Kembali Ke rumah Tua

Aku tertawa terbahak melihat Sinta sampai pingsan karena ketakutan, menurutku ini menjadi kesenangan tersendiri bagiku.

Aku menjadi sangat menyukai kegiatan ini, aku kembali menuju tempat dimana keluargaku semua berkumpul yaitu rumah om Mirwan.

Saat itu aku kaget karena ada Danar dan Malvin di sana. Danar juga kaget melihatku yang tiba-tiba muncul di belakang Juna.

Danar melihat ke arahku untuk beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya.

Aku pun mendekatinya dan mencoba berkomunikasi dengannya.

“Kak Danar,” ucapku pelan.

“Kak Danar, apa kakak bisa dengar aku?” 

Danar seakan cuek bahkan ia tidak memperlihatkan reaksi apa pun. 

“Vin! Malvin! Kamu bisa dengar aku gak?” teriakku tepat di kuping Malvin.

Seketika Malvin tiba-tiba bergidik sambil mengusap-usap lengannya.

“Kamu kenapa Vin?” tanya Juna.

“Aku kok tiba-tiba merinding ya,” ucap Malvin.

“Merinding? Memangnya di sini ada hantu? Ada-ada aja kamu Vin,” sahut Juna.

“Ya ... Aku gak tahu. Tiba-tiba merinding, apa jangan-jangan ada arwah Elin di sini,” ucap Malvin spontan.

Hal itu membuat aku semakin menunjukkan eksistensiku, aku menggerakkan beberapa barang kecil yang bisa aku gerakkan dan membuat Juna terkejut.

“Kak Danar, itu apaan?” ucap Juna.

“Udah itu cuma angin,” sahutnya.

“Angin dari mana, jelas-jelas semua pintu tertutup.”

“Apa itu Elin? Elin apa itu kamu?” ucap Juna.

“Kak itu Elin kan? Iya kan?” tanya Juna pada Danar.

“Vin Elin ada di sini Vin,” ucap Juna lagi dengan wajah semringah.

“Aku tahu kamu di sini Lin, kalau memang benar itu kamu, tolong kasih tanda ke aku.”

Dengan cepat aku menggoyangkan pigura lukisan yang terpasang di dinding.

“Elin! Aku kangen banget sama kamu Lin aku tahu kamu pasti masih berada di rumah ini,” ucap Juna dengan mata berkaca-kaca.

“Jun, sudah jangan begini. Elin sudah gak ada,” ucap Danar.

Mendengar ucapan Danar itu aku menjadi kecewa, bukannya ia berusaha membantuku agar bisa berkomunikasi dengan Juna ia malah ingin memutar pemikiran Juna tentangku.

Aku merasa marah dan kecewa, aku menatap tajam ke arah Danar. Energi negatifku mulai keluar, aku mulai bisa memperlihatkan wujudku.

Samar-samar wujudku mulai terlihat, tanpa basa basi aku menyerang Danar, aku mendorongnya cukup kuat.

“Kak Danar!” pekik Juna yang melihat Danar terjatuh.

Aku melayang cepat mendekati Danar hingga Juna dapat melihat wujudku.

“E-Elin.”

“Elin itu kamu,” ucap Juna.

Aku menitikkan air mataku namun aku tidak berani memperlihatkan wajahku ke arah Juna, aku yakin Juna akan takut jika melihatku dengan wujud mengerikanku ini.

“Elin ... Kenapa semua badan kamu basah? Apa yang terjadi sama kamu Lin?” ucap Juna sambil perlahan mendekatiku.

Aku menjauh perlahan darinya dan mengurungkan niatku untuk mencelakakan Danar.

Aku mulai menjauh dan menyamarkan wujudku hingga tak terlihat.

“Lin ... Elin!” teriak Juna.

“Kak kamu sebenarnya tahu kan Elin dari tadi di sini?” tanya Juna.

“Sejak awal dia sudah di sini. Tapi kalian sudah berbeda alam Jun. Kalau kalian saling bertemu itu bakalan bikin kalian tersakiti satu sama lain,” tutur Danar.

“Vin kamu juga lihat kan Vin itu Elin Vin!”

“I-iya aku lihat.  Tapi aku gak ngerti kenapa dia jadi genyatangan kaya gini,” ucap Malvin.

“Ini belum 40 hari, biasanya arwah orang yang meninggal bakalan mengunjungi sanak saudaranya, tapi kita gak bisa lagi berhubungan dengan orang yang sudah meninggal. Alam kita sudah berbeda,” ucap Danar.

“Aku kecewa sama kamu kak Danar!” ucap Juna.

“Sekarang kak Danar bisa pergi, aku mau istirahat.”

Juna pergi meninggalkan Danar dan Malvin terlihat mereka berdua beranjak dan keluar dari rumah itu.

Aku pun juga pergi meninggalkan Juna, aku tidak ingin Juna semakin sedih dengan kemunculanku.

Aku bertekat untuk melihatnya dari kejauhan dan tidak berani mendekatinya lagi.

*** 

Satu bulan berlalu, Juna mulai kembali ceria seperti biasanya. Aku yang melihat hal itu pun menjadi senang.

Mama dan om Mirwan pun menjalani aktifitas mereka seperti biasa. Sesekali aku kembali ke tempat dimana aku berasal.

Aku duduk menjuntaikan kakiku di samping kolam renang yang kini airnya sudah kotor dan berlumut itu. Aku juga tidak merasa terganggu dengan tubuh basahku.

Hingga aku mendengar suara seorang perempuan memanggil namaku, suaranya samar namun terdengar olehku.

Aku melihat seorang arwah anak perempuan tiba-tiba duduk di sampingku. Dia menatapku dengan senyum.

Wajahnya pucat namun tidak mengerikan, tubuhnya bersinar ia memakai dress putih tidak sepertiku wajahku pucat dan tubuhku membiru serta kuku yang menghitam.

“Kamu siapa?”

Dia tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan sesekali tertawa riang khas anak-anak.

Saat anak perempuan itu muncul, aku melihat arwah Jade yang mengerikan itu dan arwah seorang pria menatapnya dengan tatapan penuh amarah.

Namun anehnya mereka tidak menyerang anak perempuan itu.

“Mereka marah sama kamu,” ucapku.

Lagi-lagi anak itu hanya tertawa, entah apa yang ia tertawakan.

Terpopuler

Comments

Aiko_azZahwa

Aiko_azZahwa

masih menjadi misteru,
gmn kronolgi kematian Elin.....

2023-06-12

0

jenny

jenny

sampe di part ini pun, belum bisa ikhlas klo Elin sudah meninggal.

2023-04-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!