Dengan tubuh tegapnya, juga jubah kebesarannya Pangeran Jagger masuk ke dalam ruang pertemuan.
"Salam, Pangeran," setiap Bangsawan dan para petinggi Istana menunduk memberi salam saat Pangeran Jagger melewati mereka.
Pangeran Jagger mengeraskan wajahnya, bukan hanya tidak tersenyum bahkan ia tidak membalas salam dari setiap orang. Dia muak dengan orang - orang yang berpura - pura menunduk padanya tapi nyatanya beberapa dari mereka sangat membencinya karena ia adalah kesayangan Raja dan tidak pernah mempunyai cela untuk bisa mereka jatuhkan.
"Salam, Raja," baru lah Pangeran memberi hormat pada kakaknya, benar - benar menghormati sang kakak yang menjadi Raja.
"Kamu sudah kembali, tiga minggu kamu pergi dan aku sudah sangat merindukanmu, hahaha..." sang Raja merasa lega adiknya kembali dengan aman dari tempat aliansi dengan negara tetangga yang masih mempunyai konflik.
"Hm." Pangeran Jagger hanya bergumam, jika di hadapan orang - orang ia jarang sekali berbicara dan hanya menggunakan telinganya untuk banyak mendengar.
"Duduklah, kami sedang merundingkan tanggal pernikahanmu dengan putri sulung dari Duke Lewis. Kamu masih mengingat nama calon pengantinmu, bukan?" Raja menatap Pangeran Jagger seakan meminta jawaban.
Pangeran Jagger menatap balik Raja, ia bahkan menaikkan sebelah alisnya dengan berani. Menantang Raja untuk terus memaksanya mengingat nama calon pengantin yang bahkan pernah dia tolak tapi akhirnya dia menerima aliansi pernikahan itu. Dia bahkan malas untuk mengingat siapa nama calon pengantinnya.
"Ah, sudah pasti kamu masih ingat. Aku yang pikun," akhirnya Raja yang menyerah, dia tau sifat Pangeran yang keras kepala apalagi sifat pendendam adiknya itu sangat menakutkan dan tak ingin dengan sengaja memancingnya.
Raja menatap semua orang, berakhir di wajah Duke Lewis, "Silahkan Anda memberikan tanggal terlebih dulu, Duke."
Duke Lewis mengangguk, "Tanggal 3 bulan depan, jika dihitung sekitar dua minggu lagi. Bagaimana, Yang Mulia?"
Raja Stewart menoleh ke arah Pangeran, "Kamu setuju, Pangeran?"
"Aku ingin sebulan dari sekarang," jawab Pangeran menolak tanggal yang diberikan dari sang Duke calon mertuanya.
"Bagaimana, Duke?" Raja kembali bertanya.
"Baiklah, saya setuju," sang Duke tidak ingin memancing sifat pemarah Pangeran, dia sudah bangga dengan Pangeran sebagai menantunya dan apapun keinginan calon menantunya akan ia lakukan.
"Hm, baiklah. Tanggal sudah disetujui, catat itu!" titah Raja ke sekretariat Istana.
Sekertariat Istana langsung mencatatnya.
"Sebelum pernikahan, kalian harus lebih dulu hidup bersama untuk penyesuaian. Kamu tau itu 'kan, Pangeran?" kali ini Raja menekankan kata-katanya, menandakan itu adalah peraturan Istana dan Pangeran tidak boleh menolak.
"Atur saja. Jika sudah selesai, aku pergi," tanpa menunggu Raja memberi ijin, Pangeran sudah bangkit dari duduknya dan berjalan pergi dengan gagah berani dari sana.
"Hahhhh..." Raja mendessah pasrah, jika dia mempunyai seorang putra untuk meneruskan Tahtanya, sudah pasti ia tidak akan memaksa adiknya itu untuk menikah. Para petinggi Istana sudah mendesaknya, tapi meskipun dia sudah menikah dengan 12 wanita tetap dirinya tidak bisa memiliki putra, semua anaknya adalah seorang putri bahkan anaknya dari sang Ratu sekalipun.
***
Eleena terus menatap wajah lelaki di sampingnya, bukan karena ia tertarik tapi lebih tepatnya karena ia sangat penasaran.
"Jangan menatapku terus," ucap si pria dengan wajah sedikit memerah.
"Siapa namamu, namaku Eleena," ia sengaja memakai nama aslinya di dunianya.
"Namaku Guapo," jawab si pria berbohong, itu bukan nama aslinya ia sengaja menyamarkan identitasnya.
"Hm, boleh aku bertanya... Guapo?"
"Tentu, kalau aku bisa menjawabnya akan aku jawab."
"Kenapa rambutmu beruban? Atau kamu mengecatnya? Lalu kenapa selalu memakai borgol, apa kamu tidak mempunyai kuncinya?" tanya Eleena.
"Aku terkena racun beberapa tahun silam, racun itu berdampak pada rambut dan--" Guapo menghentikan perkataannya, itu adalah kelemahan dari seorang pria. Bagian bawah tubuhnya lebih tepatnya miliknya untuk memuaskan wanita tidak bisa berdiri. Ia enggan untuk mengatakannya.
"Dan??" tapi Eleena masih penasaran.
"Itu saja, hanya rambutku."
"Hm, lalu borgolmu?"
"Aku tidak tau borgol ini terbuat dari jenis apa. Borgol ini berbarengan dengan saat aku diracuni, sejak itu borgol ini tidak bisa dibuka. Bahkan ahli kunci di pelosok negeri sudah aku datangi tapi tidak ada yang bisa membukanya," Guapo menggeleng.
"Benarkah?"
Guapo mengangguk.
"Tunggu aku sebentar disini, bisa?"
"Kamu mau kemana?" tanya Guapo.
"Tunggu saja," Eleena pergi dari sana untuk mencari alat agar bisa membuka borgol Guapo.
Tak lama Eleena kembali dengan membawa sebuah kawat kecil, ia mengotak-ngatik lubang kunci hanya butuh beberapa detik borgol itu terlepas.
"Yes!" Eleena menarik lepas borgol dari pergelangan tangan Guapo.
Guapo tercengang, seketika ia menatap wajah wanita yang telah berhasil membuka borgol yang selalu menahannya. Matanya berbinar... apa ramalan dari nenek moyangnya terdahulu benar, ramalan yang mengatakan jika kontradiksi waktu akan terjadi dan mendatangkan seseorang yang bisa membangkitkan kembali kejayaan keluarganya bahkan jika orang itu berpihak padanya maka bisa dipastikan saat peperangan apapun terjadi, ia akan memenangkan pertarungan itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
fitriani
penasaran guapo ini lawan apa kawan
2024-12-22
0
lily
kira2 nanti jodohnya siapa
2025-01-18
0
Hilmiya Kasinji
siapa nich si guapo ?
2024-07-12
0