Hari yang melelahkan bagi mereka, karena ternyata kuliah itu tidak seenak waktu kita liat di televisi ya. Yang kerjaannya cuma jalan-jalan aja di kampus trus masuk kelas gak lama keluar lagi gak ada tugas gitu yang diberi dosen. Lah aslinya begini, baru juga hari pertama tapi udah ada tugas dari dosen yang tadi mengajar, meskipun waktunya dikit untuk belajar cuma PR nya banyak cuii jadi sama aja dong waktunya banyak untuk belajar.
Sekarang sudah pukul 3 sore. Seharusnya Lena sudah selesai kelas dari jam 1an. Namun karena Akbar yang baru selesai jam segini. Lena sebenarnya bosen nungguin Akbar selama itu tapi Lena berfikir tadi aja Akbar rela kok bangun pagi hanya untuk dirinya, masa ia tidak sabar menunggu Akbar.
"Mau langsung pulang?" tanya Akbar yang saat ini duduk dihadapan Lena.
"Kayla ngajakin ngopi sih, cuma dari tadi belum keliatan tuh orangnya. Aku chat juga belum dibalas" jawab Lena sambil terus memperhatikan ponselnya menunggu jawaban dari Kayla.
Akbar mengangguk mengerti. Sudah hal biasa kalau mereka sering pergi bersama sejal SMA. Tak lama ponsel Lena berdering ada chat masuk disana. Dan ternyata dari Kayla.
Kayla Diandra
Len sorry banget kita gak jadi ngopi gue harus ngerjain tugas njirr lusa harus kelar tapi ntr malem gue usahain ke tempat Lo deh gimana??
Terdengar nafas kecewa dari Lena.
Lena Aprilia
Oke sip kabarin ajaa. Semangat ❤
Send
"Pulang sekarang aja deh." ajak Lena pada Akbar yang fokus pada ponselnya.
"Akbar!" Panggil Lena sambil menepuk meja karena Akbar tak mendengarnya tadi.
"Hah kenapa sayang?" tanya Akbar sambil gelagapan.
"Lagi ngapain sih?" curiga Lena.
"Gak ngapa-ngapain ini Raka ngasih tau dia udah dirumah katanya nanti aku disuruh ke rumahnya" beritahu Akbar.
Lena mengangguk, "Yaudah ayo pulang." ucap Lena sedikit curiga sebenarnya.
"Loh Kayla nya mana? Katanya mau ngopi dulu?" tanya Akbar.
Lena menggeleng lemas, "Gak jadi, dia mau nugas"
Akbar hanya mengangguk.
Tunggu kita telaah lagi.
Akbar bilang Raka sudah dirumah sedangkan Kayla baru kelar kelas? Setau Lena yaa selama mereka balikan yaa Raka itu gak pernah mau ketinggalan sama Kayla. Dan saat seperti ini gak mungkin banget Raka santai-santai aja dirumah sedangkan Kayla masih dikampus. Mau berpikir positif tapi tetap gak bisa. Gak tau kenapa.
Jadi.....
Lena hanya diam saja tidak ingin banyak bicara. Sekalian Lena masih menunggu Akbar jujur soal tadi. Semoga aja Akbar akan jujur batin Lena. Sekarang keduanya sudah berada di jalan menuju rumah Lena.
"Kamu udah makan?" tanya Akbar ditengah perjalanan.
"Udah tadi di kantin, nungguin kamu kan tadi lumayan lama." jawab Lena sedikit cuek.
"Jadi kita gak mau pergi makan dulu?" tawar Akbar.
"Gak aku belum laper, lagian kamu kan udah ditunggu Raka." pancing Lena.
Akbar mengangguk lalu tersenyum. Senyum yang membuat siapa saja meleleh, termasuk Lena. Senyum yang bikin Lena nyaman saat melihatnya. Senyum yang selalu Lena rindukan.
Tak terasa perjalanan mereka telah selesai, mereka sudah sampai di depan rumah Lena. Akbar masih tidak bicara pada Lena tentang pertemuannya dengan kakak tingkat perempuannya tadi. Lena hanya menahan gejolak panas di hatinya. Kirain bakal jujur, ternyata engga batin Lena.
"Aku masuk ya, kamu hati-hati. Kalau udah sampe kabarin." kata Lena lemas.
Tangan Akbar terulur mengusap kepala Lena pelan, "Pasti sayang, kamu langsung mandi soalnya kamu bau." goda Akbar seraya menutup hidung mancungnya.
Lena menepuk tangan Akbar "ishh enak aja kamu tuh yang bau, udah ah bayy." ucap Lena lalu membuka pintu mobilnya.
Belum sempat keluar tangannya di cekal oleh Akbar, Lena menoleh dengan wajah marah. Kesal di katain bau oleh pacar sendiri, tau maksudnya hanya menggoda tetapi kondisi hati Lena sekarang sedang tidak baik.
"Hahaha jelek amat tuh muka begitu, bercanda sayang ih gitu aja marah, sini kiss dulu." ucap Akbar lalu mengecup kening Lena lembut membuat senyum Lena sedikit mengembang.
Belum sempat kembali membuka pintu mobil, Akbar sudah lebih dulu keluar dari mobilnya dan siap membukakan pintu untuk Lena. Dengan senyuman miliknya ia berikan kepada Akbar serta ucapan terima kasih untuk kekasihnya.
****
Akbar segera melajukan mobilnya saat sudah tak melihat lagi punggung Lena. Akbar hati benar-benar memastikan Lena sampai ke dalam rumah dengan selamat sentosa. Ah astaga lebay. Dengan tangan satu memegang stir dan yang satu lagi mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya, yaitu Raka.
"Halo lo dimana sekarang?"
"...."
"Sama Kayla?"
"...."
"Oh oke"
"...."
"Gpp, yaudah ketemu dirumah aja"
Bip
Akbar telah sampai didepan rumahnya, dengan segera Akbar memarkirkan mobilnya di garasi saat gerbang sudah dibuka oleh satpam rumahnya. Akbar masuk kedalam menuju kamarnya. Lelah, tapi perjalanannya terhenti saat melihat mami nya diruang Televisi sambil menangis sesegukan.
"Mami kenapa?" tanya Akbar, ada nada khawatir disana.
Citra hanya menggeleng.
"Siapa yang buat mami nangis? Bilang sama Akbar biar Akbar samperin." ujar anak laki-laki kesayangan mami.
Citra menunjukkan layar televisi nya yang menampilkan drama dengan cowok-cowok berwajah pucat yang kata kebanyakan kaum hawa itu ganteng, termasuk Lena. Atuh gantengan Akbar lah.
"Mami lagi nonton drakor dek, ceritanya sedih banget mami gak kuat nahan tangis." jelas Citra membuat Akbar melongo.
Baru kali ini Akbar melihat maminya seperti ini. Baru kali ini juga Akbar melihat Citra menonton drama seperti ini. Sesedih itukah ceritanya sampai membuat Citra menangis sesegukan.
"Yaallah dikira kenapa! Udah tua juga gak cocok nonton beginian pake nangis segala lagi." cibir Akbar lalu mematikan layar televisi tersebut.
"Ih adek kok dimatiin, mami kan lagi nonton. Kurang ajar kamu ngatain mami tua" rasul Citra sambil berusaha meraih kembali remot yang di pegang Akbar.
"Lagian mami gak jelas kaya ABG aja nonton begituan sampe nangis. Jangan kaya pembaca cerita Akbar deh yang kadang senyum sendiri atau kadang nangis sendiri!" dengus Akbar sedikit kesal dengan tingkah Citra.
Akbar duduk di samping Citra, "Mami tau dari mana sih drama-drama begitu? Papi tau pasti papi juga ngomel bukannya nonton berita." omel Akbar.
"Kan dari Lena sama kakak kamu yang ngajarin eh iya sama Kayla juga." beritahu Citra siapa yang mengajarinya.
Akbar menggeleng tak habis pikir pada ke tiga wanita yang membuat Citra ikut-ikutan menonton ini, "Mereka masih muda mami, masih pantes nangis-nangis begitu lah mami?"
"Akbar kamu kurang ajar yaa sama mami kamu sendiri." teriak Citra membahana, tak terima di bilang tua sejak tadi.
"Udah ah mi Akbar kekamar aja capek, kalo sampe Akbar liat mami nangis lagi karena nonton kaya tadi siap-siap aja." ancam Akbar.
"Apa?" tantang Citra.
"Lihat aja nanti." ucap Akbar lalu meninggalkan Citra disana.
Citra jadi heran kenapa sih anak laki-lakinya itu banyak yang sukain. Padahal tingkah lakunya itu aneh, persis sama kaya papinya. Tapi Citra sangat beruntung punya anak seperti Akbar yang selalu perhatian pada keluarganya. Salah satunya tadi Akbar tak suka melihat Citra menangis apalagi karena menonton drama. Akbar lebih suka melihat Citra menangis karena sesuatu yang membuatnya bahagia. Akbar akan berdiri paling dengan untuk menghapus air mata bahagia Citra itu juga kalau enggak diduluin sama papinya.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments