Tak jauh berbeda dengan Bilal, Layla melihat nilai hasil kerja kerasnya dengan tak hentinya mengucap syukur. Ayah dan bundanya di sana pasti bangga, itu yang ada dipikiran gadis itu
"Ila, akhirnya kita lulus" Nessi memeluk sahabatnya erat, tak terasa sekali kalau waktu berjalan sesingkat itu menemani masa putih abu mereka
"Gimana rasanya sekarang? Senengkan?"
"Seneng, tapi sedih juga rasanya"
"Itu hal yang biasa, hidupkan memang berjalan seperti ini"
"Ayahmu gimana?" Sepertinya pertanyaan Layla adalalah hal yang salah. Karena wajah Nessi langsung berubah muram
"La, tolong jangan sebut nama laki-laki itu saat aku lagi bahagia sekarang" terdengar sekali nada kesal bercampur tak suka ketika ditanya seorang pahlawan sekaligus cinta pertama anak perempuan
"Maaf Nes, mulutku reflek aja tadi. Jangan marah lagi oke?"
Nessi menghela nafasnya, ia tak marah pada Layla, hanya saja nama laki-laki itu seperti tak ingin ia sebut lagi sebagai ayah
"Aku nggak marah sama kamu La, tapi sama hatiku sendiri harusnya"
"Kenapa aku masih aja sakit hati saat liat dia bahagia setelah pergi gitu aja dari hidup kami"
"Kamu tau? Ternyata anak tirinya juga perempuan. Dan dia kuliah di universitas tempat kita daftar"
"Serius? Dia kenal kamu nggak?"
"Aku harap nggak bakalan pernah kenal. Kamu tau pas kita pergi ke kampus itu kemarin? Aku liat dia kayak orang sombong banget dan suka semena-mena"
"Tapi aku heran, gimana kamu bisa tau itu dia?"
"Ibuku mungkin terlalu sulit melepas bayang laki-laki itu. Aku masuk kekamar ibu saat mendengar tangisannya yang cukup keras, ternyata dia melihat foto ayahku dengan istri barunya dan salah satunya ada anak itu. Bayangkan bagaimana sakit hatinya ibuku La? Dia yang menemani tapi hasilnya untuk orang lain" Nessi mendongakkan wajahnya pada langit biru cerah, menahan sesak didadanya dan menghapus air mata sebelum turun
"Udah Nes. Untuk sekarang Allah mungkin sedang menyiapkan rencana yang tak pernah kita duga, ingat Allah itu maha adil kepada hambanya"
Nessi mengangguk, ia menyandarkan tubuhnya pada bahu Layla berharap hari-harinya akan jauh lebih baik kedepan. Tapi harapan tetaplah harapan, sepulang sekolah rumahnya kosong, tetangganya mengabarkan kalau ibunya terjatuh dari tangga dan dibawa kerumah sakit
Dengan jantung berdetak kencang, seperti orang kesetanan ia mengendarai motornya tanpa peduli umpatan pengendara lain. Air matanya tak henti jatuh dalam perjalanan, ia menggelengkan kepala menolak kemungkinan yang bisa terjadi. Ibunya menderita darah tinggi karena itu ia kadang sering menyuruh ibunya periksa daripada mengkhawatirkan laki-laki seperti ayahnya
Dengan asal ia memarkirkan sepeda motornya pada rumah sakit yang diberitaukan tetangganya. Rumah sakit elit yang ia tau juga milik keluarga sahabatnya.
Sialnya karena tergesa ia malah menabrak seseorang yang sangat ia benci. Bahkan pernah berdoa supaya tidak ditemukan lagi dengan orang ini
"Kalau jalan bisa pelan-pelankan?! Kamu pikir rumah sakit ini milik keluarga kamu?" dari wajahnya saja Nessi memang sudah tau harusnya bagaimana peringai gadis ini
"Memangnya ada orang yang jalan pelan-pelan disaat ibunya masuk rumah sakit?"
Balas Nessi, tentu tak terima disalahkan walau ia juga salah. Tapi disini yang salah juga perempuan itu, karena memangnya siapa yang berjalan memegang make up dirumah sakit?
"Kamu..."
"Ratu, kenapa ini?" Suara itu, Nessi memejamkan matanya saat laki-laki yang telah merusak arti pahlawan untuknya datang. Nampak jelas sekali keterkejutan diwajah pria berusia hampir setengah abad itu
"Ayah dia nggak tau jalan pelan, make up aku sampai jatuh" adunya pada sosok yang dipanggil ayah
"Om, tolong kasih tau anaknya yang bener, kalau kerumah sakit nggak perlu make up. Lagian hantu rumah sakit juga masih sadar lebih suka hantu asli daripada hantu jadi-jadian" Nessi mengatakan itu dengan menekan pada kata 'Om' dan 'Anaknya' agar status laki-laki didepannya jelas
"Kamu..." sebelum mendengar lagi omelan tak berbobot gadis itu. Ia lebih memilih berlari dan lanjut mencari ruangan ibunya, lebih penting ini daripada terus mengoceh tak penting
Tapi lagi-lagi karena fokus melihat nama setiap ruangan yang ada dipintu, ia tak melihat kedepan dan malah menabrak seseorang lagi
"Kalau jalan yang fokus mbak, untung yang ditabrak bukan tiang" jawab laki-laki itu datar dan langsung pergi. Nessi tak mempermasalahkan karena malas berdebat walau keningnya lumayan sakit juga karena tabrakan dada pria itu
.
"Bunda, udah empat belas tahun berlalu. Semuanya berjalan sangat cepat, rasanya bunda baru pergi kemarin"
"delapan belas tahun lalu bunda berjuang melahirkan kami hingga ada ada didunia ini, rasa terima kasih tak akan pernah cukup untuk membalas itu"
"Kami sekarang sudah delapan belas tahun bunda. Kami sudah besarkan? Bunda pasti bangga disana melihat kami. Ayah mendidik kami dengan baik, tapi tolong beritau ayah dalam mimpi, dia selalu berkata akan menyusul bunda saat sendiri, padahal kami mendengarnya. Mungkin jika bunuh diri bukan hal yang dilarang agama, dia sudah pergi dari beberapa tahun lalu"
Angin pagi menjelang siang berhembus menghantarkan rindu pada sosok yang telah pergi dari dunia, mentari yang tadi pagi cukup terik terhalang gumpalan awan mendung yang sepertinya akan siap meneteskan air beberapa saat lagi
Dua saudara yang baru memasuki usia baru mereka duduk didekat gundukan tanah dimana sosok yang mereka rindukan telah pergi. Hanya bisa menitip doa pada sang kuasa agar sang bunda tenang disana dan dipertemukan kembali dalam janah-Nya
Delapan belas tahun sudah hidup mereka, sedikit tidak mereka bisa merasakan apa yang disebut pahit manisnya kehidupan. Namun langkah selanjutnya untuk menuju apa yang disebut dewasa baru akan dimulai, perjalanan panjang tentang apa arti kata ikhlas, rela, sabar, dan tabah akan menjadi penguat dan hiasan perjalanan mereka.
Bilal dan Layla mengangkat tangan mereka masing-masing, berbicara dari hati seolah sang bunda bisa mendengar mereka. Nilai yang mereka dapat hari ini, anggap saja sebagai hadiah untuk diri sendiri atas usaha apa yang telah mereka kerjakan. Harapan mereka selanjutnya adalah semoga diusia baru ini bisa menjadi insan yang lebih baik lagi
.
"Kalian dari mana? Kenapa baru pulang sekarang?" Naufal sudah duduk diruang tamu saat mereka membuka pintu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua, mereka memang sempat berhenti untuk sholat di salah satu mushola tak jauh dari tempat pemakaman tadi
"Ayah udah pulang kerja?" Alih-alih menjawab pertanyaan ayahnya, Layla malah balik bertanya. Karena tak biasanya saja Naufal ada dirumah di jam seperti ini
"Ayah pulang, mungkin setelah ini berangkat lagi"
"Pulang kenapa?" Tanya Bilal, ia juga heran dengan tingkah ayahnya yang tak biasa seperti itu
"Memang salah kalau pulang kerumah?" suara Naufal sudah mulai berubah kesal
Ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar pintu
"Eh, ayah mau kemana?"
"Pergi kerja" jawab Naufal singkat. Laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan mengenderai kendaraan roda empat itu keluar rumah menyisakan pertanyaan yang mendadak muncul di otak si kembar
"Ayah kenapa?" Tanya Bilal, Layla menggelengkan kepalanya karena ia pun tak tau
"Dasar ayah, apa susahnya sih bilang selamat ulang tahun" Layla melihat kue dengan angka delapan belas yang tertulis diatasnya tersimpan rapi dalam kulkas. Niatnya tadi ingin mengambil air dingin tapi justru kejutan yang ia dapat
"Begitulah ayah, terlalu gengsi mengungkap rasa sayang pada anaknya" Bilal turut menggelengkan kepala, pantas saja ayahnya tadi sempat marah, apa ia kesal karena sudah terlalu lama menunggu? Padahalkan bisa saja menelpon atau tadi memberikan langsung saat mereka pulang. Tapi tetap jalan pikiran ayah tak dapat ditebak.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Hainun Qolbi
selalu sedih bacanya 😥
2024-03-30
2
melia
😍🥰🥰🥰🥰🥰
2023-03-05
0
adara
Naufal lucu,, dia terlalu gengsi untuk mengucapkan ultah untuk s kembar dan mungkin juga terlalu lama menunggu mereka pulang hingga dia ngambek sma s kembar 🤭😆😆
2023-03-02
1