Mata Alexander menatap tajam kearah pria yang hampir saja menodai Nisha.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh wanita itu?"
Pria itu tertunda dengan lemah. Dia tidak akan menyangka jika Alexander akan datang. Padahal selama beberapa hari Alexander tidak pernah mengunjungi salah satu rumah miliknya.
"Aku sedang bertanya. Apakah kamu mendadak tuli?"
Giovanni, pria yang tak lain adalah adiknya dari Alexander masih membisu tanpa kata. Dia menyadari apa yang telah dilakukannya adalah kesalahan paling fatal yang pasti tidak akan mendapatkan maaf dari sang kakak.
"Gio, aku sedang bertanya!" teriak Alexander dengan dada naik turun karena menahan amarahnya. Merasa diabaikan, tangan Alexander segera melayangkan sebuah tinjuan di perut Gio.
"Begitu banyaknya wanita di luar sana bisa-bisanya kamu ingin memakai wanita yang ada di rumah ini. Dasar adik kurang ajar kamu!" Tinjuan kuat menghantam perut Gio lagi.
"Kak!" Satu kata yang keluar dari bibir Gio. "Aku tidak tahu jika itu adalah wanita milikmu karena aku mendengar dari paman Jey jika wanita itu akan kamu jual. Jadi aku ingin ... " Belum sempat Gio menyelesaikan ucapannya, satu pukulan keras melayang ke pipi Gio.
"Jaga ucapan kamu, Gi! sudah aku katakan berulang kali kepadamu jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Apapun yang aku lakukan itu bukan urusan kamu! Sekali lagi kamu berani menyentuh Nisha, meskipun hanya seujung kuku saja, aku pastikan untuk mematahkan tanganmu!" Amarah Alexander sudah tak terbendung lagi.
"Satu lagi, mulai detik ini kamu tidak diizinkan untuk menginjakkan kakimu di rumah ini apapun alasannya! Jika kamu masih berani datang ke sini lagi aku tidak akan segan untuk memudahkan kamu. Apakah kamu mengerti, Gi?" Ancam Alexander.
Tangan Gio mengusap bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat didamprat oleh Alexander. Bagi Gio rasa sakit yang dirasakan itu tidaklah seberapa karena dia sudah kebal akan rasa sakit yang dirasakannya.
Setelah memberikan sedikit pelajaran kepada Gio, Alexander langsung menemui Nisha di dalam kamarnya. Beruntung saja dia datang tepat pada waktunya. Jika tidak, busa dipastikan detik ini juga dia bisa membunuh Gio, sekalipun Gio adalah adiknya sendiri.
Saat pintu dibuka, mata Alexander langsung menangkap Nisha yang sudah terbaring di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga batas leher. Bahunya naik turun bahkan isak tangisnya samar-samar terdengar.
"Jangan menangis! Tidurlah, sekarang kamu sudah aman!" Suara Alexander memecahkan keheningan malam.
Alexander naik keatas tempat tidur. Tangannya merangkul Nisha yang masih sesenggukan. Tak ada perlawanan dari Nisha. Wanita itu merasa hidupnya sudah tak berarti lagi.
Malam panjang menghanyutkan Nisha pada mimpinya, hingga lantunan suara adzan dari ponselnya telah berbunyi. Itu artinya waktu subuh telah tiba.
Perlahan Nisha membuka mata. Sejenak ingatan tentang pria yang hendak merusak kembali terngiang-ngiang dalam ingatan. Ingin rasanya berteriak sekuat mungkin, namun Nisha semua itu hanya tertahan dalam hati.
Saat Nisha ingin beranjak dari tempat tidurnya sekilas dia mengingat jika tadi malam Alexander datang padanya dan tidur di sampingnya. Namun, saat Nisha melihat ke samping sosok Alexander sudah tidak ada. Tak ingin memikirkan tentang Alexander, Nisha pun memilih untuk ke kamar mandi.
Meskipun Nisha sudah tak lagi suci, tetapi dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu mengerjakan sholat lima waktu. Dalam doanya, Nisha selalu meminta ampun atas dirinya yang sudah kotor. Bahkan Nisha selalu berdoa agar diberikan celah untuk keluar dari rumah Alexander.
Selesai sholat, Nisha langsung membuka pintu balkon. Udara pagi yang terasa dingin menembus hingga ke tulang-tulangnya. Sudah satu Minggu Nisha berada di dalam rumah itu dan entah apa yang akan dilakukan Alexander padanya setelah ini.
Menatap pada langit yang sudah mulai berwarna keemasan, Nisha berdoa agar dirinya bisa segera keluar dari rumah mewah ini secepatnya.
Larut dalam lamunannya, tiba-tiba seorang datang mengagetkan dirinya. "Anda sudah bangun, Nona? Apakah ada yang Anda butuhkan?"
Nisha langsung menoleh kebelakang. Dirinya merasa heran pada seorang pelayan yang berada dihadapannya karena terlihat asing baginya. Selama satu Minggu di rumah ini, tentu saja Nisha sudah bisa menghafal wajah para pelayan yang melayaninya.
"Kamu pelayan baru?" tanya Nisha dengan rasa penasarannya.
"Iya Nona. Saya pelayan baru. Mulai hari ini saya yang akan melayani Anda."
Karena Nisha tidak peduli, dia pun tidak mempertanyakan kemana pelayan lama dan mengapa diganti secara tiba-tiba.
"Oh." Nisha mendengkus pelan.
Nisha yang bisanya akan sarapan di dalam kamar, tiba-tiba di panggil seorang pelayan untuk makan di meja maka dengan Tuan-nya.
Jadi pria itu ada disini dan tadi malam itu bukan mimpi? batin Nisha.
Sebenarnya untuk melihat wajah Alexander rasanya sangat mual, tetapi Nisha tak punya pilihan lagi. Untuk saat ini dia harus menuruti apa yang diucapkan oleh pria itu. Berharap pria itu memiliki sedikit hati dan mau untuk melepaskan dirinya.
"Bagaimana tidurmu malam ini?" tanya Alexander tanpa menatap Nisha yang sudah menari sebuah kursi di depannya.
"Biasa saja."
"Baguslah. Untuk kejadian tadi malam, lupakan saja! Aku sudah menanganinya."
"Iya." Satu kata yang begitu berat untuk Nisha. Bagaimana mungkin Nisha bisa melupakan begitu saja kejadian yang hampir membuatnya merasa hina lagi. Belum sembuh luka lama sudah harus terluka lagi.
"Oh iya, setelah makan kamu harus bersiap karena aku akan bertemu dengan orang penting. Dan aku menyuruhmu untuk melayaninya agar orang itu mau menandatangani kontrak kerja denganku. Jika kamu berhasil aku akan memberikan sedikit bonus untukmu. Satu lagi, aku tidak mau mendengar kata gagal!"ancam Alexander.
...#BERSAMBUNG#...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
💘💞Ratunya Bo Qingang💕💘.
Jgn nyesel ama ucapanmu...
2023-04-22
0
Pujiastuti
ya Allah nasibmu sungguh malang Nisa semoga ada pertolongan yang diturunkan sama Allah untukmu Nisa
2023-03-30
1