menceritakan

Ara melepas pelukan nya pada Bagas dan menghapus air matanya, lalu tersenyum manis kearah Bagas.

"Bang Agas pasti gak ngenalin Ara kan, Ara sekarang tambah cantik hihi, " Ara terkikik sedangkan Bagas hanya terdiam melihat Ara ehh Bella, Bagas mengenal Bella karena keluarga Bethany dan Arshana pernah bertemu.

"Kamu Bella kan? " tanya Bagas.

"No Bella, i'm Ara. "

"Arabella Arshana? " tanya Bagas.

"Arawinda.. " Ara cemberut saat abangnya salah menyebutkan namanya, biasanya abang nya tidak pernah salah sebut nama. Tapi kan kamu sekarang berada di raga Arabella Bocil.

Sejenak Bagas terkekeh karena melihat Ara yang memanyunkan bibirnya, sama seperti kebiasaan adeknya dulu. Tapi Bagas cepat berubah ekspresi nya menjadi kembali bingung.

"Bisa kita bicara di ruangan saya aja? " pinta Bagas karena dia merasa tidak enak bicara diluar ruangannya.

Ara mengangguk, "ayooo.. " semangat Ara, sungguh dia rindu momen berdua sama abangnya. Bagas berjalan lebih dulu dan diikuti Ara dari belakang.

"Bang Agas cepat banget sih jalannya, Ara gak bisa imbangin.. " kesal Ara karena kaki pendeknya tidak bisa mengimbangi jalan Bagas.

Bagas memelankan jalannya dan Ara dengan senang berjalan disisi Bagas.

"Mari masuk, " ajak Bagas saat mereka sudah sampai didepan ruangan kepala sekolah. Tanpa menjawab Ara menyelonong masuk persis seperti Ara adeknya, pikir Bagas.

Setahu Bagas Arabella itu cupu dan pendiam tapi sekarang Arabella banyak berubah, bahkan perubahan nya sama persis seperti adeknya, pikir Bagas.

Ara dengan santai nya duduk disofa tanpa disuruh sambil menggerak-gerakkan kaki mungilnya. Bahas duduk berhadapan dengan Ara.

"Kamu Arabella Arshana kan? Anak dari om Bima dan tante Radella?. " tanya Bagas.

"Sekarang iya hihi, " Ara menyahut dengan cekikikan sambil mengangguk lucu.

Bagas bingung dengan jawaban gadis di depan nya ini, 'maksudnya sekarang apa? Emang dulu dia bukan anak om Bima dan tante Radella? 'Batin Bagas bertanya-tanya.

"Sekarang? Emang dulu kamu anak siapa? " tanya Bagas akhirnya.

"Dulu Ara anak Daddy Bram. " sahutnya polos.

Bagas semakin dibuat bingung dengan jawaban Ara, "daddy Bram, daddy nya saya kan? "

Ara cemberut karena abangnya itu menyebutkan bahwa daddy nya hanya daddy abangnya saja. "Daddy Bram, daddy Ara juga.. " kesal Ara.

Bagas gemes dengan gadis kecil di depannya ini. "Kamu bilang tadi nama kamu Arawinda kan, maksudnya Arawinda Bethany adek saya? " tanya Bagas.

Ara mengangguk lucu sambil tersenyum, "iya."

Bagas semakin dibuat penasaran dengan jawaban Ara, "kalau kamu adek saya, terus kenapa wajah kamu mirip dengan teman sahabat Daddy. " tanya Bagas berharap gadis kecil itu bisa menjawab nya dengan benar, mengingat jika gadis didepan nya ini benar Arawinda adeknya maka akan sulit ditanyain karena kepolosan adeknya itu yang overload.

"Gak tau, " sahut Ara dengan santainya... Nah kan benar yang dipikirin Bagas, tapi gimana adeknya bisa berada di tubuh anak dari sahabat orang tuanya? Apakah ber transmigrasi? Tapi jaman sekarang ada gitu yang ber transmigrasi? Pikiran Bagas menjadi kemana-mana.

"Coba ceritain dari awal kenapa kamu bisa di tubuh Bella. " ucap Bagas, kalau benar yang di depan ini adeknya yang sedang ber transmigrasi maka dia orang yang paling bahagia dimuka bumi ini.

"Ara waktu itu dibentak Daddy terus Ara keluar ingin melihat dunia luar lagi, padahal Ara mau sama abang keluar nya tapi abang gak ada, terus Ara keluar sendiri deh, Ara berjalan dan melihat ayam, ada ditengah jalan jadi Ara mau selamatin deh tapi-tapi Ara ditabrak huhu... " Ara menjelaskan semua kejadian yang dia alami pada Bagas, mulai dari dibentak sampai dia mendapatkan keluarga baru lagi.

Bagas yang mendengar itu meneteskan air mata haru, tak kuasa dia menahan haru saat mengetahui adeknya ber transmigrasi ke dalam raga Arabella Arshana anak dari sahabat orang tuanya.

"Sayangg abang kangenn.. " Bagas merentang kedua tangannya agar adeknya itu memeluk nya. Ara yang melihat abangnya merentang tangan segera mesuk kedalam dekapan sang abang.

"Ara juga kangen abang huhu, " ucapnya lucu.

Bagas terkekeh lalu dia menciumi seluruh wajah adeknya gemes.

Cup

Cup

Cup

Cup

"Abang berhenti, Ara geli haha.. " tawa Ara sambil berusaha menutupi wajahnya agar sang abang berhenti menciumnya.

"Abang mengira kamu sudah pergi ninggalin abang dan daddy, ternyata kamu ber transmigrasi ke tubuh Bella. " ucap Bagas lalu mengeratkan pelukannya pada Ara.

"Transmigrasi? " bingung Ara. Dia tidak pernah mendengar kata itu sebelumnya.

Bagas tersenyum,"roh kamu masuk kedalam tubuh Bella sayang, kamu ber transmigrasi ketubuh Bella.. "Jelas Bagas.

"Gimana Ara masuknya? " tanya Ara.

"Yaa kamu gimana jadi masuk kesini? "

"Ara gak tau.. "

Bagas menghela nafas, "yasudah lupakan, yang penting adek abang ini masih hidup.. " Bagas mencubit gemes pipi chubby adeknya.. Tidak jauh berbeda dengan tubuh adeknya dulu, Arawinda dan Arabella sama-sama menggemaskan walau pun Arabella lebih gemoy dikit pipinya.

"Kamu bahagia dengan kehidupan baru kamu sayang? " tanya Bagas, dia takut Ara tidak bahagia dengan kehidupan nya yang sekarang sama seperti kehidupan nya dulu.

"Ara bahagia, Ara punya ayah dan bunda serta abang kembar yang sangat menyayangi Ara.. Ara like banyak-banyak.. " Ara sangat bersemangat menceritakan kehidupan nya yang sekarang pada Bagas. Hati Bagas sakit saat melihat wajah ceria adeknya saat menceritakan keluarga barunya. Dia merasa gagal membahagiakan adeknya itu tapi mulai sekarang dia akan berjanji untuk selalu membahagiakan adeknya.

Cup

"Maafin abang tidak ada saat kamu dibentak daddy sayangg, "ucap Bagas lalu mengecup kening Ara.

"Ara kangen bang Agas banyak-banyak.. " Ara ngedusel didada bidang Bagas.

Bagas terkekeh melihat kebiasaan adeknya itu, "abang lebih kangen sayang.. Kamu nanti pulang bareng abang yaa, pasti Daddy senang. " ajak Bagas, sudah cukup dia melihat penyesalan sang Daddy selama sebulan ini, kalau tau bahwa Ara masih hidup mungkin daddy nya akan kembali ceria.

Ara menggeleng kuat,"no, Ara udah punya ayah dan bunda, Ara mau sama mereka.. "Tolak Ara.

"Kamu gak rindu abang sama daddy hm? " tanya Bagas dengan kecewa.

"Ara rindu, tapi Ara udah punya ayah yang syang sama Ara. "

Bagas paham, adeknya pasti nyaman dengan keluarga yang menyanyangi nya beda dengan keluarga nya, Ara hanya mendapatkan kasih sayang dari nya tapi bukan dari daddy nya.

"Yasudah kalau tidak mau, tapi setiap hari temuin abang disini yaa.. " pinta Bagas.

Ara memiringkan kepalanya lucu menatap Bagas, "minggu juga kesini abang? " tanya Ara polos.

Bagas terkekeh, "selain hari libur sayang.. " Bagas mencium ujung hidung sang adek.

Ara mengangguk lalu kembali ngedusel didada bidang Bagas. Bagas hanya bisa terkekeh melihat adek kecilnya itu.

"Kamu gak masuk hm? " tanya Bagas membelai rambut Ara sayang.

"Ara ngantuk huhuu.. " Ara berucap sambil berpejam.

Bagas tersenyum lalu mengeratkan pelukannya pada sang adek yang sekarang berada dipangkuan nya. "Tidurlah.. " Bagas menepuk-nepuk pelan pantat sang adek.

Ara mencari kenyamanan didada bidang Bagas lalu dia memasukkan jari jempolnya kedalam mulut.

"Kebiasaan.. " kekeh Bagas saat melihat cara tidur Ara seperti bayi.

****

Dou B dan teman-teman nya serta Susi sekarang sedang kelimpungan mencari keberadaan Ara.

"Ni Bocil lari kemana yaa tadii.. " seru Lian.

"Dikelas beneran gak ada? " tanya Hendra.

"Beneran gak ada kak. " sahur Susi.

"Awas aja kalau adek gue gak ketemu, lo yang pertama gue salahin.. "Tunjuk Brian pada Lian.

"Kok gue? Kalian bertiga yang salah udah buat degem kesal.. " Lian menunjukkan Dou B dan Lima.

"Gue gak, meraka aja.. " ucap Lima datar..

"Ehh kok malah salah-salahan sihh, ini Ara dimana? " khawatir Susi, walapun dia tadi kesal sama Ara tapi tak bisa dipungkiri dia pun khawatir jika bocil nya itu tidak ada.

"Apa jangan-jangan dia kabur dari sekolah?. " ucap Juna.

"Gak mungkin, adek gue suka belajar mana mungkin dia kabur dari sekolah sebelum jam pelajaran selesai. " ujar Brian yang seakan hapal dengan adeknya itu.

"Ini gimana? Bel masuk udah bunyi loh dari tadi, " keluh Lian.

"Sok-sok an ngeluh lo, padahal biasanya lo yang paling semangat kalah lagi gak belajar, " sinis Juna dan Lian hanya cengengesan.

"Berisik, " ucap Lima dingin. Dia merasa jengah dengan teman-temannya itu diwaktu yang tidak pas ini saja masih sempat berdebat.

Mereka yang tadi berdebat mendadak diam.

"Coba umumin deh bahwa Ara hilang. " usul Juna.

"Umumin dimana? " tanya Lian.

"Dimuka mesjid.. Di lobi sekolah lah dodol. " sewot Juna.

"Diumumin pake toa? " tanya Lian bak orang bodoh.

"Pake papan pengumuman, ahh elahh bodoh lo, "

"Kalo pake papan pengumuman lama ketemunya, " sahut Lian.

Juna ingin sekali rasanya mengubur Lian hidup-hidup karena kebodohan Lian itu. Kepala Juna sudah memerah dan mengeluarkan asap.

"Sabar kak Juna, " ucap Susi terkekeh.

Juna hanya bisa menggigiti tembok sekolah untuk menahan kesal terhadap Lian.

"Belum apa-apa udah gak bisa jagain Ara, " sindir Bryan pada Lima.

Lima yang mengerti bahwa Bryan sedang menyindir nya hanya menatap Bryan datar.

"Udah deh jangan sindir-sindiran dulu, ini Ara gimana. " sela Brian.

"Umumin, " ucap Lima.

"Nahh iya, seperti saran gue tadi. " sahut Juna.

Mereka semua menuju lobi sekolah untuk meminta penjaga sound system agar mengumumkan kehilangan Ara.

Tapi saat menuju lobi sekolah mereka melewati ruangan kepala sekolah.

"Kita izin ke kepala sekolah dulu gak buat ngumumin kehilangan Ara? " usul Susi.

"Iya benar, sekalian juga izin untuk memeriksa semua CCTV yang disekolah ini. " jawab Brian.

"Ketuk coba pintunya, " ucap Susi. Dan Juna pun mengetuk pintu ruangan kepala sekolah tersebut.

Tok tok tok

Bagas yang sedang memperhatikan adeknya tidur disofa lantas menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan pintu.

Bagas berdiri dan berjalan menuju pintu.

Ceklek

"Ada apa? " tanya Bagas to the point saat melihat 7 murid berada didepan pintu ruangan nya.

"Eh pak kepsek, kami bertujuh disini mau meminta izin untuk menggunakan sound system disekolah ini. " izin Juna.

"Buat? " tanya Bagas.

"Buat ngumumin adek kita yang hilang bang. " sahut Bryan. Yaa mereka saling kenal kan sudah author katakan bahwa dua keluarga itu sudah pernah bertemu sebelum nya tapi hanya Arawinda yang tidak pernah bertemu karena daddy nya menyembunyikan indentitas nya dulu.

"Didalam, " sahut Bagas singkat.

Mereka (kecuali Bryan dan Lima) yang mendengar itu menaikkan alis pertanda bingung dengan ucapan singkat kepsek baru mereka itu.

Bryan dan Lima yang paham akan ucapan singkat itu segera menerobos masuk kedalam ruangan tersebut. Bagas hanya mendengus melihat dua manusia es tersebut masuk tanpa izin.

Bryan dan Lima bernafas lega saat melihat Ara tertidur disofa ruangan tersebut. Juna, Lian, Hendra, serta Susi ikut masuk kedalam dan sekita mendengus kesal saat melihat orang yang mereka cari dengan enaknya tidur disofa.

"Bocil meresahkan, " gumam Susi.

"Enak-enakkan tidur disini ni bocil. " kesal Lian.

"Keluar, " titah Bagas, entah kenapa dia tidak suka adeknya dikelilingi orang-orang.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

wah bagas posesif nih

2023-06-13

0

Shai'er

Shai'er

si bocil degem ilang 🤣🤣🤣

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

nah.... seperti itu, ceritanya.....

2023-06-10

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!