Malam hari.
Kayla telah selesai mengerjakan tugasnya dari sore sebelum magrib. Namun dia sudah berjanji akan bertemu Lena malam ini. Memang sejak Kayla pulang dari luar negeri keduanya pasti selalu bertemu setiap hari tanpa absen ,ada saja yang mereka bicarakan jika bertemu. Sekarang Kayla sudah berada di rumah Lena, tepatnya dikamar gadis itu.
"Gimana tugas udah kelar?" tanya Lena sambil mengisi gelas berisi jus jeruk buatan pembantunya.
"Alhamdulillah kelar, gila tuh dosen baru juga masuk udah dapet tugas aja." gerutu Kayla sambil memakan cemilan.
"Tadi lo ngerjain tugas dimana?" tanya Lena karena pikirannya masih tertuju pada masalah di kampus tadi.
"Di perpus kampus, gue belum banyak buku referensi jadi gue ngerjain disana." jawab Kayla jujur.
"Sama Raka?" tanya Lena.
"Siapa lagi, lo tau sendiri lah Raka gimana." dengus Kayla. Terkadang Kayla risih karena selalu di ikuti Raka menjadi tidak bebas tetapi balik lagi ia berpikir kalau kekasihnya itu khawatir dan sayang padanya kalau pergi tanya Raka.
Tuhkan bener, trus Akbar kemana? Pikir Lena.
"Makan yukk Len laper." ajak Kayla.
"Diluar?" tanya balik Lena.
"Yaiyalah dimana lagi, pasti pembantu lo gak masak kan? Bokap Lo kan lagi tugas keluar kota." Jawab Kayla yang tahu betul tentang Lena.
Lena mengangguk lalu mengambil tas kecil dengan isi didalamnya. Kayla melangkah lebih dulu keluar kamar dan menuju mobilnya.
"Makan apa?" Tanya Lena.
"Resto biasa gimana?" Tawar Kayla.
"Okey."
Kayla melajukan mobilnya ke tempat restoran dimana dulu mereka berempat tidak sengaja bertemu disini. Kalian ingat gak?? Yang gak ingat bisa langsung beli novel Preman Sekolah guyss.....
Setelah sampai disana. Lena dan Kayla memesan pesanan mereka masing-masing. Sambil menunggu makanan tiba keduanya masih berbincang, hingga pesanan mereka datang. Tidak pernah kehabisan topik pembicaraan kalau mereka sedang berdua begini, padahal selalu bertemu.
"Kay, Akbar bohong sama gue!" cicit Lena.
Kayla langsung menatap Lena, bingung.
"Bohong?" beo Kayla.
Lena ngangguk "tadi dia bilang Raka udah nungguin dia dirumah tapi pada kenyataannya Raka sama lo masih di kampus." jelas Lena.
Kayla diam. Baru kali ini mendengar Akbar membohongi Lena.
"Trus tadi gue mergokin dia sama kakak tingkatnya, yang katanya sih ngajakin dia untuk ikut organisasi jurusan, tapi sampe sekarang dia gak cerita sama gue" ujar Lena lagi.
"Bahkan sampe kating nya ngasih nomer teleponnya loh." lanjut Lena.
"Lo yakin?" tanya Kayla berusaha ikut percaya dengan perkataan Lena.
Lena mengangguk, "Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri Kay,gue sengaja gak nanya sama dia langsung gue kira dia bakal jelasin tadi pas selesai kuliah ternyata dia juga bohong tentang Raka." kecewa Lena.
"Em, lo gak ceplosin ke dia langsung?" usul Kayla.
"Gue maunya dia jujur Kay,dia kan gak pernah kaya gini. Lo tau sendiri,ada yang godain dia dijalan aja pasti dia cerita sama gue."
Kayla menganggul, membenarkan apa yang di bilang Lena. Makanya ia sedikit tidak percaya perkataan sahabatnya, takug sahabatnya itu salah paham atau salah lihat.
"Gini kita tunggu sampe besok, kalau Akbar gak ada cerita sama sekali. Baru Lo tanya langsung, gimana?" usul Kayla.
Lena mengangguk lesu. Pikirannya jadi negatif pada kekasihnya itu, tidak pernah Akbar seperti ini. Akhirnya keduanya melanjutkan makan malamnya bersama meskipun pikiran Lena sudah kemana tau.
****
Disisi lain.
Akbar yang tengah berada dikamarnya sambil duduk dilantai beralaskan karpet sedang bermain PlayStation. Raka belum datang padahal tadi Akbar sudah menghubunginya. Lagi asik main game sendiri tiba-tiba ponselnya berdering menunjukkan ada pesan masuk disana. Akbar mempause game nya lalu membuka pesan itu.
Yura
Gimana Bar? Udah ada keputusan?
Read
Akbar membaca pesan itu sekilas lalu menutup room chat mereka. Tadi siang memang keduanya sudah saling chat. Tapi Akbar bilang sama Yura akan memberi jawabannya nanti malam. Dan sekarang ia di tagih, padahal Akbar belum sempat bertanya pada Lena apakah dia setuju atau tidak.
Dan berarti waktu di kampus tadi Akbar fokus memainkan ponselnya itu karena sedang chat dengan Yura? Benar ya batin seorang perempuan kadang benar.
Saat ingin menghubungi Lena, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Menampilkan wajah tampan milik sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Raka Adipura.
"Lama banget sih lo." cibir Akbar.
"Sibuk guee." sahut Raka santai sambil mengambil cemilan dan langsung melahapnya.
"Ka gue di ajakin masuk organisasi kampus, menurut lo terima gak?" cerita Akbar pada Raka.
Raka menoleh ke arah Akbar sambil mengangkat bahunya, "Terserah lo, gue sih males ikutan begituan buang waktu tadi juga gue di ajakin."
Ingat kan dulu waktu SMA yang Akbar menjadi wakil ketua kelas, dan Raka marah-marah karena gak penting menurutnya. Tetapi bukankah di mulai dari situ Raka mengenal Kayla?
"Tapi kan buat nambah pengalaman Ka" ujar Akbar.
"Mending gue tidur dirumah dari pada ikut begituan atau jalan sama Kayla." jawab Raka acuh.
Yang begini nih, yang bikin bangsa kita gak maju-maju.
"Tapi gue belum bilang Lena" cicit Akbar.
"Yaelah masalah beginian aja lo kudu bilang sama dia? Izin dulu gitu sama dia?" cerocos Raka.
Raka tidak seperti Akbar yang apapun harus izin atau cerita pada kekasihnya. Menurut Raka, kita itu harus memiliki privasi juga. Tidak semua harus di ceritakan kepada siapapun. Untungnya Kayla menerima itu.
"Bukan karena gue masih sebel sama dia ya Bar, lo kan tau sendiri hubungan gue sama dia udah baik. Tapi makin kesini gue makin risih aja liat lo yang kayanya apa-apa harus izin dia. Aturan yaa lo minta izin sama mami bukan sama dia, bucin dasar" lanjut Raka.
"Ngaca woii lo juga bucin anjir sama Kayla." emosi Akbar tidak suka mendengar ucapan Raka seakan menjelekkan Lena.
"Iya gue emang bucin sama Kayla, tapi gak separah lo yang apa-apa kudu ngadu, izin ini itu. Boker aja lo izin dulu kali sama dia, inget dia baru pacar lo bukan istri lo!" omel Raka.
"Trus lo?" tanya Akbar sewot.
"Gue? Kan gue bilang gue gak separah lo, lo tau gue. Gue gak kaya Lo yang apa-apa minta izin atau apalah itu. Gue punya privasi juga yang gak perlu Kayla tau dan untungnya Kayla paham tentang itu."
"Tapi kan Lena sama Kayla beda. Coba aja dulu gue yang sama Kayla." celetuk Akbar membuat Raka menatapnya tajam.
"Masih ungkit yang lalu? Masih ada rasa?" selidik Raka tak suka dengan perkataan itu.
"Apaan sih ah!" kesal Akbar.
"Udahlah main aja lah ribet." ajak Raka dengan masih sedikit kesal.
Raka tidak mau ribut dengan masalah ini, semuanya sudah berlalu dan keduanya sudah bahagia. Tapi ada yang sependapat gak sih sama Raka??
Dan akhirnya mereka berdua larut dalam kegiatan bermain gamenya. Sedang asik main ponsel Akbar berdering kembali tapi kali ini panjang artinya ada panggilan masuk disana. Akbar segera meraih ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya.
Salsa? Ngapain nih anak muncul lagi setelah sekian lama batin Akbar.
Akbar berdiri lalu pergi ke arah balkon untuk mengangkat panggilan itu. Bukan karena tidak ingin kedengaran Raka, hanya saja memang takut kedengaran Raka sih hahaha...
Semenjak kejadian itu Raka membenci Salsa. Tetapi Salsa selalu berusaha meminta maaf pada Raka dan selalu berakhir dengan penolakan dari cowok itu.
"Halo... Ngapain lo telepon gue?"
"...."
"Dimana?"
"...."
Bip
Sambungan mati dari pihak Salsa. Membuat pikiran Akbar pergi entah kemana, berusaha percaya apa yang barusan di katakan oleh Salsa. Tak lama ada pesan masuk di ponselnya dan Akbar segera membuka pesan itu.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments