Meneror Sinta

Selang beberapa menit, sebuah mobil mendekat ke arah Sinta lalu mobil itu berhenti.

Kaca pintu mobil itu terbuka, rupanya itu adalah Juna. Dengan cepat Sinta masuk ke dalam mobil itu.

Aku pun mengikuti mereka dengan ikut masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju.

Di dalam mobil Sinta mulai meneruskan drama bodohnya itu, ia menangis sesenggukan seakan menjadi orang yang teraniaya.

“Kamu kenapa nangis sih Sin? Emangnya ada apa?” tanya Juna seraya tetap fokus dengan kemudinya.

“Om Adrian tiba-tiba bentak aku dan turunin aku ke jalan Jun, padahal dia sendiri yang minta aku buat temenin dia,” ucap Sinta.

“Kok bisa?”

“Katanya aku tidak boleh  mengingatkannya tentang Elin dan bahkan dia menyalahkanku karena memiliki hubungan spesial dengannya, padahal dia yang dulu menghampiri aku,” ucapnya dengan derai air mata palsunya itu.

Juna yang mendengar hal itu hanya bisa mengatur nafasnya akibat menahan Emosi.

“Ucah cukup gak usah bicara lagi. Aku antar kamu sampai rumah,” ucap Juna.

Sinta pun terdiam, aku yang mendengar itu semakin marah padanya. Bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta aku jadi ingin sekali menghantuinya sampai ia lari terbirit-birit.

Hingga mobil Juna pun sampai di depan rumah Sinta. Sinta pun turun dari mobil.

“Makasih ya Jun, kalau bukan kamu aku mungkin sudah pulang jalan kaki tadi,” ucap Sinta.

“Ya sudah aku balik dulu.”

Sikap Juna terhadap Sinta sedikit berbeda, lebih dingin dan cuek, bahkan menjemputnya pun hanya sekedar untuk menolong.

Aku yang melihat hal itu pun tersenyum simpul, namun tidak dengan Sinta.

“Susah banget sih taklukan Juna!” pekiknya sambil mengentakkan kaki.

“Kalau aku masih hidup sudah aku acak-acak aja mukamu itu!” ucapku pada Sinta.

Aku pun mulai mencoba memperkuat energi negatifku agar Sinta dapat merasakan kehadiranku, hingga tiba-tiba langkah Sinta terhenti sambil mengusap tengkuknya.

“Kok aku tiba-tiba merinding ya?,” ucapnya sambil matanya melirik ke kanan dan kiri.

Aku sangat senang karena Sinta dapat merasakan eksistensi kehadiranku, aku menjadi semakin semangat untuk mengganggunya.

Waktu terus berlalu, hingga langit berubah senja. Saat itu Sinta tengah berada di kamar mandi, hal itu membuatku menjadi sangat mudah menganggunya.

Entah kenapa saat berada di tempat itu aku seperti dapat menyerap banyak energi.

Saat Sinta tengah asyik mandi, aku mencoba menjatuhkan botol sabun yang ada di sampingnya ke lantai.

Namun sepertinya Sinta tidak kaget dan biasa saja, hingga ia selesai mandi dan bercermin di saat itu lah aku dapat menganggunya.

Aku dapat menampakkan wujudnya namun tidak terlalu sempurna. Aku berdiri di belakangnya, dengan wajahku yang pucat serta membiru aku menatap ke arah cermin hingga Sinta terkejut.

Sinta terus memperhatikan bayangan putih yang ada di cermin, dan sesekali ia menoleh ke arah belakangnya namun ia tidak melihat siapapun.

Untuk memberi efek kejutan aku mulai berjalan mendekat, sontak Sinta langsung berteriak.

“Aaaaa!” teriaknya sembari bergegas keluar.

Namun sayangnya ia tidak bisa keluar karena aku menguncinya, Sinta menggedor-gedor pintu kamar mandi itu dan berteriak minta tolong.

Rasa takut Sinta seperti santapan lezat bagiku, semakin ia takut energi negatif yang aku serap semakin banyak. Hal itu membuat wujudku semakin nyata.

Aku melayang perlahan mendekati Sinta.

“Tolong! Tolong!” teriaknya.

“Siapa kamu! Pergi! Pergi!” ucap ya sambil melempar beberapa barang yang ada di wastafelnya ke arahku.

“Aaaa!” teriaknya sekali lagi ketika aku memperlihatkan wajahku yang membiru dengan keadaan basah kuyup itu ke arah Sinta.

Akhirnya Sinta bisa membuka pintu itu, dan berlari ke luar kamar mandi lalu menutupnya.

Sinta pun bergegas berpakaian lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Ayo dong angkat!” ucapnya dengan tangan gemetar.

“Halo Mas! Mas tolong aku Mas, ada hantu di kamar aku Mas,” ucap Sinta.

Rupanya ia menghubungi papaku lagi, orang yang sungguh tidak tahu malu itu merengek meminta papaku untuk datang dan menemaninya di kamar.

“Mas aku minta maaf, aku salah! Aku mohon Mas aku takut,” ucap Sinta menagis.

Dari pecakapan Sinta aku berani bertaruh papa akan datang menghampiri Sinta.

Benar saja, setengah jam kemudian terdengar suara ketukkan pintu.

Tok! Tok.

Sibta pun berlari dan langsung membuka pintu.

“Mas! Syukur kamu datang aku takut banget Mas,” ucap Sinta memeluk papaku dengan erat.

Walaupun papaku usianya sudah berkepala empat, namun karisma serta wajahnya masih terlihat muda.

Dengan pakaian santainya papa mendatangi rumah Sinta, hal itu semakin membuatku murka.

“Mana ada sih hantu,” ucap papa.

“Ada Mas, hantu itu ada di kamar mandi Mas aku takut,” ucap Sinta merengek dengan manjanya.

“Mana? Gak ada siapa-siapa di sini Sinta,” ucap papa sembari membuka pintu kamar mandi.

“Aku gak mau tahu, Mas harus temani aku sampai besok pagi!” ucap Sinta.

Terlihat papa sedikit mendengus, “ya sudah, untuk malam ini aja.”

Aku terus memperhatikan mereka dari pojok ruangan, sesekali Sinta seperti tertarik melihat ke arah pojok pintu tempat aku berdiri.

“Kenapa sih lihat ke situ terus?” 

“Gak Mas, gak apa-apa. Aku cuma merasa seperti ada yang memperhatikan kita,” sahut Sinta.

“Siapa? Di sini cuma ada kita berdua.”

“Ya udah deh lupain.” 

Sinta mulai mendekatkan dirinya ke arah papa.

Aku melihat papa masih sibuk dengan ponselnya, namun konsentrasinya buyar ketika Sinta mulai meraba bahunya dengan lembut.

“Mas, gak gerah?” 

“Gak lah kan AC nya dingin.”

“Tapi Sinta gerah Mas,” ucapnya dengan sedikit membuka kancing piamanya itu.

Sinta mulai memeluk pria yang aku segani dulu.

Aku melihat papa mulai menaruh ponselnya di meja, hingga adegan tak pantas itu terlihat olehku.

Aku benar-benar marah, aku pun langsung menuju meja rias Sinta dan menjatuhkan semua barang itu ke lantai hingga membuat mereka yang sedang beradegan tak senonoh itu terkejut.

Sinta bergegas membebarkan pakaiannya, begitu pula dengan papaku yang menutup resletingnya.

“Tuh kan mas aku bilang apa. Ada hantu di kamarku,” ucap Sinta ketakutan.

“Kalian berdua tidak akan aku maafkan!”

Brakk!

Aku membuka lalu membanting pintu itu hingga membuat mereka berdua mulai ketakutan.

Aku mulai menampakkan diriku. Walaupun masih samar-samar rupanya aku bisa merasakan jika papa dapat mengenaliku.

Ekspresi terkejutnya itu begitu terlihat, bahkan papa tak berkedip melihat putrinya yang baru beberapa hari meninggal itu sekarang menjadi arwah yang gentayangan.

Papa pun berdiri dan bergegas keluar dari rumah Sinta lalu masuk ke dalam mobil. Ia meninggalkan Sinta sendirian tanpa bicara apa pun.

Sinta berteriak histeris hingga terdengar oleh beberapa tetangga. Para tetangga pun bergegas menghampiri Sinta, dan di saat itu Sinta langsung tidak sadarkan diri lagi.

Terpopuler

Comments

Aiko_azZahwa

Aiko_azZahwa

Dasar manusia lucknut,,,,,
bener2 tu sinta buka manusia,sifatny melebihi iblis.😠

2023-06-12

0

a y a

a y a

bapak sama sahabatnya elin ga punya otakk

2023-05-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!