16

Malam yang indah, sudah kesekian kalinya Lena dinner dengan keluarga Akbar. Lena bersyukur bisa bertemu orang tua sebaik Citra, setidaknya bisa mengobati rasa rindu pada mamahnya lewat kasih sayang Citra.

Lena tau sampai sekarang Bianca masih kurang suka dengannya, tapi Lena akan berusaha menyakinkan Bianca kalau dirinya pantas dengan Akbar. Lagian Akbar cinta nya sama Lena, bukan dengan Kayla ataupun yang lain. Trus Lena bisa apa kalau kaya gitu?

"Len gimana kuliah kamu, lancar?" tanya Citra yang saat ini sedang sibuk menata makanan di atas meja dibantu dengan Lena.

"Alhamdulillah mi, lancar." balas Lena.

Citra mengangguk "dikampus ada gak yang ganggu kamu? Kalo ada kamu langsung bilang ke Akbar ya biar orangnya di hajar sama tuh anak."

Lena terkekeh "hahaha emang mami mau Akbar masuk kantor polisi karena ngehajar anak orang?"

"Eh jangan, maksudnya hajar sama kejahilan dia aja jangan pake otot." keduanya tertawa.

Tak lama Akbar datang lalu duduk di meja makan sambil memandang kedua wanita itu curiga, karena dari atas tadi Akbar melihat mereka sedang tertawa pas Akbar duduk mendadak diam. Kan aneh.

"Ngomongin Akbar ya?" tanya Akbar pada keduanya dengan mata memicing.

"Kepedean dia Len, mau kamu pacaran sama dia? Mami sih jadi kamu ogah!" balas Citra sambil menunjuk Akbar membuat Lena menahan tawanya.

"Dih gini-gini anak mami kali! Kebiasaan kalo ada Lena disini selalu aku yang jadi sasaran bahan cengcengan mami!" rajuk Akbar membuat Citra dan Lena terbahak.

"Kenapa lo Bar, muka lo merah gitu?" tanya Raka yang entah dari mana datangnya.

"Astaghfirullah kebiasaan banget sih kalo masuk gak pernah permisi bikin kaget!" Gerutu Citra.

Sedangkan Raka hanya cengengesan. Tak lama Kayla masuk bersama dengan Bianca, mereka asik mengobrol. Siapapun yang melihat mereka bakalan ngira kalau mereka kakak beradik. Sumpah, Lena yang melihat itu hanya diam. Lena tak bisa sedekat itu dengan Bianca. Entah Bianca yang membatasi diri atau Lena yang selalu gugup dekat Bianca.

"Assalamualaikum." ucap Kayla dan Bianca.

Semua yang ada disana menjawab salam itu. Suara Raka lah yang paling keras sedangkan suara Lena yang paling kecil. Kayla mencium tangan serta pipi Citra.

"Gimana kabar kamu?" Tanya Citra pada Kayla.

"Alhamdulillah baik mi, mami sendiri?" balas Kayla dengan ramah.

"Alhamdulillah selalu baik." jawab Citra.

Lena hanya diam melihatnya, tak lama lamunan itu buyar karena suara dari Raka.

"Saatnya kita makan, ayo sayang duduk jangan malu-malu anggap aja rumah kita." ucapnya membuat semua menyoraki.

"Wooooo ngaku-ngaku lo!" sahut Bianca.

"Tauuu beli dong rumah sendiri!" celetuk Akbar.

"Bentar lagi ya Kay? Lulus kuliah langsung nikah kita, iya gak?" tanya Raka pada Kayla membuat Kayla tersipu di tempat.

Lena hanya tersenyum melihat itu. Lena tak boleh cemburu dengan Kayla karena dekat dengan keluarga Akbar. Itu hal wajar karena Akbar sahabat Raka.

Kayla itu berjasa dalam hidup lo, kalo gak ada dia lo bukan siapa-siapa Len batin Lena bermonolog.

Karena tahu diri itu penting!

"Udah, makan-makan gausah bahas yang masih jauh. Kakak kalian aja belum ada yang berani bawa pacar kerumah." ucap Citra membuat yang lain tertawa kecuali Bianca yang memasang wajah kesal pada maminya.

Semuanya makan dengan nikmat. Setelah selesai mereka pindah ke ruang keluarga berbincang hangat di malam hari.

*****

Dikampus.

Lena sedang berada di perpustakaan bersama teman sekelasnya. Baru masuk kuliah saja tugas udah banyak, emang enakan sekolah. Sungguh.

"Len, sebenernya lo sama Akbar itu ada hubungan apa sih? Kok lo bisa dekat banget?" tanya Fani.

Lena yang sedang duduk di perpus sambil menulis tugasnya di buku langsung menoleh ke arah Fani yang duduk disampingnya.

"Kan udah dibilang sahabatan." jawab Lena malas, selalu saja dikasih pertanyaan yang sama tidak ada pertanyaan lain apa selain bahas Akbar.

"Masa sahabatan bisa sedeket itu, kaya pacaran. Pulang pergi bareng terus, tunggu-tungguan lagi." kepo Fani.

Lena menoyor kepala Fani pelan, "Eh bambang banyak kali yang kaya gitu." jawab Lena.

Fani mengusap kepalanya yang tadi di toyor Lena, "Iya juga sih, kaya si Dion sama Cintia tuh. Padahal kayanya si Cintia itu suka loh sama si Dion, tapi Dion nya cuma anggap sahabat doang,sedih ya." ujar Fani.

Ghibah!

"Fan lo mau ngerjain tugas apa ghibah sih, cepetan kerjain, gue udah mau balik biarin aja gue tinggal." ancam Lena membuat Fani langsung kembali nulis tugasnya di buku miliknya.

"Padahal ngerjain tugas sambil ngeghibah itu enak loh Len." gerutu Fani membuat Lena menggelengkan kepalanya.

Saat sedang fokus mengerjakan tugas, tiba-tiba ada teman sekelasnya juga yang duduk di meja yang sama dengan Lena dan Fani. Membuat keduanya terlonjak kaget karena saking fokusnya.

"Astaghfirullah kaget gue!" kesal Fani.

"Kebiasaan suka dateng tiba-tiba kaya jelangkung!" gerutu Lena.

Sedangkan Dita hanya menampilkan cengiran bodohnya. Memang di kelas mereka cukup dekat, jadi mereka sengaja mengerjakan tugas bersama walau tugas ini bukan tugas berkelompok.

"Eh kalian tau gak sih, ada berita hot tau hari ini." ucap Dita pada kedua temannya.

Memulai aksi ghibah.

Perkenalan sedikit tentang Dita dan Fani. Dita dan Fani ini adalah sahabat waktu mereka sekolah dulu. Dan beruntungnya bertemu lagi di satu kampus yang sama dengan jurusan dan kelas yang sama. Memang dari awal mereka sudah berdoa selalu bersama, dan terwujud tidak seperti Lena dan Kayla karena harus terpisah kelas.

Fani orang nya itu friendly. Gampang banget bergaul udah gitu suaranya aduhai cempreng banget bikin telinga orang sakit. Berbeda dengan Dita yang sedikit agak lemotzzzz alias telmi tapi anehnya dia juga pandai bergaul. Suaranya pun gak cempreng seperti Fani.

Lena ingat pertama kali mereka kenalan dengan cara yang aneh. Keduanya duduk di antara Lena lalu meminjam ponsel Lena untuk selfie bertiga dengan Lena yang hanya diam tapi melihat ke kamera setelah itu ponselnya di kembalikan dan Fani langsung meminta Lena mengirim hasil fotonya kenomer ponselnya. Dan dari situlah mula mereka kenal.

"Apa-apa, tentang siapa?" tanya Fani antusias. Fani dan Dita memanglah sepaket namun beda karakter mungkin.

Lena hanya diam mendengarkan apa yang akan Dita katakan. Jujur berteman dengan mereka membuat dirinya ikutan menjadi kepo tentang apa yang ada dilingkungan kampusnya. Pasalnya mereka berdua selalu tau gosip apa yang tersebar di kampusnya, entah dari fakultasnya atau fakultas yang lain. Sebenarnya apa yang di bilang Fani tadi benar, kalau ghibah itu asik. Hayo siapa yang sudah ghibah??

Bersambung dulu ya hehehe....

Lanjut gak nih? Gimana part ini? Belum dapet ya feel nya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!