09

Hari ini hari Minggu. Hari dimana hampir semua orang malas melakukan apapun. Termasuk kalian semua nih yang baca? Pasti kalian masih di kasur sambil tiduran, belum mandi dan lagi baca cerita ini. Betul? Semoga hari Minggu kalian selalu menyenangkan...

Begitu juga Akbar, sekarang sudah pukul 9 pagi. Tapi Akbar masih betah di kamarnya dengan bergulung di bawah selimutnya, tidurnya terusik karena suara deringan ponsel terdengar. Dengan malas ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

"Halo." sapa Akbar dengan suara serak nya.

"...."

"Iya, kenapa?"

"...."

"Bisa, aku mandi dulu ya"

"...."

"Oke see u"

Bip

Dengan malas Akbar bangkit dari tidurnya lalu mengumpulkan nyawanya untuk melakukan acara mandinya. Setelah dirasa cukup lalu ia melangkah ke arah kamar mandi dengan gontai.

Menghabiskan waktu 30 menit untuk bersiap-siap. Dengan memakai kaos hitam polos dipadukan dengan celana jeans senada berserta sepatu Converse putih nya, jangan lupakan jam tangan yang membuat penampilannya makin tampan. Oh ayolah jangan kalian bayangkan itu nanti bisa ketawa tidak jelas.

Akbar melangkah kebawah, ternyata di bawah ada Citra sedang masak untuk makan siang yang di bantu oleh Art nya sedangkan Bianca sedang asik dengan ponselnya di meja makan.

"Pagi semuaaaa." teriak Akbar membuat mereka menoleh ke arahnya dengan tatapan sebal.

"Apaan sih teriak begitu, suara lo bikin sakit kuping tau." gerutu Bianca.

"Bodo yang penting ada yang mau." cibir Akbar.

Citra menggeleng, melihat kedua anaknya yang selalu begitu, "Mau kemana Bar?" Tanya Citra melihat penampilan Akbar sudah rapi.

"Palingan kalo gak sama Lena ya sama Raka mi, siapa lagi temen dia." celetuk Bianca.

"Ye so tau, temen gue banyak kali!" balas cibiran Bianca tadi.

"Mau pergi sebentar mi sama Lena." jawab Akbar.

"Kemana?" tanya Citra.

Akbar menggeleng, "Ke toko buku doang kok, posesif deh." dengus Akbar.

"Yee pede amat, yaudah nanti kalau udah selesai ajakin dia kesini Bar." pinta Citra.

Akbar mengacungkan jempolnya tanda 'oke' lalu mengambil dua lembar roti dan dioleskan selai coklat kesukaannya. Sedangkan asik makan sambil menggoda kakaknya ponselnya kembali berdering. Akbar mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya.

"Yura" beo Akbar saat membaca nama itu. Lalu Akbar menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.

"Iya halo?"

"...."

"Sekarang?"

"...."

"Ini kan Minggu?"

"...."

"Duh gimana ya.. gue ada janjian lagi sama cewek gue."

Bianca menoleh ke arah Akbar sebentar.

"...."

"Oke gue otw sekarang kesana kak"

"...."

Bip

Akbar menaruh ponselnya ke atas meja dengan kasar. Saat ini kebingungan tengah melandanya. Selama ia pacaran dengan Lena, tak pernah membatalkan janjiannya. Lalu sekarang? Bagaimana?

Apa gue gak usah ikut aja ya organisasi nya? Gumam Akbar.

Bianca yang mendengar itu langsung menatap adiknya penuh selidik. Akbar yang merasa di perhatikan langsung menoleh ke arah Bianca.

"Apa lo ngeliatin gue!!!" Tanya Akbar galak.

"Ih apaan si lo, kesel sama orang marahnya ke gue!" Teriak Bianca.

Semua orang gitu kali yaa,keselnya sama siapa marahnya sama siapa... Ayo ngaku nih yang begini?? Wkwkwk

"Kak mau bantuin gue gak? Kakak kan cantik banget gak ada yang ngalahin pokonya." rengek Akbar membuat Bianca bergidik ngeri.

"Apaan lo tadi aja marah-marah sekarang ada maunya so muji gue cantik lagi, ogah gue!" seru Bianca dengan cepat.

Sudah tau akal licik adiknya ini, selalu saja begitu jika minta tolong atau mau minta sesuatu padanya. Memuji dirinya lah, atau baik-baik dirinya lah. Tetapi sebagai kakak yang baik, Bianca jarang menolaknya. Selagi Bianca bisa membantu pasti akan membantu, tetapi dengan proses perdebatan dulu.

"Mamiiii, kak Bi nih gak mau bantuin aku!" adu Akbar pada Citra.

Di luaran aja kelihatan sangar dan jagoan, kalau di rumah mah tetap aja anak lelaki yang manja pada ibu nya, sama seperti Raka.

"Kakak bantuin adeknya dong." teriak Citra dari dapur.

"Gak mau mi, tadi aku digalakin!" balas Bianca dengan teriakan juga.

"Kak please bantuin yaaa, nanti gue beliin kebab deh gak pake bombay sama jangan telalu pedes." nego Akbar. Selalu dengan iming-iming andalannya.

"5?" Pinta Bianca dengan cepat.

"Gila buat apaan sebanyak itu! Gak habis mubajir nanti, lagian lo mau jadi gendut kalau makan sebanyak itu?" Akbar masih berusaha menegosiasi pada kakaknya.

"Mau atau engga? Kalo engga yaudah." ucap Bianca dengan santai.

"Oke fine 5!" putus Akbar pada akhirnya. "Habis sudah uang jajan gue." gerutu Akbar.

"Bantuin apa?" tanya Bianca pada adik semata wayangnya.

"Temenin Lena pergi ke toko buku, gue ada urusan di kampus" beritahu Akbar.

"Hah? Urusan apaan lo? Ini kan Minggu! Lagian tumben amat lo mentingin urusan lo dari pada Lena, biasanya kan bucin banget." cibir Bianca.

"Gue baru aja masuk organisasi jurusan di kampus! Hari ini jadwal pertama gue ketemu sama ketuanya ada rapat mendadak. Maka itu gue bingung banget makanya gue minta tolong lo." jelas Akbar.

"Gue sih ayo aja, sekalian gue mau beli novel tapi cewek lo nya mau gak? Dia kan masih ngerasa canggung sama gue." Benar, Lena masih canggung kalau berdekatan dengan Bianca.

"Yah gimana gak canggung lo masih suka bandingin dia sama Kayla!" cibir Akbar.

"Yah lagian lo kenapa gak jadiannya sama Kayla sih! Gue lebih suka sama dia tau." ujar Bianca dengan santainya tanpa memikirkan perasaan Akbar.

Sampai di titik ini tak mudah juga buat Akbar, tetapi ia harus ikhlas dan sekarang ia sangat mencintai Lena lebih dari apapun. Lena orang ke empat yang ada di hatinya.

"Kak udah yaa gausah bahas itu terus, sekarang nyatanya gue sama Lena bukan sama Kayla. Jadi gue minta tolong sama lo anggap dia sebagai adik lo juga,gue sayang sama dia kak!" ujar Akbar serius.

"Tapi gue lebih sayang Kayla." Blanca tetap dengan pendiriannya.

"Bodoamat! Udah gue hubungi Lena dulu,nanti lo jemput dia ya kesana." Akbar tidak mau berdebat terus soal ini, tidak akan berubah juga kalau di sebarkan.

"Kok harus di jemput? Ketemuan aja langsung di toko buku mana!" tolak Bianca.

"Kak please..." mohon Akbar pada Bianca dengan telapak tangan di satukan di taruh di depan dadanya.

"Oke oke!" Final Bianca.

Benar Lena masih canggung dengan Bianca. Entah mengapa Lena merasa Bianca itu kurang suka dengannya makanya Lena takut untuk berbicara banyak hal dengan Bianca. Tetapi saat mereka jalan berlima dengan Linda dan Dinda juga, Bianca asik aja bicara dengan Kayla. Memang sih pribadi keduanya beda.

Akbar mengambil ponselnya lalu pergi menjauh dari Bianca. Malas jika sedang menghubungi Lena,Bianca selalu mengganggunya entah itu nyanyi sambil teriak-teriak atau apalah yang membuat Akbar kesal akhirnya memutuskan panggilan itu atau pindah kekamarnya.

Baru akan mendial nomer Lena, ternyata pemilik nomer itu menghubunginya lebih dulu. Dengan gugup Akbar mengangkat panggilan itu. Catat! Ini pertama kalinya Akbar membatalkan janjinya pada Lena sejak pacaran!

"Ha..halo sayang?"

"...."

"Dirumah"

"...."

Bersambung.....

Hahahah makin pada greget nih pasti karena di gantung begini... Maafkan kan yaaa aku sayang kalian kok❤❤❤

Selamat membaca.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!