BAB 9 : Dijemput Sopir

Waktu begitu cepat berlalu, tetapi ucapan Danar masih terngiang-ngiang dalam ingatan Nisha. Bagaimana mungkin Nisha bisa mempercayai ungkapan Danar yang memintanya untuk menikah dengannya, sementara mereka saja baru bertemu. Danar tidak mengenal Nisha, begitu juga dengan Nisha yang tidak mengenal Danar.

Pagi ini tanpa sepengetahuan dari Danar, Nisha diam-diam keluar dari rumah itu. Sungguh Nisha tidak bisa jika hanya berdiam diri di rumah Danar dan menjadi beban untuk Danar. Namun, saat Nisha ingin membuka pintu, suara dari belakang mengejutkan dirinya.

"Anda ingin kemana, Nona?"

Nisha langsung menoleh kebelakang. Dilihatnya seorang pelayan sudah berdiri di belakangnya. "Aku— aku ingin keluar," ucap Nisha.

"Tapi Anda tidak diizinkan oleh Tuan muda, Nona. Meskipun saat ini Tuan Danar tidak ada di rumah ini, tetapi saat ini beliau memantau Anda dari CCTV. Jadi jangan coba-coba untuk keluar."

Bola mata Nisha langsung berkeliaran untuk mencari sebuah kamera pengawas, namun nyatanya tidak bisa menemukan kamera pengawas itu. Entah disebelah mana letak kamera pengawas itu.

"Tapi aku sungguh merasa tidak enak juga harus berdiam diri di rumah. Aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Aku tidak bisa terus-menerus bergantung kepada Danar. Dia punya kehidupan sendiri begitu juga denganku."

"Nona, taukah Anda, jika Anda adalah orang pertama yang dibawa tuan muda pulang ke rumah. Itu artinya Anda adalah orang yang spesial untuknya," jelas pelayanan itu.

Tiba-tiba saja Nisha terdiam untuk sesaat. Jika apa yang dikatakan oleh-oleh yang itu benar, apa yang harus dilakukan oleh Nisha saat ini, terlebih Danar adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya dan mengingatkan pada dirinya jika mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri adalah sebuah dosa yang paling besar. Bahkan Allah tidak akan memaafkan atas dosa yang telah diperbuatnya, meskipun selama banyak amalan kebaikan, tetap saja tidak akan bisa menghapuskan dosa karena telah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Duduk disebuah sofa, Nisha termangu saat mengingat apa yang telah terjadi padanya. Dia bukan wanita yang sempurna lagi. Dia telah menjadi wanita cacat karena Alexander telah merampas segalanya. Lalu apa yang bisa Nisha lakukan setelah ini. Tiba-tiba saja Nisha meluapkan isi hatinya dengan air mata.

Apa yang dilakukan oleh Nisha telah dipantau langsung oleh Danar laptopnya. Dan ... saat melihat Nisha tiba-tiba menangis, Danar langsung mengambil ponsel untuk menelepon rumahnya.

Tak berapa lama, panggilan telah tersambung. Seorang pelayan pun langsung memberikan ponselnya pada Nisha.

"Maaf Nona, Tuan muda ingin berbicara dengan Anda."

Nisha langsung mengambil ponsel dari tangan pelayan itu. "Halo," ucap Nisha saat ponsel itu telah melekat di telinganya.

"Apakah kamu merasa bosan di rumah? Jika kamu mau, kamu aku akan menjemputmu."

"Tidak aku tidak bosan."

"Lalu mengapa kamu menangis? Apakah ada salah satu pelayan yang sudah sudah bertindak kasar kepadamu?"

"Tidak ada. Aku tidak menangis."

"Bohong! Meskipun aku tidak ada disana, tapi aku bisa melihatmu menangis. Jika kamu merasa bosan, aku akan menyuruh sopir untuk menjemputmu. Kamu tunggu aja disana."

tut ... tut ... tut... Panggilan telepon pun terputus. Nisha hanya membuang nafas kasarnya. Entah berada disebelah mana CCTV itu berada.

Benar, hanya dalam hitungan lima belas menit seorang sopir sudah sampai di rumah Danar untuk menjemput Nisha. Dengan langkah gontai, Nisha pun akhirnya mengikuti langkah sang sopir untuk meninggalkan rumah.

"Apakah Anda baik-baik saja, Nona? Sungguh Anda wanita yang sangat beruntung bisa diperhatikan oleh Tuan muda. Anda adalah satu-satunya wanita yang pernah dibawa tuan muda untuk pulang ke rumah ini," kata sang sopir saat Nisha sudah masuk kedalam mobil.

Nisha hanya tersenyum kecil. Sungguh dia tidak percaya jika seorang Danar yang disebut tuan muda itu mau memberikan perhatian pada wanita kampung yang tidak suci lagi. Entah apa yang akan terjadi ketika Danar mengetahui dirinya tidak suci lagi.

Di sebuah ruangan seorang pria sedang berbicara serius dengan Danar. Pria itu adalah kakak tertua Danar.

"Jadi apa yang kamu rasakan setelah wanita itu menghilang?" tanya Danar.

"Aku tidak tahu. Awalnya aku marah dan ingin membunuhnya, tapi setiap aku masuk kedalam kamarnya, bayang-bayang malam itu selalu muncul di kepalaku. Bahkan beberapa hari ini wajahnya terus saja meneror pikiranku," adunya pada Danar.

"Jadi kamu sudah pernah meniduri wanita itu? Astaga ... Alex, apa yang kamu pikirkan? Lalu apakah kamu memakai pengaman? Jangan bilang kamu sama sekali tidak memakai pengaman? Lalu bagaimana jika wanita itu sampai hamil? Alex, ingat kamu itu sudah tunangan dengan Niel!"

"Iya aku tahu. Malam itu aku terbawa suasana."

Ya, pria yang sedang berbicara dengan Danar tak lain adalah Alexander, kakak tertuanya. Danar adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Alexander, Giovanni dan Danar. Mereka adalah saudara kandung yang sama-sama menginginkan Nisha dengan cara mereka masing-masing.

...~BERSAMBUNG~...

Terpopuler

Comments

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.

Waduuuuuhhhh...bklan ada perang niiiihhh...

2023-04-22

0

Pujiastuti

Pujiastuti

ya ternyata Damar adalah adiknya Alex pantesan Nisha ngak boleh kemana² tetnyata Damar tahu kalau Nisha lagi dicari sama kakaknya,,,,

2023-04-06

1

Rahma Inayah

Rahma Inayah

semoga saja nisa tdk hamil ank alex..kasian nasbi nya...semoga nisa menemukan kabahagian dgn danar dan bs menerima masa lalu nisa ..

2023-04-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!