“Tapi gimana cara kita ke sana?” tanyaku.
“Ikut aku,” pinta Katrine.
Katrine mengulurkan tangannya dan aku pun memegang tangannya.
Saat itu aku merasa kami tertarik ke suatu tempat, semakin lama tempat itu semakin gelap hingga kami sampai di tempat itu.
“Aap nanti kota bisa balik lagi?” tanyaku.
“Kita coba aja nanti sekarang kamu jangan berisik, jangan membuat suara apapun!”
Aku pun menganggukan kepalaku tanda aku mengerti.
Sebenarnya aku masih belum mengerti kenapa Katrine melarang ku untuk bersuara tapi aku harus mengikuti instruksinya.
Saat memasuki tempat itu lebih jauh aku melihat ada banyak sekali arwah, mereka seakan tidak peduli dan cuek terhadap kehadiranku dan juga Katrine.
Ada beberapa yang menatap ke arah kami, namun mereka tidak melakukan pergerakan yang berarti.
‘Aneh kenapa mereka cuma diam aja,’ batinku.
Aku melihat Katrine seperti sedang mencari-cari seseorang di antara para arwah yang berdiri itu.
Suasana disini lebih mengerikan dari yang aku bayangkan, walau pun mereka diam seperti patung namun tatapan mereka seakan mengawasiku.
Katrine memegang tanganku dengan erat agar kami tidak terpisah, hingga kami masuk di sebuah tempat dengan di selimuti asap putih, jarak pandang pun cukup terganggu karenanya.
Hingga dari kejauhan aku melihat seseorang tengah duduk di bawah sebuah pohon sambil meringkuk memeluk kedua lututnya.
“Katrine!” ucapku.
Katrine menutup mulutku dengan cepat.
Aku merasakan Katrine mengucapkan sesuatu namun bukan dengan mulutnya tapi dari batinnya.
“Jangan bersuara sedikit pun!”
‘Apa ini? Aku bisa merasakan Katrine bicara tapi Katrine dari tadi tidak mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya. Apa ini yang dinamakan bicara lewat batin?’ pikirku.
Aku dan Katrine perlahan berjalan mendekati orang itu, tapi dugaanku salah orang itu bukanlah Juna.
“Siapa dia? Apa dia korban dari ilmu Hitam atau semacamnya?” tanyaku kepada Katrine lewat batin.
“Dia di ambil paksa karena mereka suka padanya, sepertinya dia di ambil saat masih kecil,” sahut Katrine.
“Anak kecil? Apa kolong wewe yang mengambilnya?”
“Bisa jadi.”
“Kita harus melihat, jangan melihat hanya satu kali kalau tidak kamu bisa salah ambil orang. Mereka pintar menipu mata namun tidak dengan hati kita,” sambung Katrine.
Cukup lama aku dan Katrine berjalan menyusuri tempat itu, hingga aku tidak sengaja menabrak salah satu dari mereka.
‘Aduh mampu slah aku!’ batinku sambil memejamkan mataku.
Nmaun aku merasa tidak ada reaksi apa pun aku mencoba membuka mataku perlahan, dan berapa terkejutnya aku melihat Juna di hadapanmu dengan tatapan kosong.
Untung aku tidak sampai berteriak karena senang bertemu dengan Juna.
Aku mulai mencoba berbicara lewat batin dengan Juna.
“Juna ... Jun k mau dengar aku? Ini aku Elin!” ucapku lewat batin.
Juna pun menoleh ke arahku, ekspresinya masih datar namun aku bisa melihat lewat tatapannya kalau dia masih sadar akan dirinya.
Aku juga melihat mata Juna berkaca-kaca. Aku melihat ke arah Katrine.
Katrine menganggukan kepalanya, pertanda jika ini saatnya kami membawa pergi Juna.
Aku memegang erat tangan Juna, dan membawanya menuju jalan yang kami lewati tadi.
Saat aku membawa Juna suasana tempat itu menjadi berbeda, para makhluk dan arwah itu mulai mendekati kami, aku dan Katrine mempercepat langkahku.
‘Aaarghh sial! Kenapa di sini aku gak bisa melayang seperti aku berada di dunia manusia!’ ucapku dalam hati.
Semakin kami mempercepat pergerakan, para arwah dan makhluk di sana semakin mendekati kami hingga mereka berdesakan, hampir mirip seperti berada di mall dengan didempet ibu-ibu yang sedang berebut barang diskonan.
Jalan kami semakin lamban karena harus melewati para arwah yang berdesakan itu.
Hingga kmi bertiga hampir sampai, namun tiba-tiba ada yang menahan tubuh Juna.
Aku menarik Juna dengan kuat namun Juna tetap tidak bergerak.
Saat aku lihat seorang pria tua menahan tubuh Juna, wajahnya sangat mengerikan.
Dari mulutnya keluar cairan berwarna hitam, cairan itu membasahi bahu Juna.
“Juna ayo pulang! Tempat kamu bukan di sini!” ucapku dalam batin.
“Juna ayo pulang!” teriakku hingga menembus batin Juna.
Seketika Juna tersadar dan menatapku sembari menitikkan air mata.
Aku mencoba memberi isyarat kepada Juna bahwa jangan mengeluarkan suara.
“Elin,” ucap Juna yang langsung memelukku.
Seketika suara Juna itu membangunkan kesadara semua makhluk serta arwah yang ada di tempat itu.
“Jun kita harus lari Jun!” bisikku pelan.
Juna menatap ke arah pria tua yang tengah membelenggunya itu.
“Kakek, Juna mau pulang ini bukan tempat Juna.”
Seketika pria tua itu melepaskan belenggu nya dari tubuh Juna.
Aku menari Juna lalu berlari, semua makhluk itu sekarang mengejar kami.
“Katrine kenapa mereka mengejar kita?” tanyaku.
“Sudah aku bilang jangan bersuara, kalau mereka mendengar suara kita maka mereka akan tahu kita menyusup ke alam mereka. Mereka pasti akan menangkap kita!”
Aku dan Katrine pun berlari hingga kami sampai di titik dimana kami masuk.
Saat akan sampai rupanya Juna tertinggal dan saat itu pria tua itu kembali menarik Juna.
Dengan cepat Katrine menyusul untuk mengambil Juna kembali.
“Jangan! Jangan melewati batas itu Elin. Tunggu sampai aku kembali!”
“Tapi Katrine!”
“Jangan membantah!” bentak Katrine kepadaku.
Aku pun hanya bisa berdiri dan diam di tempat itu sembari menunggu Katrine kembali.
Hingga beberapa saat Katrine kembali dengan membawa Juna, namun anehnya ia tidak lagi berlari namu berjalan santai menuju ke arahku.
“Apa mereka berhenti mengejar kita?” tanyaku.
Katrine hanya menganggukan kepalanya.
Katrine membuka portal untuk aku dan juga Juna.
“Cepat masuk!” pinta Katrine.
Tanpa pikir panjang aku dan Juna masuk ke dalam portal itu.
“Katrine kamu kok diam?” tanyaku.
“Katrine ayo cepat bukannya bentar lagi portal ini bakalan menutup?”
Dari belakang Katrine terlihat arwah pria tua itu berjalan menghampiri Katrine lalu membelenggunya.
Seketika itu aku mengerti kenapa Katrine dan Juna tidak di kejar lagi.
“Elin aku bersyukur karena bisa bertemu denganmu walau kita bertemu di alam ini dan adikku Juna, kamu harus hidup dengan layak, jangan menyerah dengan keadaan berjuanglah dengan keras demi masa depanmu,” ucap Katrine.
Seketika itu aku menangis histeris karena aku tahu pasti Katrine menukar jiwa Juna dengan Jiwanya.
“Gak! Katrine kamu gak boleh kaya gini!” teriakku sembari menangis.
Perlahan portal tertutup, bias cahaya putih itu pun semakin terang.
Sosok Katrine perlahan tidak terlihat.
“Gak Katrine aku gak mau! Kembali Katrine!”
Air mata mengalir deras di mataku, dadaku sesak seakan tidak Terima dengan apa yang di lakukan Katrine.
“Elin, jangan pernah menaruh dendam di hatimu agar kamu bisa tidur dengan tenang di alammu nanti. Kelak kita semua akan di pertemukan di satu tempat yang sama.”
“Katrine!” teriakku histeris.
Portal pun tertutup, aku semakin histeris karena saat itu aku melihat Katrine di tarik paksa oleh banyak makhluk. Katrine pun menghilang dan tenggelam ke dalam alam yang gelap itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
dewi andarini
sedih
2023-06-14
0
jenny
ya ampun, Elin tetap gak bisa hidup kembali ya thor?
2023-05-04
0