...Halo😀😀😀, selamat datang di bab yang ke 3. Semoga kalian suka yah, jangan lupa untuk dukung author....
...HAPPY READING❤...
...****************...
"Anda yakin turun di sini nona Clarie?"
"Ya tuan, saya akan turun di sini saja. Jika anda mengantar saya sampai ke depan pintu rumah, emm...mungkin Anda bisa dalam masalah. Saya tidak mau merepotkan anda dan anggota kelurga anda yang lain. Terima kasih untuk hari ini," Clarie tersenyum kepada Ben, lalu keluar dari mobil.
Hari ini, berkat keramahan keluarga Ben, laki-laki yang merawatnya saat mabuk kemarin. Clarie bisa memperbaiki suasana hati yang buruk, apalagi belakangan ini banyak masalah yang berdatangan.
Saat beberapa langkah meninggalkan halte bus, Martin menyusul Clarie dengan berteriak. "Kakak! Kakak! Tunggu sebentar!" Teriak Martin.
Clarie yang merasa terpanggil, segera berhenti dan menoleh ke arah asal suara. Saat dia tahu bahwa yang memanggilnya adalah Martin, bocah berusia 14 tahun.
"Ya Martin? Ada apa kamu menyusul kakak?" Tanya Clarie dengan sebuah senyuman kecil.
"Kalau kakak cantik punya masalah atau sedang khawatir, kakak bisa telepon aku. Ini, jangan lupa kalau sudah sampai di rumah beri tahu aku. Hati-hati!" Setelah memberikan selembar keras yang berisikan tulisan nomor hp, Martin segera kembali ke Deo dan menghilang.
Jika ada masalah atau khawatir? Aku khawatir setiap saat.
Setelah sampai di rumah...
"Clarie, kemana saja kamu semalam nak? Kami benar-benar minta maaf, kami tidak bermaksud mengusirmu dari rumah ini," isak papa dan mama Clarie sembari memeluk tubuh putri mereka.
"Cih, dasar menyebalkan." Bisik Rena, adik angkat Clarie dengan berbisik.
Setelah merasa cukup memeluk putri mereka yang tidak pulang satu malam satu hari, akhirnya papa dan mama Clarie melepaskan pelukan mereka.
"Nak, kemana semalam kamu pergi? Lalu, ini baju siapa?" Tanya papa Clarie sambil memandangi putrinya yang nampak sedikit berubah.
"Em, ta...tadi malam aku menginap di rumah temanku. Dan baju ini, dia memberikannya untukku,"
Rena mendegus kesal, "Kakak punya teman? Kenapa tidak pernah dibawa ke rumah? Setidaknya beri tahu kami, benar bukan Papa, Mama?"
Clarie diam, dia tau pertanyaan ini akan menjebaknya. "Em, bolehkah aku ke kamar? Aku ingin beristirahat,"
"Kau sudah makan sayang? Mama baru saja membuat sandwhich,"
"Aku sudah makan," Jawab Clarie, lalu buru-buru pergi ke kamar.
......................
"Kenapa kamu meneleponku lagi? Bukankah sudah aku peringatkan untuk tidak menghubungiku lagi," kata Ben dengan suara yang datar dan dingin.
"Kakak..."
"Dean Zou, kamu tidak punya hak memanggilku kakak," ucap Ben tegas memotong perkataan Dean yang belum selesai.
"Tapi, kita memiliki ibu yang sama," sangkal Dean.
Ben menghela napas, sudah berulang kali Dean menghubunginya. Bahkan sampai mengunjungi kediamannya yang damai.
"Hah, bagaimana aku menjelaskannya kepadamu? Tuan muda Zou, walaupun kita dikandung dan dilahirkan dari rahim wanita yang sama kita bukanlah saudara. Kau adalah penyebab kenapa keluargaku hancur berantakan, kau membuat nama baik keluargaku tercemar!!!"
"Kakak..."
"Aku ingatkan kamu sekali lagi, ayah kandungmu saja meninggalkanmu dengan cara yang tragis. Itu artinya dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas dirimu, paham? Seharusnya kamu tau diri karena ayahku mau menampungmu di dalam rumah yang besar itu,"
Tut
Ben segera memutuskan sambungan lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Satu fakta yang tak bisa dipungkiri dan membuatnya hancur adalah ibunya tersayang, wanita yang seperti malaikat bagi Ben, menghianati papanya dengan berselingkuh.
......................
Makan malam di rumah Ben penuh dengan canda tawa, tapi tidak dengan Martin yang sedari tadi terlihat murung.
"Paha ayam ini untukku saja ya kak, Martin tidak mau mengambil sih," ucap Lena berusaha mengalihkan perhatian Martin. Dia berharap jika makanan kesukaan Martin dirampas, Martin akan marah-marah seperti biasanya.
Tetapi, saat ini Martin malah masih melamun. Ben, Lena, Diena, dan Deo saling bertatapan melihat sikap Martin yang mendadak seperti itu.
"Martin, kamu sakit? Kenapa dari tadi tidak berselera untuk makan? Mau kakak suapi?" tanya Ben, Martin menggeleng.
"Kak Clarie belum meneleponku sejak tadi, padahal ini sudah waktunya makan malam," ucap Martin dengan nada lesu, semua orang di sana mengerti. Seorang remaja memanglah seperti itu.
Sementara itu di kediaman Clarie...
"Halo, kakakku masih saja mendapat kasih sayang dari papa dan mama. Aku kesal karena ini, bagaimana aku bisa memenangkan hari dua orang tua itu?"
"Hahaha, Rena jika kamu terus menggunakan trik yang berjalan lambat seperti ini kapan kamu akan mendapatkan semua harta kekayaan? Ayolah, gunakan trik yang kotor. Aku jamin semua akan lebih mudah dan lebih cepat,"
Rena beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke arah jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. "Trik kotor?" katanya sambil memandangi bulan yang kebetulan malam itu bersinar penuh.
"Ya, jika kamu tidak sanggup aku bisa membantumu. Karena aku punya banyak akal di dalam otak kau tahu?"
......................
Kampus, tempat yang paling Clarie sukai dan paling dibenci. Ada tempat untuk menyendiri di sana dan ada anak-anak lain yang suka mengganggunya.
"Hei, ujian akhir akan segera datang. Aku benar-benar tidak sabar cepat lulus dari kampus ini, tapi aku sangat malas belajar," Kata salah seorang murid di dalam kelas.
"Sabarlah, aku juga. Mau segiat apapun aku belajar, nilaiku selalu rendah. Seandainya aku pintar seperti Clarie."
Beberapa murid memang ada yang membenci Clarie sampai-sampai mereka membullynya. Tapi beberapa murid masih ada yang kagum dan ingin seperti Clarie yang pintar.
"Hei kalian yang di sana!!! Perhatikan papan tulis jika mau lulus tahun ini!!" teriak dosen tiba-tiba, membuat seisi kelas membeku.
BRAK!!
"Kak Clarie!!!!" dengan suara yang keras, tiba-tiba seorang bcah laki-laki masuk ke ruang kelas. Sang dosen yang saat ini sedang mengajar pun terkejut bukan main dengan kedatangan seorang bocah.
Clarie yang tau kalau itu adalah Martin, segera berdiri dan meminta maaf ke dosen. Sekaligus meminta izin sebentar keluar ruang kelas.
"Martin bodoh, sudah kubilang Clarie sedang ada pelajaran. Tidak ada yang mengajarkanmu perbuatan barusan. Untung bukan kakak Ben yang ada di sini," ceramah Diena panjang lebar sembari menepuk-nepuk pipi Martin.
Melihat Martin yang menundukkan kepala dengan murung, Clarie mengusap kepalanya dan berkata; "Martin, kak Clarie rasa kakak tau apa yang membuatmu bersikap seperti ini,"
Kemudian, Clarie mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan nomor yang kemarin diberikan oleh Martin.
Kring Kring Kring
Ponsel Martin berbunyi, panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. "Ayo angkat," pinta Clarie.
"Halo...ini siapa?"
"Halo, apa ini Martin yang kemarin memberiku nomor ponsel ini? Aku Clarie, maaf tidak meneleponmu kemarin. Aku sangat capek dan langsung tertidur. Mengerti maksudku?" jawab Clarie dengan senyuman.
"Kakak, ya aku mengerti."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
pinnacullata pinna
aku mampir dan memberikan like dukung juga novelku cinta adalah sebuah perjalanan yang indah 🙏
2021-02-24
2
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
like lagi
2020-12-31
1
🫧Alinna 🫧
penjabaran cerita yang begitu jelas
2020-12-29
1