Malam datang dengan berbagai bentuk rasi bintang yang menghias langit dengan indah bagai kilauan permata. Rembulan nampak hanya setengah, karena bumi, matahari dan bulan berada di posisi sembilan puluh derajat
"Kenapa diluar? Udaranya dingin" Naufal duduk dikursi dekat putrinya, diikuti Bilal yang juga baru datang dan mendudukan diri disebelah adiknya
"Ayah, lebih baik mempertahankan hati untuk diri sendiri tapi membuat orang lain sakit, atau memberikan dia untuk orang lain dan mencoba mengikhlaskan rasa yang ada pada diri kita"
"Sebenarnya untuk orang yang benar-benar kita cintai tak ada kata ikhlas, itu hanya nama lain untuk membuat kita baik-baik saja. Orang yang pernah hadir dan berhasil menguasai hidup kita, ketika dia pergi tak ada kata ikhlas. Karena itu sama saja dengan kita siap menerima yang baru" jawab Naufal, ia menyampaikan sudut pandangannya berdasarkan apa yang ia alami. Bukan karena hatinya tidak ikhlas memberikan Aqila pergi, tapi ia tidak ikhlas untuk melepas dan menerima yang baru
"Tapi aku nggak suka dia"
"Terus kenapa bisa sakit hati kalau nggak suka?" Tanya Bilal, ia sebenarnya tak tau siapa laki-laki yang dimaksud adiknya
"Hati itu bukan milik kita kak, aku tidak mau terlalu membenci atau menaruh rasa lebih, karena bisa saja mengantar kan pada rasa kecewa"
"Siapa dia?"
"Entahlah"
"Dasar aneh" Bilal memutar bola matanya malas mendengar jawaban adiknya yang membingungkan
"Oh iya, dari mana ayah kenal Kak Kenzo?" Layla ingat kalau Kenzo juga adalah kakaknya Qais, ternyata laki-laki itu punya hubungan yang cukup dekat dengan orang tuanya
"Dia itu dulu anak panti"
"Hah?" Bilal dan Layla berucap serempak, mereka membuka mulut lebar tak percaya
"Kalau dia anak panti, bagaimana bisa kak Qais adalah adiknya, wajah mereka juga terlihat mirip?" Tanya Bilal, Layla juga mengangguk karena penasaran
"Dia sudah bertemu keluarganya saat masih SMP, dia hidup dan tumbuh besar di lingkungan panti"
"Kenapa dipanti? Bukankah orang tuanya orang kaya?"
"Dia bilang ada sesuatu yang mengharuskan mereka melakukan itu dan itu demi kebaikannya" jawab Naufal. Kenzo mengatakan itu padanya semalam, laki-laki itu belum memberikan alasan pastinya apa sampai ia dititipkan di panti
"Ada ya orang tua seperti itu?" Layla tak habis pikir mendengarnya
"Kita tak tau arah pikiran seseorang. Tapi kita perlu percaya kalau sebagian besar orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak mereka"
"Kenzo adalah awal dimana ayah bisa dekat dengan bunda kalian" Naufal menatap langit malam dengan warna birunya yang pekat. Orion, rasi bintang yang nampak itu mengingatkannya pada Aqila yang sering menunjuk bintang itu karena bisa dikenali dengan mudah
"Bagaimana bisa? Ayah dan bunda kan satu kampus, aku pikir kalian menjadi dekat karena berada di organisasi yang sama"
Naufal tertawa mendengar pendapat putranya, organisasi yang sama? Naufal bahkan tak ingat apapun tentang organisasi, ia pernah mendaftar tapi tak pernah mengikuti kegiatan. Ia terkenal bukan karena organisasi atau mempunyai bakat khusus tapi karena dirinya yang sering melanggar peraturan,'si badboy kampus' itu nama yang menyebabkan ia terkenal dengan tiga teman dekatnya
"Ayah dulu nakal, tapi bukan nakal yang kalian bayangkan" jawab Naufal, seolah bisa membaca pikiran kedua anaknya lewat ekspresi yang mereka tunjukkan
"Ayah terkenal karena jadi ketua gengnya Felis Catus, dan Felis Catus itu terkenal karena suka balapan liar dan musuh bebuyutannya King Kobra, ketuanya mahasiswa dari kampus lain yang tak lain Om Regan"
"Jadi dulu ayah sama Om Regan musuh bebuyutan?" Layla menggelengkan kepalanya sampai beberapa kali, sulit dipercaya karena melihat bagaimana kedekatan mereka sekarang
"Ya begitulah, kenakalan masa remaja" jawab Naufal seadanya.
"Tapi jangan kalian ikutin" perintahnya dengan nada tegas, orang tua manapun sepertinya tak ingin anak mereka mengikuti kenakalan apa yang mereka lakukan dulu.
Orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari apa yang terjadi pada mereka sekarang. Bahkan seorang buruh tani sekalipun rela menyekolahkan anak mereka setinggi-tingginya, agar anak mereka tak merasakan bagaimana panasnya matahari yang menyengat kulit, serta rasa lapar dan haus ditengah sawah demi rupiah yang tak seberapa, mimpi mereka ingin melihat anak mereka memiliki hidup yang lebih baik. Intinya kata mereka 'cukup kami yang merasakan, kamu jangan'. Namun anehnya sekarang, banyak sekali anak yang seolah lupa dengan keringat orang tua mereka. Mata dan telinga mereka seolah tertutup ketika merasa ada di puncak kehidupan, mereka tak lagi melihat kearah batu-batu keras yang membantunya sampai diatas puncak itu
"Kita juga nggak mau jadi pembalap" balas Bilal dan Layla kompak, terungkap sudah rasa penasaran mereka dengan restoran FC dan motor yang masih selalu dibersihkan Naufal tiap minggu, padahal hampir tak pernah ia gunakan. Kenangan itu ternyata masih ingin ia simpan rapi
"Terus ayah ketemu sama bunda dimana?"
"Pertemuan ayah pertama kali saat bunda memberi satu kotak tisu karena melihat kaki ayah yang terluka akibat terjatuh saat balapan. Tapi yang membuat hubungan kami semakin dekat adalah saat dimana Kenzo kecelakaan, bunda kalian panik dan ayah yang kebetulan lewat sana datang untuk menolong" Naufal kadang terkekeh kala mengingat Aqila sampai dijuluki P3K berjalan karena berbagai jenis obat yang ia bawa dalam tas. Kadang pula ia menangis karena rindu yang sesak didalam dada
"Ayah kenal nggak sama Kak Kenzo sebelum itu?"
"Kenal, ayah kenal banget sama ibu panti dimana dia tinggal, sudah ayah anggap seperti ibu sendiri sejak ayah memutuskan menjauh dari kakek dan nenek kalian"
"Kenapa? Mereka kan orang tua ayah"
"Kadang pemikiran seorang anak tak pernah bisa sejalan dengan jalan pikir orang tuanya. Daripada terus melawan atau mengikuti dengan keterpaksaan yang menyiksa diri, ayah memutuskan menjauh hingga kemudian bunda kalian datang dan merubah semuanya"
"Dari peristiwa itu, takdir seolah mengatur kami untuk bertemu. Tapi anehnya pertemuan kami selalu terjadi saat bunda kalian menangis" Naufal menceritakan ini seolah ia sedang berada di masa itu
"Kenapa?" Bilal dan Layla kompak bertanya, ternyata kisah masa lalu orang tua mereka cukup rumit
"Beban yang dipikulnya terlalu berat, tapi ia selalu merasa kalau dirinya baik-baik saja. Dari situlah ayah berjanji menjadi pelangi untuknya yang akan selalu datang setelah hujan turun, seperti ayah yang selalu berhasil membuatnya tertawa setelah menangis" Naufal tersenyum getir mengingat itu
"Pelangi? Tapi kan pelangi nggak selalu muncul setelah hujan"
"Pelangi juga cuma sementara" Layla melanjutkan ucapan Bilal dengan menganggukkan kepalanya
"Pelangi yang selalu hadir selamanya, tak peduli bagaimana langit atau awan kelabu, pelangi itu akan tetap ada dengan tujuh warnanya yang indah"
"Apa sekarang pelangi itu masih ada walau bunda sudah pergi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Sri Puryani
😭😭mewek lg bc cerita naufal jd inget aqila
2024-10-26
1
Suci Dea
,😭😭😭 sumpah jadi mewek ingat kisah mereka
2024-05-27
1
mudahlia
jadi kangen kisah Aqila dan noufal
2023-02-17
0