Pesanku untuk Juna

Walaupun aku berada di area belakang rumah, telingaku masih bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang mereka ucapkan.

“Maaf pak Adrian, apa rumah yang seperti ini ada lagi? Saya tiba-tiba dapat penglihatan sebuah rumah tapi bukan rumah ini,” tanya pria paruh baya itu.

“Ada Mbah, itu rumah yang saya tempati sekarang, desain dan umur rumah itu juga hampir sama dengan rumah ini,” tutur papa.

“Apa itu peninggalan orang tua anda juga?” 

“Iya Mbah, alasan dari papa saya dulu kenapa desainnya sama itu karena ....”

“Karena apa?” ucap pria itu penasaran.

“Karena rumah ini milik istri kedua dan rumah yang saya tempati adalah milik istri pertama papa saya. Kenapa desainnya sama, itu karena papa ingin berlaku adil pada kedua istrinya. Tapi sayangnya istri kedua papa yang menempati rumah ini orangnya cukup serakah dan saya adalah anak dari istri kedua papa namanya Jade,” tutur papa.

“Apa istri pertama dan istri kedua akur?” 

“Dulu saya masih kecil tidak begitu mengeri tapi, saya dan mama saya sering sekali berkumpul dengan istri pertama papa sepertinya mereka baik-baik saja.”

“Lalu saudara perempuan anda?”

“Anak dari istri pertama, itu sebabnya mama membunuhnya tanpa rasa kasihan sedikitpun.”

“Baiklah, sepertinya saya harus memeriksa rumah yang anda tempati juga tapi tidak hari ini saya harus memulihkan energi saya dulu,” ucapnya.

“Baiklah Mbah, kalau begitu mari saya antar pulang.”

“Kalian duluan saja sebentar lagi saya akan menyusul,” pintanya.

Aku merasakan pria yang di panggil mbah itu berjalan menuju area belakang rumah, langkah kakinya begitu terasa.

Benar saja, pria itu berdiri di depan pintu sambil melihat sekeliling, tiba-tiba pria itu menatapku yang tengah duduk di pinggir kolam.

Ia mulai mendekatiku dan berdiri di sampingku.

“Mau apa ke sini?” tanyaku dengan sinis.

“Badanmu basah, apa kamu tenggelam di kolam ini?” tanyanya kepadaku.

“Ya dia mendorongku dan memegangi kakiku hingga aku tenggelam,” sahutku.

“Dia siapa?” 

“Makhluk mengerikan di dekat tangga. Dia mengerikan dan membuatku takut,” sahutku.

“Kenapa kamu bisa berada di rumah ini?”

“Untuk mencari saudara kembarku yang di sekap olehnya di gudang, saat ketemu malah aku yang mati,” ucapku terkekeh tertawa.

“Apa hubunganmu dengan pemilik rumah ini?” tanya pria itu.

“Pria yang bersamamu itu papaku, dan aku curiga jika papa yang memberikan rumah terkutuk ini kepada mama,” sahutku.

“Bahkan bukan cuma aku, kakakku pun ada di sini,” ucapku sambil menunjuk Katrine yang sedang duduk di kursi.

Pria itu menghela nafas cukup lama dan menghembuskannya kembali. Sepertinya ia tidak menyangka jika kasus yang ia tangani cukup runyam dan rancu.

“Sudahlah. Sebaiknya kamu tidak usah ikuti keinginan papaku itu,” ucapku.

Pria itu berbalik dan pergi meninggalkan kolam renang itu, aku pun hanya diam dan duduk di kolam itu.

Cukup lama aku di sana, namun tiba-tiba aku merasa rindu dengan saudara kembarku itu.

‘Gimana kabar Juna ya?’ batinku.

Aku pun beranjak dan mengajak Katrine ikut bersamaku mengunjungi rumah om Mirwan.

Aku sedikit menyukai kehidupan keduaku sebagai hantu gentayangan karena aku bisa kemana pun dalam waktu sekejap.

Saat berada di rumah itu aku melihat Birma dan Juna tengah duduk di ruang tamu dan ada seseorang yang tidak aku kenal.

Seorang wanita seumuran Juna, berambut sebahu dengan pakaian tidak terlalu feminim duduk di samping Juna.

Terlihat wanita itu seperti tidak mau diam dan beberapa kali melihat ke berbagai arah, hingga mataku dan matanya bertemu namun wanita itu bersikap seakan tidak melihatku.

“Kamu kenapa Jes?” tanya Juna.

“Gak ... Gak apa-apa kok,” sahutnya.

Aku penasaran apa yang mereka bertiga lakukan, aku pun mendekat  dan berdiri di belakang Juna, rupanya mereka sedang bermain game.

Aku melihat ke arah wanita itu, aku mendekatinya aku dapat merasakan kalau dia bisa melihatku, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya berharap dia benar-benar bisa melihatku.

Namun, dia seperti tidak menunjukkan reaksi apa pun.

“Kami bisa melihatku kan?” ucapku.

“Jika kamu bisa melihat dan mendengarku, tolong sampaikan pesanku kepada Juna.”

“Jaga kesehatan, tidurlah yang cukup,  jangan begadang terus, dan hiduplah bahagia jagan larut dalam kesedihan karena aku.”

Aku pun menjauh dari mereka, aku memilih untuk berdiri memperhatikan mereka di dekat tangga.

“Jun kamu punya pacar ya?” tanya wanita itu.

“Pacar? Mana ada jangan mengada-ada deh,” ucap Juna.

“Jangan gitu dong Jun, kan kasihan dia gentayangan gara-gara mikirin kamu,” ucap wanita itu.

“Ngomong apaan sih Jes jangankan pacaran dekat sama cewek aja gak ada. Lagian nih ya selain sodara kembar aku si Elin gak ada lagi cewek yang dekat sama aku,” tutur Juna.

“Lalu mana dia? Kok aku gak pernah liat sih? Apa kalian beda rumah?” tanyanya.

“Dia udah meninggal.”

Mendengar hal itu wanita yang ada di sebelah Juna itu langsung berdiri dan berbalik menatap ke arahku.

Aku saat itu hanya bisa tersenyum lalu pergi dari tempat itu bersama Katrine.

Terpopuler

Comments

Desy Rs Azuz

Desy Rs Azuz

Bisa ya anaknya bilang sayangnya Istri Kedua serakah dan sy anaknya🤭

2023-04-13

0

jenny

jenny

sama seperti aku mbah... tiap part nya juga ngerasain rancu. ha ha ha

ayooo thor, ditunggu kelanjutannya.
tetap semangat.

2023-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!