07

Akbar kembali masuk ke dalam kamarnya sambil meremas ponsel yang ada di tangan, wajahnya berubah menjadi merah seperti sedang menahan emosi.

"ka coba lo telepon Kayla deh tanya dia dimana?" suruh Akbar pada Raka.

Raka menoleh dengan tatapan seakan bertanya 'ngapain'

"Cepetan,penting!" ujarnya sedikit keras.

"Ngapain nanyain cewek gue? Lagian masa lo gak tau sih cewek gue sama cewek lo kan lagi janjian ketemu." ucap Raka sengit.

"Dimana?"

"Lo gak tau? Serius? Cewek lo gak bilang sama lo? Tuh kan gue bilang juga apa! Dia aja gak sampe segitunya minta izin ini itu sama lo tapi lo? Ah bucin lo telat njirr" cibir Raka yang belum menyadari wajah Akbar sudah berubah.

"Udeh deh jangan banyak bacot! Mau gue yang telepon apa Lo?" desak Akbar.

"Telepon cewek lo aja sih! Setau gue mereka ketemuannya di rumah Lena,emang kenapa sih? Lo dapet telepon dari siapa emang?" jelas Raka.

"Lo yakin mereka ketemuan dirumah?" sedikit tak percaya dengan ucapan Raka.

"Sebelum kerumah lo gue sempet vicall dan emang bener ada dirumah Lena! Kenapa sih anjir,kesel gue!" Raka ikut emosi melihat tingkah Akbar yang aneh.

"Mereka lagi sama cowok di restoran biasa!" jelas Akbar membuat Raka menaikan alisnya sebelah.

"Tadi salsa yang nelepon gue! Trus dia bilang kalo cewek kita lagi direstoran dan ada cowoknya disana!" jujur Akbar pada akhirnya. Tadi takut kedengaran Raka, tetapi sekarang malah memberitahu.

Raka menaikan alisnya, "Salsa? Masih hidup tuh orang! Lagian ya lo percaya sama dia? Lo lupa dia siapa?" ada nada kesal di suara Raka. Tak mengira kalau Akbar masih mempunyai kontak cewek gak jelas itu.

"Tapi masalahnya dia kirimin fotonya Raka!!!" teriak Akbar lalu memberikan ponselnya pada Raka untuk memberitahu foto tersebut.

Raka diam. Benar di foto itu Lena dan Kayla namun cowok itu siapa? Raka tidak bisa mengenalinya karena itu cowok membelakangi kamera. Dengan cepat Raka menghubungi Kayla. Hingga suara tersambung terdengar dari sana.

"Kamu dimana?"

"...."

"Sama siapa?"

"...."

"Tunggu situ! Aku otw kesana!"

Bip

"Gimana?" Tanya Akbar.

"Kesana sekarang!" Ucap Raka lalu mengambil kunci mobil milik Akbar yang terletak sembarang di karpet bawah.

"Woi kok bawa kunci mobil gue!" teriak Akbar.

"Yah pake mobil lo lah, gue gak bawa kunci." sahut Raka sambil jalan menuju pintu.

"Bensin mobil gue sisa buat ke pom doang! Kalo kita mampir dulu ke pom keburu pulang mereka!"

"Yaelah ganteng-ganteng pelit amat! Yaudah tunggu gue ambil kunci motor dulu!"

"Kok motor? Naik mobil aja sih gue takut masuk angin"

"Tai juga punya temen kaya lo!" Ucap Raka lalu keluar dari sana. Kalau masih disana perdebatan itu tidak akan selesai bisa-bisa kedua cewek itu sudah meninggalkan restoran.

Keduanya turun kelantai bawah, tetapi melewati ruang keluarga yang disana ada Bianca dan Citra sedang menonton acara televisi. Lebih tepatnya hanya Citra karena Bianca sibuk dengan ponselnya.

"Mi, Akbar keluar dulu bentar sama Raka." izin Akbar pada Citra.

"Bohong mi, dia sendiri Raka mah mau pulang." sahut Raka santai.

"Apaan si lo! Kan kita emang mau keluar." teriak Akbar pada Raka yang sudah berjalan lebih dulu.

"Iya keluar depan doang, gue kan mau pulang." Raka mengatakan itu sambil terkekeh pelan. Emang dasar ya temen laknat ya gini.

"Mau kemana Bar? Udah malem!" larang Citra.

"Mau keluar sama Raka mi, beneran." ujar Akbar.

"Engga mi." celetuk Raka lagi yang sudah berada di ujung ruangan.

"Raka lo apaan si!" Akbar menaikkan suaranya.

"Akbar lo berisik banget sih! Mati kan tuh gue!" Bianca menyahut karena suara Akbar yang membuat fokusnya hilang pada game yang sedang ia mainkan tadi.

"Lo mati kak? Innalilahi wa innailaihi rojiun." sahut Raka dan Akbar bersamaan.

Astaghfirullah begini amat punya adek dua batin Bianca.

"Husss kalian berdua, bicaranya!" peringat Citra.

"Udah ah Raka mau pulang dulu. Selamat malam semuanya." pamit Raka.

"Trus yang tadi gimana bego!" teriak Akbar.

"Yah gue kan pulang dulu buat ambil kunci tolol!" balas Raka.

"Yah bilang dong dari tadi mau ambil kunci!" Cibir Akbar.

"Tau ah gak jelas! Mi, Raka pulang dulu, turut berduka ya buat kak Bi." ucap Raka lalu kabur begitu sama sebelum mendengar suara menggelegar dari ruangan itu.

"RAKAAAA SIALAN LO!" TERIAK BIANCA.

"RAKAAAA!" TERIAK CITRA.

"RAKAAA TUNGGUIN GUE!" TERIAK AKBAR.

sedangkan Raka hanya cekikikan saja sambil menuju rumahnya. Kompak sekali keluarga Akbar. Emang dasar ya, minim akhlak.

*****

Sekarang mereka sudah sampai direstoran biasa mereka datangi sejak dulu. Dan mereka melihat kedua perempuan itu sedang duduk disana dengan muka yang sudah sedikit cemberut. Mungkin terlalu lama menunggu karena tadi perjalanan sedikit macet.

"Mana cowoknya Ka?" Bisik Akbar pada Raka. Raka hanya mengangkat bahunya tidak tahu.

Keduanya berjalan menghampiri meja tersebut, "Kok gak bilang lagi pergi sama Kayla?" to the point Akbar saat mereka sudah duduk di meja kedua cewek itu.

"Harus emang?" Jawab Lena sengit.

"Kay pindah meja yuk, biarin mereka bicara dulu. Kayanya bakalan ada perang dari pada kita kena tembak mending cabut." ajak Raka membuat Kayla berdiri dari sana. Namun Lena menatap Kayla memohon agar Kayla tidak pergi namun sayang tangan Kayla sudah ditarik oleh Raka.

Balik lagi ke Lena dan Akbar.

"Kenapa gak bilang?" tanya Akbar lagi.

"emang harus aku bilang semua hal sama kamu?" jawab Lena sambil tangannya mengetuk-ngetuk sendok ke piring. Menghilangkan rasa gugup di hatinya, jujur kalau Akbar sudah mode seperti ini artinya sebentar lagi akan ada perdebatan.

"Harus! Aku aja pasti bilang apapun sama kamu!" teriak Akbar sedikit keras membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Tanpa memperdulikan itu Akbar masih terus menatap Lena.

Lena mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah kekasih tampannya itu, "Oh ya? Yakin tuh?" cibir Lena.

"Yakin! Emang kapan aku gak cerita atau bilang sama kamu?"

"Tadi?" Skak Lena.

"Tadi?" Beo Akbar.

"Ada sesuatu yang lupa kamu bilang ke aku, atau emang karena gak ingin bilang?" desak Lena.

Akbar mencoba mengingat sesuatu itu, tapi mungkin karena pikirannya ke foto tadi membuat otaknya blank, "Maksudnya?"

"Oh berarti lupa kali ya positifnya,kalo negatifnya emang karena gak mau bilang, yaudah" pasrah Lena dengan suara lemah.

Akbar mencoba mengingat apa yang belum ia ceritakan pada kekasihnya itu. Ah ya, ia ingat tentang tawaran organisasi itu. Apa sekarang waktu yang tepat? Tapi Lena sedang badmood nanti yang ada gak diizin. Tapi apa Lena udah tau kalau tadi ada kakak tingkatnya yang mengajaknya ikut dalam organisasi itu. Atau bahkan lebih parahnya Lena lihat saat Yura memberikan nomer ponselnya pada Akbar? Aduh saat ini otak Akbar tidak bisa jalan untuk berfikir.

"Udah ah, aku mau pulang! Kalo tau kamu gak akan jujur juga sekarang ngapain aku nungguin kamu kesini!" tegas Lena lalu bangkit dari duduknya namun tangannya di cekal oleh Akbar dan menyuruhnya untuk duduk kembali.

"Sebentar aku mau ngomong" ucap Akbar.

Dia bakalan jujur?

Bersambung.....

Nahhh menurut kalian Lena lebay gak sih bersikap kaya gitu sama Akbar?

Trus tebakan kalian Akbar bakal jujur atau engga?

Dan cowok tadi siapa ya??

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!