15

Setelah pulang dari rapat tadi, Akbar segera pergi ke rumah Lena untuk menepati janjinya. Dan saat ini keduanya sudah berada di tempat makan setelah selesai membeli buku yang Lena maksud tadi.

"Gimana rapatnya? Lancar?" tanya Lena di sela acara makannya.

Akbar mengangguk, "lancar semua yang, ternyata mereka bakal ngadain baksos dalem waktu dekat ini." beritahu Akbar hasil rapat tadi.

Lena ikut mengangguk seakan mengerti "semangat!" ucap Lena membuat Akbar mengacak rambut kekasihnya itu gemas.

"Ih kebiasaan! Nanti rambutnya jatoh kemakanan Akbar!" gerutu Lena.

Akbar mencubit pipi Lena pelan kali ini, "Iya Lena sayang." goda Akbar membuat Lena mengerucutkan bibirnya.

Akhirnya keduanya menyelesaikan acara makannya. Dan mereka memutuskan untuk langsung pulang karena ada tugas yang harus mereka kerjakan. Jujur semenjak Raka dan Akbar bertemu dengan Kayla dan Lena mereka berubah menjadi rajin. Tugas selalu di kerjain, tidak pernah bolos atau bahkan telat ke kampus pun tidak pernah. Sungguh efek yang luar biasa, tapi tidak dengan kejahilan mereka.

Setelah mengantar Lena tadi, Akbar langsung pulang menuju rumahnya. Tugasnya sudah menanti walau akan di kumpul minggu depan nanti.

Sesampainya di rumah ternyata sedang ada Linda disana bersama Bianca sedang main masak-masakan. Kenapa Akbar bilang begitu? Karena kedua perempuan itu memang senang sekali membuat makanan atau kue aneh yang mereka lihat dari media sosial eh salah lebih tepatnya membuat dapur menjadi berantakan.

"Main masak-masakan terus lo berdua! Udah gede juga." cibir Akbar sambil melangkah mendekat ke arah mereka.

"Ish apaan sih lo, kita gak mainan! Ini masak beneran bego!" ketus Bianca.

"Masak beneran tapi gak pernah langsung berhasil, gagal terus pertamanya!" seru Akbar.

"Itulah kelebihan kita, meski di awal gagal kita harus coba lagi biar berhasil nantinya." ujar Linda dengan sombongnya membuat Bianca tertawa lalu menoyor kepala sahabatnya itu.

"Lo kenapa dah? Tumben amat tuh otak wkwkwk." Bianca ngakak begitu juga Akbar.

"Yeee gue benerlah, masa udah gagal kita gak coba lagi. Ibaratin cinta aja deh, udah putus eh kita coba lagi sama orang yang berbeda biar berhasil walau akhirnya tetep sama gagal juga sampe sekarang hahaha." Linda tertawa geli mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi. Sejak kapan Linda jadi bucin kaya Raka dan Akbar?

"Bucinnn terosss!" sahut kedua kakak beradik tadi membuat ketiganya tertawa lepas.

"Adek lo mana kak?" tanya Akbar pada Linda.

"Biasalah ngebucin di rumah Kayla, tumben lo juga gak ngebucin sama Lena?" balas Linda sambil tangannya memasukan beberapa bahan ke dalam adonannya.

"Capek, ada tugas. Udah ah ke kamar dulu, ntr kalo udah berhasil panggil ya gue jadi jurinya nanti." ucap Akbar lalu meninggalkan keduanya setelah mereka mengacungkan jempol tanda 'oke' padanya.

*****

Hari berganti. Keduanya sudah berada dikampus, hari ini ada rapat lagi yang harus Akbar datangi. Membahas tentang bakti sosial yang akan mereka adakan dalam waktu dekat ini. Kelas Lena sudah selesai namun ia masih menunggu Akbar di kantin kampus. Bukan Akbar yang menyuruh namun Lena yang mau, tadi ada Raka dan Kayla dan mereka ingin menemani Lena, namun di tolak oleh Lena. Jadilah mereka pulang lebih dulu.

Sekarang sudah pukul 3 sore, sudah satu jam berlalu Lena menunggu Akbar disini. Namun belum ada tanda-tanda Akbar akan selesai. Berusaha untuk tidak bosen Lena memainkan ponselnya. Tiba-tiba ada segerombolan orang duduk di meja yang sama dengan Lena. Bukan Lena tak suka, namun ia risih karena mereka semua adalah perempuan, dan sepertinya senior disini. Entah anak semester berapa.

"Ekhmm...." dehem salah satu dari mereka, yang Lena lihat penampilannya paling mencolok di antara mereka.

Lena diam, Ia tak berpikir bahwa mereka mencoba mengganggunya.

"Budeg ya lo?" cibir cewek tadi.

"Lah?" kaget Lena saat tangan cewek itu menyentuh lengannya.

"Gue ngomong sama lo!" ketus cewek tadi.

"Ngomong? Perasaan gak ada yang ngomong dari tadi, kan lo cuma dehem tadi." jawab Lena tenang, dia tidak salah ngapain harus takut, pikirnya.

Pakaian gue kayanya sopan terus deh, masa gue di labrak juga batin Lena.

"Udah deh to the point aja!" sahut temen si cewek tadi yang dandannya sedikit tomboi.

Lena mengerutkan keningnya tanda ia tak mengerti. "Ada masalah?" tanya Lena pada ke empat cewek didepannya, berusaha tenang agar tidak terlihat ketakutan. Walau sejujurnya ia takut sih, pertama kalinya di labrak.

"Lo siapanya Kayla?" tanya cewek tadi yang ternyata namanya Jihan.

"Lo siapa emang nanya-nanya begitu?" tanya balik Lena.

"Tinggal jawab aja susah banget lo!" emosi cewek tomboi tadi.

"Pertanyaan gak penting ngapain di jawab." cibir Lena.

"Gue tau, Lo temenan sama Kayla karena lo tau dia anak orang kaya kan?" tanya Jihan lagi yang kayanya tingkat ke kepoannya melampaui batas.

Lena tidak kaget dengan pertanyaan ini, sudah sering ia dibilang begini sejak warga kampus tau siapa Kayla. Kayla sengaja tidak menutupi jati dirinya di kampus, Kayla pikir kehidupan di kampus itu lebih kejam dari pada di sekolah. Bukan kah uang bisa merubah segalanya? Yang tadinya ingin membully menjadi segan saat tau status sosial aslinya. Lagi pula sekarang sudah ada Raka yang akan menjaga Kayla selama kampus.

"Bukan urusan lo juga kan?" Lena mencoba tenang.

"Mending lo jauhin Kayla deh, dia tuh gak cocok bergaul sama lo!" bentak Jihan.

"HAHAHA" Lena tertawa lebar, itulah cara agar ia tidak tersulut emosi.

"Kok malah ketawa? Emang ada yang lucu?" tanya salah satu dari mereka yang kayanya dialah yang paling lemotzzzz.

"Iya lucu, kalian lucu" balas Lena disela tawanya.

"Ih makasih lohh, lo orang kesekian yang bilang gue lucu." ucap cewek tadi sambil mengibaskan rambutnya dan langsung di hadiahi tatapan tajam dari temen-temennya.

Saat Jihan ingin mengeluarkan suara lagi, ponsel Lena berdering dan dilihatlah nama Akbar disana, dengan cepat ia mengangkat panggilan itu.

"Halo.."

"...."

"Oke"

Bip

Panggilan terputus, dan ternyata mereka masih berada disana. Membuat Lena terkekeh kembali melihat ekspresi mereka. Entah ekspresi apa yang mereka tunjukkan.

Tak lama Akbar datang dengan tas yang tersampir di bahu kanannya. Dengan kaos putih polos di padukan dengan celana jeans hitam,sepatu putih andalannya dan jangan lupakan jam kesayangannya karena kado dari Lena bertengker di tangan kirinya.

GANTENG!!

TAMPAN!!

"Udah selesai?" tanya Lena saat Akbar sudah berdiri di dekat mejanya.

Akbar mengangguk lalu mengulurkan tangannya dan disambut senang oleh Lena. Sedangkan mereka berempat menatap Lena tak percaya. Ternyata hubungan mereka sedekat itu, bukan seperti berita yang tersebar.

Lena tersenyum puas melihat mereka. Sekali-kali gapapalah ya ngerjain orang seperti Akbar yang jahil.

"Duluan yaa kakak-kakak, makasih karena kalian aku jadi gak bosen nungguin Akbar." pamitnya lalu pergi dari sana bersama Akbar sambil terkekeh sendiri.

Sedangkan ke empatnya mengerutu tak jelas.

"Masalah apa lagi? Masalah kita?" tanya Akbar karena sudah paham.

"Bukan, nanyain Kayla dia. Biasalah yang." jawabnya membuat Akbar mengangguk mengerti lalu menggenggam tangan Lena erat menuju mobilnya.

Banyak dari mereka yang melihat adegan itu lalu memaki Lena dengan terang-terangan. Apa salahnya sih? Begini nih jika pacaran backstreet selalu aja ada yang kepo.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!