Rasanya Yuji tak memiliki semangat lagi saat ini. Pagi hari itu dia memutuskan untuk segera pulang ke kontrakan kecilnya, karena saat ini dia sudah tidak sekolah lagi. Dan kepulangannya kali ini cukup membuat sang adik sangat keheranan.
"Kak Yuji kenapa sudah pulang? Bukankah ini masih hari Kamis? Seharusnya kakak masih sekolah bukan?" tanya seorang gadis yang sudah mengenakan seragam SMP dan sudah bersiap untuk berangkat ke sekolahannya. Dan entah mengapa hari ini wajahnya terlihat sedikit lebih pucat.
"Hhm? Kebetulan guru kelas kakak sedang tidak hadir karena berhalangan. Jadi kelas kakak diliburkan hari ini. Kamu sudah sarapan? Kakak membelikan sarapan untukmu dibawa ke sekolahan. Makanlah ..." Yuji memberikan sebuah bingkisan beraroma gurih dan manis untuk Yor.
"Wah. Terima kasih banyak, Kak. Apa kakak sudah makan? Kita bagi 2 saja ya kak!" ucap Yor bersemangat.
"Tidak, Yor. Kakak sudah makan dan masih sangat kenyang kok. Lagipula bekal ini kakak beli untukmu kok." ucap Yuji dengan hangat.
"Eeehh? Wajah kakak mengapa banyak lebam dan luka memar seperti ini?" tanya Yor yang baru saja menyadari jika wajah kakaknya yang saat ini penuh dengan lebam dan memar.
"Oh. Tadi kakak terjatuh dari tangga saja kok. Jangan khawatirkan kakak dan segera berangkatlah ke sekolah, atau nanti kamu bisa terlambat lo." ucap Yuji sembari mendorong tubuh sang adik menuju pintu keluar, agar tidak banyak mengintrogasinya lagi.
...🍁🍁🍁...
Hari ini Yuji hanya menghabiskan waktunya untuk membersihkan kontrakan kecilnya dan memasak sesuatu untuk dirinya dan sang adik.
Namun sudah sore sang adik juga belum pulang ke rumah. Hal ini cukup membuatnya kebingungan, karena ponsel adiknya juga sedang tidak aktif saat ini. Hingga dia tak tau kemana harus mencari sang adik.
"Kemana Yor pergi ya? Tidak biasanya dia seperti ini. Apa sesuatu telah terjadi padanya?" gumam Yuji masih terlihat sangat khawatir.
DRRTT ...
Ponsel Yuji bergetar dan dia segera mengangkat panggilan dari salah satu temannya.
"Hallo, ada apa Jin?" sapa Yuji setelah pemuda mengangkat panggilan itu.
"Yuji!! Yor sedang dirawat di rumah sakit! Kamu cepatlah datang! Aku akan mengirimkan alamatnya untukmu!"
Jin mengakhiri panggilan itu dan segera mengirimkan sebuah alamat untuk Yuji. Yuji yang sangat panik karena mengkhawatirkan sang adik kini segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit.
.
.
.
.
.
"Nona Yor sudah menderita kanker paru stadium akhir. Kanker paru ini sudah menyebar dan berukuran cukup besar. Tindakan oprasi harus segera dilakukan. Kami akan melakukan pembedahan lobektomi untuk mengangkat sebagian paru-paru, setelah tuan Yuji mengurus administrasi." ucap seorang pria dengan almamater putihnya ketika Yuji menanyakan kondisi sang adik.
"Berapa biaya untuk oprasinya, Dok?"
"1.400.000 yen ( kira-kira 150 juta rupiah)."
Yuji mematung seketika saat mendengarkan nominal yang cukup besar itu. Tubuhnya seakan menjadi lemas. Dia kebingungan harus mendapatkan uang tersebut darimana? Sementara uang untuk makan saja pas-pasan.
"Dokter, apakah oprasi bisa tetap dilakukan jika aku membayarnya dengan mencicil?"
"Maaf, tidak bisa. Saya harus memeriksa pasien lainnya lagi. Jika sudah membayar administrasi, tuan Yuji bisa langsung memberitahu saya. Permisi." ucap sang dokter lalu berlalu meninggalkan Yuji.
Yuji memutuskan untuk mencari pinjaman kepada teman-temannya, namun tak ada satupun yang mau untuk meminjaminya. Nominal itu sangat besar, tentu saja mereka berpikiran jika Yuji tak akan pernah bisa melunasinya.
Hingga akhirnya Yuji memberanikan diri untuk menemui pamannya yang juga tinggal di prefektur Yokohama. Adik dari sang ayah dan satu-satunya keluarga yang masih ada, namun selama ini mereka selalu menjaga jarak dengan Yuji dan Yor, karena khawatir akan merasa direpotkan.
"Ada apa kamu datang ke rumahku?! Apa kamu mau meminjam uang?! Tidak ada!! Aku tidak punya uang!!" tandas seorang pria dewasa yang tak lain adalah paman Yuji seolah sudah bisa membaca niat Yuji datang ke rumahnya hanya untuk meminjam uang saja.
"Pa-paman ... paman benar. Aku ... sedang membutuhkan uang. Dan aku sedang kebingungan saat ini. Aku membutuhkan uang sebesar.1.400.000 yen. Bolehkah aku meminjamnya dari paman? Aku berjanji, aku akan segera mengembalikannya. Aku membutuhkan uang itu untuk oprasi Yor, Paman. Tolong, Paman ... sekali ini bantulah kami." ucap Yuji penuh harap.
"Apa?! 1.400.000 yen??! Kamu pikir uang hanya tinggal memetik saja dari pohon ya?! Tidak ada!! Kami tidak punya uang sebanyak itu!!" tandas sang paman terlihat sangat emosi.
"Sudahlah!! Jika memang tidak punya punya uang, janganlah memaksakan diri!! Sampai kapanpun kamu tak akan pernah bisa mendapatkan uang sebanyak itu!! Mau kamu meminjam kepadaku, kamu tak akan pernah bisa untuk menggantinya!! Karena kamu sangatlah miskin!!" tandas sang paman seolah tak berhati.
"Tapi, Paman ... Yor harus segera dioprasi. Tolonglah sekali ini saja, Paman ..." ucap Yuji memohon.
"Sudah! Sudah!! Sebaiknya kamu segera meninggalkan rumahku!! Kami ingin segera istirahat!!"
BLAMMM ...
Sang paman mendorong tubuh Yuji dan menutup pintu rumahnya dengan sangat keras.
Yuji semakin merasa kebingungan untuk mencari uang tersebut, tak ada satupun dari teman maupun keluarganya yang bersedia untuk meminjamkan uang sepeserpun untuknya.
Dia kembali ke rumah sakit dengan perasaan tak karuan. Namun betapa mendapatkan sebuah cambuk terkuat di sepanjang hidupnya, ketika dia sudah kembali ke rumah sakit dia mendapati adiknya yang sudah meninggal karena tak segera mendapatkan penanganan.
Karena sebenarnya oprasi itu seharusnya segera dilakukan karena kondisi Yor yang sudah memburuk. Meskipun sebenarnya oprasi itu tak menjamin sepenuhnya kesembuhan untuk Yor, namun setidaknya oprasi itu akan memperlambat kematiannya.
"Yorrrrrrrrr!!" Yuji merasa sangat terpukul atas kepergian adiknya, satu-satunya orang yang paling berharga untuknya saat ini, teman hidupnya, dan semangat hidupnya.
Hanya karena semua orang yang tidak mempercayainya dan tidak meminjamkan uang untuknya, sekalipun itu adalah pamannya sendiri, kini Yuji telah kehilangan Yor untuk selama-lamanya!
Seakan tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya sendiri, tubuh Yuji ambruk tak bertenaga. Dunianya seakan menjadi ambruk dan hancur seketika. Dunianya menjadi gelap seketika setelah kepergian Yor.
Lelehan air mata hangat itu mulai terjatuh membasahi pipinya. Dan dia masih terduduk di sebelah brankar dimana sang adik sudah terbujur kaku di atasnya.
Ini semua gara-gara kalian!! Kalian semua orang tamak dan brengsek!! Gara-gara kalian aku kehilangan adikku!! Gara-gara kalian aku kehilangan Yor!!! Kalian manusia tak memiliki haati nurani!! Menyandang sebagai ketua perlindungan anak, tapi pada kenyataannya sangat busuk dan tidak berhati!!
Batin Yuji merasa sangat frustasi dan memaki pamannya. Dia menghantamkan tinjunya tepat di tembok di hadapannya hingga buku-buku tangannya terluka dan berdarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
🔵❤️⃟Wᵃf🇸🇦🇷🇦🇸①
kok tega paman Yuji tdk bantu kponkn sendiri ?
2025-02-05
0
irenxmanis
hmmm
2024-08-08
1
Deptiana Deptiana
nah yg ini juga melanggar HAM, hayo yg suka koar koar HAM,😚😁
2024-04-30
4