Setelah kejadian malam itu Alexander tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Selama itu juga Nisha tidak diizinkan untuk keluar dari kamar. Semua yang diperlukan oleh Nisha telah disiapkan oleh para pelayan. Rasanya saat ini Nisha seperti terkurung di dalam penjara. Entah apa yang diinginkan oleh Alexander sehingga dia mengurung Nisha di dalam kamar.
"Nona, apakah Anda membutuhkan sesuatu lagi?" tanya seorang pelayan saat menghidangkan makan malam di kamar Nisha.
"Tidak ada. Pelayan bisakah aku meminta tolong kepadamu?"
"Apa itu, Nona?"
"Bisakah kamu membantuku untuk keluar dari tempat ini? Aku tidak mau menjadi seorang tawanan pria ba*ji*nan itu," ucap Nisha.
"Maaf Nona, saya tidak bisa. Dengan membantu Anda keluar dari tempat ini itu sama saja mengantarkan saya ke neraka. Saya tidak bisa, Nona. Tapi saran saya, menurutlah kepada Tuan Alex. Beliau tidak akan menyakiti Anda jika anda menurut. Namun, Anda memberontak Beliau tidak segan-segan untuk menyakiti anda," ucap pelayan itu.
"Kenapa aku harus menurut kepada dia? Dia sudah menghancurkan masa depanku. Dia hanya akan menjadikan aku budak pelampiasan hasratnya saja. Dan tidak mau. Pelayan... tolonglah." Nisha benar-benar sangat mengiba kepada salah seorang pelayan. Namun, semua hanya sia-sia saja karena pelayanan itu tidak bisa membantu Nisha.
Malam pun berlalu. Nisha mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, tetap saja tidak bisa tertidur. Hawa panas seketika memenuhi kamarnya sekalipun ACC sudah dinyalakan.
"Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba menjadi gerah?" Nisha pun membuka hijab yang menutup kepalanya. Semenjak berada di rumah Alexander, Nisha tidak pernah membuka hijabnya saat tidur. Meskipun dia sudah kotor, tetapi dia tetap menjaga auratnya.
Derap langkah pun samar-samar terdengar. Semakin lama semakin dekat, hingga akhirnya seseorang mematikan sakral lampu kamar. Tentu saja Nisha merasa sangat panik. Terlebih ada bayangan yang kian mendekat kearahnya.
"Kamu siapa?" teriak Nisha dengan penuh ketakutan.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Malam ini aku akan mendinginkan tubuhmu." Suara seorang pria tepat di telinga Nisha.
"Jangan macam-macam kamu! Pergi!" bentak Nisha dengan kuat.
Suara tawa pun menggema di kamar. Bahkan pria itu sudah berhasil menindih tubuh Nisha.
"Sekalipun kamu berteriak dengan kuat tetap tidak akan ada yang bisa mendengarnya. Berteriaklah sekuat mungkin!"
Nisha terus memberontak dengan isak tangisnya. Sungguh Nisha tidak rela jika tubuhnya di sentuh lagi oleh pria ba.ji.ngan. Dengan kekuatan yang dimiliki Nisha langsung menendang pria itu dengan kuat tepat di pusakanya hingga membuat pria itu terjungkal ke lantai.
Tentu saja pria itu meringis kesakitan. "Kurang ajar!" umpatnya yang mencoba untuk bangkit.
Nisha yang merasa sangat ketakutan berusaha untuk keluar dari kamar. Namun, karena keadaan gelap kaki Nisha tersandung oleh kaki pria yang hendak berbuat jahat kepada dirinya.
Menyadari jika saat ini Nisha terjatuh tepat di sampingnya, pria itu langsung bergegas untuk menindih tubuh Nisha. "Berani sekali kamu telah menendang pusaka milikku! Sekarang rasakan pembalasanku!"
Kali ini Nisha tidak bisa berbuat apa-apa karena kekuatan yang dimiliki oleh pria sangatlah kuat. Kedua tangannya telah dikunci oleh oleh pria itu. Hanya air mata yang menetes karena tidak bisa melakukan perlawanan.
Ya Allah, dosa apa yang telah hamba lakukan sehingga tubuh hamba harus di sentuh oleh pria ba*ji*ngan seperti ini. Sungguh hamba tidak rela, Ya Allah. Jika malam ini hamba harus tersentuh lagi, mungkin ini adalah akhir dari hidup hamba. Ya Allah Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang setiap umat. Ampunilah dosa hamba Ya Allah.
Nisha sudah pasrah jika malam ini dirinya akan ternoda lagi, namun setelah ini Nisha akan memilih untuk mengakhiri hidupnya, karena dia sudah kehilangan kehormatannya.
Mata Nisha terus memejamkan hingga akhirnya Nisha harus menahan nafas ketika pria itu malah jatuh diatas tubuhnya. Tak berselang lama lampu kembali menyala dan dua orang telah menyeret pria yang berada diatas tubuhnya karena sudah tak sadarkan diri.
Dengan sigap Nisha langsung duduk sambil memeluk lututnya untuk menutupi bagian yang telah di robek oleh pria tadi.
"Bersyukurlah aku tidak terlambat. Lain kali kunci pintu sebelum tidur!" Tangan Alexander meraih selimut yang berada diatas ranjang. Dengan cepat dia langsung menutupkan ke tubuh Nisha. Melihat wajah Nisha yang memerah dada Alexander naik turun tidak karuan. Tangannya menggenggam dengan kuat bahkan giginya pun telah menggertak.
Entah mendapat dorongan darimana, tangan Alexander terulur untuk mengangkat tubuh Nisha. Namun bukan untuk dibawa ke tempat tidur melainkan dibawa ke kamar mandi.
Tak ada perlawanan dari Nisha karena dirinya sudah merasa hina. Rasanya sudah tidak punya harga diri sebagai seorang wanita.
Alexander langsung meletakkan tubuh Nisha disebuah bathtub dan langsung menyalakan shower untuk mengguyur tubuh Nisha. Tak ada yang bisa Nisha lakukan selain terisak dalam tangisnya.
Cukup lama Alexander merendam tubuh Nisha dengan air dingin, dengan harapan pengaruh obat yang berada ditubuh Nisha menghilang. Sebenarnya dia bisa memberikan penawarannya, namun melihat Nisha yang tak berdaya rasanya Alexander tidaklah tega.
Setelah dirasa cukup, Alexander melemparkan sebuah handuk ke wajah Nisha. "Buka bajumu, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan pakaianmu!"
...💜 Bersambung 💜...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.
Kirain alex...
Trua sp tuuh...apa jgn" msuh alex...
2023-04-22
0
Ratih Novitasari
aneh banget rumah alexander koq ga aman gt gampang orang keluar masuk mau berbiat jahat?
2023-03-27
1
Bang Harahap
lanjut kak thor
2023-03-26
1