Memanggilku dengan boneka Jelangkung

Hari-hari aku lewati dengan ketidakpastian, aku bahkan bingung ingin bagaimana dan kemana.

Aku merasa lelah dengan kakiku yang mengambang, ingin rasanya aku bisa berjalan bebas menikmati hidupku di alam lain.

Kehadiranku seakan di tolak oleh bumi, dia tidak mengizinkanku menginjakkan kakiku sedikit saja ke tanah atau bahkan ke rerumputan hijau.

Aku bukan lagi sosok padat yang dapat terlihat oleh siapa pun, aku hanya lah sekumpulan energi yang cipta dan di beri jiwa.

Terkadang aku rindu dengan kehidupanku, berbelanja dan berburu di mall, makan makanan yang aku suka, menonton film dan mendengarkan musik.

Telingaku senyap, yang aku pandang bukan bata hari tapi rasanya hanya kegelapan yang di beri sedikit lampu.

Elin yang ceria dan bahagia kini sudah tidak ada, yang ada hanya Elin dengan wujud mengerikan tidak berjalan namun mengambang.

Aku bahkan tidak bisa tertawa lagi seperti yang lainnya, wajahku datar tanpa ekspresi. Kulitku yang dulu putih dan bersih sekarang malah menjadi pucat dengan urat-urat yang menghitam.

Entah seberapa kuat aku mencoba mengeringkannya, tubuhku tetap basah aku bahkan selalu merasa kedinginan.

Terkadang rasa sakit di dadaku itu muncul dan membuatku menangis meraung dalam heningnya tempat itu.

Jika ada yang bisa mendengar suara tangisanku itu aku sangat bersyukur dan senang walaupun nantinya orang-orang malah akan merasa takut. Setidaknya saat itu ada yang mendengar bagaimana pilu dan lirihnya hatiku ini.

Aku yang dulunya sangat teramat takut hantu, sekarang aku malah jadi hantu bahkan lebih mengerikan dari kuntilanak.

***

Aku berdiri dan memandang dari kejauhan, ada banyak orang-orang berdatangan ke rumah. Aku melihat Juna dan Birma tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu.

Sebuah spanduk besar bertuliskan ‘acara 100 hari mendiang Elin putri Adrian’ terpasang di halaman rumah yang luas itu.

Saat acara itu dimulai aku mendekati mama dan juga Juna, aku melihat masih ada kesedihan di wajah mama dan juga Juna.

Bahkan mama sempat meneteskan air matanya itu, aku juga melihat wanita yang aku ikuti waktu itu.

“Jun kamu harus mengikhlaskan Elin,” ucap Birma.

“Gak. Sampai kapan pun aku gak terima dan gak rela.”

Tiba-tiba Katrine muncul di sampingku. “Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Katrine.

“Entah aku juga gak tahu. Aku seperti terpanggil untuk datang,” sahutku.

Katrine memandang ke arah mama yang tengah tersedu.

“Mama masih cantik seperti dulu, gak ada perubahan,” ucap Katrine.

Wanita berambut sebahu itu tiba-tiba melirik ke arahku dan juga Katrine, dia terlihat terkejut entah apa yang dia pikirkan.

“Jun ....”

“Apaan?” tanya Juna.

“Saudara kamu yang meninggal ada dua ya?” tanyanya kepada Juna.

“Cuma satu, kenapa emangnya?” tanya Juna.

“Ah masa sih? Aku lihat ada dua satunya seumuranku satunya lagi kaya berumur 25 atau 27,” ucapnya spontan.

“Lihat? Maksudnya?”

“Oh ... Gak Jun gak apa-apa, lupain aja,” sahut wanita itu.

“Jes boleh ikut aku sebentar?” tanya Birma.

“Boleh.”

Birma dan wanita itu pun beranjak dari tempat duduk dan pergi ke tempat yang sedikit sepi, karena penasaran aku pun mengikuti mereka.

“Jes aku mau tanya ke kamu, kamu bisa lihat hantu?” tanya Birma.

“Kok bisa tahu?”

“Sudah aku duga. Jadi kamu melihat arwah Elin?” tanya Birma lagi.

“Iya.”

“Dimana?” tanya Birma.

“Dia ada di belakang kamu,” ucap wanita itu.

Aku hanya bisa tersenyum kepada wanita itu karena telah memberitahukan keberadaanku kepada Birma.

“Apa kabar kak Birma? Aku sudah mendengar ceritamu saat itu. Terima kasih karena kak Birma sudah berkunjung dan dengan tulus mendoakanku waktu itu,” ucapku.

Rupanya wanita itu mengulang lagi apa yang aku ucapkan dan memberitahukannya kepada Birma. Seketika Birma menitikkan air matanya, ia terduduk di tanah.

“Elin maafkan aku karena aku saat itu terlalu tergesa-gesa pergi meninggalkan kalian,” ucap Birma.

“Semua sudah takdir, kak Birma tidak boleh menyalahkan diri sendiri,” ucapku.

Wanita itu kembali mengulangi ucapanku, Birma berusaha menahan tangisnya, sepertinya dia tahu jika aku merasa tersiksa jika mereka menagisiku.

“Hai Elin nama aku Jesy, aku teman main gamenya juga,” ucapnya padaku.

Aku hanya bisa membalas senyuman ke arahnya.

“Kalian ngomong sama siapa tadi? Aku dengar kalian nyebut nama Elin,” ucap Juna yang tiba-tiba datang tanpa kami sadari.

“Jes kamu jujur sama aku kamu ngomong sama siapa? Kenapa kamu nyebut nama Elin? Kamu bisa lihat hatu kan? Dimana Elin sekarang?” ucap Juna.

“Jawab Jes jangan diam aja!” ucap Juna sembari memegang kuat bahu Jesy.

“Birma kamu pasti tahu kan? Iya kan?” ucap Juna.

“Jun tolong kamu tenang dulu Jun!”

“Kenapa kalian menyembunyikan ini? Kalian mau menjauhkan aku dengan Elin hah?” bentak Juna.

“Jun kami tidak bermaksud-“

“Apa?” potong Juna.

“Aku kecewa sama kalian, kemarin Danar sekarang kalian,” ucap Juna dengan wajah yang memerah.

Rasanya sangat sakit ketika orang yang aku sayangi tidak merelakan kepergianku.

Juna pergi meninggalkan Jesy dan juga Birma, terlihat Juna masuk ke dalam rumah dan tidak keluar sama sekali sampai acara selesai.

Waktu terus berjalan, sekarang sudah lewat tengah malam. Aku saat itu masih berada di rumah itu tepatnya di kamar Juna.

Saat itu Juna terus melihat jam, hingga waktu menunjukkan pukul 02.00 tepat.

Juna menyalakan sebuah lilin, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya.

Saat itu aku bingung apa yang akan dilakukan Juna, namun setelah benda itu di keluarkan dari dalam lemari aku langsung terkejut.

“Jun kamu mau ngapain Jun? Jun? Juna!” teriakku.

Juna menaruh lilin itu di lantai lalu mematikan lampu kamarnya.

Juna duduk di lantai sembari menegangi sebuah boneka mirip seperti jelangkung.

Juna menghirup nafas laku membuangnya perlahan.

“Jelangkung jelangkung jelangkung aku di sini memanggilmu datanglah,” ucap Juna.

“Elin putri Adrian! Aku memanggilmu datanglah!”

Seketika api dari lilin itu bergoyang seakan di tiup angin lalu tiba-tiba mati. Kamar Juna kini jadi sangat gelap.

Aku sendiri tidak merasakan hal apa pun, aku berpikir jika ritual Juna itu tidak berhasil dan aku merasa lega.

Namun, beberapa menit kemudian aku merasakan energi yang sangat kuat datang mendekat dengan sangat cepat.

Brakk!

Jendela kamar Juna tiba-tiba terbuka, angin kencang masuk ke dalam kamar Juna dan dengan cepat Juna menyalakan lampu lalu angin itu berhenti.

“Siapa? Siapa yang datang?” ucapku karena aura itu sangat kuat.

Secara mengejutkan boneka jelangkung itu tiba-tiba bergerak dan berdiri dengan sendirinya.

Aku dengan jelas melihat aura negatif yang sangat kuat masuk ke dalam boneka itu.

Perlahan Juna mendekati boneka jelangkung itu.

“Elin ... Kamu di situ?” ucap Juna.

Wajah Juna semringah, namun tidak denganku karena yang ada di dalam boneka itu bukanlah aku.

Terpopuler

Comments

Aiko_azZahwa

Aiko_azZahwa

manusia yg mati tdk dpat berkomunikasi dg manusia,,

jika ad,it hanya ilusi dri jin.
krn jin bisa menyerupai ap sja

2023-06-12

0

Desy Rs Azuz

Desy Rs Azuz

Kenapa ga kasih tahu juna ya, kalau ga ikhlas ntar Elin sedih

2023-04-18

0

jenny

jenny

sudah 100hari pun. . 😔

2023-04-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!