Malam mulai menjelang saat Bu Lasmi dan putranya Agung pindah rumah ke tempat yang memang tak jauh dari rumah juragan Hariyono.
Itu adalah rumah lama yang di belikan oleh mantan suaminya, meski sudah di renovasi tapi tak bisa sebaik dan semewah rumah milik juragan Hariyono.
"Jangkrik... rumah siapa ini Bu, kenapa begitu jelek," kata Agung yang tak menyangka akan tinggal di tempat seperti ini.
"Menurut mu, ini adalah rumah yang di tinggalkan oleh ayah ku untuk kita, kamu kira dengan kamu yang foya-foya tak ada hentinya, bisa seperti Harry, jangan mimpi sudah tidur di sini dan sekarang pikirkanlah bagaimana kamu bisa punya uang," kata Bu Lasmi.
"Apa? sial... gara-gara perjaka tua sialan ini, sudah ibu tidur duluan,kami mau pergi, nanti juga bawa uang," kata Agung yang mengajak teman-temannya pergi.
Mereka menuju ke rumah kosong yang menjadi basecamp mereka berempat, yaitu Agung sebagai ketua geng, Andi, Andre dan Ayus.
Empat pemuda yang di juluki preman kampung, bahkan mereka ini sering berbuat onar.
Tak ada yang berani menegur mereka, karena Agung yang memiliki identitas sebagai adik dari juragan Hariyono membuatmu sangat kuat.
"Ada apa ini, kenapa sekarang kita tak operasi lagi," kata Andre yang duduk di lantai sambil menikmati kacang sangrai itu.
"Kamu benar, tapi kita harus merampok atau begal, aku tentu tak mau diam saja," kata Agung.
"Kalau ngerampok mas mu sepertinya akan sulit, bagaimana kalau kita rampok pak lurah, aku dengar dia nikah lagi sama janda di ujung desa nih," kata Andi yang memang sebagai pencari informasi.
"Boleh juga tuh, kita rampok di rumahnya, kalau rampok di rumah istri barunya percuma, karna asal kalian tau jika yang kaya itu istri lurah tua Bangka itu," kata Agung tertawa.
Tapi Ayus sedikit was-was terlebih terakhir kalinya perbuatan mereka ini sangat keterlaluan.
Bahkan bisa di bilang biadab, "hei yus , kenapa diam diam saja, jawab mau ikut apa tidak,memang kamu tak mau punya uang hah?" bentak Andre.
"Bukan aku tak mau punya uang, tapi aku masih belum bisa melupakan kejadian terakhir, terlebih tatapan matanya membuat ku ngeri, dan lagi semua warga desa mulai menyebar desas-desus jika pria itu gentayangan jadi pocong sekarang," kata Ayus.
"Halah... itu mungkin hanya akal-akalan dari keempat orang itu yang di suruh polisi, jika kamu menunjukkan ketakutan seperti ini, kamu bisa membuat kita semua ketahuan sialan," maki Agung.
"Maafkan aku, baiklah aku ikut, karena aku juga butuh uang buat kawin," kata Ayus tertawa.
"Kan pikiran kalian itu tak jauh dari ************. sudah kita bersiap nanti pukul sembilan malam kita bergerak," kata Andi.
Mereka berempat menunggu sambil minum, dan membuat mereka makin pintar dan nekat.
Malam datang, salah satu makan pun mengeluarkan asap putih, dan tiba-tiba ada sosok pocong yang melayang.
Sosok itu mencari seseorang untuk menolongnya, dan menuntut balas atas kematiannya.
Saat itu, Man Dakir baru pulang dari rumah anaknya, dia tadi kemalaman di jalan dan memutuskan akan sehat setelah sampai di rumah.
Tanpa di duga saat melewati tuwangan akan ke desa, tiba-tiba motornya terasa berat.
"Loh heh... kenapa ini, kok jadi berat, masak bocor," kata pria itu menghentikan motornya tepat di h
gapura desa
Pria itu melihat ke bagian belakang motornya, tapi ban motornya tak bocor.
Malah dia melihat ada kain putih lusuh seperti di ikat dan menekuk di jok belakang motornya.
Pria itu sudah gemetaran dan mulai menangis, "huwe..... opo Iki..." suara pria itu.
"Man... antar aku pulang man," kata sosok itu tetap duduk santai di jok motor.
Man Dakir pun menoleh dan tiba-tiba sosok pocong itu menoleh menunjukkan wajah Yusron.
Tapi penuh dengan belatung dan luka, dan tiba-tiba salah satu matanya lepas.
"Huwa.... Pocong!!" teriak man Dakir yang langsung membanting motornya dan lari
Tapi pocong Yusron itu malah mengejar pria itu, "Pocong!!"
Pria itu lari hingga tanpa sadar keslimpet kakinya sendiri hingga tersungkur.
"Maafkan aku yusron... maaf... aku tak pernah mengganggu mu, tolong maafkan aku..." tangis pria itu sudah ngompol dan kakinya lemas.
Tiba-tiba saat dia ingin lari tubuhnya terasa berat, bau anyir darah dan bau busuk begitu tercium menyengat.
"Mati... Meraka harus mati!!" teriak pocong Yusron yang membuat pria itu langsung pingsan karena ketakutan.
Kini pocong Yusron mencari para orang yang membunuhnya, dia tak bisa keluar desa.
Dia berdiri di sebuah pohon pisang di depan warung Bu Sundari. wanita itu masih terlihat sibuk memasukkan dagangannya.
"Bu Sundari... boleh minta kopi susu tidak pakai gula," kata pocong Yusron yang duduk di bangku.
"Eh... siapa sih kok sukanya persis mas Yusron," kata Bu Sundari yang melihat pelanggan yang memesan.
Wanita itu gemetar, dia takut tapi kakinya lemes tak bisa bergerak bahkan dia yang ingin lari malah ngompol karena saking ketakutannya.
Karena sosok pocong yusron begitu buruk dan penuh belatung dan bau busuk serta anyir yang pekat.
"Poco.. pocong..."
Wanita itu jatuh pingsan, sedang pocong Yusron tetap duduk di sana sambil menunggu salah satu orang yang membunuhnya akan selalu datang ke sana untuk ngopi.
Tapi sayangnya yang di tunggu malah tidak datang, sosok pocong yusron pun menghilang dan mencari para pembunuhnya lagi.
Keempat pemuda itu sudah siap beraksi tentu dengan semua Atribut mereka.
Mereka berempat berangkat pukul sepuluh malam, dan segera ke rumah pak lurah untuk menggasak semua barang berharga pria itu.
Benar saja di rumah itu hanya ada Bu lurah yang sendirian bersama putranya yang berusia sepuluh tahun.
Tentu saja dengan mudah mereka berempat langsung masuk dan membuat penghuni rumah pingsan dan menyekap bocah itu.
Mereka berempat membersikan semua harta benda di rumah itu, mulai dari uang, perhiasan dan semua barang elektronik.
Setelah itu saat akan pergi, mereka melihat tubuh molek dari Bu lurah yang ternyata putih mulus menggoda.
Otomatis semua Otong mereka pun bangkit dan langsung menggarap wanita itu tanpa ampun
Setelah puas menikmati Bu lurah yang tak berdaya, mereka pun lati membawa semua barang curian.
Wanita itu hanya bisa menangis karna rumahnya di satroni maling saat suaminya tak ada di rumah.
Pocong yusron melayang di antara pohon-pohon yang ada di desa, dia melihat empat orang yang sedang lari ke arah bangunan kosong.
Dia pun mengikuti karena merasa familiar dengan keempat orang itu,bisa duduk di atap rumah kosong itu.
Ternyata ada sosok genderuwo penunggu pohon beringin dan pohon aren yang ada di sekitar sana.
"Ada tamu tak di undang," suara genderuwo itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
akbr
𝘈4
2024-04-26
0
Sumawita
Pasti yg bunuh yusron agung cs
2023-04-04
0