Hari demi hari terus Eleena jalani, rutinitas di siang hari ia habiskan di bengkel senjata dan di malam hari jika Pangeran datang ia akan melayani lelaki itu dengan memuaskan sampai Pangeran tidak berani mengeluh apalagi marah.
Tidak terasa dua minggu berlalu, pernikahan Pangeran akan segera digelar sepuluh hari ke depan. Tapi Eleena tidak terlihat marah atau sedih, ia hanya menjalani kehidupannya sebelum benar - benar pergi kabur dari sana.
Setelah dua minggu di dalam bengkel, Eleena sudah berhasil membuat kapak dua sisi tajam, palu, bahkan gembok dengan beberapa kuncinya. Bahkan sekarang ia sedang membuat pedang untuk hadiah atas pernikahan Pangeran, pedang dengan gagang berbentuk burung phoenix dengan bilah pedang dua sisi yang tajam. Hari ini ia berencana akan memberikan hadiah itu pada Pangeran, sebelum ia nanti kabur di hari pernikahan sang Pangeran.
Ya. Eleena sudah sangat dekat dengan keempat lelaki di bengkel senjata, semakin hari mereka semakin seperti sebuah keluarga. Sampai akhirnya Eleena mendapatkan kepercayaan mereka, ia mengutarakan keinginannya untuk kabur dari Istana Pangeran dan semuanya berjanji akan membantunya melarikan diri bahkan Andrian dan Ace ingin ikut menemaninya pergi.
"Pedang nya sudah selesai?" tanya Andrian, ia ikut jongkok memperhatikan Eleena bekerja.
"Tinggal memperhalus, beberap menit lagi selesai. Pekerjaan kak Andrian sudah selesai?" tanya Eleena tanpa menoleh, ia ingin secepatnya menyelesaikan pedang itu.
"Um, ini minumlah dulu. Keringatmu banyak sekali," Andrian memberikan gelas berisi air putih, Eleena mengambilnya menghabiskan air dengan sekali teguk kemudian ia fokus kembali pada pekerjaannya.
Andrian menggelengkan kepalanya, jika sudah bekerja Elè akan lupa dengan apapun. Wajah cantik Elè bahkan belepotan kotoran, telapak tangan wanita itu bahkan sudah banyak mengelupas karena mengeras lalu tergesek dan terbuka.
Andrian mengelap keringat di pelipis Elè, lalu berniat mencari obat untuk luka di telapak tangan wanita yang sudah disukainya itu. Suka bukan sebagai Nyonya atau adik, tapi suka lelaki pada wanita.
Baru saja Andrian ingin bangun dari jongkoknya, tubuhnya tertarik ke atas lalu tiba - tiba melayang ke belakang perutnya dipukul keras oleh seseorang.
"Argghtt!" Andrian meringis kesakitan, tangannya turun ke perut yang kena pukulan.
Pangeran kembali maju, mengangkat tubuh kurus Andrian mencekik leher lelaki itu dengan sebelah tangannya, tangan lainnya sudah mengepal bersiap menyerang lagi tapi ditahan oleh Eleena.
"Pangeran, jangan. Apa yang kamu lakukan?!" teriak Eleena.
"Budak ini berani mengelap keringatmu! Berani memandangmu dengan tatapan menginginkanmu! Eleena! Kau adalah wanitaku! Beraninya!"
Eleena masih menahan kepalan tangan Pangeran, sejak bekerja menempa besi otot - otot di lengannya terbentuk. Meskipun tidak kuat tapi dia mempunyai tenaga.
"Minggir!" Pangeran memberontak melepaskan cekalan tangan Eleena.
"Arrggt!" Eleena menjerit kesakitan, wajahnya tersikut tangan Pangeran. Darah seketika mengucur dari hidungnya.
"E- lè!" teriak Andrian tertahan.
Pangeran berbalik melepaskan cekikannya dari leher Andrian, matanya terbelalak melihat darah mengucur dari hidung Eleena. "Eleena."
Melihat wajah wanitanya terluka, tanpa berpikir panjang Pangeran Jagger memangku tubuh Eleena berlari pergi keluar dari ruangan. Sepanjang jalan ia mengutuki emosinya yang selalu gampang tersulut. Apalagi selama beberapa minggu menghabiskan waktunya bersama Eleena, perasaannya semakin melunak.
"Santos! Cepat panggil Abner untuk memeriksa!"
"Pangeran, hidungku hanya tersikut olehmu. Ini akan baik - baik saja sebentar lagi, jangan panggil siapapun," Eleena mengelus wajah Pangeran menenangkan lelaki itu. Sepertinya tadi Pangeran cemburu.
' Apa Pangeran tadi cemburu? Atau hanya marah karena wajahku disentuh lelaki lain selain dia dan ego-nya terluka?
Pangeran membaringkan tubuh Eleena di ranjang, dia menyelimuti dengan penuh perhatian.
Eleena memang sudah merasakannya, beberapa belakangan ini Pangeran bersikap tidak seperti biasanya. Terkadang ia merasa Pangeran telah jatuh cinta padanya, tapi saat emosi Pangeran keluar lelaki itu akan kembali bersikap acuh tak acuh padanya.
Abner datang, dia segera mengobati hidung Eleena. Setelah selesai, lelaki dengan keahlian medis itu pergi.
"Kamu pasti kesakitan, 'kan?" Pangeran mengelus wajah Eleena lembut.
"Tidak apa - apa, hanya terasa ngilu."
Pangeran menatap Eleena seolah mencintainya, suaranya yang biasanya sangar dan dingin kini terkadang selalu terdengar lembut.
"Pangeran, apa kamu menyukaiku?" tanya Eleena akhirnya, ia sudah menunggu untuk bertanya tapi selalu ia tahan.
"Lahirkan putra untukku, Eleena."
Bukan jawaban yang ingin di dengar Eleena tapi malah perkataan yang terdengar mengerikan bagi wanita yang datang dari abad -20 itu.
'Aku harus apa?! Melahirkan putra untuknya! Dia menyuruhku hamil! Dasar gila!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
HNF G
jgn mau hamil, nanti gak bisa kabur
2024-12-01
0
fitriani
jgn mau eleena....
2024-12-23
0
Hilmiya Kasinji
oh ternyata suka ... makanya ngintilin ya
2024-07-12
0