Bertemu Arwah Bunuh Diri

“Kenapa rasanya tubuhku panas dan ada tekanan kuat seperti lagi mengangkat beban yang berat?” tanyaku kepada Katrine.

“Sepertinya aku harus kembali mengantarmu ke tempatmu Elin.”

Katrine memegang tanganku dan dengan sekejap aku sudah berada di rumah itu lagi sendirian.

Langit sudah gelap, saat akan menjelang magrib aku melihat ada banyak arwah berkeliaran jumlah mereka banyak.

‘Yah setidaknya mereka banyak jadi aku gak kesepian,' batinku.

Aku pun mencoba berkeliling di sekitar komplek perumahan itu, di setiap rumah aku bisa melihat berbagai macam makhluk yang mungkin itu adalah penghuni rumah tersebut.

‘Oh ... Jadi benar apa yang orang katakan, kalau setiap rumah itu ada penunggunya,' batinku.

Aku terus bergerak menyusuri setiap tempat hingga aku menemukan sebuah rumah kecil dengan warung di depannya. Rumah itu tampak tidak berpenghuni terlihat dari banyaknya semak belukar di sekitar rumah tersebut.

Di belakang rumah itu terdapat sebuah sumur, dan di atas sumur itu ada arwah wanita duduk di atasnya.

Tubuhnya basah dan pucat sama sepertiku, dia terus menunduk dan sesekali aku mendengar suara tangisan.

Perlahan aku mencoba mendekatinya, aku sedikit ragu apa arwah lain dapat bicara juga sepertiku atau dapat di ajak bicara.

“Kamu kenapa?” ucapku sedikit pelan dan ragu.

Arwah wanita dengan rambut sebahu dan ikal itu menegakkan kepalanya, terlihat wajahnya sangat pucat dengan bibir yang biru.

Aku merasakan asa perasaan sedih, kecewa, sakit hati dan putus asa.

Arwah wanita itu hanya menatapku dengan ekspresi datarnya, aku pun mencoba bertanya sekali lagi.

“Kamu kenapa menagis?” tanyaku lagi.

Arwah itu menggeleng pelan, aku berpikir jika arwah ini bisa di ajak bicara.

Ini menurutku sedikit konyol tapi inilah kenyataannya jika sesama arwah bisa bicara satu sama lain.

“Apa kamu meninggal di sumur ini?” tanyaku.

Dia pung mengangguk pelan, aku melihat tubuhnya menggigil.

“Apa kamu kedinginan?” tanyaku lagi.

Dia kembali menganggukkan kepalanya dengan pelan.

“Kenapa bisa? Apa tubuhmu masih berada di sana?” tanyaku.

“Tidak, mereka sudah mengangkatnya,” sahutnya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar.

“Kenapa kamu bisa di sana?” 

“Aku bunuh diri.”

Seketika aku terdiam, aku tidak menyangka  arwah yang aku temui adalah hantu penasaran karena bunuh diri.

“Kenapa?”

Tiba-tiba dia menagis, suaranya terdengar sangat pilu aku bahkan bisa merasakan perih yang ada di hatinya.

“Dia mencampakkanku sekian lama, padahal aku sudah memberikan semuanya termasuk tubuhku hingga aku mengandung anaknya,” ucapnya begitu lirih.

“Aku tidak bisa membantu apa-apa karena aku juga sudah mati. Tapi kamu bisa bercerita.”

“Waktu itu di tahun 2008, aku bekerja di sebuah warung kopi. Ada seorang supir truk mengunjungi warung kopi tempat aku bekerja.”

“Penampilanya bersih, dia wangi walaupun aku yakin dia sudah beristri. Dia memintaku untuk menemaninya bicara saat itu. Pria itu sangat enak untuk di ajak bicara bahkan dia memberiku uang lebih,” tuturnya.

“Lalu?”

“Dia sering datang dan mencariku, hingga dia bilang menyukaiku. Aku sangat senang saat itu dia juga sering memberiku uang dia juga begitu perhatian, dia sering mengantar jemputku waktu itu. Kami berhubungan cukup lama hingga suatu hari dia tidak pernah datang bahkan aku mencoba menghubunginya tapi nomornya sudah tidak aktif lagi,” ucapnya sambil menangis.

“Dan asal kamu tahu aku mengandung anaknya saat itu, aku mencoba mencari informasi dari teman-teman satu profesinya namun tidak menemukannya.”

“Apa orang itu tinggal di kota ini juga?” tanyaku.

Wanita itu menggeleng pelan, “ dia ada di ibu kota, dan saat itu aku mendapat informasi jika dia memiliki istri dan dua orang anak.”

“Saat itu orang-orang di sekitar mengucilkanku karena hamil tanpa ada ikatan pernikahan. Semakin lama perutku semakin membesar dan orang-orang semakin menghina dan mengataiku. Aku sangat frustrasi, aku bingung ingin mengadu ke siapa hingga akhirnya aku memilih mengakhiri hidupku di sumur ini,” tuturnya.

Aku bingung harus berkata apa karena aku sendiri belum sempat menjalani fase pernikahan. Wanita itu terus menangis semakin lama tangisannya itu semakin nyaring.

Tiba-tiba tangisannya berhenti dan menegakkan kepalanya.

“Tapi saat itu aku menghantuinya, aku mendatanginya dan mengganggu hidupnya aku ingin hidupnya tidak tenang. Hingga aku tidak sengaja bertemu dengan anak pertamanya,” ucapnya tiba-tiba.

“Anak pertamananya? Apa perempuan?” tanyaku yang asal menebak.

“Ya, baru beberapa minggu yang lalu. Aku mengikutinya hingga anak itu menyadari keberadaanku,” sahutnya.

“Tapi dia tidak takut denganku, malah dia mencari tahu kenapa aku mengikutinya. Hingga dia bertanya kepada teman-temannya dan akhirnya menemukan jawabannya,” ucapnya sedikit tersenyum.

Aku menyimpulkan jika anak perempuan yang wanita itu maksud adalah seseorang yang memiliki kemampuan seperti Danar dan Jesy karena mereka juga tidak takut jika bertemu dengan hantu.

“Lalu apa bagaimana reaksi anak itu?” tanyaku penasaran.

“Aku mendengar pembicaraanya bersama teman-temannya yang juga bisa melihat arwah. Dia bilang sejak lama dia mencurigai ayahnya tersebut, dan aku bisa merasakan jika anak itu ingin aku menghantui ayahnya itu,” sahutnya.

“Tapi entah kenapa aku merasa puas saat anak itu mengetahui kebenarannya dan akhirnya aku meninggalkannya karena anak itu tulus dan juga tidak bersalah,” sambungnya.

Aku merasa sedikit beruntung, walau pun aku mati tapi masih ada yang peduli denganku. Aku yakin ada banyak arwah-arwah yang menyimpan dendam karena tidak mendapatkan keadilan serta kebenaran yang di sembunyikan oleh orang-orang demi melindungi diri mereka sendiri agar tidak mendapatkan  hukuman.

Aku merasa kasihan dengan wanita ini, dia pasti menahannya sendirian waktu itu menahan rasa sedih, sakit hati dan penderitaan semasa hidupnya.

Belum lagi dia harus diam ketika di cap orang-orang sebagai wanita murahan dan bahkan mungkin orang-orang membicarakan keburukannya hingga sekarang padahal dia sudah meninggal.

Aku sendiri merasakannya, walau pun teman-teman sekelasku tidak berbicara buruk tentangku tapi mereka selalu mengenang masa dimana aku masih hidup, berbicara seolah aku sangat baik dulu dan lain sebagainya padahal aku tidak terlalu mengenal dan akrab dengan mereka.

Itu membuatku sangat sakit karena mengenang sesuatu dariku di saat aku sudah tidak ada, dan di saat aku ada mereka bahkan tidak menegurku atau pun berbicara denganku.

Aku menganggap itu hanyalah formalitas di saat sebagian orang berkabung karena kehilanganku, mereka yang lain hanya ikut-ikutan berbicara omong kosong seakan-akan mereka berteman baik denganku.

Selama aku menjadi makhluk gentayangan, aku bisa merasakan hati mereka mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sekedar ikut-ikutan bersedih hanya untuk mencari pujian dan simpati orang-orang bahkan setelah mereka mengucapkan rasa kesedihan palsu itu mereka bisa bercanda satu sama lain saat acara pemakamanku selesai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!