12

Keesokan harinya.

Akbar masih terus gelisah karena Lena tak membalas pesannya sejak kemarin, bahkan saat Akbar mengunjungi rumah Lena. Kekasihnya itu tidak ada dirumah, Akbar tidak tau kemana Lena pergi. Karena saat Akbar tanya pada Kayla. Perempuan itu sedang tidak bersama dengan Lena melainkan sedang bersama dengan Raka.

"Angkat dong Len." gumam Akbar saat mulai menghubungi Lena sejak semalam.

Semalaman Akbar tidak bisa tidur nyenyak karena Lena tak kunjungi mengabarinya. Terbukti sekarang baru pukul 8 pagi, Akbar sudah sibuk menghubungi Lena kembali. Namun hasilnya tetap sama, tak ada jawaban sama sekali dari gadisnya.

Akbar bergegas menuju kamar mandi untuk bersih-bersih karena ia ada jadwal kuliah pagi hari ini yaitu jam 9 pagi. Setelah sudah rapi semua Akbar melangkah menuju kebawah, dan dilihat disana ada keluarganya.

"Kuliah jam berapa dek?" tanya Devan yang saat ini sedang baca koran di ruang keluarga.

"Jam 9 pi, tumben papi gak ke kantor?" balas Akbar sambil mencomot selembar roti tawar yang ada di atas meja dan jangan lupa mengoleskan selai kesukaannya, yaitu? silahkan jawab yang masih ingat.

"Tau tuh kakak kamu, ngapain nyuruh papi sama mami ke kampusnya." gerutu Devan.

Akbar menoleh ke arah Bianca bermaksud ingin bertanya, tetapi...

"Gausah kepo!" sengit Bianca. Belum juga bertanya udah di semprot duluan.

"Lo bolos ya? Atau bikin ulah dikampus? Kok sampe dipanggil orangtua?" cerocos Akbar pada sang kakak.

"Bukan dek, di kampus kakak itu ada acara cuma diwajibkan orangtuanya datang, katanya sih kakak kamu itu menang lomba. Tapi mami gak tau lomba apa." sahut Citra sambil tangannya beberes meja makan.

"Lomba nangis kali mi." celetuk Akbar membuat Bianca menatapnya tajam sedangkan Devan dan Citra cekikikan.

Sudah biasa melihat kedua anaknya perang mulut seperti itu. Selagi keduanya tidak terlibat cekcok mulut yang sampai melukai hati, tidak jadi masalah buat Devan atau Citra. Bukankah saling mengejek yang bersifat candaan itu adalah salah satu bentuk rasa sayang.

"Udah ah, Akbar berangkat dulu ya takut telat nanti di panggil orangtua kan gak lucu masa udah kuliah bawa orang tua segala ke kampus hahahah." tawa Akbar sambil menyalimi ketiga orang yang berada disana lalu keluar rumah.

Sesungguhnya Citra khawatir pada anaknya itu,karena ia bisa melihat wajah Akbar tidak seperti biasa. Citra tau penyebabnya adalah Lena. Karena sampai sekarang juga Lena tidak menghubungi Citra membuatnya juga khawatir pada gadis itu. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Akbar sepenuhnya karena, mana ada seorang ibu yang tega menyalahkan anak kandungannya sendiri meskipun ada itu juga karena hal fatal. Ini kan hanya sebatas pacaran. Bener???

Akbar melajukan mobilnya menuju kampus. Sepanjang perjalanan Akbar masih mencoba menghubungi Lena. Ia tau hari ini Lena ada jadwal kelas jam 8 tadi, tapi ia bangun kesiangan karena semalaman susah tidur dan baru tidur setelah sholat subuh.

"Semoga kamu ada dikampus." gumam Akbar.

Setelah sampai dikampus Akbar berjalan ke arah kelas Lena. Dari depan Akbar tidak bisa melihat Lena karena pintu kelasnya di tutup. Akbar berdiri disana dengan gaya cool nya. Banyak dari penghuni kampus memperhatikan dirinya terutama kaum perempuan. Tatapan memuja selalu ia dapatkan.

Akbar melihat jam di pergelangan tangannya. Sekarang sudah pukul 9 kurang 10 menit Akbar harus menuju kelasnya sebelum dosen pengajarnya datang. Helaan nafas kecewa terdengar dari sana. Akbar kecewa karena ia belum berhasil bertemu dengan Lena.

Saat menuju ruang kelasnya, Akbar tidak sengaja menabrak bahu seseorang. Saat Akbar mendongkak lalu mencoba mengingat siapa yang ia tabrak dan ya akhirnya ia ingat. Bahwa orang ini adalah cowok yang waktu itu berkenalan dengan Lena dan Kayla kalau tidak salah kakak tingkat mereka. Lalu ngapain ada di area fakultas hukum.

"Sorry bro." ucap Arga.

"Sorry juga." jawab Akbar.

Lalu Akbar melangkah kembali menuju kelasnya tanpa memperdulikan Arga disana yang kayanya ingin bicara dengannya. Bodoamat gak kenal ini batin Akbar.

****

Kelas Lena sudah bubar sekitar 10menit lalu dan sekarang ia sudah berada dikantin utama kampus untuk mengisi perutnya. Memang tadi sebelum berangkat ia tidak sempat sarapan karena ia juga kesiangan seperti Akbar. Dirinya tidak tidur karena memikirkan Akbar.

Saat sedang asik melamun tiba-tiba ada yang duduk dihadapannya membuat Lena terlonjak kaget.

"Eh astaghfirullah." sebut Lena.

Orang didepannya hanya menampilkan senyum manis dengan kekehan kecil yang terdengar.

"Ngelamun aja sih lo." cibir Arga.

"Siapa yang ngelamun, lo tuh ngagetin tau untung gue gak punya penyakit jantung!" gerutu Lena.

"Kalo gak ngelamun gak bakal kaget."

Lena mengangguk sambil tangannya membuka ciki yang ia beli tadi, "Iya dah iya." jawab Lena lesu.

"Lagian kok lo makan dikantin sini sih? Kan kita ada kantin." tanya Arga.

"Kenapa emangnya? Gue dari awal masuk selalu makan dikantin ini belum pernah dikantin sana." jawab Lena jujur.

"Iya sih emang lebih enak di kantin ini, yaudah Lo mau makan apa? Gue yang traktir deh" tawar Arga sambil menaik turunkan alisnya.

Lena yang melihat itu terdiam sebentar lalu akhirnya kembali sadar, "Eh jangan kak, gila masa iya gue di traktir lagi baru kemarin." tolak Lena.

"Udah gapapa mumpung gue lagi baik."

"Gak usah kak, Lo mau pesen apa biar gue yang pesenin" tawar Lena.

"Samain aja sama lo deh." jawab Arga sambil tersenyum.

Lena mengacungkan jempolnya bertanda 'oke' lalu melangkah ke arah penjual bakso disana. Memang di kantin ini bakso nya lah yang jadi juara. Tak lama Lena hanya membawa dua gelas es teh manis sedangkan baksonya dibawa oleh karyawan penjual baksonya.

"Selamat menikmati." ucap karyawan itu lalu pergi.

Keduanya mengucapkan terimakasih.  Lalu mulai menuangkan sambel dan kecap ke arah bakso masing-masing. Berbeda dengan Akbar, Arga ini sepertinya pencinta pedas seperti Lena. Karena lihat saja kuah bakso nya sudah berubah warna jadi merah.

"Kak lo suka makan pedes?" tanya Lena antusias.

"Iyalah kan gue cowok, masa sama pedes aja takut." balas Arga membuat Lena terdiam. Jleb banget dengernya untung tidak ada Akbar disini.

Lena hanya terkekeh sebentar lalu mulai memakan bakso dihadapannya begitu juga dengan Arga. Keduanya makan dengan diam walau sesekali ada suara yang terdengar dan itu karena berkomentar tentang baksonya.

Setelah acara makannya selesai Lena mengelap bibirnya dengan tisu yang selalu ia bawa kemana-mana. Matanya tertuju pada seseorang di ujung sana yang sedang menatapnya. Jantung Lena berdetak kencang. Bingung harus merasakan apa. Haruskah ia senang? Atau haruskah ia bersalah? Oh ayolah ini posisi sulit. Tolong para reader bantu aku kasih tau harus bagaimana...komen dibawah yaa...

Bersambung....

Ayo siapa nih yang kesel sama Akbar kemarin? Masih kesel gak kalo udah kaya gini??

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!