10

"Ha..halo sayang?"

"...."

"Dirumah"

"...."

"Em..anu Len,hari ini kamu ditemenin kak Bi mau gak?"

"...."

"Aku ada rapat mendadak dikampus"

"...."

"Iya sekarang,kamu ditemenin kak Bi dulu ya? Nanti pulangnya kamu kerumah aku dulu biar aku yang anter kamu pulang"

"...."

"Serius? Tapi mami suruh kamu kesini"

"...."

"Kamu marah?"

"...."

Bip

Sambungan mati sepihak, siapa lagi kalau bukan Lena yang mematikan sambungan itu. Sejujurnya Lena tidak marah dia hanya kesal, sama gak sih? Akbar mengacak rambutnya frustasi. Rasanya sangat aneh sungguh. Tapi mau bagaimana lagi ia tak ingin membuat kesan pertamanya dikampus jelek karena membatalkan ikut organisasi.

"Kak kebabnya gak jadi!" ketus Akbar saat sudah berada dihadapan Bianca.

"Loh kenapa?? Cewek lo ngambek ya?" selidik Bianca.

"Gatau! Dia katanya pergi sendiri aja atau enggak ngajak Kayla." ujar Akbar.

"Lahahah tumbenan amat si bucin gak ngebucin." Bianca tertawa keras hingga sudut matanya mengeluarkan air mata.

"Bacot! Udah ah gue cabut dulu." geram Akbar sambil menarik rambut Bianca kesal.

Membuat sang empunya berteriak, "Akbar, kurang ajar lo!" Akbar tertawa kencang.

"Mamiiii Akbar pergi dulu yaaa." teriak Akbar pada Citra yang sedang sibuk memasak.

"Okeee jangan lupa bawa Lena kesini yaa." sahut Citra dengan teriakan juga.

"Gak jadi kencan mi, bucinnya lagi ada urusan." celetuk Bianca membuat Akbar kembali melangkah ke arah Bianca. Tetapi dengan secepat kilat Akbar mencium pipi kakaknya lalu menarik hidung Bianca pelan dan berlari menjauh dari sana sebelum Bianca mengejarnya dan mengeluarkan teriakan mautnya.

"Akbarrrrr!! Sialan lo! Mami jijik dicium Akbar." teriak Bianca sambil berjalan ke arah Citra dan mengusap bekas ciuman itu pada baju Citra.

Citra hanya menggeleng melihat tingkah kedua anaknya itu, untung saja tidak ada Raka. Kalau ditambah Raka bisa-bisa Bianca nangis karena di ledekin terus oleh kedua biang kerok itu.

Akbar melajukan motornya ke arah kampusnya. Akbar tidak tau harus nyesel atau tidak ikut organisasi. Disepanjang perjalanan pikirannya tertuju pada Lena, baru kali ini ia mengecewakan kekasihnya.

Tidak salah, baru kali ini? Coba yang kalian komen sudah berapa kali Akbar mengecewakan Lena?

Tak sadar ia sudah sampai diparkiran kampus,ternyata kampus di hari Minggu juga cukup ramai. Mungkin mereka sedang mengerjakan tugas di kampus atau apalah. Akbar segera menuju aula, dan dilihat disana sudah cukup banyak orang yang sepertinya memang anggota organisasi itu.

"Bar baru datang?" Sapa Yura saat Akbar baru menginjakkan kakinya kedalam aula.

"Iya kak, gak telat kan?" tanya Akbar.

"Gak kok, tapi sebentar lagi juga rapat bakal dimulai." ucap Yura lalu melangkah masuk mencari tempat duduk kosong dan ikuti oleh Akbar.

"Jabatan lo disini apa kak kalau boleh tau?" tanya Akbar.

"Em gue cuma wakilnya kok." beritahu Yura sebagai apa jabatannya di organisasi ini.

"Serius?" Akbar tak menyangka kalau Yura adalah wakil ketua dari organisasi yang ia ikuti, pantas saja Yura menawarkan ini pada dirinya dan Raka. Bukan kah, semakin banyak anggota semakin maju organisasinya?

Yura mengangguk lalu tersenyum manis membuat Akbar tertegun melihat itu. Akbar akui Yura memang cantik, memiliki kulit putih,bibir pink,alisnya tebal dan satu lagi hidunganya sedikit mancung. Wajahnya itu adem banget kalau dilihat kaya air terjun.

"Aku tinggal yaa, aku kesana dulu nanti kalau ada perlu apa-apa kontak aja." pamit Yura, Akbar hanya mengangguk sebagai jawaban.

Rapat berjalan lancar,ada beberapa anggota baru termasuk dirinya yang diperkenalkan oleh ketuanya tadi. Akbar sangat menikmati rapat itu sampai ia lupa dengan Lena.

****

Di tempat lain.

Lena sekarang sudah berada di toko buku. Sendiri. Ingat hanya sendiri. Mengapa? Karena Kayla sedang ada urusan keluarga jadilah ia tidak bisa menemani Lena. Bukan karena Lena tidak mau pergi bersama Bianca hanya saja Lena takut canggung kalau hanya berdua dengan Bianca. Lena belum bisa menyesuaikan dirinya pada Bianca,apalagi sejak kejadian itu.

"Baru juga awal udah begini aja,gimana nanti. Pasti gue lebih sering ditinggal." gerutu Lena pada dirinya sendiri.

Selesai membeli buku yang diperlukan Lena hendak mampir lebih dulu ke tempat makan untuk mengisi perutnya. Saat masuk ke dalam tempat makan matanya tertuju pada satu cowok yang duduk diujung sendirian yang hanya ditemanin oleh laptopnya. Lena berjalan menghampiri meja itu semoga saja ia tidak salah orang karena baru pertama kali bertemu waktu itu.

"Kak Arga?" sapa Lena saat sudah sampai didepan meja cowok itu.

Cowok itu mendongak berusaha mengingat siapa yang ada dihadapannya. Ah ya dapat.

"Lena?"

Lena mengangguk.

"Boleh ikut duduk kak?" tanya Lena.

"Silahkan, kok ada disini?" tanya Arga.

Lena mengangguk, "Iya abis dari toko buku, kakak lagi ngapain?" tanya balik Lena pada Arga.

"Oh ini lagi nugas sekalian nunggu temen" jawab Arga dengan sesekali matanya melirik ke arah Lena.

Arga menoleh ke arah kanan dan kiri,seperti sedang mencari sesuatu, "Lo sendirian?"

Lena mengangguk.

"Temen lo yang waktu dikampus mana?"

"Lagi ada acara jadi gak bisa diajak pergi." ujar Lena.

Arga mengangguk paham.

"Yaudah gue kesana dulu ya kak, mau pesen makan." pamit Lena.

"Lah duduk aja disitu, mau gue temenin makan? Mumpung gue belum pesen makan nih." tawar Arga.

Lena menggeleng, "Nanti temen lo dateng gimana kak?" Lena tidak mau kalau Arga jadi terganggu karena kedatangannya.

Arga melirik jamnya sebentar lalu menggeleng, "Gak bakal, dia pasti lama. Yaudah makan aja dulu kita, gue yang traktir deh." ucap Arga lalu mengangkat tangannya seolah memanggil pelayan.

Pelayan datang lalu mencatat pesanan mereka. Mereka berbincang seputaran kuliah dan jurusan yang sedang mereka jalanin sekarang. Dan ternyata Arga itu salah satu mahasiswa berprestasi dikampus. Tak lama pesanan mereka datang,lalu mereka makan dalam diam.

Makan selesai.

"Kak gue langsung cabut yaa soalnya ada perlu lagi." pamit Lena.

Arga menoleh ke arah Lena, "Baru juga selesai makan,emang gak begah apa tuh perut langsung diajak jalan" seru Arga.

"Hahaha bisa aja lo kak." Lena terkekeh mendengar itu.

Tak lama ponselnya Arga berdering menandakan ada pesan masuk disana. Arga mengambil ponselnya membaca pesan itu lalu mengetik sesuatu disana. Setelah itu kembali menatap Lena yang berada di depannya.

"Ternyata gue yang harus ajak nih perut langsung jalan." ucap Arga membuat Lena lemot seketika.

1detik

2detik

3detik

Author cantik. Eh salah.

"Hahahaha apasi lo kak." Lena baru tertawa setelah 3detik terlewat. Jawaban Lena tidak nyambung dengan ujaran Arga tadi.

"Yaampun kenyang bego Len?"cibir Arga dengan kekehan.

"Sialan lo kak, yaudah lo mau cabut kan? Gue juga kalo gitu." Lena baru paham omongan Arga tadi.

Keduanya beranjak dari sana, dan sama-sama mengantri dikasir untuk membayar makanan mereka tadi. Lena tak enak kalau harus di bayarin oleh Arga karena mereka itu baru dia kali bertemu.

"Lo ngapain?" Tanya Arga.

"Ngantri buat bayarlah kak ngapain lagi."

Arga menatap Lena lalu terkekeh, "Yee udah sana, biar gue yang bayar. Tadi kan udah gue bilang, biar gue yang traktir."

"Lah engga ah kak, baru ketemu gua kali udah di trakir aja jadi enak." ujar Lena sambil terkekeh pelan.

"Udah gapapa anggap aja ini sebagai perkenalan kita."

Lena masih tidak enak hati, "Beneran?"

"Iya sana gih, tungguin gue dulu di depan."

Lena akhirnya keluar dari tempat makan itu dan menunggu Arga disana. Rezeki tidak boleh di tolak, iya kan?

"Makasih loh kak udah ditraktir, sering-sering yaa." canda Lena membuat Arga tertawa.

Oh ayolah Arga tak kalah tampan dengan Akbar, meskipun lebih tampan Akbar sedikit. Wajah Arga sangat teduh untuk di pandang, terlihat juga kedewasaan dari sana. Pasti Arga sering di incar oleh adik kelas atau teman seangkatannya.

"Gue bagi kontak lo sini, biar kalo gue lagi baik gue traktir lo." ujar Arga tiba-tiba membuat Lena langsung terkaku.

Lena menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bingung harus jawab apa, di tolak tidak enak gak di tolak nanti jadi masalah, "Ah enggak kak gue bercanda kok serius."

Arga terkekeh melihat ekspresi Lena, "Hahaha, mana pinjem ponsel lo deh sini, gue aja yang taro nomer gue disana,siapa tau kan lo butuh tuh kalo lagi laper eh salah kalo lagi ribet soal tugas jadi bisa langsung tanya sama gue." jelas Arga membuat Lena memberikan ponselnya pada Arga. Bukan karena apa-apa hanya saja kan lumayan dapat guru secara gratis kaya gini. Ah urusan Akbar biarkan nanti saja deh.

Arga memberikan kembali ponsel Lena setelah mencatat nomernya dan miscall ke nomernya agar ia juga menyimpan nomer Lena.

"Lo pulang naik apa?" Tanya Arga.

"Taksi kak." jawab Lena.

"Mau gue anterin dulu?"

"Eh gausah kak, gue ada urusan lagi setelah ini. Gue duluan deh kak takut keburu sore, makasih yaa traktirannya." pamit Lena lalu memberikan salam tos pada katingnya itu.

Bersambung.....

Gimana nih masih seru apa udah bosen??

Jangan lupa vote dan comment yaa❤❤❤

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!