tutup mulut

Masih dipasar, sekarang Ara sudah keluar dari gerobak sampah itu karena Bryan yang mengeluarkan nya.

"Abang Ian bayar... " seru Ara pada Brian.

"Gak bayar dek, itukan kamu nemu bukan beli. " sahut Brian.

"Gitu? "

"Iya, lagian mana ada orang jual itu hewan di pasar kek gini.. "

Susi dan teman-teman abangnya mendekat kearah Ara yang sedang mengelus lembut bulu hewan yang kotor karena berada di gerobak sampah itu.

"Cil, lo tau itu hewan apa? " tanya Juna.

"Hu'm." Ara mengangguk.

"Hewan apa? " tanya Lian.

"Baby cat.. " sahut Ara polos.

Mereka semua cengo, Ara tau kalau hewan itu adalah anak kucing tapi kenapa ara memanggilnya dengan sebutan ayam? Ahh ada-ada bocil yang satu ini pikir mereka semua.

"Kalau tau itu hewan apa terus kenapa kamu bilangnya tadi ayam hm? " tanya Brian berusaha untuk tidak frustasi, kesabaran seorang Brian Arshana hanya setipis tisu jadi dia mudah emosi dan kesal.

"Karena Ara mau kasih nama kucingnya dengan nama ayam.. " jawabnya polos.

"Namanya bagus ya Cil, "Juna menahan tawa mendengar jawaban polos dari Ara itu. Yang lainnya pun juga berusaha menahan tawa, hanya Bryan dan Lima yang tidak berekspresi mereka hanya menampilkan wajah datar tapi dibalik wajah datar itu terlihat senyuman tipis karena melihat tingkah random Ara.

"Iya bagus, makanya Ara kasih nama ayam.. " senang Ara.

"Ha ha ha, " Lian, Hendra, dan Juna tidak bisa lagi menahan tawanya, adek dari sahabat mereka itu sungguh lucu dan polos.

"Why ketawa? " tanya Ara.

"Mereka gila, " sahut Brian dan Ara hanya mengangguk saja, dia memeluk anak kucing yang ada di genggaman nya dengan sayang.

"Jangan peluk-peluk dulu dek, ini masih kotor nanti dirumah mandiin dulu baru boleh Peluk-peluk.. " ucap Bryan dan Ara tidak jadi memeluk anak kucing itu.

"Nah kucingkannya kan sudaaa... "

"Ayam abang, " sela Ara saat mendengar Brian menyebutkan peliharaan nya itu dengan sebutan kucing.

"Ah iyaa ayamnya sudah Ara dapatkan, jadi dirumah nanti jangn bilang apa-apa sama ayah dan bunda yah. " pintar Brian sambil mengingatkan adeknya itu.

Ara mengangguk patuh , "oke abang. " serunya dan Brian tersenyum senang.

"Penakut banget sih lo, " ledek Lian.

"Heh lo gak tau aja gimana seremnya bunda gue marah, baru liat mata bunda aja gue serasa mau mati tau gak.." sewot Brian.

"Abang jangan mati, nanti hidup nya ditubuh orang, " Ara menimpali kalimat Brian. Yang lain bingung apa maksud dari perkataan Ara itu tapi setelah dipikir-pikir mereka hanya acuh karena menurut mereka omongan Ara itu hanya ngaco.

"Kita pulang, " ucap Bryan dan mereka semua berjalan menuju kendaraan masing-masing.

'She's so cute baby.. 'Batin seseorang yang terus memperhatikan Ara sejak tadi.

Mereka semua pulang kerumah masing-masing dan Susi benar-benar dianter oleh Bryan dan Brian serta Ara.

"Makasih ya kak, Cil " ucap Susi pada si kembar dan Ara.

"Iya, sama-sama.. " sahut Brian sedang kan Bryan hanya berdehem. Susi keluar mobil dan Ara membuka kaca jendela mobilnya lalu menyembulkan kepalanya lucu.

"Papayyy Susi... " Ara melambaikan tangan nya kepada temannya itu, sedangkan Susi tersenyum gemes dengan tingkah Ara. Mereka pun pulang ke kediaman Arshana setelah mengantarkan Susi.

***

Sesampainya dirumah Ara tidak menyapa orang tuanya karena disuruh diam oleh Brian.

"Assalamu'alaikum Bundaa.. " teriak Brian saat mereka memasuki rumah. Radella yang sedang menonton televisi pun sontak menoleh kearah pintu dan terlihat lah ketiga anaknya itu. Radella beranjak untuk menghampiri anaknya.

"Walaikumsalam, " sahut Radella dan anak-anak nya pun mencium punggung tangan Radella.

Radella melihat kearah yang putri sedari tadi diam saja menjadi bingung, apakah anaknya itu kembali pendiam? Ahh padahal dia lebih suka anaknya yang banyak bicara dan manja.

"Jadi beli ayam? " tanya Radella pada Ara.

Ara mengangguk dan memperlihatkan ayam ehh bukan tapi kucing kepada Radella. Seketika Radella bingung karena Ara memperlihatkan kucing.

"Kok kucing? Katanya tadi kepasar mau beli ayam, " tanya Radella dan lagi-lagi Ara hanya diam.

Bryan menahan tawa melihat Ara benar-benar tutup mulut dan tidak berbicara kepada orang tua mereka, sedangkan Brian dia sedang mengumpat dalam hati karena adek nya itu salah pengertian.

'Shitt, kenapa adek gue malah gak bicara sama sekali astagaa, kalau gini kan bunda bisa curiga.. 'Umpat Brian dalam hati.

"Ihh kok pada diam sihh, Ara sayang kamu mandi yahh kamu bau ihh. " ucap Radella yang mencium bau badan Ara.

Ara mengangguk lalu dia beranjak untuk pergi ke kamar nya, Ara berjalan dengan riang karena dia mendapatkan kucing untuk jadi peliharaan nya.

Bryan dan Brian hendak beranjak juga tapi Radella dengan cepat menghentikan mereka.

"Kalian tetap disini, " titah Radella.

Brian tentu ketar ketir mendengar ucapan bunda nya.

"Iya bunda, " ucap mereka berdua lalu duduk disofa ruang tamu itu.

"Adek kalian kenapa diam saja tadi? " tanya Radella to the point.

"Mungkin dia capek habis dari pasar bun. " jelas Brian.

"Masa sih? Terus kenapa Ara tidak jadi membeli ayam? "

"Lahh yang Ara bawa tadi itu ayam. " Brian ikutan bodoh.

Alis Radella terangkat sebelah, "kucing tadi ayam? " tanya Radella dan mendapat anggukan dari kedua anaknya. Uhh berarti Ara masih seperti kemarin kan tapi kenapa dia tidak bicara sama sekali? Radella bertanya-tanya dalam hatinya apa penyebab putrinya itu jadi diam.

"Adek kalian ngapain aja ke pasar sampai bau gitu, sedangkan kalian gak bau? " heran Radella lagi, sungguh dia bingung setelah mendapati anak-anak nya pulang.

"Di pasar tadi Ara menjatuhkan diri ke gerobak sampah bun. " jelas Brian dengan malas mengingat kelakuan random adeknya itu.

Radella jelas terkejut, "gak mungkin jatuhin diri, kalian aja yang gak bisa jaga adek, kalau gitu bunda gak akan biarin kalian ke pasar.. " Radella jadi marah karena putrinya jatuh gara-gara Abang-abang nya tidak becus menjaga Ara.

Brian memutar bola matanya malas lalu dia melirik kearah Bryan yang sedari tadi hanya diam.. Bryan mengerti arti lirikan yang diberikan oleh saudara kembarnya itu.

"Ara menemukan kucing itu di gerobak sampah dan dia mengambilnya sampai dia jatuh Bun. " jelas Bryan.

"Kenapa gak kalian aja ambil kucingnya, "

"Ya mana kami tau ayam yang dimaksud Ara itu adalah kucing bun, " sahut Brian kesal.

Radella terkekeh mendengar cerita Ara dan melihat Brian sedang kesal. "Adek kalian unik,, " ujar Radella.

"Sangat unik huh, "

Radella kembali terkekeh, "yasudah kalian mandi dan istirahat lah, nanti makan malam kita kumpul. " titah Radella.

"Iya bun, " sahut mereka lalu beranjak pergi untuk kekamar masing-masing.

***

Didalam kamar Ara sangat senang karena dia punya peliharaan.

"Ayam ayo kita mandi dulu,, " ucap Ara senang lalu membwa ayam ehh kucing itu ke kamar mandi.

Sesampainya dikamar mandi Ara melihat bathup yang sudah terisi air mungkin bunda nya yang menyiapkan. Ara berjalan mendekat kearah bathup lalu dia melempar kucing itu kesana...

Byurrrr

Meonggg

Kucing itu bersuara keras karena majikan barunya itu tiba-tiba membuangnya ke bathup. Ara mengambil sabun-sabunnya untuk memandikan kucingnya itu.

"Ayam harus wangi dan cantik seperti Ara hihi.. " Ara cekikikan saat menyebut diri nya cantik. Ara memandikan kucing itu dengan telaten sedangkan si kucing hanya pasrah dengan apa yang majikan nnya lakukan. Dan apa lagi tadi? Cantik? Kucing Ara kan laki-laki mana bisa dia cantik.

Selesai memandikan kucingnya Ara keluar kamar mandi dan mencari handuk kecil untuk mengeringkan si kucing yang menggigil akibat mandi dimana air dingin. Ara melempar kucing itu ke kasur empuknya dan membuat kucing itu kembali mengeluarkan suara, jika kucing itu bisa bicara mungkin dia akan mengatakan bahwa Ara adalah majikan yang minim akhlak.

"Ayam tunggu sini oke, Ara mau mandi dulu. " titah Ara setelah melempar kucing itu.

Meong

Kucing itu kembali bersuara, "ishh Ara gak ngerti apa yang ayam bicarakan, intinya ayam diam sini Ara mau mandi dulu sebentar. " Ara segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

***

Malam harinya keluarga Arshana sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam. Ayah dan bunda masih bingung karena dari tadi Ara hanya tersenyum jika ditanyai dan diam saja.

Brian jengah dengan diamnya Ara, itu justru malah membuatnya semakin dalam bahaya.

"Ngomong elahh dek.. " jengah Brian.

Ara menoleh kearah Brian, "Ara udah boleh ngomong abang? " tanya Ara dan diangguki dengan malas oleh Brian.

Ayah dan bunda saling pandang saat Brian menyuruh Ara bicara Ara langsung bicara.

"Abang yang suruh kamu diam? " tanya bunda ke Ara.

"Hu'um." Ara mengangguk sambil terus memasukkan makanan ke mulutnya.

Bunda memberikan tatapan tajam pada Brian, sedangkan Brian berusaha tenang walaupun sekarang hati nya sungguh tidak tenang.

"Kenapa? " tanya Bima.

"Kenapa apa? " tanya Ara.

"Kenapa abang suruh Ara diam? "

Ara berpikir sejenak, "gak tau. " sahut Ara. Dia kan hanya menuruti perintah abangnya untuk diam didepan kedua orang tua nya.. Yaa memang diam tapi bukan diam yang dimaksud maimunahhh.

"Brian.. " ujar Bima.

Brian menghela nafas, "iya yahh, " sahut Brian.

"Jelasin."

"Jelasin apa? "

"Kenapa kamu suruh Ara diam? "

"Gak apa-apa yah, Ara kan cerewet jadi Brian suruh diam.. " ahh Brian masih mempertahankan rahasianya.

Bima mendelik, "alasann.. " cibir Bima.

"Yeayyy Ara kenyngg, " senang Ara. "Bunda ayam Ara belum makan, makanannya apa ya? " tanya Ara pada Radella.

"Nanti bunda siapin makanan untuk kucing Ara ya.. " ucap Radella.

"No kucing, itu ayamm bundaa, " protes Ara.

"Ganti namanya dek, masa kucing diberi nama ayam sihh.. " saran Brian.

"Gak, Ara suka namanya ayam aja. "

"Serah dek, " pasrah Brian.

Bima juga selesai makan lalu menghampiri Ara, "mau ayah gendong hm? " tanya Bima lembut pada anak bungsu nya itu.

"Hu'um, " Ara mengangguk antusias lalu dia mengulurkan kedua tangan nya kearah Bima dan langsung Bima sambut lalu membawa Ara dalam gendongan ala koalanya. Bima berjalan kearah ruang tamu dan duduk disofa itu dengan Ara yang ada diatas pangkuannya.

"Coba cerita ke ayah apa sebab abang Brian suruh kamu diam. " tanya Bima pelan agar anaknya itu paham.

"Gak tau, Ara abis liat nilai abang terus kata abang jangan bicara sama ayah dan bunda terus abang janjiin bakal beliin ayam buat Ara.. " jelas Ara sambil mengendus-endus dada bidang sang ayah.

Bima mengangguk paham, "emang berapa nilai abang? " tanya Bima.

"Kecil hihi, " Ara malah cekikikan dan membuat Bima gemes.

Cup

Cup

Cup

"Ayah geli haha, " Ara tertawa karena Bima mengecupi seluruh wajahnya. Ara memeluk erat leher Bima, sungguh ini momen yang dia impikan disayang oleh ayahh.

"Berapa nilai abang? " tanya Bima lagi.

"30 hihi, " Ara kembali cekikikan jika mengingat nilai abang nya yang kecil.

Bima mengangguk, "lain kali kalau disuruh abang diam Jangan mau, bilang aja sama ayah dan bunda.. " jelas Bima. Radella dan kedua anak kembar itu baru selesai makan dan ikut berkumpul diruang tamu.

"Kata abang Ian jangan bicara nanti bunda marah, kata abang lagi kalau bunda marah serem abang Ian bisa mati, " sahut Ara polos dan dia bergidik.

'Ohh shitt matilah gue habis ini.. 'Brian mengumpat mendengar jawaban polos dari adeknya itu.

Radella yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam pada putra kedua nya itu.

"Kenapa ngomong gitu sama adek? " ketus Radella.

Brian gelagapan, "engg-gak Bun, Brian cuma bercanda.. " Brian nyengir dan Radella yang tidak tahu alasan sebenarnya hanya mendelik.

"Lain kali awas aja kalau ngomong yang tidak-tidak ke adek, bunda gak kasih uang jajan seminggu. " ancam Radella dan Brian mengangguk pasrah.

Sedangkan Bryan masih diam sambil melihat kearah Ara yang sedang ngedusel didada sang ayah.

"Ayah Ara ngantuk huhu, " rengek Ara.

Bima terkekeh, "putri ayah ngantuk hm? " tanya Bima.

"Hu'um, "

Bryan dengan segera berdiri dan menghampiri Bima dan Ara. "Biar Bryan yang bawa Ara kekamar yahh. " ucap Bryan.

Bima menyerahkan Ara yang sudah menutup mata itu kepada Bryan.

Cup

"Mimpi indah cantikk, " ucap Bima setelah mengecup kening sang anak.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

ngakak...

2023-06-13

0

Shai'er

Shai'er

abang~ gimana 😏😏😏

2023-06-10

0

Shai'er

Shai'er

nah loh🤭🤭🤭

2023-06-10

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!