17

Dita menatap Lena dan Fani dengan bergantian, melihat kedua ekspresi yang berbeda di sana. Lena yang terlihat biasa saja sedangkan Fani yang terlihat antusias mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Dita.

Dita mulai memberitahu gosip hangat pada keduanya dengan suara pelan karena sekarang mereka sedang di perpustakaan, berisik sedikit di omelin pasti.

"Akbar sahabat lo ribut di parkiran sama kak Bara ketua organisasi itu!" ucap Dita membuat Lena langsung duduk tegap.

"Ah yang bener lo? Masalah apa?" tanya Fani antusias.

Sedangkan Lena diam memikirkan apa yang sedang terjadi.

Dita mengangkat bahunya tanda tak tahu dan membuat Fani menghela nafasnya kecewa.

"Ah lo ngasih info tapi gak tuntas kan jadi gak seru!" seru Fani.

"Pas gue mau lihat eh mereka udah bubar, kayanya ada dosen deh yang bubarin." ujar Dita.

Lena berdiri dan membuat Dita ikut berdiri. "Lo ngapain berdiri Dit?" tanya Lena.

"Yah lo ngapain juga berdiri? Gue kan jadi ikut-ikutan." jawab Dita gemas.

Ah Lena ingin sekali menjambak rambut Dita biar bisa lihat isi otaknya apakah penuh atau emang separo.

"Gue cabut dulu, besok nyambung lagi" pamit Lena.

"Katanya cuma sahabatan tapi kok panik ya Dit?" Celetuk Fani pada Dita.

"Siapa yang panik Fan?" tanya Dita yang tidak mengerti pertanyaan Fani tadi.

Emang dasar lemotzzz....

"Bodoamat ah Dit, gue cabut dulu ah ngomong sama lo gak jelas!" ujar Fani lalu meninggalkan Dita yang sedang menggerutu. Selalu saja begini pikirnya.

Lena menghampiri Akbar di parkiran, disana ternyata ada Raka dan Kayla. Ada sedikit luka di sudut bibir Akbar.

"Kenapa bisa berantem?" tanya Lena to the point.

"Tenang dulu Len, mending obatin dulu lukanya Akbar. Gue ambil kotak p3k dulu ya di mobil Raka." ucap Kayla lalu pergi menuju mobil Raka. Tak lama Kayla kembali dengan kotak p3k dan diberikan kepada Lena.

Dengan rasa khawatir bercampur kecewa Lena mengobati Akbar yang sedikit meringis saat Lena sengaja menekan lukanya.

"Pelan-pelan kali, sakit." ringis Akbar.

"Sakit kan? Udah tau sakit kenapa berantem? Lupa sama janji?" cercah Lena membuat Akbar terdiam. Ini salahnya sudah melanggar janjinya pada Lena untuk tidak berantem lagi.

Lena sudah selesai mengobati Akbar. Dan mereka berempat masih berdiri di samping mobil milik Akbar, jangan lupakan tatapan warga kampus saat melihat mereka. Ada yang suka dan tidak suka.

"Bisa jelasin?" tanya Lena lagi pada Akbar.

"Cuma masalah kecil aja Len." jawab Akbar sesantai mungkin.

"Yah kenapa bisa sampe ribut gak jelas gini?" desak Lena terus.

Akbar diam tak menjawab. Bingung harus jawab apa. Kayla mengajak mereka untuk duduk sebentar di kantin. Kayla juga penasaran mengapa Akbar bisa berantem seperti tadi kalau tidak ada Raka mungkin saja luka Akbar lebih banyak karena di keroyok oleh kakak tingkatnya.

Selama di perjalanan menuju kantin banyak desas desus yang terdengar masuk kedalam telinga Lena. Mungkin ketiganya juga mendengar namun disini Lena lah yang paling berdampak.

Gila ya Akbar berani banget lawan kak Bara

Iya padahal cuma gara-gara kak Yura doang.

Emang Akbar sama kak Yura ada hubungan apa sih?

Kasian ya si Lena,sok belaga kaya pacarnya Akbar aja,lebay gitu.

Kayla menggenggam tangan Lena erat bermaksud untuk menenangkan gadis itu. Kayla tau bagaimana perasaan sahabatnya saat ini. Keempatnya duduk di bangku kantin lalu memesan minuman.

"Bener apa yang mereka bilang?" tanya Lena sudah gemas dengan Akbar.

"Bilang apa?" tanya Akbar pura-pura tidak mendengar. Padahal ia dengar jelas. Namun....

"Jelasin sekarang bar! Gue juga mau tau apa masalah Lo sama mereka!" kali ini Raka yang bersuara.

Baru akan menjawab tiba-tiba pesanan mereka datang dan tak lama disusul oleh Yura disana. Akbar menatap Yura bingung untuk apa dia kesini.

"Akbar bisa bicara sebentar?" ujar Yura dengan suara lembutnya.

Sungguh Yura itu cantik, baik dan selalu ramah oleh siapapun. Tak ada alasan untuk menolak kehadiran Yura, namun sejauh ini Akbar hanya menganggap Yura sebagai seniornya di kampus. Tak lebih.

"Ada masalah apa kak?" bukan, bukan Akbar yang menjawab tapi Lena.

Yura menoleh ke arah Lena dengan tatapan yang susah di artikan. "Ada masalah sebentar sama Akbar, pinjem Akbar nya sebentar boleh?"

Lena menatap Akbar, tetapi yang di lakukan Akbar adalah menatap Yura dan Lena bergantian. Akbar harus apa?

"Kalo aku gak izinin kakak marah gak?" suara Lena lagi.

Yura memandang Lena, dan kayanya kali ini dengan pandangan tak suka.

"Alasannya?" tanya Yura dengan nada suara yang berbeda tidak seperti tadi.

"Akbar lagi ada urusan sama kita."

"Tapi aku minta waktunya sebentar aja, ada yang harus aku bicarain sama dia. Kan kalian bisa ketemu setiap waktu." Yura tak menyerah.

"Tapi kita juga ada masalah yang harus kita omongin kak." ujar Lena mencoba sabar.

Ngomong kek lo Bar!

"Kenapa kamu ngatur-ngatur Akbar? Kalian cuma sahabatan kan? Sahabat kamu yang lain aja diem kok, kamu gak izinin Akbar buat ngobrol sama aku?" suara Yura sedikit meninggi.

Ah Lena benci situasi kaya gini!

Lena menatap Akbar dengan arti 'bilang enggak' tapi kayanya Akbar tak mengerti tatapan itu.

"Len, sebentar ya setelah ini aku akan jelasin semuanya sama kamu." ucap Akbar lalu bangkit dan mengajak Yura pergi dari sana.

Lena memandang punggung Akbar yang menghilang entah pergi kemana bersama perempuan sok lemah lembut itu. Marah? Tentu. Kecewa? banget!

"Kay, gue cabut dulu ya. Nanti kalo Akbar balik lagi bilang aja gue ada urusan." ucap Lena dengan suara yang sudah sedikit bergetar.

"Tunggu Akbar aja sebentar Len,kita juga butuh penjelasan dia." balas Kayla sambil menarik lengan Lena agar duduk kembali.

Lena menggeleng, "gue ada urusan mendadak." bohong Lena.

Kayla tau Lena sedang berbohong, tetapi ia tidak bisa mencegahnya. Kayla tau perasaan Lena saat ini.

"Are you okay?" tanya Kayla basa-basi.

Lena mengangguk lalu tersenyum tipis pada sahabatnya ia tau sahabatnya pasti mengkhawatirkan dirinya, tapi kayanya memang Lena butuh waktu sendiri.

Lena tak habis pikir mengapa Akbar lebih memilih pergi dengan Yura dari pada harus menjelaskan dulu padanya. Kalau alasannya waktu mereka lebih banyak dari pada dengan Yura, artinya Lena sudah bukan prioritas Akbar lagi?

"Ka, gue cabut dulu,titip Kayla. Nanti gue kabarin ya Kay." ujar Lena lalu berdiri dan kebetulan Fani lewat sana bersama Dita.

"Fani, Dita!!!" Serunya membuat keduanya menoleh dan berjalan mendekat ke arah Lena.

"Kenapa?" tanya Fani.

"Kita jadi kan ngerjain tugas? Jalan sekarang aja yuk!" Ujar Lena membuat Fani dan Dita mengerutkan keningnya bingung.

"Loh bukannya besok ya kita sambung lagi?" Ceplos Dita membuat Lena melotot.

"Udah yuk, Kay gue cabut ya. Ka bilangin Akbar jangan cari gue dulu, gue baik-baik aja suruh dia selesaiin dulu aja masalahnya sama seniornya." pamit Lena pada Raka dan Kayla.

Respon Raka hanya mengangguk karena ia tau pasti Lena sedih sedangkan Kayla masih terus membujuknya untuk menunggu Akbar lebih dulu.

Sebelum melangkah Lena mencium pipi Kayla setelah itu melangkah bersama kedua teman kelasnya. Fani dan Dita masih belum mengerti, apa tujuan Lena.

"Lo bawa mobil kan Dit?" tanya Lena saat sudah menjauh dari Raka dan kayla.

Dita mengangguk "bawa, kenapa emang? Mau minjem ya? Jangan ya nanti mami marah."

"Yee siapa juga yang mau minjem mobil lo, kita kerumah lo buat lanjut nugas aja gimana?" seru Lena.

"Fan, gimana?" lanjut Lena beralih ke Fani.

"Ada masalah?" to the point Fani.

"Nanti gue jelasin!" ucap Lena.

"Oke, ayo Dit Lo yang bawa kita duduk di belakang!" seru Fani membuat Dita menoyor kepala sahabatnya.

"Emang gue supir lo!" ketus Dita. Tumben sekali anak ini tidak lemotzzzz. Hahaha.

Akhirnya ketiganya meninggalkan area kampus. Dengan perasaan Lena yang entah seperti apa. Banyak pertanyaan yang dari tadi mengitar di otaknya untuk Akbar. Namun sayang kesempatan untuk bertanya saat ini tidak mungkin. Karena Akbar lebih memilih perempuan lain dari pada menjelaskan apa yang sudah terjadi pada kekasihnya.

Bersambung....

Gimana part ini dapet gak feel nya? Soalnya katanya part sebelumnya gak dapet feel nya. Semoga part ini dapet yaa heheh.

Kalo kalian jadi Lena apa yang bakal kalian lakuin sih? Isi disini yaaa..

Akbar juga kenapa sih ngikutin jejaknya Raka yang selalu menyakiti Kayla pada jamannya! Jadi sebel!!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!