berjalan lebih dulu menuju kantin.
"Susi ayoo ke kantin. " ajak Ara pada Susi yang masih duduk di bangku nya itu. Susi dengan malas beranjak dan mengikuti Ara serta kakel nya itu berjalan menuju kantin.
Disepanjang perjalanan Ara terus tersenyum dalam gendongan Brian ala koala, sedangkan wajah Susi masam semasam gula Jawa. Teman-teman Bryan yang melihat Ara dan Susi secara bergantian menjadi bingung.
Sesampainya mereka dikantin.
"Susi." panggil Brian pada Susi yang duduk disamping nya.
"Ahh, iya kenapa kak? " tanya Susi.
"Lo kenapa cemberut gitu? " tanya Brian.
"Tanya Ara, " ketus Susi, sekarang dia tidak takut lagi dengan abang-abangnya Ara.
Yang lain menaikkan alis nya mendengar perkataan Susi. Brian melihat Ara yang sedang duduk dipangkuan nya saat ini.
"Ara habis apain Susi? " tanya Brian.
Ara mendongak menatap Brian, "Ara gak apa-apain, " sahutnya.
"Terus kenapa teman lo cemberut Cil?" tanya Lian.
"Nilai Susi kecil hihi, " Ara terkikik saat dia melihat paksa nilai Susi didalam kelas tadi.
Susi mendengus kesal, "gara-gara lo sih, kan gue belum sempat belajar jadi wajar nilai gue kecil. " gerutu Susi.
"Heh kok Ara yang disalahin, kan salah lo gak belajar udah tau ada ulangan harian. " ucap Hendra.
"Nilai adek berapa hm? " tanya Bryan sambil mengelus lembut pipi chubby Ara.
"Besarrr, " ucap Ara.
"Pinterr." Bryan mengacak gemes rambut Ara.
"Yaudah gak apa-apa Si, kan hanya ulangan harian bukan ulangan akhir semester. " Juna menenangkan Susi.
"Gue gak masalah yahh ulangan harian jika ulangan nya sudah diberi tahu sejak awal. " sungut Susi.
"Maksudnya? Ulangan tadi dadakan gitu? " tanya Lian.
Susi mengangguk, "lebih tepatnya Ara meminta ulangan matematika hari ini, padahal materinya belum pak guru jelesin semua. "
Mereka yang mendengar itu terbelalak dan detik berikutnya mereka menahan tawa. Mereka tahu apa yang dirasakan murid kelas x itu pasti tersiksa. Sedangkan Ara dengan santai nya menerima suapan nasi goreng dari Bryan.
"Parah sihh si Bocil satu ini, " Hendra terkekeh.
"Adek gue emang beda, " bangga Brian lalu mencium pipi chubby Ara.
"Kalau gue diposisi Susi, udah gue geprek ni Bocil haha. " ujar Lian.
"Pantes tu guru senyum-senyum sambil muji ni bocil tadi,haha." ucap Juna.
Bryan dan Lima hanya tersenyum kecil dengan kelakuan Ara.
"Kalau bukan adek kesayangan kak Bryan dan kak Brian udah gue sleding ni Bocil. " gerutu Susi dan membuat 3 cucurut itu kembali tertawa.
"Sudahlah terima nasib saja, cepatlah makan. " titah Brian dan Susi memakan makanan itu dengan perasaan dongkol.
"Yeayy Ara udah kenyang, " senang Ara saat sudah menghabiskan makanannya. Ara melihat abang abang nya yang belum selesai makan, hanya Lima yang sudah selesai.
"Huhu Ara bosen nunggu kalian makan. " Ara menopang dagu dengan tangan mungilnya itu, orang-orang kantin yng melihat itu dibuat gemes.
Ara melihat Lian makan sambil bermain ponsel. "Bang Lian, " panggil Ara.
"Hm? "
"Ara pinjam HP nya dong, " pinta Ara.
Lian menoleh dan menatap Ara, "buat? " tanya Lian.
"Ara mau nonton upin-ipin di youtube. " sahut Ara dengan menggoyang-goyangkan kepalanya lucu ke kanan dan ke kiri.
"Nonton upin-ipin aja kan? " tanya Lian memastikan.
"Hu'um, " Ara mengangguk dan Lian memberikan ponselnya ke Ara.
"Yeayyy Ara mau nonton. " senang Ara dan membuat yang lain terkekeh.
"Dasar bocil, " Susi geleng-geleng kepala melihat Ara yang senang karena mau nonton upin-ipin.
'Menggemaskan, 'batin Lima yang terus memperhatikan Ara dipangkuan Brian itu.
"Dek kamu duduk di kursi aja yah, abang agak susah ini makan. " pinta Brian, dia agak kesusahan menyuap nasi goreng itu ke mulutnya.
Ara mengangguk lalu berdiri dari pangkuan Brian. Ara melihat teman-teman abangnya lalu berjalan mendekati Lima.
"Abang Lima udah selesai makan? " tanya Ara pada Lima dan Lima mengangguk.
"Ara duduk sini yaa, " pinta Ara dan tanpa menunggu jawaban dari Lima, Ara terlebih dulu mendudukkan bokongnya dipangkuan Lima.
"Heh, " sentak Bryan dan Brian bersamaan saat melihat Ara duduk dipangkuan Lima.
"Why? " tanya Ara.
"Kenapa duduk situ? " tanya Bryan.
Ara cemberut, "Ara mau disini, " ucapnya dan membuat Lima terkekeh dia melingkar kan tangannya pinggang ramping Ara.
"Duduk dipangkuan abang aja sini. " pinta Bryan.
Ara menggeleng, "abang masih makan, Ara sini aja. "
Bryan dan Brian menghela nafas pasrah dan membiarkan adek mereka duduk dipangkuan Lima.
"Bang Lima cariin youtube dong, " Ara menyodorkan ponsel Lian pada Lima. Lima menyambut ponsel tersebut dan jari-jari nya mencari aplikasi youtube setelah selesai Lima menyodorkan ponsel tersebut. Ara menyambut ponsel tersebut dan mulai menonton upin-ipin, sesekali dia terkikik melihat upin-ipin itu. Lima mengelus rambut Ara dengan sayang.
Ara fukos menonton dan terdapat notifikasi pesan masuk, Ara menyentuh notifikasi tersebut lalu terbukalah whatsapp, dia melihat sebuah video sepasang manusia yang saling menindih itu.
"Ahhh, " suara ******* dari ponsel Lian terdengar nyaring.
Seketika mereka yang mendengar itu tersedak makanan.
Uhuk uhuk uhuk
Lima dengan segera merampas ponsel Lian dari tangan mungil Ara.
"Ihh bang Limaaa, Ara mau liat orang itu makan manusia, sama kaya ayah kemarin yang makan bunda, " dengan polosnya Ara berucap. "Tapi kenapa mereka gak pakai baju yahh? " bingung Ara saat melihat video biru tersebut yang dimana laki-laki dan perempuan itu tidak menggunakan pakaian sama sekali.
"Shitt, mata adek gue ternodai. " Brian menatap tajam ke arah Lian.
Lian sendiri udah ketar ketir, "gue gak tau ada video seperti itu di ponsel gue, " sahut Lian takut-takut. Memang benar dia tidak pernah menyimpan video seperti itu di ponselnya tapi kalau laptop mungkin banyak xixi.
"Kalau gak ada kenapa sampai adek gue liat itu diponsel lo hah, " sentak Brian. Juna, Hendra dan Susi menahan tawa melihat wajah takut dari Lian.
Lian mengedikkan bahunya."dek kamu kenapa bisa liat video itu? Apakah Lima yang mencarinya? "Tuduh Brian, pasalnya tadi Ara meminta Lima yang mencarikan youtube.
Lima menatap sengit kearah Brian, "gue gak mungkin sembarang memperlihatkan vidoe ke Ara. "
Ara menggeleng, "bang Lima cariin upin-ipin kok, terus saat Ara nonton ada pesan masuk jadi Ara buka deh. "
"Jangan liat yang gituan lagi yah, " ucap Lima.
"Why? " tanya Ara.
"Kamu masih kecil princess, gak boleh liat yang gitu-gitu. " ucap Bryan.
"Tapi kan Ara udah pernah liat langsung kemarin dikamar bunda. " ucapnya polos.
"Hahahah, " tawa Juna dan Hendra pecah, sedangkan Lian hanya bisa menahan tawa.
"Melihat seperti itu tidak baik untuk kesehatan, " ucap Bryan.
"Iyakah? Pantes saja jantung Ara berdebar sekarang. "
"Berdebar? " tanya Brian dan diangguki oleh Ara.
"Sejak kapan berdebar Cil? " tanya Hendra yang dia yakini Ara berdebar bukan karena menonton video biru tersebut.
"Sejak duduk dipangkuan bang Lima. " sahutnya polos.
Lima terkekeh, "you're mine little girl. " bisik Lima.
Ara membalaik badannya menghadap Lima, "Ara milik abang? " tanya Ara pada Lima dan diangguki oleh Lima.
"Gakk, " protes Bryan.
Ara cemberut, "Ara suka bang Lima, tapi abang Iyan selalu bilang gak, Ara gak like abang Iyan. " marah Ara pada Bryan.
"Kamu masih kecil princess, belum pantas suka-suka an sama laki-laki. " sahut Bryan.
"Ihhh Ara marah sama abang, Ara mau ke kelas aja. " kesal Ara lalu beranjak dari pangkuan Lima, entah kenapa hari ini dia dibuat marah terus, pertama ponsel Lian dirampas Lima terus abangnya yang tidak membiarkan dia suka dngan Lima, padahalkan Lima baik dan ganteng.
Ara berlari meninggalkan mereka yang sedang menatapnya itu. "Gue bisa jagain Ara, " ucap Lima tiba-tiba.
"Gue percaya lo, tapi masalahnya adek gue masih kecil. " sahut Bryan dan diangguki Brian.
"Gue akan menjaga Ara dan gak akan macam-macam ke dia sebelum waktu nya pas untuk menikahi nya, "
Juna, Lian, Hendra dan Susi hanya memperhatikan perdebatan antara abang ipar dan adek ipar itu.
"Gue pegang kata-kata lo, tapi lo harus izin dulu ke ayah. " ucap Brian.
"Lo apaan sih, Ara itu masih kecil. " protes Bryan.
Brian memutar bola matanya malas melihat sikap posisif dari Bryan, "Lima teman kita, gue yakin dia bisa jaga Ara. "
Bryan menghela nafas, "awas kalau lo buat adek gue nangis. " ancam Bryan, dia sebenarnya tidak masalah Ara dengan Lima tapi mengingat Lima itu banyak fans nya disekolah maupun diluar membuat dia menjadi khawatir akan Ara, dia takut adeknya diganggu oleh fans² bar-bar Lima itu.
Lima yang paham hanya tersenyum, "lo tenang aja, gue gak akan nyakitin Ara dan gue gak akan biarin fans gue nyentuh Ara seujung kuku pun. " janji Lima.
"Gue pegang kata-kata lo. " ucap Bryan lalu beranjak pergi untuk menyusul adeknya itu.
****
Ara berlari dengan kaki mungilnya itu meninggalkan kantin dan saat ditengah koridor untuk menuju kelasnya Ara tidak sengaja menambrak seseorang sehingga membuatnya terduduk di lantai sekolah.
Brukkk
"Aduhhh sakitt, " ringis Ara mengusap bokong nya,
"Kamu gak apa-apa? " tanya orang itu lalu mengulurkan tangannya pada Ara untuk membantu Ara berdiri.
Ara mendongak dan melihat siapa yang sudah dia tabrak, saat melihat orang itu Ara segera berdiri dan memeluk orang itu.
"Bang Agasss, Ara kangen hikss. " Ara menangis dipelukan kepala sekolah baru itu. Yaa yang Ara tabrak adalah Bagas. Bagas sedang menelpon seseorang dan tiba-tiba saja Ara menabraknya.
Degg
Bagas terkejut melihat murid kecil itu menyebut dia dengan sebutan 'bang Agas'. Sebutan yang biasanya adeknya sematkan padanya.
"Ara? " bingung Bagas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Bzaa
wahhhhhh ketemu juga akhirnya
2023-06-13
0
Shai'er
😱😱😱😱😱😱😱
2023-06-10
0
Shai'er
wuah meng daebaaaaaaaaaakkkkkkk😱😱😱
2023-06-10
0