Pagi itu mentari urung menampakkan sinarnya. Mendung menggelayut di cakrawala. Membuat semua orang enggan beraktivitas di luar rumah. Beruntung hari ini hari Minggu jadi biasanya di lewatkan bersama keluarga di rumah.
Terlihat Ibnu sedang bersiap memakai baju saat Humaira memasuki kamarnya tanpa ijin.
"aaaaa...." teriak Humaira kencang. Beruntung tidak ada yang dapat mendengar teriakannya kecuali anak indigo atau yang mempunyai kemampuan khusus berbeda dengan yang lain.
"astaghfirullahal'adzim Humaira kenapa engkau muncul tiba-tiba. Coba ketuk pintu atau minimal ucapkan salam. "
"maaf Ibnu. Ibnu aku boleh bicara gak, penting sekali mengenai salah satu sosok yang ada di rumah ini"
"Humaira cantik yang bawel, aku itu penakut tolong jangan bicara tentang hantu apa boleh?"
"jika tidak dibahas nanti sosok itu malah semakin sering gangguin kamu juga semua penghuni rumah ini lho. Memangnya kamu mau jika terus di ganggu sama hantu?"
"tidak...tidak... Aku tidak mau berhubungan dengan hantu. Memang tadi malam kamu komunikasi dengan berapa hantu?"
"aku berkomunikasi dengan dua sosok. Yang satu merupakan pemimpin makhluk tak kasat mata di rumah ini. Namun sayang ia hanya bisa membantu kamu dan keluarga hanya saat berada di rumah saja. Lalu yang kedua sosok yang suka jahil di kolam renang. hantu ini sering menampakkan diri di sekitar kolam renang."
"iya kata pekerja disini memang begitu. Tapi alhamdulilah aku tidak sampai bertemu dengan sosok itu"
"namanya Parjo, dia korban pembunuhan sekitar 7 tahun yang lalu. Dia sebelumnya adalah pekerja di rumah ini pada bos sebelum papamu membeli rumah ini. Namun ada kejadian naas yang terjadi kepada dirinya."
"apakah ada keluarga atau seseorang yang sama sepertiku atau mempunyai kemampuan melihat makhluk gaib" tanya Humaira
"kakakku bernama Aini, kemarin saat kita datang kakak belum pulang kuliah malam,"
"aku hanya takut jika apa yang ku katakan orang tuamu tidak mempercayai nya. setidaknya ada satu orang lagi yang dapat melihatku sehingga bisa membantu opini mu jika engkau tidak sedang berhalusinasi karena tidak semua percaya akan adanya gaib."
Hari ini kebetulan Minggu, biasanya anggota keluarga ku menghabiskan waktu bersama di rumah tidak ada yang diperkenankan pergi keluar kecuali memang keluarga mengajak keluar bersama.
"coba ajak bicara keluargamu bagaimana jika setelah sarapan kita perlu bicara agar masalah ini cepat di selesaikan." ucap Humaira
"baiklah nanti aku akan bicara dengan keluargaku"
Setelah berbincang-bincang sesaat dengan Humaira, Ibnu menyempatkan olahraga atau senam pagi di taman dekat kolam renang. Selain agar badan sehat itu bertujuan untuk refreshing dengan menghirup udara pagi yang masih segar.
"Ibnu ayo kita ada sarapan, makanan sudah disajikan. Jangan sampai kamu ketinggalan agar tidak makan sendirian." panggil ibunya
"baik Bu, sebentar lagi saya akan kesana"
Ibnu segera berjalan menuju ruang makan keluarga, disana telah berkumpul, bapak, ibu, kakak perempuannya yang bernama Aini juga seorang adik laki-laki bernama Bagas. Saat makan mereka tidak ada yang berbicara hanya terdengar dentingan sendok bertemu dengan piring. namun sejak tadi Ibnu melihat jika Aini dan Bagas terus melihat ke arah Humaira.
"apakah Bagas juga dapat melihat Humaira? batin Ibnu
akhirnya acara sarapan pagi itu telah selesai, Ibnu pun berusaha mengatakan sesuatu kepada keluarga nya.
"pak, Bu.. Ada yang ingin Ibnu sampaikan."
"ada apa nak, coba katakan siapa tau kami bisa membantu mu"
"bapak dan ibu ingat tentang kakak cantik yang kemarin menolongku saat kecelakaan. Saat ini dia butuh bantuan kita"
"apa maksudnya nak, apa yang bisa kami bantu?"
"bang Ibnu apakah kakak itu yang sudah menolong kemarin?" tanya Iqbal adek Ibnu
"iya dek,"
"kakak itu sangat cantik bang"
Semua orang tertawa menanggapi apa yang di bicarakan oleh Iqbal. Sedangkan Aini hanya diam memandang roh Humaira, dia sedang menelisik apakah sosok ini benar-benar seseorang yang baik atau hanya ingin memanfaatkan keluarganya saja. Namun saat mendapatkan kilasan peristiwa tentang sosok Humaira ia pun tersenyum. Ia segera menghampiri Humaira dan menyapanya.
"hai salam kenal, namaku Aini, jika boleh tau siapa namamu?"
"namaku Humaira, kenapa kamu melihatku intens tadi, apakah kamu mengetahui sesuatu tentang ku."
"aku melihat jika kamu sesungguhnya orang yang baik dan kamu belum meninggal. Hanya saja tubuhmu saat ini sedang koma di rumah sakit karena suatu penyakit."
"benarkah demikian kak?"
"iya, tapi untuk saat ini kamu tidak bisa kembali ke tubuhmu entah kenapa seperti ada yang menahan mu kembali"
"kenapa begitu ka? jika Humaira tidak segera kembali apakah ada kemungkinan dia akan meninggal." tanya Ibnu
"hal itu tidak bisa di pungkiri dapat terjadi"
Saat mendengar hal itu Humaira menjadi sedih seketika. Namun setelah itu ia tersadar dan berkata.
"tak apa jika nantinya aku tidak dapat kembali namun sebelum aku benar-benar pergi aku akan membantu orang lain termasuk hantu-hantu yang bergentayangan dan suka mengganggu manusia."
"siapa itu ka? Tanya Iqbal
"namanya Parjo dia sosok yang selama ini ada di kolam renang, dia suka jahil dan mengerjai para pekerja di rumah ini."
"benarkah itu kak. Kenapa aku tidak pernah di ganggu?" tanya Iqbal lagi
"karena Iqbal anak baik. Iqbal jangan pernah membantah perkataan orang tua dan harus menjadi kebanggaan orang tua ya. "
"pasti kak"
"bang, sebenarnya sejak tadi Aini dan Iqbal berbincang dengan siapa? Tanya sang ibu
"namanya Humaira Bu, dialah yang menolong Ibnu kemarin. Jika tidak ada Humaira Abang pasti sudah meninggal."
"iya bang, Alhamdulillah Abang masih dalam perlindungan Allah."
"iya Bu. oiya bu, kata Humaira semalam ia berkomunikasi dengan penunggu kolam renang kita. Dikatakan sosok itu merupakan korban pembunuhan sekitar lebih dari 7 tahun yang lalu sebelum kita menempati rumah ini. Yang melakukan adalah satpam yang sebelumnya Bu. ia adalah seorang penata taman. Entah ada selisih apa dia dengan satpam itu. Akhir dari perselisihan itu adalah Parjo di bunuh oleh satpam itu dan jasadnya di kuburkan secara tidak layak di lantai dasar kolam renang ini."
"apa?""
"bagaimana mungkin ada kisah seperti itu nak?"
"itu benar adanya Bu, Abang tidak berani mengarang cerita."
"pak, apakah bapak masih mempunyai nomor pak Budi yang menjual rumah ini kepada kita. Kita harus meminta bantuannya untuk menangkap mantan satpamnya itu". Ujar Ibnu
"ibu setuju dengan perkataan Ibnu pak. Kita harus libatkan pak Budi dalam hal ini."
"baiklah bapak akan mencoba untuk menghubungi pak Budi. Semoga saja nomernya belum ganti"
Segera bapak itu mencari dan menelpon pak Budi
"selamat pagi pak Budi, apa kabar. Saya pak Hendro yang membeli rumah bapak di jalan B****u."
"iya pak, dengan saya sendiri. Ada apa gerangan ya pak?"
"ada hal penting yang ingin saya sampaikan apakah bapak bisa datang ke rumah ini."
"baiklah jika demikian pak. Kebetulan hari ini saya free tidak ada janjian dengan orang lain. Sekitar 30 menit saya akan sampai ke rumah bapak.
30 menit kemudian pak Budi sampai di rumah pak Hendro yang merupakan rumah lamanya sebelum ada kejadian salah satu pekerjanya hilang dan sering menghantui dirinya.
Akhirnya pak Hendro menceritakan apa yang disampaikan oleh Humaira dan Ibnu. Awal cerita pak Hendro tidak mempercayai begitu saja cerita itu namun setelah itu sosok Parjo datang dan menceritakan beberapa hal yang diketahui oleh ia dan lak Budi saja. Sejak saat itu ia pun mempercayai perkataan pak Hendro. Ia pun sepakat ingin membantu menyelesaikan masalah almarhum Parjo dengan salah satu karyawan nya itu. Tidak sulit menemukan satpam lamanya itu karena ia sekarang pun bekerja menjadi satpam di rumah pak Budi yang baru.
setelah itu segera pak Budi menelpon pak Gito satpam yang sempat berseteru dengan almarhum Parjo untuk bersiap ikut dengannya karena pak Budi membutuhkan bantuannya. Ia pun mengutus supirnya untuk menjemput Gito di rumahnya.
Di lain sisi polisi segera mendatangi rumah pak Hendro dan mulai mengevakuasi kolam renang dan membongkar lantai dasarnya. Setelah menggali di kedalaman 6meter ditemukan tulang belulang almarhum Parjo sesuai perkataan Humaira.
Bersamaan dengan pengangkatan tulang belulang itu, Gito selalu tersangka utama pun sampai di rumah pak Hendro. Saat ada polisi menghampirinya ia berusaha melarikan diri. Namun hantu Parjo menghalanginya sehingga ia berteriak histeris dan memudahkan polisi untuk menangkapnya.
Dalam hal ini pak Hendro dan Ibnu menjadi saksi dalam perkara itu. Saat telah selesai memberikan kesaksian mereka segera pulang. Namun baru saja turun dari mobil, Iqbal berteriak histeris kepada Ibnu.
"bang Ibnu itu Humaira kenapa badannya menjadi transparan?" tanya Iqbal
"apa yang kamu katakan dek? Dimana Humaira?"
"di taman belakang bang, tadi sempat Humaira merasa kesakitan beberapa saat lalu tubuhnya menjadi transparan. Ia sedang dibantu ka Aini"
Ibnu segera berlari menuju taman belakang dengan panik.
"ka Aini apa yang terjadi dengan Humaira, mengapa tubuhnya transparan?"
"tubuh Humaira di rumah sakit mengalami gagal jantung Ibnu. Hal ini mengakibatkan ruhnya melemah"
"astaghfirullahal'adzim, ya Allah selamatkan lah Humaira. Aku sudah berhutang nyawa kepadanya berilah kesempatan hamba untuk membalas kebaikannya."
"aamiin ya rabbal'alamin." ujar semua orang.
45 menit berlalu dan kondisi roh Humaira kembali normal kembali namun ia terlihat lemah. Tak lama muncul sosok aki yang selama ini menjaga rumah itu. Ia membawa roh Humaira untuk memulihkan kondisi ruhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Happyy
😚😚😚
2023-04-07
0