Baru dua hari menghabiskan waktunya di Jakarta sudah membuat Alexander merasa gelisah ingin segera kembali ke villa. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nisha, terlebih saat ini Nisha sedang mengandung pewarisnya. Selama hampir dua hari Alexander merenung untuk menemukan sebuah keputusan yang harus diambil. Dan Alexander pun memutuskan untuk bertanggung jawab atas kehamilan Nisha. Bagaimanapun benih yang sedang berkembang di rahim Nisha adalah bibit pertama yang dia semakin. Tidak mungkin dia akan membunuh bibit unggulannya, ya meskipun saat ini Alexander boleh bisa menikahi Nisha, tetapi setidaknya dia bertanggung jawab atas kami Nisha.
"Kamu mau pergi lagi?" tanya Giovanni saat baru tiba di rumah milik Alexander.
"Bukan urusanmu!" ketus Alexander.
"Apakah untuk menemui wanita itu? sebenarnya kau simpan di mana wanitamu itu. Bukankah kamu mengatakan jika akan menjalankan itu? Daripada kamu jual dengan pria baji*ng4n mending kamu jual padaku. aku akan membayar berapapun yang kamu inginkan," ujar Giovanni yang masih menginginkan Nisha.
Mata Alexander kini terlihat merah menyala karena tidak menyukai ucapan Giovanni yang masih menginginkan Nisha.
"Jaga ucapanmu, Gio!" sentak Alexander.
"Sudahlah, berikan saja dia padaku daripada kamu tidak berguna dan terus-menerus kamu siksa!"
Alexander mencoba untuk menahan. saat ini bukan waktu yang tepat untuk mempelajari Giovanni, karena dia harus segera kembali ke villa. Terlebih dia harus mencari keperluan yang dibutuhkan oleh Nisah. Rasanya hanya akan sia-sia saja jika harus meneladani Giovanni.
"Kamu tidak ikut usah campur dalam urusanku. Pikirkan saja bagaimana cara menghadapi ibumu ketika dia memintamu untuk menikah," pungkas Alexander yang langsung meninggalkan Giovanni.
"Alex, tunggu! Apa maksudmu berbicara seperti itu. Apakah kamu tahu rencana nenek Lampir selanjutnya?" Giovanni berteriak Untuk menghentikan langkah Alexander tetapi sayangnya Alexander tidak peduli karena dia langsung menancap gas mobilnya.
Giovanni merasa jika Alexander telah mengetahui rencana ibunya.
"Jangan sampai aku menjadi target selanjutnya. Ini tidak bisa dibiarkan aku harus segera menemui lampir itu!" Giovanni pun langsung meninggalkan rumah minimalis Alexander untuk menuju ke rumah ibunya.
Sama halnya dengan Alexander, hubungan Giovanni dengan ibunya tidaklah baik, karena sang ibu yang dianggapnya harta sehingga melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Termasuk dengan cara menjodohkan anaknya dengan anak target yang sedang diinjaknya.
*
*
Perjalanan yang begitu melelahkan karena harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Dan kini tibalah Alexander di villa pribadi miliknya yang berada di puncak.
kedatangannya yang telah disambut oleh para pelayan tak terkecuali wanita yang dipanggil Bi Suri. Melihat tuannya yang telah datang wanita itu langsung mendekat dan menyambutnya dengan hangat.
"Selamat malam tuan, silahkan beristirahat. kami telah menyiapkan segala keperluan anda," ucap madam Suri.
"Selamat malam juga. Apakah wanita itu sudah tidur?" tanya Alexander yang ingin tahu sedang apa Nisha saat ini.
"Kemungkinan belum tidur. Setelah diprediksi hamil nona Nisha memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Apakah tuan telah membawa apa yang saya minta?"
"Iya. Aku sudah membawanya. Ambilah ada di dalam mobil!" Setelah menyerahkan kunci mobilnya kepada Madam Suri, Alexander pun langsung melenggang masuk ke dalam rumah. Tujuan utamanya saat ini adalah kamar Nisha. Dua tidak melihatnya saja sudah membuatnya penasaran dengan keadaan wanita itu. Saat dibuka pintu, mata Alexander menangkap sosok Nisha yang sedang salat. Tiba-tiba hatinya menciut. Hampir 25 tahun dia tidak pernah lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu sholat. Bahkan di hari lebaran pun Alexander tak pernah mengikuti sholat Ied. Dengan pelan dia memilih untuk menutup pintunya kembali.
Langkahnya terlihat gontai untuk masuk ke dalam kamarnya. Seketika saja rasa hatinya seperti sedang tertampar. Sekalipun dia telah menyiksa Nisha berulang kali, tetapi dia tetap ingat pada Tuhannya. Lalu bagaimana dengan dirinya yang melupakan Tuhannya sejak 25 tahun yang lalu?
"Apa yang telah aku lakukan dan apa sebenarnya yang aku inginkan dari wanita itu? Seharusnya aku tidak perlu menahannya dan tak seharusnya juga aku menodainya. Seharusnya yang Aku membenci Toyib, bukan membenci wanita yang tak berdosa." Tiba-tiba Alexander menyadari akan kesalahan yang telah dia lakukan.
Cukup lama Alexander merenung di dalam kamar sebelum dia menemui Nisha. Namun sepertinya Alexander terlambat untuk meminta maaf kepada Nisha, karena selain sedang dicari oleh Danar, Nisha pasti akan dicari oleh ibunya, karena dianggap menjadi penyebab Alexander tidak mau menikahi Neila.
"Apakah selamanya aku akan mengurung Nisha tempat ini? Argh... Alexander, apakah kamu sekarang sudah gila? Kenapa kamu berpikir berlebihan? Dimana kekuasaan yang kamu miliki?" gerutu Alexander.
Disisi lain madam Suri telah sudah membawa sebuah alat untuk memastikan apakah Nisha benar-benar sedang positif atau tidak. Namun, madam Suri harus menggelengkan kepalanya ketika melihat satu pack alat tespek yang telah dibeli oleh Alexander. Padahal dia hanya membutuhkan satu atau dua alat tespek untuk memastikan saja.
"Astaga ... untuk apa alat sebanyak ini jika pada akhirnya hanya satu atau dua yang digunakan? Dijual lagi pun tidak ada yang mau membelinya. Tidak mungkin dijual kepada monkey monkey yang berkeliaran di samping rumah," gerutu madam Suri ingin mengambil tespek untuk diberikan kepada Nisha.
Tok tok tok
Tiga ketukan pintu mendarat di pintu kamar Nisha. Madam Suri masih bersabar menunggu pintu dibuka dari dalam.
Nisha yang masih menggunakan mukena membuka pintu. Dilihatnya pemadam sorry telah berdiri di depannya. "Ada apa, Madam?"
"Apakah nona Nisha sedang sibuk?" bukannya menjawab pertanyaan Nisha, tetapi macam Suri malah memberikan pertanyaan pada Nisha.
"Tidak. Aku tidak sedang sibuk. Aku baru saja siap melakukan shalat. Ada apa?"
Madam Suri pun langsung masuk ke dalam kamar Nisha dan memberikan sebuah alat untuk mengetes apakah saat ini bisa benar-benar sedang hamil atau tidak.
"Coba kamu pastikan dulu apakah kamu memang sedang hamil atau tidak?" Madam Suri menyerahkan alat itu kepada Nisha.
"Ini kan .... ?" Nisha tak melanjutkan ucapannya dan memilih untuk langsung mengeceknya agar dirinya tahu apakah saat ini dia sedang hamil atau tidak. Namun dalam hati bisa berharap jika saat ini dia tidak sedang hamil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Sinar Mentari
tetap semangat thor nulisnya... itu bnyak typo jd rancu bacanya...
2023-09-04
0