20

Pagi yang cerah, namun tidak cerah bagi Lena dan Akbar kali ini. Mungkin hari ini adalah mimpi buruk mereka atau hanya mimpi buruk Lena. Tidak pernah sedikitpun berfikir akan seperti ini. Ini semua diluar kendali dirinya, Lena tidak salah langkah kan?

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Lena masih berada dirumah padahal satu jam lagi ia ada kelas. Rasanya hari ini malas sekali untuk pergi ke kampus. Malas bertemu orang banyak dan Akbar tentunya. Ia malu karena matanya yang sedikit bengkak akibat menangis semalaman.

Flashback

Akbar mengejar Lena keluar cafe. Ia butuh penjelasan dari kata-kata yang Lena ucapkan tadi. Ah ya bukannya Akbar tidak mengerti artinya,namun ia belum percaya. Sungguh. Ini bukan Lena pikirnya.

"Len,tunggu! Maksud kamu apa?" tanya Akbar saat tangan Lena sudah berhasil di gapai.

Mereka jadi bahan tontonan disana,namun berusaha untuk tidak memperdulikan itu. Toh kita gak saling kenal.

"Semua udah aku jelasin didalam Bar, pasti kamu ngerti maksud aku!" ucap Lena sambil mencoba melepaskan genggaman Akbar.

Akbar mengusap wajahnya frustasi. "Tapi kenapa?"

"Kamu tanya sama diri kamu sendiri."

"Len ada banyak cara yang bisa kita lakuin,gak harus dengan cara kaya gini!" emosi Akbar kembali muncul.

"Tapi ini udah keputusan aku! Terserah kamu mau bilang aku egois atau apa. Yang jelas aku udah anggap kita selesai!" ucap Lena tegas.

"Oke kalo itu mau lo! Gue tau,karena lo mulai suka kan sama Gabriel? Iya?"

Lena menggeleng. Tak habis pikir dengan Akbar kenapa bisa langsung menyimpulkan hal itu.

"TERSERAH!" ucap Lena lalu membanting tangannya agar terlepas dari pegangan Akbar dan pergi setelah berhasil menyetop taksi.

Flashback off.

Lena masih gak percaya, hubungannya berakhir begitu saja hanya karena masalah sepele, lebih tepatnya salah paham. Mungkin ini karena keduanya juga sedang emosi jadi mengambil keputusan tanpa memikirkan resiko kedepannya.

Jangan mengambil keputusan disaat kita sedang emosi,nanti yang ada akan menjadi boomerang untuk diri kita sendiri.

Dengan malas Lena mulai melangkah keluar kamar. Rumahnya sepi, selalu sepi lebih tepatnya. Sebelum pergi, Lena berpamitan lebih dulu pada pembantu dirumahnya.

"Mba, aku pergi dulu ya. Titip rumah,kalo ada apa-apa langsung hubungi aku aja." pamit Lena pada mba Lala.

"Iya non, hati-hati ya."balas mba Lala.

Lena mengeluarkan motor lamanya. Motor yang selalu dia pakai waktu sekolah. Motor yang menjadi saksi bisu baginya dengan Kayla. Ah rasanya sudah lama sekali ia tidak menggunakan motor ini, sejak pacaran dengan Akbar.

Semangat,lo pasti kuat ucap Lena pada dirinya sendiri.

Hampir 30 menit Lena menghabiskan waktu untuk sampai di kampusnya. Namun ia bersyukur sampai dengan selamat. Saat sampai di parkiran dan memarkirkan motornya di tempat yang di sediakan. Di situ pula dirinya menjadi bahan tontonan bahkan bahan ejekan mereka.

Mencoba untuk tidak mendengar namun tak bisa. Rasanya ingin sekali menangis. Sekarang dia tau rasanya jadi Kayla dulu. Sakit. Dan dia tidak akan bisa sekuat Kayla.

Kuat,jangan nangis. Lo pasti bisa Lena menyemangati dirinya sendiri.

Lena berjalan menuju perpustakaan,mungkin di sana satu-satunya tempat yang nyaman untuk dirinya. Namun sayang di pertengahan jalan matanya tidak sengaja melihat Akbar.

Kampus seluas ini masih aja ketemu,oh ayolah tuhan.

Akbar bersama cewek waktu itu. Teman satu jurusannya. Siapa lagi kalau bukan Bianca, setelah Yura lalu Bianca,ah menyebalkan.

"Len." panggil Fani yang ternyata ada di belakang Lena sejak tadi.

Lena mengelus dadanya akibat kaget. "Ngagetin aja lo, tumben udah dateng?" balas Lena mencoba tenang.

"Kenapa?" tanya Fani to the point. Fani sudah tau bahwa Lena dan Akbar pacaran. Namun sepertinya ada masalah lebih serius daripada masalah kemarin.

"Kenapa apaan sih lo? Ke perpus yu, lumayan 20 menit lagi." ajak Lena sambil tersenyum. Bukan senyuman yang seperti biasanya, kali ini senyum terpaksa mungkin.

"Ceritain ya tapi." Lena mengangguk lalu menggandeng tangan Fani.

Dan sialnya,

Malah di panggil sama si Bianca rempong itu.

"Lena." teriak Bianca lalu berjalan menghampiri Lena dan Fani.

Lena hanya diam tak menjawab sapaan itu sampai Bianca berdiri di hadapan mereka dan tak jauh dari sana ada Akbar yang sedang memperhatikan Lena.

"Nanti siang gue pinjem Akbar buat ngerjain tugas ya, boleh kan?" izin Bianca pada Lena.

Lah emang gue emaknya pake izin sama gue segala batin Lena.

"Kenapa harus izin sama gue?" Lena membuka suara.

"Kata anak-anak disini, kalau mau interaksi sama Akbar harus izin sama lo dulu, soalnya kan lo sahabatnya." jelas Bianca.

"Katanya juga kalo gak izin sama lo, kalian bisa berantem. Dan gue gak mau itu terjadi. Jadi gue izin sama lo, boleh kan?" ujar Bianca lagi.

Emosi Lena terpancing. Sejelek itu kah image nya di mata anak kampus disini? Berita dari mana sih itu!

"Gue kasih tau ya,mereka itu bukan cuma sekedar--" ucapan Fani terpotong karena bekapan tangan Lena.

"Gak perlu izin sama gue! Gue bukan nyokapnya." tegas Lena lalu meninggalkan Bianca begitu saja dan melanjutkan jalannya kembali.

Lagi

Lagi

Tangannya ditarik oleh Akbar dan otomatis membuat Lena berhenti. Akbar menatap Lena, entah tatapan seperti apa itu Lena malas menjabarkannya.

"Berangkat sama siapa?" kata-kata itu yang keluar dari mulut Akbar.

Lena menarik nafasnya, "bukan urusan lo!"

"Kita masih sahabatan, dan aku harus tau kamu berangkat sama siapa?" tanya Akbar lagi.

"Cuma sahabat kan? yaudah gausah sok kaya pacar!" ketus Lena.

"Len, maafin aku." ucap Akbar pelan.

Jangan sampe luluh Len,biarin dia introspeksi diri dulu batin Lena.

"Udah di maafin, udah ya gue mau ke kelas. Have fun buat nanti siang sama gebetan lo yang kedua hahaha." Lena tertawa getir lalu meninggalkan Akbar.

"Dan tolong bilang sama siapapun itu, kalau mereka gak butuh izin dari gue kalau lo mau pergi sama siapapun. Gue gak peduli!" ujar Lena dengan nada kesal.

Perkataan dengan hatinya bertolak belakang, sejujurnya tidak mau mengatakan hal itu tetapi emosinya sudah memuncak. Image dirinya sudah terlalu jelek mungkin di kampus ini.

Rasanya sesak. Itulah yang sebenernya Lena rasa namun bagaimana lagi. Semua udah terjadi dan harus dilewati. Lena selalu berdoa semoga jodohnya adalah Akbar,jadi untuk saat ini biarlah mereka masing-masing dulu, biar nanti keduanya kembali bersama dengan jangan waktu yang sangat panjang. aamiin.

Bersambung....

Bagaimana nihh???

Gak bakal baper part ini, sengaja biar kalian makin greget wkwkwk.

Siapa yang setuju dengan keputusan Lena? Atau masih ada yang bela Akbar di sini? 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!