Sosok Pocong

“Katrine ini tempat apa?” tanyaku.

“Alam kegelapan, alam dimana para arwah-arwah tidak bisa keluar, mereka banyak yang terkurung tanpa bisa kembali ke alam sebenarnya,” tutut Katrine.

“Kenapa mereka tidak bisa keluar?” tanyaku lagi.

“Ada berbagai sebab, tapi yang paling sering terjadi adalah para arwah itu korban tumbal, pelaku pesugihan, serta orang-orang yang dulunya mengikat perjanjian dengan jin,” tutur Katrine.

“Elin aku gak bisa lama-lama di tempat ini. Kaku tetaplah di sini. Di sini cukup aman dan jangan kemana-mana, aku akan meminta bantuan,” sambungnya.

“Baiklah kamu jangan khawatir,” sahutku.

Katrine pun menghilang, aku duduk diam sambil menunggu ada yang bisa mengeluarkanku kembali dari tempat ini.

Tempat ini cukup mencekam, aku bahkan sering mendengar suara teriakan dan juga tangisan dalam waktu yang besamaan.

Bahkan aku sempat berpikir jika arwah kakekku juga berada di tempat ini karena kakek juga mengikat janji dengan makhluk gaib.

Perlahan tempat itu cahayanya mulai meredup, aku sedikit takut namun apa boleh buat aku harus tetap diam tanpa berpindah tempat.

Semakin lama aku diam di tempat itu semakin banyak suara yang aku dengar, seakan di luar dari tempat yang terang ini ada suatu tempat penuh dengan arwah lain.

Hingga tidak jauh dari tempatku berada aku melihat sebuah bayangan berwarna putih seperti mencuri-curi pandang ke arah tempatku duduk.

Semakin lama bayangan itu semakin dekat dan terlihat jelas siapa sosok yang dari tadi memperhatikanku.

Sosok putih dengan ujung kepala yang di ikat, dia melayang mendekat lalu menjauh, begitu terus hingga beberapa kali.

“Ini pocong mau apa sih?” ucapku.

Aku pun mencoba bertanya kepadanya. “Kamu siapa?” tanyaku.

Seketika sosok pocong itu sangat dekat dan memperlihatkan wujudnya, wajahnya hitam dengan kapas yang sebagian masih menempel di wajahnya.

Kain kafan yang ia kenakan terlihat sudah lusuh dan penuh tanah, aku melihatnya bukan seperti hantu melainkan sosok yang baru bangkit dari kubur karena kain kafan yang ia kenakan penuh tanah.

Sebagian kulit wajahnya sudah tidak ada, bahkan aku bisa melihat daging yang membusuk di wajahnya.

Walaupun sama-sama hantu, aku sedikit takut dengannya tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

“Kenapa tempatmu terang?” ucapnya dengan suara yang serak dan berat.

“Aku juga gak tahu,” sahutku.

“Aku mau masuk tapi tidak bisa, bagaimana jika kamu ke sini,” pintanya.

“Gak, aku gak bisa ke sana.”

“Siapa nama kamu?” tanyaku.

“Ridwan,” sahutnya sedikit pelan.

“Apa kamu sudah lama di sini?” tanyaku.

“Cukup lama dan aku baru pertama kali melihat tempat terang seperti itu,” ucapnya kepadaku.

“Kenapa kamu bisa berada di tempat ini?” tanyaku

“Itu karena jin itu, dia membawaku ke tempat ini.”

“Jin? Apa saat hidup kamu bersekutu?”

“Tidak, tapi orang tuaku. Aku di jadikan tumbal demi kekayaan mereka,” sahutnya.

Aku pun terdiam sejenak, “Kenapa kamu bisa jadi pocong kaya gini?” 

Aku sebenarnya penasaran kenapa ketika orang meninggal saat menjadi arwah wujudnya malah berbeda-beda.

“Entahlah aku juga tidak tahu,” sahutnya.

“Apa kamu pernah mencoba mencari cara untuk bisa keluar dari tempat ini?”

“Sekuat apa pun aku berusaha mencari jalan keluar tetap saja aku tidak akan lepas dari genggaman jin tersebut,” sahutnya.

“Apakah ada yang mengawasi kamu?”

“Coba saja kamu lihat dengan seksama maka kamu akan melihat jin yang aku maksud,” sahutnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!