Ingin rasanya Nisha tengelam ke tengah laut agar tak ada yang bisa melihat dirinya saat ini. Bagaimana tidak, saat ini dia dipaksa untuk memakai pakaian kurang bahan hingga memperlihatkan tubuhnya yang semula tertutup oleh pakaian syar'i-nya. Air matanya terus mengalir sepanjang perjalanan menuju ke tempat yang telah ditentukan oleh Alexander.
"Sudah jangan menangis nanti make up yang kamu gunakan luntur! Aku tidak mau pria tua itu berbalik arah dan tidak tertarik kepadanya! Jangan sampai kamu membuatku malu dan kehilangan wajahku!"
Tak ada kata yang keluar dari bibir Nisha. Saat ini dirinya benar-benar telah hina. Tak ada lagi gunanya untuk tetap bertahan hidup. Jika bisa meminta, Nisha ingin malaikat segera menjemputnya saat ini juga agar dia tidak ternoda lagi.
"Ayo turun!" titah Alexander setelah sampai ditempat tujuannya.
Nisha membeku. Dia tidak ingin beranjak dari tempat duduknya. Bagaimana bisa Nisha akan memamerkan anggota tubuhnya pada semua orang. Anggota tubuh yang sehat hanya milik sang suami, kini harus dipertontonkan kepada orang banyak.
"Jangan sampai membuatku marah dan melakukan kekerasan kepadamu, Nisha. Ayo turun!"
"Tuan ... ku mohon. Aku bisa melakukan apa saja yang Anda perintahkan, tapi tolong jangan menyuruhku untuk melakukan pekerjaan ini. Aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan pakaian ini." Nisha mengiba pada Alexander, berharap pria itu bermurah hati untuk mencabut keinginan.
Namun, Alexander, tetaplah Alexander yang tidak bisa terbantahkan. Bahkan tak ada satu orang pun yang mampu untuk menghentikan keinginannya.
Dia tidak peduli dengan Nisha yang tidak mau berjalan untuk masuk kedalam sebuah hotel. Dengan terpaksa, Alexander pun menyeretnya dengan paksa. "Sudah aku katakan jangan membuatku marah, tapi kamu masih saja membuatku marah!"
Ya Allah ampunilah segera dosa-dosa ini. Sungguh aku tidak bisa lari dari pria baji*ngan ini.
Kedatangan Alexander ternyata disambut oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Tubuhnya tegap, dan wajahnya sedikit sangar. Siapa lagi jika bukan bodyguard dari kliennya
"Selamat siang Tuan Alex, Anda sudah ditunggu oleh Tuan Lien. Mari saya antar." Salah seorang bodyguard itu menyambut kedatangan Alexander. Setengah menyeret lengan Nisha, Alexander berjalan lebih dahulu ketimbang sang bodyguard untuk menuju ke kamar kliennya.
Dan didalam sebuah kamar, terlihat seorang pria tengah baya. Kumis tebal serta perut yang terlihat buncit telah menunggu kedatangan Alexander.
Seketika senyuman mengembang luas saat Alexander sudah berjalan mendekat. "Selamat siang Tuan Lien," sapa Alexander.
Pria yang disapa Tuan Lien langsung menyambut kedatangan Alexander. "Selamat siang juga. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Silahkan duduk." Tuan Lien menyilahkan Alexander untuk duduk. Karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama, Alexander segera memperkenalkan Nisha kepada Tuan Lien.
"Bagaimana, Tuan Lien apakah wanita ini terlihat cantik? Apakah Anda menyukainya?"
Mata Tua Lien mempertajam penglihatannya saat melihat seorang wanita yang berada di samping Alexander. Sungguh daun mudah yang masih mengairahkan. Bibir Tuan Lien pun tersenyum kecil. Tentu saja dia sangat menyukai. Bagaimana bisa Soekor kucing diberikan ikan asin mau di tolak. Tentu saja tidak.
"Sangat cantik. Apakah ini adalah sebuah taktik? Sekarang apa yang kamu inginkan?" tanya Tuan Lien yang sudah tahu niat dari Alexander.
Alexander tertawa pelan. "Anda tau saja. Tidak muluk-muluk, Tun Lien. Saya hanya ingin Anda mau bekerjasama dengan perusahaan saya. Saya akan menjamin jika hidup Anda akan lebih berwarna ketika bekerjasama dengan saya karena saya akan memberikan Anda yang segar-segar. Bagaimana?" tawar Alexander.
Alexander sudah tahu titik lemah Tuan Lien yang tidak bisa jauh dari sentuhan seorang wanita.
Sejenak pria berkumis tebal itu menatap lekat tubuh Nisha yang terlihat sangat mulus. Bahkan kulitnya sangat putih. Bahkan rambutnya terlihat lebih berkilau layaknya seorang bintang iklan di televisi.
"Anda tenang saja meskipun dia sudah tidak perawan tetapi saya bisa bisa menjamin jika rasanya masih seperti perawan," lanjut Alexander lagi.
Tuan Lien hanya bisa menelan ludahnya. Saat ini dia sudah terpana dengan kecantikan alam yang dimiliki oleh wanita yang berada disamping Alexander.
"Oke. Aku kan bekerjasama dengan perusahaanmu, tapi dengan jaminan pelayanan yang sangat memuaskan. Bagaimana?"
Alexander tersenyum tipis. "Tidak masalah, yang penting tanda tangan dulu." Alexander segera menyerahkan sebuah file yang membutuhkan tanda tangan Tuan Lien.
Tuan Lien pun langsung memberikan tanda tangan pada tempat yang dibutuhkan tanpa ingin membacanya terlebih dahulu., karena saat ini yang berada dalam pikirannya hanya segera memiliki wanita yang berada di samping Alexander.
"Sudah!" ucap Tuan Lien dengan puas setelah selesai memberikan tanda tangannya di beberapa file yang membutuhkan tanda tangannya.
"Baiklah, deal!" Alexander mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada tuan Lien sebagai tanda sah karena saat ini keduanya kelak menjalin sebuah kerjasama.
"Deal!" Tuan Lien menyahut sambil menjabat tangan Alexander.
"Baiklah, saat ini wanita ini telah menjadi milik Anda. Terserah ingin Anda apakah, saya sudah lepas tangan," ujar Alexander yang merasa sangat puas karena telah berhasil mendapatkan tanda tangan dari tuan Lien.
"Nisha, Kamu harus ingat apa yang aku katakan tadi. Kamu tidak boleh mengecewakan tuan Lien. Mengerti. Jika sampai kamu mengecewakan, nyawa kamu yang akan menjadi taruhannya!" ancam Alexander sebelum meninggalkan kamar hotel tuan Lien.
"Tuan, ku mohon... " Nisha terlihat begitu mengiba pada Alexander. Namun, rasanya BB hanya percuma saja karena Alexander sama sekali tidak peduli.
Setelah kepergian Alexander, Tuan Lien langsung mendekat pada Nisha. Tangannya mulai menyentuh tangan yang kemudian naik ke bahu. Rasanya begitu halus.
"Sayang, aku lihat kamu masih muda. Apakah kamu sudah pernah melakukan sebelumnya. Apakah kamu sudah berpengalaman? Jika belum, tidak apa-apa. Aku yang akan memegang kendali untuk permainan kita," bisik Tuan Lien tepat di telinga Nisha.
Sungguh Nisha merasa sangat hina. Dia merasa tidak pantas lagi untuk hidup karena tubuhnya telah di pertontonkan begitu saja. Bahkan beberapa tangan telah menyentuhnya.
"Kamu tidak usah gugup. Oh iya kamu tunggu di atas tempat tidur saja aku ingin ke kamar mandi sebentar."
Setelah Tuan Lien berlalu ke kamar mandi, diam-diam Nisha mencoba untuk keluar dengan langkahnya yang sangat pelan. Beruntung saja pintu belum terkunci sehingga Nisha bisa keluar. Namun, sebelum keluar, Nisha melihat apakah situasi aman atau tidak, mengingat Tuan Lien mempunyai bodyguard.
"Ya Allah, tolong bantu hamba-Mu ini untuk keluar dari tempat ini. Sungguh hamba tidak rela jika tubuh hamba ternoda lagi. Cukup satu kali saja hamba ternoda. Ya Allah, tolong bantu hamba-Mu ini."
...~BERSAMBUNG~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Pujiastuti
semoga Nisha lolos dan selamat serta ada yang menolong Nisha,,,
2023-04-01
1