Juna duduk merenung sembari mengusap pundaknya yang baru saja aku sentuh itu.
“Apa aku salah, jelas-jelas aku merasakannya,” ucap Juna.
Tidak lama Birma masuk ke dalam kamar Juna, ia duduk di samping Juna.
“Kita semua sangat kehilangan Elin, aku bisa memahami perasaanmu saat ini,” ucap Birma sambil memegang bahu Juna.
“Masalahnya bukan itu, aku berani bersumpah tadi ada yang pegang pundak aku, dan refleks aku memanggil nama Elin,” tutur Juna.
Aku hanya bisa mendengar percakapan mereka namun tidak bisa mendekati mereka. Aku berdiri di samping kasur Juna sambil memandang punggungnya.
‘Andai saja kalian bisa melihatku, pasti aku aka merasa senang,' batinku.
“Tapi katanya nih kalau orang meninggal itu arwahnya akan berada di rumah selama 40 hari,” ucap Birma.
“Entahlah, terlepas dari itu aku merasa Elin masih berada di rumah ini,” ucap Juna.
“Oh iya, kapan balik ke sana?” tanya Juna.
“Dua hari lagi,” sahut Birma.
Juna kembali menundukkan kepalanya, “Bakalan sendirian dong,” ucapnya.
“Yah ... Mau gimana lagi, aku harus menyelesaikan studi ku,” sahutnya.
Tidak lama om Mirwan datang dan memanggil Birma, Birma pun keluar kamar dan meninggalkan Juna.
Aku mencoba duduk di sampingnya, aku melihat kesedihan terpancar dari wajahnya.
“Jun, kamu jangan terus sedih kaya gini itu membuatku semakin sakit,” ucapku.
Aku kembali melihat kesedihan itu, bahkan Juna menitikkan air matanya.
“Ini semua gara-gara aku! Kalau saja waktu itu Elin tidak ke rumah itu pasti dia sekarang masih berada di sini,” ucapnya lirih.
“Gak ... Gak Jun, kamu gak boleh menyalahkan dirimu sendiri,” ucapku sembari menagis.
Kami berdua menagis di dalam kamar itu, bahkan aku sudah tak kuasa menahan seluruh kesedihan ini.
Hingga malam semakin larut, aku melihat Juna mulai membaringkan tubuhnya di kasur, aku pun ikut membaringkan tubuhku di sebelahnya.
‘Mulai sekarang aku akan mengikuti kemana pun Juna pergi,' batinku.
Di dalam kamar dengan lampu tidur itu aku melihat Juna sudah terlelap dengan mata sembabnya.
Bekar air mata itu pun masih tersisa di ujung matanya, walaupun lampu tidur itu tidak terlalu terang aku dengan jelas bisa melihatnya.
“Begini kah rasanya jadi hantu? Tidak merasakan mengantuk, lapar atau apa pun,” ucapku.
Waktu terus berjalan, aku mulai mendengar suara berisik dari luar kamar Juna namun aku menghiraukannya.
Namun semakin lama suara-suara itu semakin menjadi, suara tawa seseorang, suara anak kecil di luar jendela dan sebagainya.
Aku pun akhirnya penasaran dan keluar, saat aku keluar aku banyak melihat makhluk-makhluk sepertiku. Mereka lalu lalang di sekitar rumah bahkan di jalan.
Aku seperti mendapatkan dunia baru, dunia yang tidak pernah aku lihat.
Mulai saat itu aku merasa aku tidak sendirian, walau pun mereka menyeramkan namun anehnya aku tidak takut.
Mungkin karena aku sama, aku berjalan ke luar rumah.
Ada banyak orang-orang dengan berbagai wujud, ada yang hanya duduk diam di atas pohon, berdiri di pinggir jalan dan berlari-lari di tengah jalan dan sebagainya.
Aku pun duduk sembari memperhatikan mereka dengan waktu yang cukup lama.
Sekarang aku mengerti dengan perkataan beberapa orang tentang dunia alam lain.
Jika di dunia nyata malam hari, maka di alam lain ini seperti halnya siang hari sangat ramai.
Aku pun kembali ke kamar Juna dan berbaring di sampingnya.
Tiba-tiba saja Juna berbalik ke arahku dan membuka sedikit matanya.
“Elin,” ucapnya sambil tersenyum.
“Udah tidur Jun,” ucapku mencoba menyahut ucapannya.
Sepertinya Juna sedang mengigau dan masih dalam fase setengah sadar, aku tidak tahu apakah Juna melihatku.
Hingga tiba-tiba Juna langsung membuka matanya lebar-lebar dan beranjak dari kasurnya lalu menyalakan lampu.
“Elin ... Aku tahu kamu ada di sini,” ucapnya sembari melihat ke sekeliling kamarnya.
Hal itu membuatku kembali menitikkan air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Aiko_azZahwa
sakit yg tdak ada obatnya...
kehilanga. org yg kita syang,,,
2023-06-12
0
Anita
sangat menyentuh hati
2023-04-07
0
jenny
tetap pantau niihh
lanjut lagi
2023-04-06
1