Nisha tak kuasa menahan tangisnya saat dia melihat dua garis merah dalam tespek yang baru saja dia gunakan untuk mengetes kehamilan. Karena Nisha yang tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Madam Suri sangat mengkhawatirkan keadaan Nisha. Bahkan sejak tadi dia sudah menggedor pintu kamar mandi tetapi tak ada respon dari dalam kamar mandi.
Alexander yang tidak sengaja melewati kemanisan merasa heran saat memadam Suri terus memanggil nama Nisha.
"Ada apa?" tanya Alexander dengan heran.
Madam Suri langsung mendongak dan menatap Alexander. "Nona Nisha masih tidak mau membuka matanya, Tuan. Saya takut sedang terjadi sesuatu dengan Nisha," ujar Madam Suri.
"Benarkah?" Alexander memastikan. Dia pun langsung menggedor pintu dan memanggil nama Nisha, berharap wanita itu membuka pintunya. Namun, percuma saja karena sama sekali tidak ada respon dari Nisha berada di dalam. Karena Alexander juga merasa sangat khawatir dia pun langsung mendobrak pintu kamar mandi.
BRAAKKK
Hanya butuh satu kali mendobrak pintu telah berhasil roboh ke dalam. Dilihatnya Nisha duduk lantai sambil nangis-nangis.
"Kamu kenapa?" tanya Alexander dengan panik. "Apakah perutmu sakit?"
Tak ada jawaban dari Nisha. Wanita itu sepertinya tidak menganggap kedatangan Alexander. Dia terus terisak dalam tangisnya dengan sebuah hasil tes yang berada di tangannya. Dengan pelan Alexander mengambil hasil tes yang baru saja dilakukan oleh Nisha.
Alexander tidak tahu apa maksud dari hasil tes dan segera menyerahkan kepada Madam Suri. "Ini apa maksudnya?"
Madam Suri langsung mengambil tespek dari tangan Alexander. Dilihatnya dua garis merah didalam tes itu. "Ini positif, Tuan. Nona Nisha positif hamil," ujarnya.
Tak ada keterkejutan dari wajah Alexander karena dia sadar apa yang telah dia lakukan kepada Nisha malam itu. Jikapun Nisha hamil, itu sudah wajar karena itu adalah bibit yang dia keluarkan selama hampir 28 tahun. Bibit itu adalah bibit unggulan, jadi wajar saja hanya satu kali suntikan Nisha langsung hamil.
Helaan nafas panjang terdengar begitu berat. Tanpa pikir panjang Alexander langsung mengangkat tubuh untuk meninggalkan kamar mandi yang begitu. Nisha yang menyadari jika saat ini berada gendong Alexander langsung mengeluarkan kata. "Lepaskan! Kamu mau membawa aku ke mana?"
Alexander tak tertarik untuk menjawab pertanyaan Nisha. Tentu saja dia akan membawa Nisha ke tempat tidur, karena hari sudah malam dan Nisha juga harus beristirahat. Dengan gerakan pelan, Alexander meletakkan tubuh Nisha di atas tempat tidurnya.
"Bi, kamu beristirahat saja biar aku yang menangani Nisha," ucapnya pada Mada Suri.
"Baik Tuan. Jika Anda membutuhkan bantuan segera panggil saya." Madam Suri pun langsung meninggalkan kamar Nisha.
Sepeninggal Madam Suri, suasana terasa hening karena tidak ada kata-kata yang keluar dari dua orang sekalipun mata mereka saling bersitatap. Mata Alexander pun sekali melirik ke arah perut Nisha yang ditutupi dengan pakaian gamisnya. Rasanya tidak percaya saja jika tiba-tiba ada wanita yang sudah mengandung calon pewarisnya.
"Apakah saat aku pergi kamu baik-baik saja. Mengapa aku melihat wajahmu semakin terlihat kurus. Padahal aku hanya meninggalkanmu selama dua hari saja. Apakah setiap pagi kamu masih sering muntah?" Kini Alexander mencoba untuk memecahkan keheningan malam dengan mengajukan pertanyaan kepada Nisha, sekalipun dia sudah tahu jika setiap pagi Nisha akan muntah-muntah.
"Aku baik-baik saja. Keluarlah, aku ingin beristirahat!" usir Nisha.
"Tidak! Aku tidak akan pergi, karena malam ini aku akan tidur disini untuk menemani anakku yang berada di perutmu," ujar Alexander.
Nisha langsung menautkan kedua alisnya. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Alexander untuk tidur bersamanya dalam satu ranjang sementara mereka berdua bagaimana menjadi pasangan halal. Terlebih Nisha masih merasa takut dengan kejadian malam itu di mana Alexander merampas kehormatannya. Nisha takut jika malam itu akan kembali terjadi lagi malam ini.
"Tidak! Kamu tidak boleh tidur di sini!"
"Kenapa? Ini villa milikku. Aku bebas ingin tidur yang aku inginkan termasuk tidur bersama denganmu."
"Tapi kita bukan pasangan suami istri dan itu sangat dilarang oleh agama. Sekalipun aku sudah tidak suci lagi tapi aku harus tetap menjaga apa yang harus aku jaga. Allah tidak menyukai laki-laki dan perempuan tidur satu ranjang tanpa sebuah ikatan," ucap Nisha dengan tegas.
Sejenak Alexander terdiam dan menatap wajah Nisha dengan dalam. Pantas saja Danar sangat menggilai Nisha dan ingin menjadikan Nisha ratu dalam istananya. Ternyata jika diperhatikan lebih dekat dan lebih jelas wajah Nisha cantik dan berseri. Seperti ada cahaya yang menyinari wajahnya.
"Benarkah? Lalu apakah Allah juga aku marah jika seorang wanita telah hamil di luar hubungan pernikahan?"
Nisha tau arah pembicaraan Alexander. Saat ini pria brengsekk itu sedang membicarakan tentang dirinya.
"Tergantung bagaimana wanita itu bisa sampai hamil. Apakah wanita itu memang sengaja melakukan zina sama dengan pasangannya hingga membuatnya hamil atau wanita itu telah dilecehkan oleh seorang laki-laki hingga dia hamil. Jika jawabannya adalah wanita itu diajarkan oleh laki-laki maka dan tidak bisa memberontak maka itu bukan murni kesalahan darinya. Lalu untuk apa Allah akan marah kepadanya justru Allah akan marah kepada pelaku yang telah melecehkan wanita itu," jelas Nisha panjang lebar.
"Jadi Allah tidak marah kepadamu sekalipun kamu di luar nikah?" Alexander bertanya kembali.
"Tidak. Tapi Allah akan marah kepadamu karena kamu telah merenggut mau kata yang seharusnya aku jaga dan aku berikan kepada suamiku. Dan kamu adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban di depan Allah nantinya."
Mendengar penjelasan Nisha mendadak bulu kuduk Alexander berdiri semua. Tiba-tiba nyalinya menciut.
"Lalu bagaimana agar Allah tidak marah kepadaku dan memberikan ampunan kepadaku?"
Kali ini Nisha sangat kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexander. Bagaimana mungkin bisa akan mengatakan jika Alexander harus bertanggung jawab dengan cara menikahi dirinya dan ampun kepada Allah atas dosa yang telah dia lakukan.
"Kamu harus melakukan shalat tobat dan benar-benar menyesali apa yang telah kamu lakukan. Berdoa dan memohon kepada Allah dengan kesungguhan agar Allah mengampuni segala dosa yang telah kamu lakukan serta tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang telah kamu lakukan."
"Benarkah? Apakah aku tidak harus bertanggung jawab dengan cara menikahi wanita yang telah aku nodai?"
Nisha semakin tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena Nisha tidak ingin jatuh ke tangan Alexander terlalu dalam. Harapan Nisha adalah keluar dari cengkraman Alexander. Jika dia mengatakan alasan harus bertanggung jawab untuk menikahnya, maka seumur hidup Nisha tidak akan pernah bisa keluar dari Alexander.
"Jika kamu membutuhkan pertanggungjawaban Aku siap untuk menikah denganmu, tetapi tidak berada dalam belahan bumi. Kita akan keluar dari kota ini. Bagaimana, Apakah kamu tertarik untuk aku nikahi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Pujiastuti
udah iyain aja Nisha siapa tahu nanti kalau sudah jadi suamimu Alex bisa berubah sifaynya,,,,,,
2023-04-13
0