14

Seminggu berlalu. Selama itu pula tidak ada kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya, tidak ada yang mengganggu hubungannya. Entah kemana Bianca, Yura dan Arga. Yang jelas Lena bersyukur semoga saja seterusnya seperti ini. Cukup para fans Akbar saja yang terus membom isi DM ig nya jangan ada yang berwujud langsung didepan, mengganggu hubungannya.

Mari kita doakan..aamiin.

Saat ini keduanya berada di kampus. Jadwal Akbar hari ini sudah selesai tinggal menunggu Lena yang sebentar lagi akan selesai. Tetapi tiba-tiba ada chat di grup organisasi nya bahwa akan ada rapat dadakan hari ini, dan waktunya tepat saat kelas Lena selesai. Akbar harus apa kalau begini,memikirkan apa yang akan di katakan kepada Lena. Sibuk dengan ponselnya menatap chat itu membuatnya melamun sampai tak sadar ada yang duduk dihadapannya.

"Bar," panggil perempuan didepannya.

Akbar mendongkak menatap perempuan itu, "eh lo kak, kenapa?" tanya Akbar seramah mungkin.

"Nanti ikut rapatkan?" tanya Yura.

"Kalo gue telat dikit boleh gak?"

"Emang kenapa? Kelas kamu udah selesai kan?" Yura balik bertanya.

"Udah sih, cuma gue ada urusan yang gak bisa gue tinggalin."

"Oh gitu, oke nanti aku kasih tau Bara deh kalo kamu telat dikit."

"Oke makasih kak, yaudah gue cabut dulu ya," pamit Akbar meninggalkan Yura disana.

Yura mengamati Akbar hingga punggung Akbar tidak terlihat lagi dari pandangannya. Yura menghela nafasnya kecewa. Entah apa yang di rasa Yura saat ini. Kenapa rasanya aneh saja Akbar seperti menjauh darinya.

****

Kelas Lena sudah bubar. Akbar sudah menunggu kekasihnya itu parkiran kampus dan sudah memberi tau pada Lena. Mungkin sebentar lagi kekasihnya itu sampai kesini. Akbar memang belum memberi tau Lena, bahwa hari ini ada rapat di organisasi. Pikir Akbar nanti saja setelah kelas kekasihnya itu selesai, kalau diberi tahu langsung takut Lena malah tak fokus pada materi yang sedang di ajarkan dosennya.

Ponsel Akbar berdering, ada panggilan masuk dari Lena. Dengan cepat ia menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.

"Halo.."

"...."

"Parkiran, kamu dimana?"

"...."

"Oke"

Bip.

Tak lama Lena datang dengan senyum manisnya. Sejak tadi memang banyak yang memperhatikan Akbar entah itu seangkatannya atau kakak tingkatnya. Maka saat Lena datang, membuat keadaan menjadi riuh. Karena yang mereka tahu, bahwa Akbar dan Lena hanya sepasang sahabat, namun banyak yang tak percaya. Ini kemauan Lena untuk tidak mempublikasikan hubungan mereka pada warga kampus, Lena takut kehidupan di kampusnya menjadi tidak tenang seperti Kayla. Yah Raka memberi tahu pada warga kampus bahwa dia sudah memilik kekasih yaitu Kayla. Maka dari itu Kayla sering dapat teror entah dari siapa, Lena tak ingin itu juga terjadi padanya. Maklum resiko pacaran dengan orang ganteng.

"Yang anterin aku ke toko buku dulu bisa gak?" pinta Lena.

"Ada tugas?" tebak Akbar.

Lena mengangguk "iya, tadi aku ke perpus tapi bukunya habis. Jadi mau gak mau aku harus beli." ujar Lena.

Akbar melihat jam di pergelangannya. Dia sudah telat 5menit lalu, kalau dirinya menemani Lena ke toko buku lebih dulu baru mengantarnya pulang, bisa-bisa ia datang rapat sudah selesai. Akbar galau.

"Kenapa? Kamu ada urusan?" tanya Lena saat melihat Akbar memperhatikan jam mahalnya di tangan putihnya.

Akbar berdehem pelan, "Sebenernya aku ada rapat, tapi aku udah bilang bakal telat sedikit karena mau anter kamu pulang dulu." jelas Akbar pelan.

"Jadi?" tanya Lena.

"Kalo aku anter kamu dulu ke toko buku, kayanya gak akan keburu deh yang. Kalau enggak gini aja, aku anterin kamu pulang dulu nanti selesai aku rapat kita pergi ke toko buku, gak akan lama kok. Gimana?" tawar Akbar memberi jalan tengah agar mereka bisa pergi bersama.

Lena mengangguk. Ia tak boleh egois, Akbar juga punya kehidupan bukan tentang dirinya saja. Lagi pula kan organisasi ini positif buat apa ia marah pada Akbar saat kekasihnya itu melakukan hal positif.

"Yaudah kita pulang sekarang." ajak Akbar.

"Tapi bener gapapa kamu telat karena anter aku dulu? Kalau gak sempat gapapa aku bisa pulang naik taksi kok." ucapan Lena sedikit terdengar sedih Akbar tau itu.

"Gak ada, ayo silahkan masuk sayang." ucap Akbar lalu di hadiahi kekehan dari keduanya.

Mereka sadar bahwa mereka dijadikan bahan tontonan sejak tadi. Namun mereka berusaha tidak peduli meski Lena sangatlah risih dengan tatapan sinis dari mereka, sedangkan Akbar cuek saja. Sudah biasa bagi Akbar dan Raka mendapatkan hal seperti ini.

****

Akbar telah sampai di aula dimana tempat diadakan rapat itu. Saat Akbar masuk, mata para anggota beralih kepadanya namun Akbar cuek saja, yang penting ia hadir dirapat kali ini meski sudah telat.

Rapat berjalan kembali normal. Hingga rapat selesai setelah 2 setengah jam berlalu. Akbar segera keluar aula itu berniat langsung menjemput Lena kembali, tetapi sayang saat dirinya melangkah keluar aula tiba-tiba ada yang menghadangnya.

"Lo izin telat cuma karena mau anterin cewek?" Sarkas Bara. Yah Bara ketua di organisasi ini.

"Lo serius gak ikut organisasi ini? Kalo emang enggak serius mending keluar aja! Gue gak suka punya anggota yang suka telat apalagi dengan alasan nganter cewek!" Lanjutnya.

Akbar memandang Bara tak suka. Memang sejak awal ia ikut rapat ini, pandangan Bara pada dirinya berbeda. Padahal sebelumnya keduanya tidak pernah saling kenal atau sapa. Yang Akbar tau dia adalah ketuanya sejak pertama kali rapat waktu itu.

"Gue udah minta izin sama wakil lo! Dan dia izinin, kecuali kalo gue gak minta izin lo boleh marah sama gue!" balas Akbar tak terima.

Bara memang terkenal dengan tegasnya pada anggota, tetapi bukan Akbar namanya jika ia tidak melawannya. Kecuali didepannya perempuan pasti Akbar sudah mengalah sejak tadi.

"Tapi urusan lo itu gak penting! Lo izin telat cuma buat nganterin cewek itu!" Bara tetap bahas tentang Akbar mengantar Lena.

"Dia lebih penting buat gue!" jawab Akbar dengan tegas.

"Oh jadi organisasi ini gak penting buat lo?" desak Bara.

Akbar terdiam.

"Kalo emang lo cuma main-main ikut organisasi atau cuma pengen tenar gue saranin mending lo ngundurin diri dari pada gue keluarin dengan cara tidak hormat!" tegas Bara.

Akbar diam kembali. Apakah ia keluar saja dari organisasi ini? Ternyata organisasi kampus tak seenak organisasi di sekolah dulu.

"Cukup Bar!!" teriak Yura yang sejak kapan ada disana.

Bara dan Akbar memandang Yura. Pandangan Bara ke Yura berbeda. Entah perasaan Akbar saja atau memang benar.

"Kamu gak bisa sepihak gitu nentuin keputusan! Kamu masih punya wakil! Apa gunanya aku disini?" ucap Yura tegas.

Bara terdiam.

"Dia udah izin sama aku tadi, dan kamu setujui itu. Kenapa sekarang kamu malah marah-marah?" tanya Yura pada Bara.

"Kalo tau dia izin buat nganterin cewek gue gak bakal izinin!" sinis Bara.

"Itu urusan dia, kita gak bisa ikut campur sejauh itu! Mungkin cewek itu emang lebih berarti di hidupnya Bar! Kamu gak bisa kaya gitu, mana wibawa kamu sebagai pemimpin. Lagian Akbar juga udah izin ke aku, kecuali dia datang telat dengan sengaja!" Yura tetap membela Akbar. Meskipun hati Yura sedikit terusik mengatakan 'mungkin cewek itu lebih berarti' ada perasaan aneh yang mengalir.

Akbar memandang Bara remeh. Bara tak suka Akbar, Bara tak suka Yura membela Akbar.

Bara pergi meninggalkan keduanya disana. Senyum kemenangan Akbar terbit begitu saja. Akbar dapat menyimpulkan bahwa cinta Bara itu bertepuk sebelah tangan kepada Yura, lihat saja tadi saat Yura yang bicara bara tak mampu membalasnya.

Hahaha sedih amat tuh ketua batin Akbar tertawa.

Bersambung.....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!