Tubuh Alexander masih membeku saat dia baru saja mengetahui sebuah fakta jika saat ini Nisha sedang hamil. Dan bisa dipastikan itu adalah anaknya. Entah apa yang akan dia lakukan jika keluarga besarnya tau saat ini ada seseorang wanita yabg sedang mengandung pewarisnya, sementara itu bukan dari rahim Neila, seorang wanita yang telah menjadi tunangannya.
"Sial! Mengapa bisa sampai hamil, sih?! Padahal itu hanya sekali! Argh ... !" Alexander terlihat sangat frustasi.
Satu ketukan pintu membuatnya harus mengontrol emosinya agar tak terlihat. Tanpa jawaban darinya, seorang wanita dengan kacamata hitam serta sebuah tas malah yang dijinjing menggunakan tangan kirinya berjalan lenggak-lenggok menuju ke meja Alexander.
Helaan nafas panjang keluar begitu saja dari mulut Alexander. Rasanya sangat malas untuk melihat wanita yang saat ini sudah berada di sampingnya.
"Ada apa? Kenapa mengunjungiku?" tanya Alexander dengan malas.
Wanita itu meletakkan tas mahal itu kemeja serta melepas kacamata yang masih menempel di depan. "Sungguh sombong dirimu!" ketus wanita itu dengan sinis.
"Aku tidak sombong. Aku tahu jika sat ini ada sesuatu yang kamu inginkan dariku."
"Ya. Kamu emang anak cerdas. Tidak sia-sia aku membesarkanmu. Karena kamu sudah bisa menebak kedatanganku maka langsung saja pada intinya." Wanita yang tak lain adalah ibu Alexander itu menarik sebuah kursi yang ada di depan Alexander.
"Kemana saja kamu beberapa hari ini kenapa tidak pulang ke rumah? Bahkan saat aku mendatangimu ke rumah pribadimu, kamu tidak ada. Apakah kamu telah memiliki rumah baru lagi?"
"Tidak. Aku tidak mempunyai rumah baru lagi. Aku hanya sedang melakukan perjalanan ke luar kota untuk sebuah bisnis. Katakan apa yang ingin kamu katakan, karena aku tidak memiliki banyak waktu!"
Wanita itu menatap putra tertuanya. Meskipun Alexander adalah anak kandungnya, tetapi hubungan keduanya tak tak seperti anak dan ibu pada umumnya. Keduanya sama-sama dingin. Bahkan jika orang yang tidak mengetahui, mereka tidak akan mengira jika mereka berdua adalah anak dan ibu.
"Apakah seperti ini caramu memperlakukan orang yang sudah melahirkan dan membesarkanmu?" tanya Murel pada anak tertuanya.
"Bukankah kamu sudah tahu jika aku tidak bisa berbasa-basi? Jika kamu ingin disambut dengan hangat silakan kamu pergi ke tempat anak bungsumu, sudah pasti jika dia akan menyambutmu sesuai dengan keinginanmu."
Murel hanya membuang nafas kasarnya. Dia tahu mengapa Alexander begitu bikin kepada dirinya. Semua ini karena Murel yang meninggalkan Ayah Alexander dan memilih untuk menikah dengan pria lain. Sejak saat itu hubungan antara anak dan ibu itu semakin merenggang. Bahkan semakin sangat jauh ketika sang Ibu memutuskan menikah kembali dengan pria yang lebih berada.
Tiga suami, tiga anak. Itulah yang membuat Alexander merasa marah kepada ibunya, karena.
"Baiklah, Aku tidak akan lama-lama karena aku tahu kamu tidak akan menyukai kedatanganku. Oke, to the point. Jadi kapan kamu akan menikah dengan Neila? Kamu sudah bertunangan sejak tiga tahun lalu tetapi tak kunjung mau menikahinya. Kamu pikir dia jemuran yang harus digantung setiap harinya. Tidak, Alex! Kamu harus segera menikahi Neila secepatnya! Keluarga Neila sudah banyak berinvestasi untuk perusahaan kita. Jangan sampai kamu membuat malu keluarga! Mengerti!" jelas Murel, ibu Alexander dengan panjang lebar.
Alexander tersenyum tipis. Sekalipun ayah Danar terbilang cukup kaya tetapi tak membuat wanita yang telah melahirkannya itu merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Wanita yang haus kekuasaan kini sedang menumbalkan dirinya untuk merogoh kekayaan keluarga Neila, dengan cara menikahkannya dengan Neila. Sungguh sangat miris dengan kerakusan yang dimiliki oleh ibunya.
"Jangan paksa aku untuk mencintai wanita itu karena aku tidak mencintainya. Jika kamu menginginkan kekuasaan yang lebih besar lagi silakan menikah dengan pria yang lebih kaya lagi daripada om Dev. Sampai kapanpun aku tidak akan menikahi wanita itu!" tegas Alexander.
Murel langsung membulatkan matanya dengan lebar saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Alexander kepada dirinya. Bagaimana bisa selama ini Alexander memberikan memberikan harapan palsu padanya.
"Kamu jangan bercanda, Alex! Keluarga Neila sudah banyak berinvestasi di perusahaanmu ini! Aku tidak mau tahu kamu menghancurkan nama baik keluarga kita dan aku juga tidak mau sedikitpun mendengarkan penolakan darimu. Kamu harus menikah dengan Neila!"
"Terserah! Aku tidak peduli dengan nama baik keluarga, karena bagiku nama baik keluarga itu telah hancur saat kamu meninggalkan ayahku lalu menikah kembali dan setelah itu kamu tinggalkan pria itu dan pada akhirnya kamu menikah lagi dengan pria lain. Apakah kamu pikir itu tidak mengajarkan nama baik keluarga? Aku selamat malu memiliki Ibu seperti kamu. Jika sudah tidak ada yang kamu perlukan lagi, silakan keluar dari sini, karena aku masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan daripada berbicara denganmu!" ketus Alexander seraya mengusir ibunya sendiri.
Mendengar kata yang keluar dari mulut, tentu saja Murel merasa sangat marah dan langsung menggebrak meja.
BRAAKK ...
Kamu pikir kamu pantas berbicara seperti itu dengan wanita yang telah melahirkan dan membesarkanmu? Sekalipun Aku adalah orang yang hina, tetapi jangan lupa aku ini adalah ibumu! Ibu yang sudah mengandung melahirkan bahkan merawat dan membesarkanmu hingga sampai ke kamu pintar seperti saat ini. Aku harap kamu tidak lupa dengan asalmu!" Murel pun langsung mengambil tas dan kacamata yang sempat diletakkan di atas meja. Tanpa kata lagi dia langsung meninggalkan ruangan Alexander.
BRAKKK ...
Sebuah pintu dibanting dengan keras oleh Murel saat dia meninggalkan ruangan Alexander.
"Astaga .... " Alexander langsung membuang nafas dengan kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments