18

Tak lama Akbar kembali. Dengan mata yang kesana kemari mencari keberadaan kekasihnya itu. Namun nihil tak ada tanda-tanda Lena disana. Kalaupun dia ke toilet pasti Kayla menemaninya.

"Lena mana?" tanya Akbar entah pada Raka atau Kayla.

Keduanya diam tak menjawab.

"Ka, gue nanya juga malah pada diem mendadak sariawan?" kesal Akbar.

"Mending mendadak sariawan dari pada mendadak amnesia?" Ketus Raka membuat Akbar menyerengit bingung.

"Maksud lo?"

"Lo lupakan kalo lo punya pacar?"

"Ya enggaklah,gila lo!"

"Lah itu buktinya apa? Lebih milih senior lo yang kayaknya emang cari perhatian lo dari pada jelasin semuanya sama Lena?" kesal Raka.

Akbar terpancing emosi. "Lo apaan sih Ka! Lo gak tau gimana Yura jangan asal ngomong!"

"Lo lebih bela dia?" tanya Raka sambil menaik turunkan alisnya dengan gaya menyebalkan.

Keributan itu membuat perhatian sebagian orang yang berada di sana fokus pada mereka.

"Udah cukup! Kenapa malah jadi kalian yang bertengkar sih?" seru Kayla bermaksud memberhentikan keributan antara kekasihnya dengan sahabatnya.

"Dia duluan yang bikin emosi!" bela Raka.

"Enak aja! Lo duluan lah. Gue nanya baik-baik malah bawa orang yang gak tau apa-apa!" elak Akbar.

"Terus aja lo bela tuh senior caper!"

Belum sempat Akbar membalas perkataan Raka suara Kayla kembali terdengar.

"Raka! Akbar cukup! Gak malu apa kalian jadi perhatian banyak orang? Kalo masih ribut gue pergi!" tegas Kayla.

"Jangan kay." ucap keduanya bersamaan. Membuat keduanya saling menatap tajam.

"Kay, Lena mana?" kali ini Akbar menanyakan kekasihnya pada Kayla.

"Lena pergi sama temen kelasnya, katanya ada tugas yang harus di kerjain." jelas Kayla.

"Dan katanya lo gausah cari dia!" timpal Raka membuat Akbar menjadi emosi kembali.

Akbar langsung pergi meninggalkan sepasang sejoli disana. Emosi Akbar kembali naik setelah mendengar Lena memilih pergi dengan temannya dari pada menunggu Akbar datang. Akbar pasti menjelaskannya. Pasti. Cuma Lena sabar sebentar. Ah rumit...

Sepanjang perjalanan Akbar terus mencoba menghubungi Lena namun tak ada satupun panggilan yang di angkat oleh Lena. Jalan satu-satunya ia harus meminta tolong pada Citra. Dengan segera ia mengirim pesan pada Citra.

Akbar Adrian

Mi.

Tolongin Akbar dong, telponin Lena tanyain dia dimana. Akbar telepon gak di angkat2.

Makasih mi❤

Send

Namun pesannya tak langsung di balas oleh Citra membuat Akbar tak sabar menunggunya.

Akbar Adrian

P

P

P

P

Bales sekarang mi!!! Kalo enggak aku bilang papi kemarin mami beli bubble!

Send

Tak lama benar Citra membalas pesan Akbar membuat dirinya semakin lemas.

Mami

Udah di telponin bawel!

Gak di angkat juga. Makanya jangan berantem nyusahin orang tua!!

Awas aja sampe kamu aduin ke papi! Sepatu yang kemarin kamu beli yang harga dapet satu motor itu mami bakar!!!

Akbar tersenyum sekilas walau hatinya tetap khawatir. Akbar harus mencari Lena kemana? Dia tidak tau dimana rumah teman kampusnya Lena,yang ia tau hanya namanya saja.

Terserah! Batin Akbar. Lalu Akbar memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Ia optimis Lena akan menghubunginya lebih dulu nanti. Biarin dia menenangkan dirinya dulu.

****

Saat ini ketiganya sedang mengerjakan tugas di rumah Dita membuat kamar sih lola itu berantakan seperti kapal pecah. Banyak buku berserakan di bawah,lalu baju milik Dita yang sedang di coba-coba oleh Fani dan Lena dan jangan lupa kan bungkus Snack yang berserakan di bawah. Namun anehnya sipemilik kamar tidak marah.

Ah baik sekalihhh sih kamu, Dita.

"Udah sore,gue balik duluan ya??" Pamit Lena saat sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lebih 15 menit.

"Lo gak mau nginep aja disini?" tawar Fani.

"Loh kok,lo yang ngajakin Lena? Kan ini rumah gua,Fan?" kesal Dita.

Fani hanya memutar bola matanya malas membuat Dita semakin kesal. Dengan penuh gregetan ia menjambak rambut Fani dari belakang. Walau tidak kencang namun mampu membangkitkan amarah Fani.

"Awsss. Sakit bego! Gak ada akhlak ya lo. Kepala gue di fitrahin tolol!" Marah Fani.

Bukannya membuat Dita takut atau marah karena di katain dengan kata kasar, malah si lemot satu itu tertawa kencang. Membuat Lena, menggelengkan kepala tak habis pikir sama mereka.

Jujur selama mereka mengerjakan tugasnya. Lena sedikit lupa masalahnya dengan Akbar. Karena tingkah laku mereka berdua. Keduanya selalu membuat Lena tertawa. Hingga membuat ia sedikit lupa tentang Akbar. Lena tau Akbar pasti menghubunginya,namun ia sengaja menaruh ponselnya di dalam tas lalu di slient agar ia tak tau. Karena kalau ia tau,bisa runtuh pertahanannya untuk tidak membalas pesan atau panggilan Akbar.

Ayo siapa yang pernah begituuu??? Komen dong komen hshshe

"Udah ah gue balik,capek liat lo berdua." sahut Lena membuat pertengkaran keduanya otomatis terhenti.

"Yah nginep aja Len,kita pesta piyama." celetuk Dita membuat Fani memicingkan matanya. Tadi protes sekarang malah menyuruh. Maunya dia apasih!!!!

Lena menggeleng. "Enggak ah,lain kali aja. Gue ada urusan soalnya."

"Sama Akbar?" tebak Dita.

Fani langsung menatap Lena tajam. "Bukan,sama orang. Udah ah,gue cabut ya. Makasih Dit atas tumpangannya hehe,sering-sering yaa." Lena langsung menyambar tas nya dan ingin keluar kamar Dita.

"Lo pulang naik apa? Biar gue anterin aja!" tanya Dita dari dalam membuat Lena menoleh ke arah mereka lalu berjalan ke arah mereka lagi.

"Gausah. Makasih yaa." ucap Lena lalu mencium pipi kedua temennya dan bergegas keluar dari sana.

Setelah Lena keluar,tak lama ada suara klason dari depan. Dengan kekepoan yang tiada batas membuat Fani dan Dita mengintip dari balik jendela di kamar Dita yang berada di lantai dua.

Ada sebuah mobil disana. Pas di depan pagar rumah Dita membuat keduanya saling tatap seolah bertanya 'siapa tuh?' saat sedang asik dengan lamunan lalu buyar begitu saja saat melihat Lena keluar dari gerbang rumah Dita dan langsung masuk kedalam mobil tersebut. Hal itu membuat kekepoan manusia ini semakin bertambah.

"Itu mobil siapa ya Fan?" tanya Dita pada Fani.

Fani mengangkat bahunya. "Gak tau. Kayanya bukan mobil Akbar deh,kan Lo tau sendiri mobil Akbar yang dia suka bawa ke kampus"

"Hm. Tapi kan bisa aja Akbar punya banyak mobil. Lo lupa dia anaknya siapa?" tumben sekali Dita tidak lemotzzzz saat di ajak bicara serius ini. Ah ya lupa,kalau masalah gosip sinyal Dita mah selalu kencang tanpa lemotzzz..

"Fix! Besok kita harus tanya sama si Lena." final keduanya lalu kembali duduk di kasur milik Dita dengan lamunan masing-masing.

Mereka suka berfikir,padahal mereka tergolong cantik dan tajir. Kenapa tak ada satupun yang nyangkut pada mereka? Kurang apa sih sebenernya mereka! Coba jelasin disini.....

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!