Krieettt.
Eleena mendengar suara decitan pintu terbuka, ia baru saja membaringkan tubuhnya setelah membersihkan tubuh dari lengketnya keringat. Ia menutup matanya berpura - pura tidur, ia tau Pangeran lah yang datang.
"Nafasmu masih terdengar menderu, kenapa kau berpura - pura tidur?"
Eleena mendengar nada kekesalan dalam suara Pangeran, 'Sial! Bukan hanya sensitif dan menyebalkan, selain maniaxs tapi juga selalu gampang kesal ' Pangeran gila !
Eleena membuka mata, mengedip - ngedipkan matanya, bulu mata lentiknya menarik perhatian Pangeran.
"Untung saja aku menyukai bulu mata lentikmu, kalau tidak aku akan menghukum mu karena berani berpura - pura!" ujar Pangeran seraya berjalan maju mendekat ke arah ranjang.
"Buka jubah tidurku, malam ini aku akan tidur disini bersamamu," lanjut lelaki itu.
Eleena menurut, ia turun dari ranjang membuka jubah tidur Pangeran yang sangat pas membungkus tubuh tinggi kekarnya.
'Kenapa tubuh dan wajahnya sangat sempurna tapi dalamnya sangat busuk!' rutuk Eleena.
"Kau seperti mengagumi tubuhku yang kekar dan indah! Kau sepertinya menyukainya," ujar Pangeran menyombongkan tubuhnya yang terlatih sejak kecil.
'Cih! Kenapa isi dalam pikiranku saja dia tau!'
"Selesai, Pangeran silahkan tidur," Eleena berbalik ingin naik kembali ke atas ranjang tapi tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Pangeran.
"Kau pikir aku berkata akan tidur itu artinya hanya 'tidur' ? Kau sedang berpura - pura lugu lagi? Kau--"
Eleena berbalik memeluk tubuh Pangeran menyandarkan kepalanya di dada lelaki mendominasi itu, "Pangeran, kenapa kamu selalu tidak sabaran? Tentu saja aku akan melayanimu--"
"Aku sudah pernah bilang, jangan membalas perkataanku!"
Kepala Eleena terangkat, dagu kecilnya dicekal erat bibirnya dengan rakus dipagut. Lalu tubuhnya di dorong kasar ke belakang, telentang di atas ranjang.
Dengan satu tarikan kasar gaun tidur Eleena tertarik sobek, dengan brutal Pangeran menjamah tubuh telanjang Eleena bahkan menggigit da da kecilnya membuatnya meringis kesakitan.
"Jika kesakitan, teriaklah ! Jangan tahan errrangan dan teriakanmu!" bentak Pangeran.
'Tidak! Aku tidak ingin terdengar lemah!' Eleena menahan dirinya.
"Jadi kau tidak ingin berteriak! Itu maumu!"
Pangeran menarik sabuknya mengikat lengan Eleena menyatukan kedua lengan wanita itu, mengikatnya ke atas kepala ranjang.
Eleena tidak melawan, ia membiarkan kelakuan agresif lelaki itu. Kini Ia sedikit mengerti sifat asli Pangeran, lelaki itu sebenarnya rendah diri dan ingin menunjukkan kekuasaan dan mendominasi pada setiap lawannya siapapun itu. Ia menduga Pangeran pernah mengalami hal menyedihkan dan trauma dalam hidupnya.
Pangeran mengeratkan cekalan di dagu Eleena, "Ini akibatnya kamu melawan ucapanku!"
Akhirnya malam itu Pangeran benar - benar menyiksa Eleena, sampai wanita dari abad ke -20 itu tak bisa menahan lagi rintihan kesakitannya karena perlakuan sexs yang brutal dari Pangeran. Malam itu, bukan hanya sekali bahkan berkali - kali sampai Eleena tidak bisa menggerakkan sedikit pun jarinya dan terkulai lemah.
Esoknya, saat membuka mata keberadaan Pangeran sudah tidak terlihat di kamarnya. "Arrgtth, Damn! Aku tidak bisa menggerakan tubuhku."
"Nyonya, saya disini," ujar Bibi Weni.
"Kapan Pangeran pergi?" tanya Eleena di balik selimut, tubuhnya benar - benar tidak bisa bergerak bahkan hanya untuk berbalik.
"Saat fajar," jawab Bibi Weni.
"Nyonya. Pangeran mengatakan Anda harus meminum obatnya," Bibi Weni berjalan ke arah nakas mengambil obat dan air minum lalu berjalan ke arah ranjang berdiri di pinggir ranjang memegang kedua barang itu di tangannya.
"Aku tidak bisa bangun, bagaimana aku bisa meminumnya?!" geram Eleena, tubuh gadis yang di masukinya sangat lemah. Sepertinya dia harus berolahraga dan melakukan kegiatan yang bisa membentuk otot di beberapa bagian tubuhnya.
"Saya akan memanggil Rida dan Neri. Mereka adalah pelayan pribadi Anda, sebentar."
Tak lama Bibi Weni kembali masuk, "Bantu Nyonya bangun," perintahnya pada kedua pelayan pribadi Nyonya-nya.
"Baik, Bibi."
Kedua gadis budak yang sudah menjadi pelayan di Istana Pangeran itu berjalan ke arah kiri dan kanan ranjang. Bahkan Neri naik ke atas ranjang untuk membantu Nyonya-nya bangun.
Eleena bersandar di bantal, lengannya memerah karena terikat sabuk semalaman. Bukan hanya perih tapi juga terasa pegal. Ia memeriksa tubuhnya, bagian da da nya kebiruan karena digigit anjing gila semalam, bahkan banyak warna kemerahan di beberapa bagian tubuhnya yang lain.
"Merdè ! Enculé !" umpat Eleena dalam bahasa prancis, memanggil Pangeran bajingan.
Bibi Weni terkejut, begitu juga kedua gadis pelayan. Mereka tidak mengerti bahasa yang dikatakan Nyonya mereka, tapi wajah memerah dengan mata yang membara meyakinkan pikiran mereka jika sang Nyonya sedang mengumpat kasar karena marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Hana Agustina
pangeran gelooo siaaaa
2024-06-27
0
🌸 Airyein 🌸
Emg shibbal itu pangeran
2024-03-01
2
Sandisalbiah
kamu harus bisa membalas si pangeran manual itu El.... krn racun sia jd manual.. coba beti racun sekali lagi.. siapa tau otaknya jd waras...
2024-01-25
0