Mobil sport memasuki parkiran sekolah BIHS para kaum hawa yang ada diparkiran tersebut mulai riuh karena mereka sudah tau siapa pemilik mobil tersebut.
"Tampannya guehh datangg woyy, "
"Ah sehari gak liat wajah tampannya lemes gue bestehh.. "
"Ehh lama banget sih keluarnya, "
"Gue heran kenapa dia makin hari makin tampan woyy. "
Pekikan para kaum hawa disekolah BIHS tersebut selalu saja terdengar lebay ditelinga Dou B dan teman-teman nya. Setiap mereka memasuki perkarangan sekolah pasti para kaum hawa terpekik histeris, sama seperti yang sekarang ini, sang pemilik mobil sport tersebut belum keluar saja sudah pada histeris apalagi kalau sudah keluar. Dou B dan teman-teman nya menghampiri mobil sport tersebut.
"Tumben Lima datang terlambat dari kita-kita. " ucap Juna, biasanya Lima itu datang lebih awal dari mereka tapi kenapa hari ini terlambat?.
Yaa pemilik mobil sport yang memberikan tumpangan kepada Ara itu adalah Panglima xixi.
(Hayooo siapa yang jawab Bagas? Huhu kalian belum beruntung karena kalian salah menebak xixixi.)
"Mungkin dia ada urusan, " sahut Lian. Mereka terus mendekat kearah mobil sport Panglima.
Sedangkan didalam mobil sport tersebut Ara menatap bingung para kaum hawa yang seperti nya melihat kearah mobil sport Panglima.
"Abang look, kenapa mereka melihat kearah sini? Dulu waktu Ara pertama kali sekolah disini banyak juga yang lihat tapi bukan perempuan-perempuan yang melihat melainkan kan para laki-laki.. " tunjuk Ara pada semua kaum hawa tersebut.
Panglima memutar bola matanya malas melihat dan mendengar pekikan para kaum hawa tersebut. "Biarkan saja mereka melihat kesini, " ucapnya pada Ara.
"Abang tau mereka bersuara sambil berteriak, dulu waktu Ara tanya ayah kenapa mereka seperti itu kata ayah mereka mengatakan kalau Ara cantik, " celoteh Ara dengan lucu nya sehingga membuat Panglima terkekeh.
"Kamu memang cantik little girl, " Panglima mengacak gemes rambut Ara.
Ara mengangguk lucu, "Ara memang cantik hihi. " cekikik nya lucu dan membuat Panglima gemes.
"Ayoo turun, bentar lagi bel masuk bunyi. " titah Panglima.
"Hu'um, " Ara membuka pintu mobil lalu menyembulkan sedikit kepala nya mencari seseorang.
Dou B dan serta teman-teman nya(-Panglima) terkejut melihat ada kepala bocil yang selalu membuat mereka gemes itu menyembul dari pintu mobil teman mereka. Mereka bergegas menghampiri mobil sport Panglima apalgi si Bryan dia menghampiri setengah berlari.
"Dekk, " panggil Bryan saat sudah berada tepat disamping mobil Panglima.
Ara mendongak melihat orang yang telah memanggilnya, "abanggg.. " serunya lalu membuka pintu mobil lebar-lebar dan dia keluar.
Bryan memegang atas mobil Panglima agar saat adeknya keluar dari mobil itu tidak terpentok.
"Kenapa bisa bareng Lima hm? " tanya Bryan lembut saat Ara sudah berdiri disamping nya.
Panglima yang baru keluar mobilnya mendekat kearah mereka dan diikuti oleh Brian, Juna, Lian dan Hendra yang baru sampai di depan Ara dan Bryan.
"Mobil ayah mati terus ayah mau anter Ara pakai taksi tapi bang Lima datang dan ngajak Ara berangkat bareng. " jelas Ara menatap satu persatu abangnya itu, Ara heran kenapa tatapan mereka semua (-Panglima) menatapnya seperti mengintimidasi.
"Thank tumpangannya bro, " ucap Brian kepada Panglima.
"She's mine, jadi wajar gue memberikan nya tumpangan. " Panglima berbicara dengan nada datarnya.
"Dihh, belum direstuin juga. " cibir Brian.
"Gue gak butuh restu dari lo. " sinis Panglima.
Para kaum hawa yang sedari tadi menyaksikan para most wanted dengan bocil sekolah BIHS itu hanya bisa terpekik histeris dan iri.
"Pengin seperti bocil itu woyy, "
"Dikelilingi para cogan astagaa. "
"Gue bakal deketin tu bocil untuk menarik perhatian Bryan, "
"Gue sendiri mau deketin bocil itu untuk jadian sama Brian, "
"Bocil kesayangan nya para most wanted BIHS dia mahh. "
Lian dan Juna hanya tebar pesona melihat para kaum hawa yang mengagumi ketampanan mereka, sedangkan Dou B, Panglima, dan Hendra hanya acuh mendengar pekikan histeris itu.
Ara sendiri hanya mengerjap polos saat para kaum hawa menatapnya gemes dan iri.
"Ara gak suka diliat gitu, " Ara mencebikkan bibirnya lucu saat melihat tatapan iri dari orang-orang itu.
"Mereka iri liat lo cil, " ucap Lian.
Ara memiringkan kepala nya lucu, "iri? Why? " tanyanya.
"Karena adek abang cantik.. " sahut Brian.
Ara tersenyum lucu, "I know,, "
"Pengin gue terkam astaga, gemesin banget sih lo Cil.. " gemess Lian.
Panglima dan Dou B menatap tajam kearah Lian yang tanpa sengaja mengatakan sesuatu yang membuat nyawanya terancam sekarang. Lian meneguk ludah kasar saat sudah menyadari ucapan nya barusan, sedangkan Juna dan Hendra menahan tawa karena lagi-lagi Lian ceroboh dalam berbicara.
Ara sendiri bingung dengan ucapan Lian, "abang singa ya? Kalau bang Lian singa terkam hewan aja, Ara kan manusia gak mau diterkam bang Lian, " ucapnya polos dan bergedik ngeri.
"Gak abang bukan singa kok, abang cuma salah bicara aja hihi, " Lian tertawa kaku sambil menjelaskan kepada Ara tentang ucapannya.
"Kita ke kelas yaa, " ajak Bryan pada adeknya itu.
Ara mengangguk antusias, dia sudah tidak sabar bertemu Susi, "hu'um, ".
Bryan menggenggam tangan mungil Ara lalu berjalan dan diikuti oleh yang lainnya. Di sepanjang koridor sekolah Ara tak henti-hentinya berceloteh tidak jelas.
"Gak bisa diam lo dek? " tanya Brian yang sudah lelah mendengarkan celotehan adeknya itu.
"Ara gak ngomong sama abang Ian tapi abang Iyan,, iyakan bang? " tanya nya lucu.
Bryan tersenyum, "iya princesss, " gemes Bryan.
"Tuu, wleee.. " Ara menjulurkan lidahnya lucu dan membuat yang lain gemes melihatnya.
Lima yang melihat ke gemesan gadisnya seakan tidak rela orang lain juga melihatnya, "jangan menjulurkan lidah seperti itu little girl, " posisif Panglima.
"Ck, belum apa-apa. " ujar Bryan datar dan dibalas dengan tatapan datar juga oleh Panglima.
Ara memiringkan kepala nya lucu mendengar kalimat Panglima, "why? " tanyanya.
"Udah gak apa-apa, kamu masuk gihh, udah sampe muka kelas nih. " sela Brian cepat sebelum pembahasan antara Panglima dan Bryan menjadi panjang.
"Hu'um, papayyy abang-abang.. " Ara memasuki kelasnya dengan semangat.
"Belajar yang rajin dekk, " teriak Brian karena Ara sudah memasuki kelasnya.
***
Dikelas XII IPA1 atau lebih tepatnya kelas para most wanted BIHS.
"Lo tumbenan terlambat Lim, emang kenapa? " tanya Brian.
"Kesiangan, " sahut Lima singkat.
"Gak biasanya juga kesiangan, " ucap Hendra dan diangguki yang lain.
Panglima menghela nafas kasar, "tadi malam bantuain bokap selesain misi, " ucapnya.
Bryan membuang nafas kasar, "ini alasan gue kurang suka lo sama adek gue Lim, gue takut kalau musuh-musuh bokap lo atau lo sendiri tau tentang Ara, maka dapat dipastikan Ara dalam bahaya belum lagi kalau para fangirl lo itu. " jelas Bryan panjang lebar yang tak biasanya dia berbicara panjang tapi karena kekhawatiran nya kepada sang adek jadi dia berbicara panjang guna mengeluarkan kegelisahan hatinya.
"Gue bisa jaga Ara, dan gue gak akan biarin orang-orang menyentuh nya seujung kuku pun, " desis Panglima, dia akan menjaga gadisnya tohh selama ini dia selalu mengawasi Ara kan.
"Gue pegang kata-kata lo, kalau terjadi sesuatu dengan adek gue maka gue gak akan biarin lo dekat bahkan hanya sekedar melihat nya saja lo gak bisa. " ucap Bryan dan Panglima mengangguk saja.
"Ehh Dou B, Ara itu kan polos pernah menstruasi gak sih? Gue bingung gimana dia menstruasi para readers pun bingung loh.. " tanya Lian sekalian mewakili pertanyaan dari para readers.
"Dia belum pernah mens deh perasaan, " sahut Brian ragu karena memang benar dia tidak pernah melihat adeknya itu membeli pembalut.
"Masa? Padahal tubuh adek lo bagus dan berisi masa belum mens, " ucap Lian spontan.
"Lo liatin tubuh adek gue selama ini hah? " sentak Brian tiba-tiba.
"Ehh eeng-gak kok, tapi kan e-mang keliatan Gimana, " Lian tergagap dan meneguk ludah kasar saat melihat tatapan membunuh dari Panglima dan Bryan.
Juna dan Hendra terbahak karena ucapan spontan dari Lian, "haha makanya kalau ngomong dipikirin dulu, " tawa Juna.
"Udah tau pawang-pawang degem galak masih aja gak bisa jaga bicara, haha. " ledek Hendra.
(Yang nanya tentang Ara menstruasi, author belum buat Ara mens yah, nantikan nanti bab Ara mens yang akan membuat kalian tertawa, Ara kan masih kelas 10 jadi wajar kan belum mens? Tapi bentar lagi author buat dia mens hihi. )
Saat Lian hendak membela diri atas ucapan spontan nya tidak jadi karena guru mereka sudah memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak. " sapa guru pria tersebut.
"Pagi pakkk, " sahut mereka semua. Dan pelajaran pun dimulai.
***
Dikantin
Saat ini Ara dan Susi serta abang-abang Ara sedang makan dikantin.
"Yeayy perut Ara kenyang.. " senang Ara saat sudah menghabiskan makanannya.
Bryan tersenyum sambil membersihkan mulut Ara dari sisa-sisa makanan. "Makannya jangan belepotan princess, " ucapnya.
Ara hanya nyengir lucu, "iya bang.. " ucapnya.
Yang lain masih makan cuma Ara yang baru selesai makan, seperti biasanya mereka adu bacot dulu makanya lama makan, sedangkan Ara diam saja mendengarkan kadang dia sekali-sekali menimpali dan bertanya jika mendengar kalimat asing bagi nya.
Ara mengeluarkan ponselnya menunggu yang lain selesai makan, "Susi look, Ara udah beli HP. " adunya pada Susi.
Susi melihat ponsel baru Ara, "emang sudah dibolehin bunda megang HP Cil? " tanya Susi heran, kan sebelum nya Ara cerita kalau dia tidak diizinkan pake HP dulu karena masih kecil.
"Lusa kemarin bunda bilang, kalau Ara dapat nilai besar pas ulangan Ara akan dibelikan HP, maka nya kemarin Ara minta ulangan sama pak guru. " ucap Ara senang.
Uhuk uhuk uhuk
Susi tersedak makanannya mendengar perkataan Ara, Buru-buru Brian memberikan minuman ke tangan Susi.
"Makasih kak, " ucap Susi lalu meneguk air minum itu dengan cepat.
Hah hah hah
"Jadi ini alasan lo kemarin minta ulangan dadakan kemarin? " Susi bertanya dengan nafas tersenggal-senggal karena habis minum dengan cepat ditambah mendengar perkataan Ara tadi.
Ara mengangguk polos membuat abang-abang nya terkekeh kecil melihat wajah tak berdosa Ara. Sedangkan Susi mendengus kesal.
"Ara minta nomor HP Susi dongg, " pinta Ara dengan tampang tak bersalahnya.
Susi membuang nafas kasar, dia harus sabar dengan bocil yang ada di sampingnya itu. Susi mengambil ponsel Ara lalu mengetikkan nomor whatsapp nya.
"Nih, " Susi menyodorkan ponsel Ara kembali.
"Terimakasih Susi, " seru Ara dan Susi hanya berdehem.
"Dek gak mau minta nomor abang Juna nih? " tanya Juna menaik turunkan alisnya.
"Gak perlu, " sahut Bryan dan Panglima bersamaan dan membuat yang lain menghela nafas panjang.
"Why? " tanya Ara bingung.
"Gak penting, " sahut Bryan.
"Tapi Ara mau minta, agar Ara bisa telpon-telpon. " ucap Ara polos dan membuat Panglima menggeram kesal, ingin menegur takut gadisnya akan marah jadi dia hanya bisa memendam kekesalan nya saja.
Juna tersenyum puas melihat Bryan dan Panglima hanya bisa pasrah dengan ucapan Ara.
"Sini ponselnya, abang masukin nomor nya, " pinta Juna dan Ara memberikan ponselnya.
"Abang juga ya, " pinta Lian dan Hendra bersamaan dan Ara mengangguk senang.
Bryan dan Panglima hanya bisa menggeram kesal, sedangkan Brian dia makan dan acuh dengan semua itu. Susi terkekeh kecil melihat wajah kesal dari Bryan dan Panglima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Bzaa
resiko punya degem cantik🤣
2023-06-13
0
Shai'er
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2023-06-10
0
Shai'er
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-06-10
0